Nadia Wanita Sexy Yang Crott Di Kota Bogor

RAKSASAPOKER Hingga di Bogor aku bimbang mau kemana dahulu karena sehabis hingga, terdapat rasa rindu di dada buat mengenali lebih lama tentang pergantian kota ini. Sehabis berkelana Kebun Raya aku merasa penat, kesimpulannya aku mampir ke pusat jajanan di Mal Pasar Bogor.

Benak aku menerawang jauh ke masa kemudian, sembari berjalan aku mengamati banyak orang kemudian lalang di dekat mal tersebut. Dalam hati mudah- mudahan ketemu sahabat, jadi kan lezat dapat terdapat yang temani. Kala aku mengarah suatu tempat duduk di pusat jajanan aku berpapasan dengan seseorang perempuan, yah dekat 25 tahun dengan berpakaian apik semacam karyawati biasanya.

BANDAR DOMINO99 | AGEN BANDARQ | AGEN POKER | DOMINO ONLINE | AGEN DOMINO

Dengan tersenyum aku menyapa,“ Hai,” perkaranya perempuan itu sudah tersenyum duluan dengan aku. Butuh dikenal aku memanglah kuper apabila berhadapan dengan perempuan, aku tidak berani bicara dulu tanpa didahului.


“ Rasanya aku sempat tahu dengan.. Mas..” Wah aku terpanggil“ Mas”, tetapi tidak apa deh, dengan senyum lagi aku jawab,“ Dimana..” Dengan sedikit basa- basi kesimpulannya aku perkenalkan diri aku serta aku ajak makan bersama, kebenaran aku lagi lapar, eh ia pula ingin.

Sembari menikmati santapan, aku banyak diam karena aku khawatir, jangan- jangan aku dijebak oleh suatu yang aku tidak ketahui setelah itu aku diperas, benak tersebut senantiasa membayang- bayangi aku.
Tetapi lama- kelamaan aku mulai menguasai suasana. Perempuan itu menghadirkan diri bagaikan Nadia yang bekerja di salah satu industri asuransi. Dengan sedikit berjaga- jaga aku memberanikan diri buat mengajak Nadia buat istirahat, karena dari pembicaraan antara aku dengan ia aku simpulkan Nadia pula lagi sumpek pikirannya, ia lagi mencari luapan emosi yang mendera di hatinya. Dengan sedikit halus Nadia menolak ajakan aku, karena katanya ia khawatir aku berbuat jahat. Wah pikirannya sama dengan aku.

Terus aku pikir lagi, bisa jadi perempuan ini wanita yang tidak benar( maaf.. WTS), tidak tahunya perempuan betul- betul perempuan karier, tetapi belum menciptakan karier yang jelas. Dari style bicaranya Nadia suka dengan aku, setelah itu aku melanjutkan lagi dialog hingga nyaris sejam lebih.

Dengan sedikit ragu aku ajak kembali, kesimpulannya dengan senyum ia menyetujui tetapi dengan ketentuan, katanya kalau aku jangan macam- macam. Wah aku jadi gemetar, tetapi naluri seseorang pria wajar aku katakan, aku tidak hendak macam- macam apabila ia tidak mecam- macam pula. Oke, setuju kami mengarah suatu tempat di wilayah pinggiran kota Bogor, tempatnya menunjang buat sejoli yang lagi gundah gulana buat mengemukakan perasaan yang lebih jauh.

Aku pesan suatu ruangan paviliun yang terdiri dari kamar mandi, kamar tidur serta terdapat teras di dalam dengan nuansa natural. Yah di situlah aku melanjutkan cerita cerita dari hati ke hati.

Aku mencermati dengan tabah tetapi sesekali aku bagikan pemikiran yang luas tentang makna hidup, mamang kata sahabat aku, aku bisa membagikan rasa aman apabila bicara, itu kata sahabat aku( spesialnya yang perempuan) aku sendiri tidak merasa demikian, wah Gram nih.

Kurang lebih separuh jam lalu tanpa aku duga sembari menceritakan Nadia menangis sembari merapatkan kepalanya di lengan aku, wah aku jadi gerogi tetapi aku tahan buat terus membagikan dorongan moril.

Tetapi sekali lagi bagaikan pria wajar aku tidak dapat menahan gejolak kelaki- lakian aku, aku usap rambutnya sembari membelai- belai, tidak lama setelah itu tangisnya reda. Kami silih berpandangan sekian detik. Detik berikutnya Nadia memeluk erat badan aku, wah aku terus menjadi tidak karuan dibuatnya.

Dengan bisikan halus aku menegaskan jangan macam- macam, terus Nadia malah mempererat pelukannya serta mengatakan kayaknya kami memanglah telah macam- macam, wah tantangan nih aku pikir.

Aku balas pelukannya dengan sedikit lambat- laun serta aku kecup keningnya, dengan refleks Nadia mencium bibir aku, yah aku layani dengan sedikit hati- hati, aku khawatir hatinya masih rapuh serta terbawa emosi saja. Terus menjadi lama ciuman kami terus menjadi panas, aku mulai melaksanakan aksi melaksanakan kewajiban bagaikan seseorang Bani Adam membagikan kenikmatan kepada seseorang Bani Hawa.

Dengan pasrah dibiarkannya buah dadanya aku usap- usap terus aku remas dengan sepenuh perasaan. Sedikit demi sedikit aku lepaskan pakaian kerjanya yang terdiri dari sebagian kancing.

Kesimpulannya terlepas telah pakaian dengan tangan kanan aku letakkan di atas meja lagi tangan kiri terus bergerilia antara“ Gunung Sahari” sampai ke“ Gunung Agung”.

Sedangkan lidah kami terus bergelora silih melilit sesamanya. Terus menjadi ganas saja warnanya tanpa sedikit tabah kameja aku direnggutnya, aku maklum gelora nafsunya terus menjadi naik, ia lepaskan bibirnya setelah itu menjilat- jilat leher aku.

Wah aku tidak tinggal diam, aku telusuri dengan lidah di balik kuping terus merayap ke leher dengan sedikit gigitan kecil, kemudian aku kulum ujung payudaranya yang sedikit kecoklatan, terus menjadi mengejang payudaranya.

Aku gigit- gigit kecil,“ Ahh.. hh.. Mass.. tekann teruss..” Tanpa aku sia- siakan, aku gotong badan separuh bugil ke atas tempat tidur serta aku rebahkan, setelah itu aku lepas roknya, terlihatlah seonggok daging yang masih terlapisi sehelai bahan tipis yang tembus pandang.

Aku terpana sejenak dengan panorama alam yang sangat indah yang sulit dilukiskan dengan perkata. Terus aku buka lambat- laun sembari aku jilati dari pangkal paha hingga ujung kaki, aku buat Nadia semacam mimpi.

Tanpa aku perintah celana panjang aku dilepasnya sampai CD aku juga dilepaskan. Wah“ adik” aku itu warnanya telah menggeliat dengan sangat elegans. Diusapnya dengan belaian halus sembari sesekali dipijit,“ Aahh.. ahh,” aku melenguh terus menjadi nafsu.

Seketika dihisapnya ujung batang kemaluan aku,“ Aahh.. ahh.. jangann!” dengan reflek aku angkat kepalanya, aku memanglah belum sempat dihisap kemaluan aku oleh siapapun. Aku khawatir kena penyakit, kata orang- orang pintar.

Tetapi aksi aku malah membuat matanya terus menjadi syahdu, liar, nafsu, campur aduk. Ditepisnya tangan aku, dikulumnya lagi sembari bergerak maju mundur. Pikir aku, biarin deh aku percaya ia perempuan bersih.

Aku merasakan dunia ini berbalik,“ Nikmatt.. ahh.. ahh terus yang kencang sedotnya.. ahh.. ahh..” tangan aku terus meremas- remas rambutnya yang terurai leluasa lepas semacam nafsu manusia apabila lepas kendali.

Samaikn lama ujung kemaluan aku berdenyut- denyut menunjukkan aku nyaris klimaks. Aku siuman, setelah itu aku memohon lepaskan buat berikan kesempatan rehat, dengan sedikit merenggangkan kedua pahanya, aku usap dengan jari tengah bibir kemaluannya yang telah basah dengan lendir kewanitaan.

“ Ahh..” lenguhan panjang terdengar, aku teruskan dengan menjilati hutang kemaluan di dekat liang kemaluan.“ Eehaacckk.. aahh.. aahh..” pantatnya digerakkan terus menjadi liar dengan kedua tangan menyanggah badannya.

Sedikit aku gigit ujung klitorisnya ia bergelinjang sampai terlepas dari jangkauan lidah aku. Aku berupaya mendatangi lagi tetapi..“ Maass.. jangan terusskan.. ahh..” sembari tangannya menggenggam batang kemaluan aku serta ditariknya mengarah liang kemaluannya yang telah siap buat dimasuki barang tumpul.

Dengan sulit aku tekan, tidak sukses akibat licinnya landasan kemaluannya serta sempitnya lubang surganya. Tetapi tanpa kehabisan kontrol kesimpulannya aku sukses masuk,“ Aahh.. ahh..” Aku diamkan sebagian detik di dalam setelah itu aku gerakkan lambat- laun sembari meresapi kenikmatan yang ditimbulkan oleh gesekkan antara 2 kutup yang silih memerlukan.

10 menit lalu kami silih cengkram, silih gigit, silih goyang, serta seterusnya kesimpulannya aku berinisiatif buat di dasar supaya kenikmatan terdapat pada perempuan. Tanpa membuang waktu Nadia menggerakkan pantatnya turun naik sembari berbalik putar mencari titik kenikmatan yang sangat dasyat dengan sebagian gerakan tertentu.

Aku merasakan Nadia terus menjadi nikmat apabila pergerakan sedikit menekan ke arah samping kanan, bisa jadi disitulah letak syaraf yang sangat sensitip apalagi luar biasa sensitip buat dinikmati oleh seseorang perempuan yang tengah dirasuki nikmat yang luar biasa.

Suara kami silih bertalu seirama dengan gerakan yang terus menjadi dasyat.“ Aakhh..” dengan menghimpitkan kedua pahanya Nadia melenguh dengan kencang serta kejang. Wah, telah orgasme warnanya si betina.

Aku terus menjadi nafsu dibuatnya. Sebagian dikala aku balikkan badannya, aku tekan dengan kemaluan aku yang bagi dimensi sedikit di atas wajar serta berurat- urat. Perihal itu dikatakan oleh Nadia saat sebelum kami bertempur tadi.

Aku tekan dari balik,“ Aahhk..” aku pikir masuk ke liang dubur kok kecil sekali tetapi tidak tahunya betul- betul di liang kemaluannya, yang konon katanya apabila dimasukkan lewat balik, bilik kemaluan terus menjadi rapat sehingga bisa menyedot benda- benda yang terdapat di sekitarnya.

“ Teruss.. teruss tekan.. ahkk,” tangan aku tidak lepas dari pentil payudaranya. Terus menjadi lama ujung kemaluan aku berdenyut keras, menunjukkan hendak terdapat badai dasyat. Aku hentikan tekanan kemaluan aku dalam lubang kemaluannya.

Aku balikkan lagi badannya dengan sangat lama- lama tetapi tentu. Aku ambil bantal buat mengganjal pantatnya yang seksi supaya ruang gerak kemaluan aku bisa masuk ke lembah yang lebih dalam serta dasyat lagi.

Benar pula, sehabis aku lepaskan“ torpedo” aku, Nadia bergelinjang sangat dasyat,“ Ahhk.. ah.. akk.. Mass.. kalian kok.. hbff..” wah tidak terdapat perkata lagi yang bisa diucapkan secara wajar. Begitu pula aku dengan sedikit sisa tenaga yang terdapat, aku tekan sekuat perasaan.

Sebagian detik setelah itu aku siuman hendak bahaya untuk Nadia. bisikan sebagian kata,“ Yang.. aku.. tumpahkan.. dimaanaa..” dengan tersenyum serta mata yang sudah lenyap hitamnya didekapnya aku sangat erat sembari berucap,“ Te.. terussin.. Maass..” dengan perkataan demikian aku memesatkan gerakan tetapi tentu, kesimpulannya..“ Aahhk.. aohh.. nnff.. ahh..”“ Crott.. crott.. crott.. crot..”

Aku dekap badannya dengan sangat erat, saking dasyatnya game ini sampai aku khawatir kehabisan momentum yang tidak sempat aku dapati ini. Aku serta Nadia silih peluk.

“ Terima kasih.. Mass.. sebab sudah.. membagikan semangat lahir serta batin,” sembari mengecup kening aku. Aku cuma tersenyum penuh makna. Kesimpulannya aku berpisah serta sampai dikala ini aku tidak sempat berjumpa lagi.

Bila dipikir- pikir perihal itu bagai mimpi, tetapi itu realitas terdapatnya. Kerap aku melamun, akankah perihal itu bisa terjalin lagi? jawabnya terdapat pada realitas alam. Oke, untuk rekan- rekan yang mau mengoreksi ataupun mengomentari ataupun bergaul ataupun lebih dari itu, aku cuma manusia biasa yang bisa menerima dengan ikhlas. Layangkan ke e- mail aku. Cuma orang dewasalah yang hendak aku balas, terima kasih atas perhatiannya.