Adik Dan Mamaku Di Rumah // Part 2

RAKSASAPOKER  ?E?bu?boleh Gun minta sesuatu??, tanyaku.

?Apa itu??

?Gun kan sudah dewasa, dan mengetahui soal beginian. Kalau boleh saya inginkan ibu mengocok mempunyai Gun sebentar bu?, saya menyebutkan perihal yang aneh-aneh. Yang sebetulnya tak perkikirkan sebelumnya.

Ibuku terdiam.

?Maaf bu, saya tak berniat demikian, cuma saja, saya sebagai laki-laki normal siapa saja, pasti bakal merasakan perihal seperti ini?, kataku.

?Iya, ibu faham, anak ibu sudah dewasa?, katanya.

BANDAR DOMINO99 | AGEN BANDARQ | AGEN POKER | DOMINO ONLINE | AGEN DOMINO

Tangannya yang lembut itu pun akhirnya mengocok punyaku, membelainya. Oh?apa ini? Aku serasa melayang. Ia benar-benar mengocok tongkolku yang sudah tegang. Peristiwa itu benar-benar erotis sekali. CLUK?.CLUK?CLUK?bunyi tongkolku yang dikocok berpadu bersama air sabun. Busanya benar-benar banyak, saya inginkan sekali meremas toket ibuku.

?Bu, boleh Gun meremas dada ibu??, tanyaku. ?Gun benar-benar terangsang sekali?.

?Maafkan ibu nak, seharusnya tidak begini. Gun tak boleh macam-macam mirip ibu, ibu sakit Gun?, kata ibu.

?Kalau ibu tidak mengijinkan juga tidak apa-apa, tapi Gun tidak tahan lagi?, kataku.

Aku pun mencengkram pundak ibuku, menandakan rela orgasme. Ibuku mengetahui perihal itu, dan ia mengocok tongkolku bersama cepat, CROOT?..CROOT?..CROT?.sperma muncrat ke wajahnya, dadanya, dan perutnya. Banyak sekali. Sebagian membeler di jemarinya.


?Sudah Gun??, bertanya ibu.

?I?iya??, kataku lemas.

Ibuku selanjutnya bersihkan spermaku yang ada di tubuhnya bersama membasuhnya bersama air.

?Jangan bilang ini mirip Arin ya?, katanya. ?Atau orang lain.?

Kami segera terlihat dari kamar mandi. Entah apa yang saya jalankan barusan. Tapi saya benar-benar menikmatinya. Ibuku dan saya cuma memakai handuk saja. Aku membawanya sampai ke kamar. Di kamar saya tetap horny, bersama posisi ibuku yang sekarang cuma pakai handuk saja, membuatku makin lama terangsang.

Aku tak kuasa menahan godaan ini. Setelah ibuku saya dudukkan. Aku duduk di sebelahnya.

?Bu, maaf jikalau tadi Gun lancang di kamar mandi?, kataku.

?Tak apa-apa Gun, laki-laki normal pun pasti demikian, apalagi mampu lebih?, kata ibuku.

?Bu, apakah boleh Gun memandang ulang dada ibu??, tanyaku.

?Buat pa Gun??, tanyanya. ?Ibu tetap sakit Gun?.

?Sebentar saja bu, boleh ya??, tanyaku.

?Baiklah?, katanya.

Ia terhubung handuknya, tampaklah dua buah bukit kembar yang saya inginkan. Aku memegang putingnya, entah kenapa tiba-tiba saya menyusu di sana.


?Oh?Gun?jangan Gun?.ahkk?, ibuku nampak tak melawan walau saya menghisap susunya. Mengunyah putingnya, menggigit dan meremas keduanya. Tak terasa, ia sudah berbaring tanpa sehelai benang pun. Aku pun menciumi perutnya, sampai ke miss-v-nya. Miss-v-nya yang keset membuatku makin lama bergairah. Ibuku terus meronta jangan dan jangan. Aku tak peduli, nafsu sudah di ubun-ubun. Ibuku nampak terangsang bersama perlakukanku itu. Ia pun secara tak sengaja terhubung pahanya, tongkolku sudah siap, dan saya sudah ada di atas ibuku. Kedua bibir kemaluan bertemu. Ibuku nampak meneteskan air mata.

?Maaf, bu, tapi Gun tak kuasa menahan ini?, kataku lagi.

Penisku kugesek-gesekkan di bibir miss-v-nya. Agak geli dan enak. Ini adalah saya membiarkan keperjakaanku kepada ibuku sendiri. Aku senggol-senggol klitorisnya, ibuku memejamkan mata, ia menggelinjang, tiap-tiap kali kepala penisku menyentuhnya. Lalu akupun memasukkannya. Miss-v-nya sudah basah sekali. Tak wajib tenaga banyak untuk mampu masuk. SLEEB!! Sensasinya luar biasa. Aku tak hiraukan ia ibuku atau bukan sekarang. Aku sudah menggenjotnya naik turun. Pinggulku saya gerakkan maju mundur bersama ritme sedang. Kurasakan sensai miss-v ibuku yang tetap seret menjepit tongkolku yang panjang dan besar itu. Aku usahakan ibuku juga merasakan sensasi ini. Aku angkat bokongnya, saya remas. Kakinya merasa kejang dan menjepit pinggangku.

?Ohh?.Ahh?terus Gun?cepat selesaikan, cepat Gun?.?, kata ibuku. Ia mencengkram sprei daerah tidur. Ia menggigit bibirnya. Wajahnya yang cantik dan bibirnya yang seksi membuatku terangsang. Dadanya naik turun, oh?seksi sekali.

?Mega, tubuhmu nikmat Mega?ahh?.aku inginkan ngent*t terus denganmu, saya inginkan terlihat Mega?OOHH?Ahhhh?, saya percepat goyanganku. Ibuku pun sepertinya rela keluar, ia bangkit bersama bersender kepada ke dua tangannya, menandakan orgasme. Aku juga keluar. Spermaku muncrat di didalam rahimnya, saya tekan kuat-kuat. Akhirnya fantasiku untuk ngent*t bersama ibuku sendiri kesampaian. Aku benamkan dalam-dalam penisku, sampai spermaku benar-benar tak terlihat lagi. Ibuku lemas. Ia tetap beralaskan handuk bekas mandi. Aku perlahan mencabut penisku. PLOP..!! suaranya dikala saya cabut.

?Maafkan saya bu, tapi sedap sekali?, kataku.

Aku berbaring di samping ibuku. Ibuku memukulkan tangannya ke dadaku. ?Kamu bajingan!!? Ibuku selanjutnya menangis. Ia membelakangiku, sambil memeluk dirinya sendiri.


Butuh pas lama untuk dirinya mampu diam. Sampai kurang lebih 30 menit kemudian, nafsuku bangkit lagi, sebab tetap melihatnya telanjang. Aku buat persiapan penisku yang tegang lagi. Kali ini bukan fantasi, inilah yang saya rasakan. Aku mendekatkan penisku ke pantatnya, saya sentuh pinggulnya, selanjutnya saya masukkan penisku ke vaginanya. Nggak wajib susah-susah dan Bless?.?Aah?Gun, anda rela apa lagi? Tidak cukupkah anda menyiksa ibu??

?Gun, tak tahan nih bu, Gun jugakan tetap perjaka?, kataku. Posisiku kini dari samping. Dan saya terlihat masukkan penisku. Pantatnya dan perutku beradu. Sensasinya luar biasa. Pantatnya benar-benar seksi, semok dan menggiurkan. Aku tak butuh pas lama untuk mampu ejakulasi ulang di didalam rahimnya. Dan dikala puncak itu saya memeluk ibuku. AgenBandarCeme


Sensasinya aneh memang, tapi nikmat sekali. Setelah itu saya benar-benar memohon maaf.

?Maafkan Gun bu, maafkan Gun?, kataku.

Lalu ibuku menyuruhku untuk terlihat kamar. Aku pun keluar. Aku ulang ke kamarku dan memikirkan apa yang terjadi barusan. Aku sudah menjadi anak durhaka.

Arin pulang. Ibuku bertingkah seperti biasa. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tapi tatapan kami mempunyai arti. Antara malu, kuatir dan bahagia saya bingung.

Esoknya, hari minggu. Ibuku nampak agak senang. Kesehatannya sedikit pulih. Ia mampu terjadi normal. Ia seolah membiarkan kejadian kemarin. Apakah mungkin sebab apa yang saya jalankan kemarin? Bisa jadi. Tak wajib pas lama sebetulnya untuk mampu mencerahkan wajahnya lagi. Ia sudah bahagia bersama perkembangan kesehatannya.


Malamnya, ibuku inginkan tidur di kamarku. Entah kenapa ia inginkan begitu. Dan saya pun mengiyakannya. Pukul 12 malam. Ketika Arin sudah tidur. Dan saya berada di samping ibuku. Kami seranjang. Aku mengetahui mampu saja pas itu saya sudah bercinta dengannya, tapi ada sesuatu yang membuat kami tidak melakukannya.

?Sepertinya kesehatan ibu merasa pulih akibat itu Gun?, katanya.

?Tapi inikan baru satu hari bu, dan Gun benar-benar menyesal melakukannya kemarin?, kataku.


Ibu bangkit, selanjutnya ia turunkan celana pendekku. Tanpa babibu, ia sudah mengulum penisku. Aku kaget beroleh sensasi itu. Tidak ada muka jaim, tidak ada rasa penyesalan seperti kemarin. Ia sudah mengulum penisku, seorang Blow Jober pro. Ia mengocok, mengulum, menjilat. Dengan ganas ia lumat tongkolku bersama mulutnya yang seksi itu. Ia juga gesek-gesekkan ujung penisku ke putingnya, selanjutnya ia jepit bersama dadanya. Akupun tak menyia-nyiakan ini, saya segera membiarkan bajuku, selanjutnya bajunya. Kami sudah telanjang, dan ia tetap mengoralku. Aku berbaring bersama menikmati sensasi yang sedikit aneh, tapi nikmat. Oh tidak, rasanya saya rela keluar?.sedotannya benar-benar mantap. Aku tak kuasa ulang dan?aahh..benar?CROT?CROT?CROT?spermaku tak sebanyak kemarin pagi. Tapi memadai untuk memenuhi isikan mulutnya. Ia menyedot spermaku sampai habis.


?Nih lihat?, kata ibuku sambil terhubung sedikit mulutnya. Aku mampu memandang lidahnya yang terbungkus cairan putih spermaku.

?Ibu hebat?, kataku. DAFTAR ID PRO PKV

?Ibu tetap belum puas?, katanya. Ia selanjutnya menelan spermaku bulat-bulat.?Ah..?

Aku bangkit dan segera nenen. Aku menenen kepadanya seperti bayi, kali ini kami All Out. Tidak seperti kemarin. Kami saling mendesat, saling menggigit. Ibuku ada di atas, dan saya berbaring. Penisku sudah tegang ulang dan mengacung ke atas. Ia berjongkok dan menuntun penisku masuk miss-v-nya bersama tangannya. Ia pun naik turun sambil tangannya bersender terhadap pahaku. Makin lama ia makin lama cepat gerakannya. Aku juga tak kuasa, apalagi saya bisa-bisa jebol duluan. Ia mengetahui jikalau saya rela jebol, Ia hentikan gerakannya, ia tukar bersama meremas-remas telurku. Oh?ini baru, tehnik baru. Ketika ia meremas telurku, nampak nafsuku yang sudah dipuncak tiba-tiba hilang. Lalu sesudah beberapa pas kemudian, ia bergoyang ulang naik turun. Ia terus ulangilah perihal itu jikalau saya rela ke puncak, rasanya spermaku berkumpul di ujung penisku. Seolah-olah pijatan itu membuatku seperti menahan bom. Dan benar, dikala ibuku rela orgasme, ia lebih cepat bergerak. Ia naik turunkan lebih cepat dari sebelumnya, ia tak ulang bersender di pahaku, tapi di dadaku. Dan ia mengigau, ?Oh?Gun?Oh?anak mama yang nakal?.tongkolmu gedhe Gun. Nikmat banget. Ibumu ini menjadi budakmu Gun?Ahh?Sampai?sampai?ibu rela sampai, anda juga ya sayang, basahi rahim ibumu, hamili ibumu ini?.

Aku pun terlihat dan segera bangkit memeluk ibuku. Kami orgasme bersama-sama. Vaginanya benar-benar basah, begitu juga punyaku. Sperma itu masuk ke rahimnya lagi. Banyak sekali, dan benar, spermaku tadi yang tertahan terkumpul di ujung dan membiarkan bersama semprotan yang luar biasa. Kami berpandangan sesaat, saya mencium bibirnya. Kami berciuman, saya tetap memangkunya, dan tak wajib pas lama. Kami ambruk dan saling berpelukan. Kami tertidur.


Hubunganku dan ibuku sendiri sekarang sudah seperti suami istri. Aku tak mengetahui bagaimana kami menyebutnya. Setiap malam saya senantiasa melakukannya, apalagi tidak tiap malam. Hampir tiap-tiap hari, dan kesehatan ibuku makin lama membaik dari hari ke hari. Dokter pun terheran-heran bersama perihal ini. Dan tiap-tiap hari kami jalankan gaya yang berbeda-beda. Dan lambat laun perihal ini pun tercium oleh Arin.


Suatu pas dikala ibu tidur lebih awal, sesudah main denganku. Aku nonton tv. Di ruang sedang nampak Arin juga ada di sana. Aku duduk berdekatan.

?Aku mengetahui kakak gituan mirip ibu?, kata Arin.

Aku kaget pasti saja.

?Gituan gimana??, tanyaku jaim.

?Alaah, nggak usah sok alim deh kak. Kakak ngent*t ama ibu kan??, tanyanya.

?Kalau iya kenapa??, tanyaku menantang.

?Asal ibu bahagia saja, Arin senang. Walau pun agak aneh rasanya kakak yang jalankan itu ama ibu?, katanya.

?Kamu kepengen ya??,

?Nggak ah?

?Alah, jikalau kau rela bilang aja, nggak usah malu-malu, atau anda sudah dulu gituan ya??

?Belum pernah, dan jangan ngejek ya!??

?Kakak nggak percaya, anda pasti sudah nggak perawan?, kataku.

?Kakak jahat!?, katanya sambil memukul bahuku.

?Aduh, koq mukul?, kataku.

?Habisnya kakak jahat!?, katanya.

?Kau wajib tahu, saya jalankan ini juga untuk kesembuhan ibu, makin lama kakak melakukannya ibu makin lama membaikkan??

Arin diam sejenak, ?Iya juga sih, ibu makin lama membaik?.

?Mau tau rahasia??, tanyaku.

?Apa ??, tanyanya.

?Sebenarnya sudah sejak dari dulu kakak inginkan begini mirip ibu?, kataku.

?Busett?kakak ternyata??, Arin menggeleng-geleng.

?Yee?ini juga sebab sebetulnya ibu wanita yang cantik?, kataku. ?Apalagi kakak juga sudah dewasa kan??

Entah bagaimana saya juga inginkan begitu bersama adikku. Melihat dia cuma pakai celana pendek, apalagi saya mampu memandang putingnya yang menonjol. Kebiasaan dia jikalau di tempat tinggal tak pakai BH. Alasannya gerah. Jadi perihal ini pun membuatku makin lama terangsang.


Guna memancingnya saya keluarkan penisku. Dan mengurutnya.

?Kakak ngapain? Jorok ih?, katanya.

?Yeee?suka-suka dong?, kataku. Aku mengocok perlahan sambil menatap adikku itu. ?Kamu boleh koq sentuh?

?Nggak ah..?, katanya.

?SENTUH!!?, saya sedikit membentak.

Adikku entah bagaimana ia tiba-tiba spontan menyentuh penisku.

?Nah, gitu??, kataku. Sensasinya merasa saya rasakan. ?Sekarang kocok dong!!?

?Udah ya kak, jangan deh?, katanya.

?Kocok!?, kataku.

Ia menurut. Mungkin perbedaan sikapku yang tadi membuat ia sedikit kaget. Aku mengetahui jantungnya berdegup kencang. Ia mengocoknya terus, tak beraturan. Tapi itu saja sudah membuatku nikmat. Aku selanjutnya merangkulnya dan menciumnya, sembari ia tetap mengocok. Ia kaget dan coba membiarkan diri, tapi saya lebih kuasa. Adikku yang SMP itu kini first kis denganku.

Lidahku menari-nari di didalam mulutnya, ia nampak kewalahan, apalagi saya sigap kaosnya dan kuremas dadanya yang montok itu. Lalu saya menyusu kepada adikku itu, saya lucuti pakaiannya, ia meronta, ?Kak?jangan??

Terlambat sudah, saya sudah menduduki perutnya, ia tak mampu ke mana-mana. Aku lucuti pakaianku, kini kami telanjang. Aku julurkan penisku ke mulutnya.

?Ayo isep!?, kataku.

?Nggak ah kak, koq menjadi gini sih?, katanya.

?Isep!?, kataku.

Ia cuma nurut. Ia buka mulutnya dan saya jambak rambutnya. Kugerakkan kepalanya maju mundur. Nikmat sekali. Tak wajib lama-lama, saya sudahi permainan itu sebab saya mengincar vaginanya. Segera, saya berbalik di posisi 69. Aku menjilati miss-vnya. Vagina perawan sebetulnya beda. Aku rasanya cairan itu membasahi mulutku. Lidahku terus menari-nari di dalamnya. Sementara adikku mengulum penisku bersama suara??Hmmmhh?hmmmh?hmmmh??

Cairan kewanitaan itu makin lama banyak. Dan vagina itu basah sekali. Aku sudah benar-benar puas. Lalu saya berbalik. Dan saya siap untuk menusukkan penisku yang besar dan panjang ini ke vagina Arin yang sempit. Mulanya kepalanya yang masuk, sulit sekali. Lalu saya dorong perlahan, saya tarik lagi, saya dorong lagi, vaginanya berkedut-kedut meremas-remas punyaku. Punyaku serasa inginkan dia hisap.

?Kaakk?.sakit kaak?jangan perkosa Arin?, katanya meminta.

?Nanti juga sedap koq Rin?, kataku.

Dan saya pun merasa mendorongnya sekuat tenaga. Arin memiawik tertahan. Nafasnya memburu. Vaginanya berdenyut-denyut, ia terima ransangan penisku, saya merasa bergoyang teratur. Sembari saya menindihnya saya menciumi bibirnya. Kakak adik ini sekarang sudah bersatu. Tak kusangka penisku mampu masuk penuh memenuhi rongga vagina adikku sendiri. Kini saya tak kuasa inginkan keluar. Padahal juga baru sepuluh menit bergoyang. Dan saya pun tak mampu menyia-nyiakan ini, saya sebetulnya inginkan keluar.

?Rin, kakak rela menghamili kamu?.ahh?keluar riiinn?Akkkhh?aaahhkkk?, benar sekali. Spermaku muncrat bersama daya penuh. Adikku merangkulku. Karpet itu menjadi saksi bahwa keperawanan adikku saya renggut. Agak lama kami berpelukan dan berguling di karpet. Sampai sesudah itu saya cabut punyaku. Dan memandang karpet itu bernoda. AgenBandarCeme


Sensasinya aneh memang, tapi nikmat sekali. Setelah itu saya benar-benar memohon maaf.

?Maafkan Gun bu, maafkan Gun?, kataku.

Lalu ibuku menyuruhku untuk terlihat kamar. Aku pun keluar. Aku ulang ke kamarku dan memikirkan apa yang terjadi barusan. Aku sudah menjadi anak durhaka.

Arin pulang. Ibuku bertingkah seperti biasa. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tapi tatapan kami mempunyai arti. Antara malu, kuatir dan bahagia saya bingung.

Esoknya, hari minggu. Ibuku nampak agak senang. Kesehatannya sedikit pulih. Ia mampu terjadi normal. Ia seolah membiarkan kejadian kemarin. Apakah mungkin sebab apa yang saya jalankan kemarin? Bisa jadi. Tak wajib pas lama sebetulnya untuk mampu mencerahkan wajahnya lagi. Ia sudah bahagia bersama perkembangan kesehatannya.

Malamnya, ibuku inginkan tidur di kamarku. Entah kenapa ia inginkan begitu. Dan saya pun mengiyakannya. Pukul 12 malam. Ketika Arin sudah tidur. Dan saya berada di samping ibuku. Kami seranjang. Aku mengetahui mampu saja pas itu saya sudah bercinta dengannya, tapi ada sesuatu yang membuat kami tidak melakukannya.

?Sepertinya kesehatan ibu merasa pulih akibat itu Gun?, katanya.

?Tapi inikan baru satu hari bu, dan Gun benar-benar menyesal melakukannya kemarin?, kataku.

Ibu bangkit, selanjutnya ia turunkan celana pendekku. Tanpa babibu, ia sudah mengulum penisku. Aku kaget beroleh sensasi itu. Tidak ada muka jaim, tidak ada rasa penyesalan seperti kemarin. Ia sudah mengulum penisku, seorang Blow Jober pro. Ia mengocok, mengulum, menjilat. Dengan ganas ia lumat tongkolku bersama mulutnya yang seksi itu. Ia juga gesek-gesekkan ujung penisku ke putingnya, selanjutnya ia jepit bersama dadanya. Akupun tak menyia-nyiakan ini, saya segera membiarkan bajuku, selanjutnya bajunya. Kami sudah telanjang, dan ia tetap mengoralku. Aku berbaring bersama menikmati sensasi yang sedikit aneh, tapi nikmat. Oh tidak, rasanya saya rela keluar?.sedotannya benar-benar mantap. Aku tak kuasa ulang dan?aahh..benar?CROT?CROT?CROT?spermaku tak sebanyak kemarin pagi. Tapi memadai untuk memenuhi isikan mulutnya. Ia menyedot spermaku sampai habis.

?Nih lihat?, kata ibuku sambil terhubung sedikit mulutnya. Aku mampu memandang lidahnya yang terbungkus cairan putih spermaku.


?Ibu hebat?, kataku.

?Ibu tetap belum puas?, katanya. Ia selanjutnya menelan spermaku bulat-bulat.?Ah..?

Aku bangkit dan segera nenen. Aku menenen kepadanya seperti bayi, kali ini kami All Out. Tidak seperti kemarin. Kami saling mendesat, saling menggigit. Ibuku ada di atas, dan saya berbaring. Penisku sudah tegang ulang dan mengacung ke atas. Ia berjongkok dan menuntun penisku masuk miss-v-nya bersama tangannya. Ia pun naik turun sambil tangannya bersender terhadap pahaku. Makin lama ia makin lama cepat gerakannya. Aku juga tak kuasa, apalagi saya bisa-bisa jebol duluan. Ia mengetahui jikalau saya rela jebol, Ia hentikan gerakannya, ia tukar bersama meremas-remas telurku. Oh?ini baru, tehnik baru. Ketika ia meremas telurku, nampak nafsuku yang sudah dipuncak tiba-tiba hilang. Lalu sesudah beberapa pas kemudian, ia bergoyang ulang naik turun. Ia terus ulangilah perihal itu jikalau saya rela ke puncak, rasanya spermaku berkumpul di ujung penisku. Seolah-olah pijatan itu membuatku seperti menahan bom. Dan benar, dikala ibuku rela orgasme, ia lebih cepat bergerak. Ia naik turunkan lebih cepat dari sebelumnya, ia tak ulang bersender di pahaku, tapi di dadaku. Dan ia mengigau, ?Oh?Gun?Oh?anak mama yang nakal?.tongkolmu gedhe Gun. Nikmat banget. Ibumu ini menjadi budakmu Gun?Ahh?Sampai?sampai?ibu rela sampai, anda juga ya sayang, basahi rahim ibumu, hamili ibumu ini?.

Aku pun terlihat dan segera bangkit memeluk ibuku. Kami orgasme bersama-sama. Vaginanya benar-benar basah, begitu juga punyaku. Sperma itu masuk ke rahimnya lagi. Banyak sekali, dan benar, spermaku tadi yang tertahan terkumpul di ujung dan membiarkan bersama semprotan yang luar biasa. Kami berpandangan sesaat, saya mencium bibirnya. Kami berciuman, saya tetap memangkunya, dan tak wajib pas lama. Kami ambruk dan saling berpelukan. Kami tertidur.

Hubunganku dan ibuku sendiri sekarang sudah seperti suami istri. Aku tak mengetahui bagaimana kami menyebutnya. Setiap malam saya senantiasa melakukannya, apalagi tidak tiap malam. Hampir tiap-tiap hari, dan kesehatan ibuku makin lama membaik dari hari ke hari. Dokter pun terheran-heran bersama perihal ini. Dan tiap-tiap hari kami jalankan gaya yang berbeda-beda. Dan lambat laun perihal ini pun tercium oleh Arin.

Suatu pas dikala ibu tidur lebih awal, sesudah main denganku. Aku nonton tv. Di ruang sedang nampak Arin juga ada di sana. Aku duduk berdekatan.

?Aku mengetahui kakak gituan mirip ibu?, kata Arin.

Aku kaget pasti saja.

?Gituan gimana??, tanyaku jaim.

?Alaah, nggak usah sok alim deh kak. Kakak ngent*t ama ibu kan??, tanyanya.

?Kalau iya kenapa??, tanyaku menantang.

?Asal ibu bahagia saja, Arin senang. Walau pun agak aneh rasanya kakak yang jalankan itu ama ibu?, katanya.

?Kamu kepengen ya??,

?Nggak ah?

?Alah, jikalau kau rela bilang aja, nggak usah malu-malu, atau anda sudah dulu gituan ya??

?Belum pernah, dan jangan ngejek ya!??

?Kakak nggak percaya, anda pasti sudah nggak perawan?, kataku.

?Kakak jahat!?, katanya sambil memukul bahuku.

?Aduh, koq mukul?, kataku.

?Habisnya kakak jahat!?, katanya.

?Kau wajib tahu, saya jalankan ini juga untuk kesembuhan ibu, makin lama kakak melakukannya ibu makin lama membaikkan??

Arin diam sejenak, ?Iya juga sih, ibu makin lama membaik?.

?Mau tau rahasia??, tanyaku.

?Apa ??, tanyanya.

?Sebenarnya sudah sejak dari dulu kakak inginkan begini mirip ibu?, kataku.

?Busett?kakak ternyata??, Arin menggeleng-geleng.

?Yee?ini juga sebab sebetulnya ibu wanita yang cantik?, kataku. ?Apalagi kakak juga sudah dewasa kan??

Entah bagaimana saya juga inginkan begitu bersama adikku. Melihat dia cuma pakai celana pendek, apalagi saya mampu memandang putingnya yang menonjol. Kebiasaan dia jikalau di tempat tinggal tak pakai BH. Alasannya gerah. Jadi perihal ini pun membuatku makin lama terangsang.

Guna memancingnya saya keluarkan penisku. Dan mengurutnya.

?Kakak ngapain? Jorok ih?, katanya.

?Yeee?suka-suka dong?, kataku. Aku mengocok perlahan sambil menatap adikku itu. ?Kamu boleh koq sentuh?

?Nggak ah..?, katanya.

?SENTUH!!?, saya sedikit membentak.

Adikku entah bagaimana ia tiba-tiba spontan menyentuh penisku.

?Nah, gitu??, kataku. Sensasinya merasa saya rasakan. ?Sekarang kocok dong!!?

?Udah ya kak, jangan deh?, katanya.

?Kocok!?, kataku.

Ia menurut. Mungkin perbedaan sikapku yang tadi membuat ia sedikit kaget. Aku mengetahui jantungnya berdegup kencang. Ia mengocoknya terus, tak beraturan. Tapi itu saja sudah membuatku nikmat. Aku selanjutnya merangkulnya dan menciumnya, sembari ia tetap mengocok. Ia kaget dan coba membiarkan diri, tapi saya lebih kuasa. Adikku yang SMP itu kini first kis denganku.


Lidahku menari-nari di didalam mulutnya, ia nampak kewalahan, apalagi saya sigap kaosnya dan kuremas dadanya yang montok itu. Lalu saya menyusu kepada adikku itu, saya lucuti pakaiannya, ia meronta, ?Kak?jangan??


Terlambat sudah, saya sudah menduduki perutnya, ia tak mampu ke mana-mana. Aku lucuti pakaianku, kini kami telanjang. Aku julurkan penisku ke mulutnya.


?Ayo isep!?, kataku.


?Nggak ah kak, koq menjadi gini sih?, katanya.


?Isep!?, kataku.

Ia cuma nurut. Ia buka mulutnya dan saya jambak rambutnya. Kugerakkan kepalanya maju mundur. Nikmat sekali. Tak wajib lama-lama, saya sudahi permainan itu sebab saya mengincar vaginanya. Segera, saya berbalik di posisi 69. Aku menjilati miss-vnya. Vagina perawan sebetulnya beda. Aku rasanya cairan itu membasahi mulutku. Lidahku terus menari-nari di dalamnya. Sementara adikku mengulum penisku bersama suara??Hmmmhh?hmmmh?hmmmh??

Cairan kewanitaan itu makin lama banyak. Dan vagina itu basah sekali. Aku sudah benar-benar puas. Lalu saya berbalik. Dan saya siap untuk menusukkan penisku yang besar dan panjang ini ke vagina Arin yang sempit. Mulanya kepalanya yang masuk, sulit sekali. Lalu saya dorong perlahan, saya tarik lagi, saya dorong lagi, vaginanya berkedut-kedut meremas-remas punyaku. Punyaku serasa inginkan dia hisap.

?Kaakk?.sakit kaak?jangan perkosa Arin?, katanya meminta.

?Nanti juga sedap koq Rin?, kataku.

Dan saya pun merasa mendorongnya sekuat tenaga. Arin memiawik tertahan. Nafasnya memburu. Vaginanya berdenyut-denyut, ia terima ransangan penisku, saya merasa bergoyang teratur. Sembari saya menindihnya saya menciumi bibirnya. Kakak adik ini sekarang sudah bersatu. Tak kusangka penisku mampu masuk penuh memenuhi rongga vagina adikku sendiri. Kini saya tak kuasa inginkan keluar. Padahal juga baru sepuluh menit bergoyang. Dan saya pun tak mampu menyia-nyiakan ini, saya sebetulnya inginkan keluar.

?Rin, kakak rela menghamili kamu?.ahh?keluar riiinn?Akkkhh?aaahhkkk?, benar sekali. Spermaku muncrat bersama daya penuh. Adikku merangkulku. Karpet itu menjadi saksi bahwa keperawanan adikku saya renggut. Agak lama kami berpelukan dan berguling di karpet. Sampai sesudah itu saya cabut punyaku. Dan memandang karpet itu bernoda. AgenBandarCeme