Wanita Yang Terlilit Hutang // Part 1

RAKSASAPOKER Cerita ini adalah kelanjutan cerita?Rasa Ibaku Kepada Wanita Yang Terlilit Hutang Berbuah Kenikmatan 1?, selamat membaca.?Setelah selesai berpakaian, 

HOKIRAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
saya telephone resepsionis untuk minta dicariin taksi ke airport. Setelah tunggu lebih tidak cukup sepuluh menit, resepsionis menelpon lagi memberitahu taksi yang dipesan udah menunggu.

Aku dan Ratih bergegas turun. Aku pakaikan topi berburuku ke kepala Ratih. Rambutnya diselipkan ke atas dan topi menutup lebih dari satu kepalanya.


Keliatan bukan Ratih yang tadi malam saya temui. Aku tersenyum melihat penampilannya yang tomboy itu. Setelah mencium bibirnya, saya gandeng tangannya, kita bergegas terlihat kamar. Setelah mengembalikan kunci kamar di resepsionis, kita langsung masuk ke taksi. Ransel kuletakkan di tempat duduk depan. Ratih dan saya duduk di belakang. Taksi langsung tancap gas ke airport. Aku minta cepat bersama dengan alasan mengejar jam.

Di didalam taksi, Ratih terlihat nikmati perjalanan. Wajahnya begitu berseri-seri. Dia nikmati kegiatan jalur raya yang kita lalui. Perlahan-lahan saya melihat matanya meredup. Dia pasti lelah banget, pikirku. Aku tepuk pelan lengannya dan kuisyaratkan bersama dengan tanganku ke bahuku, Ratih menyadari dan menyandarkan kepalanya ke bahuku.

Taksi melaju bersama dengan cepat menuju airport. Tidak banyak rintangan artinya di jalan. Sampai di airport, sebelum turun saya bangunkan Ratih. Sambil merapikan rambut dan pakaiannya, Ratih mengikutiku terjadi ke arah terminal keberangkatan. Sambil membawa ranselku, saya mencermati loket-loket di terminal keberangkatan yang ada jurusan Denpasar. Terlihat ada jurusan Denpasar, saya langsung menarik tangan Ratih, menanyakan jam keberangkatan dan harga tiket pesawat. Staf yang bertugas menyebutkan angka di bawah 500-an ribu per orang. Aku hitung sebentar, saya pikir uangku cukup. Apalah makna duit segitu, yang mutlak nyawa Ratih dapat saya selamatkan, pikirku lagi. Aku keluarkan kartu kredit dan minta diselesaikan pembayaran. Kebetulan keberangkatan 1 jam lagi, Ratih tetap dapat beristirahat.

Aku melihat Ratih begitu bersemangat. Tidak ada kekhawatiran atau kekhawatiran di wajahnya. Hanya senyum yang terkembang lebar dan binar mata gembira yang saya lihat. Aku bahagia akhirnya Ratih dapat terlihat berasal dari masalahnya. Aku menjadi mengingat-ingat nama kawan yang dapat saya minta tolong untuk mencarikan pekerjaan bikin Ratih nanti.

Setelah tiket saya dapatkan, saya pegang tangan Ratih, saya gandeng ke tempat duduk tunggu penumpang yang dapat berangkat. Bangku di tengah-tengah deretan terlihat tetap kosong. Ada sandaran juga. Setelah Ratih duduk, saya dekatkan ranselku ke kakinya biar dia dapat selonjorkan kakinya. Lalu saya sandarkan punggungku. Sambil meluruskan kakinya, Ratih lagi menyandarkan kepalanya di bahuku. Waktu di hendak membebaskan topinya, saya larang.

?Pakai aja terus. Nanti di didalam pesawat aja baru lepas? bisikku.
?Siapa menyadari di sini ada kawan bos anda atau ada orang yang pernah anda kenal. Bahaya? bisikku lagi.

Ratih mengerti. Dia menganggukkan kepala lantas menyandarkan kepalanya di bahuku. Setelah lebih tidak cukup satu jam menunggu, saya dengar suara Info berasal dari pengeras suara yang memberitahukan pesawat bersama dengan jurusan Denpasar dapat berangkat dan para penumpang diminta bersiap-siap. Aku bangunkan Ratih. Dengan memanggul ranselku, saya gandeng tangan Ratih. DAFTAR ID PRO PKV


Perjalanan pesawat menuju Denpasar lancar dan kita tiba pada selagi hari menjelang sore. Ratih tertidur bersama dengan pulas di pesawat. Sekarang wajahnya terlihat lebih segar. Keluar berasal dari terminal kedatangan, kita langsung masuk ke didalam taksi yang saya hentikan. Tak menjadi lebih dari satu menit lagi kita dapat tiba di kamar kostku. Aku memiliki segudang rancangan yang dapat kulakukan untuk Ratih. Kulihat wajahnya yang berseri-seri.

Wajahnya celingukan kanan-kiri mencermati kendaraan yang lalu-lalang. Persimpangan jalur raya yang besar. Kesibukan di sepanjang jalan. Para turis yang terjadi kaki di sepanjang trotoar. Semua tak lepas berasal dari pengamatannya. Karena begitu penasaran atau heran, Ratih melihat sambil memutar kepalanya ke belakang. Lalu menanyakan kepadaku tiap-tiap yang dilhatnya. Aku sedikit sibuk menerangkan dan menjawab. Sopir taksi senyum-senyum mencermati kita berasal dari kaca spion di depannya. Kadang dia turut menerangkan sambil tertawa-tawa.

Aku bahagia karena Ratih menjadi melewatkan masalahnya. Keceriaan di wajah dan kata-katanya yang kadang konyol meyakinkanku bahwa Ratih siap memasuki dunia yang baru. Dunia yang lebih cerah untuk jaman depannya.

Pintu pagar rumah kostku terlihat. Aku bisikkan bahwa kita udah sampai, Ratih bergegas an merapikan pakaian dan memakai topinya lagi. Aku katakan dia udah aman, gak kudu pakai topi lagi. Dia langsung tertawa. Kulihat argo taksi dan kulebihkan duit untuk tips si sopir.

Keluar berasal dari taksi, saya sandang ranselku dan kugandeng tangan Ratih. Di depan pintu, saya peluk pinggangnya, sehabis pintu terbuka, kupersilahkan dia masuk duluan. Hari perlihatkan sekiytar pukul 4 sore. Untung saya terbiasa rapi. Jadi saya tak malu mengajak wanita masuk kamarku. Lima hari saya tinggalkan kamarku untuk pendakian ke Semeru. Rencananya saya mendaki bersama mahasiwa pecinta alam berasal dari Surabaya. Tapi mereka tetap terhambat dana akhirnya saya berangkat sendiri.

Kuletakkan ranselku dan kulihat Ratih langsung terbaring di tempat tidur. Aku maklum Ratih pasti amat lelah. Kuhidupan pemanas air dan kutuangkan dua sachet kopi ke dua buah gelas untuk kita minum berdua. Lalu kunyalakan TV. Kukeluarkan semua pakaian di didalam ranselku dan keletakkan di atas tempat tidur. Ratih terlihat langsung tertidur pulas. Tanpa punya niat membangunkannya, pakaian yang saya menempatkan di tempat tidur menyentuh lenngannya. Dia langsung terbangun.

?Oh maaf, sayang. Gak sengaja? kataku.
?Kamu senang langsung tidur? Gak mandi dulu?? tanyaku.
?Capek, sayang? jawabnya pelan. Matanya tetap tertutup.

Aku tersenyum. Sambil berdiri, saya elus lengannya. Aku melihat warna pemanas air udah berubah. Air masak, pikirku. Aku tuangkan untuk dua gelas kopi. Lalu saya duduk di lantai sambil meluruskan kakiku. Sambil merokok. Aku nikmati tayangan di TV. Ratih tertidur pulas sekali. Dengan tidur miring begitu, kaki kanan disilangkan ke kaki kiri perlihatkan bulatan pantatnya yang indah. Gak pakai CD, gumamku sambil tertawa sendiri.

Sekitar pukul 1/2 delapan malam, Ratih terbangun. Aku selesai merapikan pakaianku. Semua yang tetap bersih udah saya masukkan ke didalam lemari. Ratih duduk di tempat tidur sambil mengucek-ngucek matanya.

?Enak tidurnya, sayang?? tanyaku sambil membersihkan gelas yang saya pakai untuk kopi tadi.
?Tuh kopi kamu. Udah dingin. Kamu tadi langsung tidur. Padahal saya bikin dua gelas kopinya? sambungku. Aku menempatkan gelasku di rak kecil.
?Jam berapa sekarang, sayang?? tanya Ratih sambil celingukan melacak jam dinding.
?Setengah delapan, sayang. Ayo mandi. Aku temani. Abis mandi kita membeli makan malam ya? ajakku mengulurkan tangan ke arahnya. Ratih menyongsong tanganku. Sambil terjadi ke kamar mandi, saya ambil handuk berasal dari lemari pakaian.