Adik Dan Mamaku Di Rumah // Part 1

RAKSASAPOKER Kuliah adalah tempat seseorang untuk menuntaskan cita-citanya. Dan termasuk bisa saja tempat di mana kita bakal mengenal sebuah dunia baru. Dunia ini begitu luas, sampai-sampai kita tak memahami bahwa dunia itu sedikit demi sedikit pengaruhi kita. 

Kita tak heran banyak orang-orang yang pergi kuliah pulang ke kampung halamannya telah berubah drastis. Dari mereka yang sifatnya lugu menjadi sok gaul, berasal dari mereka yang sifatnya tidak baik dapat menjadi pulang menjadi orang yang alim banget. 

Inilah yang berjalan padaku, sebuah pengalaman yang entah saya kudu menyebutnya apa. Namaku Gun, sebut saja begitu. Seorang mahasiswa fakultas Tehnik di kampus X, salah satu PTS populer di kota Y.

BANDAR DOMINO99 | AGEN BANDARQ | AGEN POKER | DOMINO ONLINE | AGEN DOMINO

Ada perasaan kangen sesungguhnya ama kampung halaman. Dan perasaan itu pun masih ada hingga sekarang, maklum sebab kesibukanku, saya pulang hanya setahun sekali. Selain mengikuti organisasi kampus dan banyak ekstrakulikuler, saya termasuk dihadapkan pada jadwal perkuliahan yang padat. Namun pada semester kelima ini, saya rela mengambil cuti untuk lebih dari satu waktu. Kabar tak enak singgah berasal dari kampung halaman. Baru saja keluargaku di kampung halaman beroleh musibah, sebuah kecelakaan. Ayah meninggal dan ibuku mengalami koma. Sedangkan adikku baik-baik saja. Mulai berasal dari sinilah kehidupanku berubah.

Ayah yang salah satu orang yang membiayai kuliahku pergi. Sehingga berasal dari sini, saya kudu membanting tulang sendirian, untuk ibuku, adikku dan diriku sendiri. Akhirnya kuliah ini saya tunda dulu. Aku mengajukan cuti satu semester. Waktu cuti itu saya mengfungsikan untuk membanting tulang. Aku tak dapat mengandalkan berasal dari warisan ayahku. Sebab jikalau saya mengandalkannya, saya tak dapat membiayai seluruh kepentingan kami. Dan syukurlah saya di terima bekerja di sebuah perusahaan swasta, meskipun berbekal kemampuanku di bidang analisis data, saya beroleh gaji yang cukup.

Ibuku adalah seorang wanita yang terlampau cantik sebenarnya. Usianya baru 38 tahun. Ia menikah muda bersama dengan ayahku. Dan hingga saat ini ia tetap dapat merawat kemolekan tubuhnya. Pernah sih sementara masih remaja saya beronani berkhayal ibuku sendiri. Tapi perihal itupun tak berjalan lama, hanya lebih dari satu sementara saja. Dan adikku masih sekolah SMP, namanya Arin. Seorang gadis periang, cantik dan imut. Banyak cowok2 yang tergila-gila pada adikku itu. Dan paling tidak ada salah satu rekan cowoknya yang pedekate ama dia, tapi yaaa?masih takut-takut.

Dua minggu setelah kecelakaan itu, ibuku memahami berasal dari komanya. Mulanya ia tak ingat apa-apa, tapi setelah tiga hari berada di rumah, ia pun ingat. Tapi sebab kondisinya yang masih lemah, ia pun tak dapat berbuat banyak. Aku dan Arin gantian menjaganya. Sebagai anak laki-laki salah satu beliau terlampau menyayangiku. Katanya ia mengingatkanku pada ayah. Aku memahami ia terlampau shock bersama dengan perihal yang baru saja menimpanya. Aku dan Arin konsisten mengusahakan menghiburnya, hingga ia terlampau sehat.

Hari itu seperti hari-hari sebelumnya, tapi sedikit istimewa, sebab teman-teman kuliahku rela mengunjungiku. Ketika pulang kerja, kita sempatkan sejenak untuk berkumpul. Mereka seluruh turut berbela sungkawa pada keadaanku sekarang. Tapi tak hanya itu mereka mencoba menghiburku, ada-ada saja ulah mereka, yaitu memberiku kaset bokep, dan majalah2 hardcore. Kata mereka, ?Ini bikin menghibur loe sobat, biar nggak berduka terus?. Sialan. Tapi nggak apa-apalah, soalnya termasuk telah lama saya nggak nonton yang begituan. Namun ternyata inilah sumber berasal dari perihal selanjutnya.

Aku pulang dan saya lihat adikku sedang studi di kamarnya. Ibuku telah dapat sedikit berjalan, meskipun masih berpegangan pada apa-pun yang ada di dekatnya. DAFTAR ID PRO PKV

?Kau telah pulang Gun??, tanyanya.


?Iya bu?, kataku.


?Kalau rela makan, di meja makan tadi adikmu membeli sesuatu?, kata ibuku.


?iya?, kataku singkat.

Singkatnya saya mandi dan mengurung diri di kamar. Aku pun terasa saksikan bokep dan majalah-majalah hardcore. Mulanya sih agak aneh aja saya melakukan perihal ini, tapi rupanya sedikit dapat menghiburku. Jam membuktikan pukul sebelas malam, saya tak memahami jikalau telah lama saya berada di dalam kamar mengocok sendiri punyaku dan menontoni tubuh para wanita itu. Aku muncul kamar bersama dengan maksud hati untuk makan apa pun yang ada di meja makan.

Ketika muncul berasal dari kamar, saya melewati kamar ibuku. Astaga, apa yang saya lihat itu? Ibuku yang Mengenakan daster itu nampak tersingkap dasternya, supaya saya dapat lihat CD-nya. Memang badannya masih mulus. Aku terasa menganggap jorok, ini tentu akibat barusan saya nonton bokep. Wajahnya masih cantik, dan saya dapat lihat wajahnya yang polos kala tidur. Aku berdiri di pintu kamarnya, sesungguhnya pintunya sengaja di membuka supaya setiap waktu jikalau ia memanggilku saya dapat dengar. Entah setan mana yang menguasaiku, akupun mengocok punyaku sambil berkhayal beliau membelai punyaku. Aku kocok pelan-pelan. ?Ohh?.Mega..?, saya panggil nama ibuku berbisik. Aku konsisten mengocok, jadi lama jadi cepat, dan maniku muncrat?CROOT?.CROTT?, banyak banget hingga mengotori lantai, buru-buru saya bersihkan bersama dengan kain pel yang ada di sebelah pintu. Entah kenapa saya terasa menganggap seperti itu. Namun rancangan jelekku nggak hingga di situ saja.

Esoknya, saya libur, sebab hari ini adalah hari sabtu. Kantorku sabtu dan minggu libur. Arin telah pergi ke sekolah. Aku bangun agak kesiangan. Mungkin kelelahan sebab moment kemarin. Aku pun entah berasal dari mana mempunyai anggapan yang aneh-aneh lagi. Aku berniat memandikan ibuku, saya dambakan lihat tubuhnya yang utuh. Aku pun ke kamar ibuku, ia telah bangun dan sedang bersiap mandi.


?Ibu, ibu rela mandi??, tanyaku.


?Iya Gun?, katanya.


?Boleh Gun, mandiin ibu??, tanyaku.


?Nggak usah Gun, ibu telah dapat sendiri koq?, jawabnya.


?Nggak apa-apa bu, kondisi ibu masih belum pulih benar?, kataku merayu.


Tak mempunyai anggapan lainnya, ibuku pun menjawab, ?Baiklah?.


Akupun mengantarnya ke kamar mandi. Inilah saatnya pikirku. Aku melihatnya membiarkan daster, BH dan CD-nya satu per satu. Tampaklah dua buah toket yang masih mancung dan miss-v yang saya dambakan lihat berasal dari dulu. Aku hanya terbengong, dan tak terasa tongkolku telah tengah. Darah mengalir cepat ke ubun-ubunku.

?Kenapa Gun??, tanya ibu.

?Ah..nggak apa-apa ?, jawabku.

?Bajunya dilepaskan dong Gun, nanti basah?, kata ibuku. ?Kamu belum mandi termasuk kan??

?I?iya?,kataku.

Aku pun membiarkan pakaianku. Ibuku agak terperanjat lihat punyaku yang tegang. Lalu dia duduk di tepi bak mandi. Seakan mengerti, akupun mengambil gayung dan menyiramkan ke tubuhnya. Ia membersihkan mukanya, ia ganti mengambil gayung dan menyiramkannya ke tubuhku. Kami terlampau saling menggayung. Tibalah sementara menyabun. Aku mengambil sabun cair. Kusabuni punggungnya. Busanya melimpah, lantas berasal dari belakang saya menyusuri pundak, hingga ke depan, saya agak cemas menyentuh dadanya. Takut jikalau dia marah. Tapi ternyata tidak. Akupun sedikit membelai toketnya, dan agak meremas. Kami diam, dan hanya bahasa tubuh saja yang saling berucap. Ku basuh berasal dari dadanya, hingga ke perut. Ketika rela menuju miss-v, ibuku menahan.

?Jangan mengfungsikan sabun ini, tidak baik untuk kewanitaan?, katanya. ?Bersihkan dulu tubuh ibu?.

Aku pun menurut, saya guyang ia mengfungsikan air. Sabun yang ada di tubuhnya hilang, lantas ia mengambil pembersih khusus kewanitaan. Lalu menyerahkannya kepadaku. Aku memahami lantas terasa menyabun tempat itu mengfungsikan sabun tersebut. Mulanya saya hanya cuman menggosok, tapi lama-lama saya sedikit menyentuh kelentitnya, ibuku memejamkan mata sejenak. Sepertinya ia keenakan, saya teruskan, tapi saya tak berani lama-lama. Ia agak tersentak kala saya menyudahinya. Ia menghirup nafas agak dalam, sepertinya ia sedikit horni.

Aku mengguyang air di tempat kewanitaannya. Bersihlah telah sekarang. Lalu giliranku. Aku disabun oleh ibuku. Mula-mula punggung, dadaku yang bidang, lantas perut, dan hingga di tongkolku yang tegang. Ia mengurut tongkolku sesaat, lantas menggosok buah pelirku, sepertinya ia memahami bagian-bagian itu. Enak sekali sentuhan ibuku. AgenBandarCeme