Surga Buat KeponakanKu // Part 2

RAKSASAPOKER ?Har, kamu belum terhitung ya Sayang..? Ayo dong Say..! Kasihanilah aku, sudah lemes banget nich..!? Cici mengiba dan memuncakkan birahiku.

HOKIRAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Kogoyang dengan liar penisku di dalam vaginanya, tetap dan tetap hingga akhirnya, ?Cici, ough.. ach.. terimalah air maniku Say, nikmatilah siraman kenikmatanku.. Hegh..!?

Dan saya pun hingga terhadap pelabuhan kenikmatan yang kudambakan. Kusemprotkan maniku sejadinya.


Walaupun maniku sudah habis, tetapi kedutan kenikmatan tetap kurasakan terhadap penisku, apalagi vagina Cici tetap mengurutku.

Walaupun sudah orgasme, batang kemaluanku tetap tetap tegang penuh. Tidak seperti ini biasanya. Kami berpelukan, berciuman. Kuelus dan kukemut susunya yang besar menantang itu. Beberapa waktu hingga akhirnya kami sangat terkulai lemas. Habis tenaga kami. Basah kuyup badan kami oleh peluh kenikmatan.

Kutengok TV yang tetap menyala tanpa ditonton dan tanpa suara. Buletin Malam RCTI. Waahh, berati sudah jam satu lebih. Lama sekali kami bercinta penuh gairah, nafsu dan sayang. Cici merebahkan kepalanya di dadaku. Sesaat kemudian, kami ke kamar mandi bersama-sama. Saling memandikan di bawah siraman air hangat yang memicu kami fresh kembali. Kadang kami saling berpelukan sambil menggesekkan tubuh kami. Oohh.., nikmatnya dunia.

Kami ulang mengobrol dengan tubuh hanya berbalut handuk. Dari langkah duduknya, Cici secara tidak sengaja mempertontonkan bukit surganya padaku, memicu batang penisku tetap tegak berdiri. Aku memesan makanan ringan, teh panas untuknya dan susu untukku sendiri. Cici menggoda, terjadi mendekatiku menyodorkan buah dadanya, memasukkan puting susunya ke mulutku. Tepat memang, dikarenakan saya duduk di daerah tidur.

?Susuku yang dua ini sudah kupersembahkan padamu, nggak lumayan ya..? Kok tetap pesan susu ke Room Service. Susu siapa sih yang dipesan..?? godaan ini memicu Cici dan saya tertawa terbahak-bahak.
Kami bergulingan sambil berpelukan. Bahagia sekali rasanya.

Pesanan kami sudah hingga dan kami nikmati dengan saling menyuapi. Ketika Cici senang berdiri, dia menyenggol gelas susu. Sehingga ada sedikit yang terciprat ke dadanya. Untung susu itu hangat saja. Cici melacak tissue, tetapi kucegah. Kurebahkan dia di daerah tidur, kujilat susu yang ada di atas dadanya sambil kujilat puting susunya. Cici mengerang kenikmatan.
?Nakal kamu ya..!? katanya sambil bangkit dan mencubitku.

?Har, kok burungnya bangun tetap sih..? Aku sudah lelah sekali, kamu tetap senang ulang ya..??
?Ya tetap dong, tetapi nanti saja. Kita bobok dulu yuk..!?
Akhirnya kami rebahan. Kubalikkan badannya membelakangiku. Mau tidak mau, batang penisku masuk terhitung ke selangkangannya. Tapi saya diam saja. Sesekali Cici mengurut batang penisku dengan vaginanya. Berkedut-kedut. Tanganku mengelus-elus buah dadanya. Kami mungkin sudah sangat lelah, sehingga tanpa jadi kami tertidur, dengan penisku berada di dalam vaginanya. Tidur yang sangat nikmat. DAFTAR ID PRO PKV


Hari Sabtu, hari libur, hari malas. Aku biasa bangun jam 10 pagi. Tapi hari ini molor hingga jam 12. Kami bangun mandi berbenah sedikit untuk siap-siap jalan-jalan. Penisku tetap tegap berasal dari tadi pagi, dikarenakan saya sangat nikmati asmara ini. Di depan Cici, kutelepon anak-anakku. Mereka dengan dengan baby sitter dan nenek mereka. (Jangan salah menduga, mereka tetap terurus kok.) Kami mengobrol kurang lebih 30 menit. Aku senang, mereka pun senang. Aku bilang bahwa saya dapat pulan hari Minggu siang, sesudah mengantar Cici ke bandara, tentunya. Cici pun mengirim salam untuk mereka.

Ketulusan Cici mengirim salam terhadap anak-anakku memunculkan gairahku yang tidak tertahankan. Kubuka celananya jeans-nya dan tanpa pemanasan kusenggamai Cici berasal dari belakang sambil berdiri. Cici menanggapi dengan gelora membara pula. Vaginanya yang pada awalnya kering langsung membasah memicu gesekan-gesekan kenikmatan kami menjadi menggila. Napas Cici tersengal-sengal. Goyangannya menjadi lebih liar, kadang maju mundur kadang memutar. Sekehendaknya Cici melacak kenikmatan di liang senggamanya. Goyanganku pun menjadi lebih cepat dan keras.

Tiba-tiba Cici membalikkan wajahnya, ?Cium, Harr..!?
Langsung kucium bibirnya sambil kuremas-remas gemas buah dadanya yang besar itu. Ternyata ini adalah saat-saat puncak orgasmenya. Vaginanya meremas-remas batang penisku, berdenyut-denyut. Ini membuatku kesetanan. Kegenjot vaginanya keras-keras hingga tubuh Cici berguncang-guncang. Tidak lebih berasal dari 5 menit, kusemburkan maniku di dalam vaginanya. Luar biasa, cepat sekali. Setiap semprotan mani kusiramkan dengan sodokan-sodokan keras penuh kenikmatan. Banjirlah vaginanya dengan siraman air maniku.

Cici dan saya ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sekeluar berasal dari kamar mandi, dia memelukku erat sekali, menciumku mesra sekali.
?Har, saya menerima kamu apa adanya, senang saya menjadi pendampingmu, apapun statusku. Itu tidak sangat penting, saya sangat mencintaimu, terhitung sayang dan kasihan terhadap anak-anakmu. Tapi saya sadar, bagaimanapun saya tidak dapat menjadi ibu mereka. Udah deh, yuk kami jalan-jalan dulu..!?

Kami jalan-jalan di Ancol, datang ke semua daerah hiburan hingga malam hari. Malam Minggu yang melelahkan tetapi terhitung sangat membahagiakan. Sampai akhirnya, kami mojok di pantai dekat kuburan Belanda, yang paling sepi.
?Waktu cepat sekali berlalu ya Harr..!? Cici terhubung pembicaraan sesudah lebih dari satu waktu kami berdiam dan lamunan kami terjadi entah kemana.
Yang jelas, saya hanya membayang-bayangkan, gimana kelanjutan hubungan ini.

?Begitulah Say.. Gimana kecuali kamu menunda sehari lagi..?? tanyaku tanpa harap, dikarenakan saya memahami ini tidak mungkin.
Cici hanya terdiam. Aku ubah ke jok belakangan diikuti Cici. Direbahkannya kepalanya di pangkuanku. Batang kemaluanku pun langsung menegang keras. Cici merasakannya dan langsung terhubung celanaku.
?Harh, si Adik bangun lagi.? sambil tangannya mengelus-elus batang dan lidahnya jadi menari di ujung penisku.
Aku tidak senang kalah, celananya kulepas sehingga saya dapat secara leluasa meraba, mengelus bulu-bulu halus di vaginanya.
?Heeggh, terusin Harr.. yang dalam..!? pintanya.

Jari tengahku pun jadi kumasukkan di dalam liang senggamanya yang sudah sangat basah. Cici berkelojotan lebih liar, semantara saya sendiri merasakan penisku sudah waktunya mendapat perlakuan lanjutan.
?Cici, saya sudah nggak tahan..!? kataku sambil membimbingnya sehingga duduk di pangkuanku, menghadapku, sehingga kakinya dapat bertumpu di jok.
Dikocok-kocoknya penisku sambil kami berciuman dan lantas dibimbingnya kemaluanku itu tetap terhadap liang kenikmatannya. Pelan tetapi pasti, amblaslah semua batang penisku. Aku dan Cici sama-sama tertahan disaat ujung penisku menyentuh pintu rahimnya.

Cici mobilisasi pinggulnya maju mundur, walaupun kami saling berpagutan. Merangsang sekali. Tidak tahan ulang saya untuk tidak melumat buah dadanya yang besar berayun-ayun disaat Cici bergerak ke atas-bawah. Cici menjadi lebih liar dan gerakannya menjadi lebih dahsyat.
?Har, remas susuku sekeras-kerasnya, saya sangat menikmatinya..! Please Har..!? pintanya.
?Ntar sakit dong Ci, saya nggak..? jawabanku dipotongnya.
?Biarin, biarin.., saya sangat menikmatinya..! Siksalah saya dengan nikmatmu Har..! Membuatku lebih nikmat hegh..!?
Aku baru memahami bahwa Cici tampaknya agak suka dengan sadism.

Kuremas keras susunya, kugigit agak keras dikarenakan was-was menyakitinya. Cici menjadi lebih liar dan melenguh agak keras.
?Say, ough.. ough.. nikmatnya Say, saya nampak lagi, ouch ach.. ini nikmat sekali..!? dan Cici pun mengejang hebat.
Tidak dulu kubayangkan sebelumnya, bahwa Cici dapat seperti ini. Entah mengapa, saya justru menjadi sangat susah untuk mencapai orgasme. Cici tampaknya memahami hal ini.

?Say, nggak apa-apa kok, saya sungguh menikmatinya, gemasilah diriku sesukamu..!?
?Kita ulang ke hotel yuk Ci, malam sudah jadi larut..!?
Cici terlihat agak bingung, dikarenakan saya tidak menyelesaikan puncak-puncak pendakian kenikmatan itu.

?Say, kulayani kamu semalaman ini, kami nggak usah tidur, ya..?? pinta Cici disaat kami memasuki pintu kamar.
Aku mengiyakan saja. Cici memesan bermacam makanan kecil dan biasa, susu kesukaanku yang dipesan Cici hingga 3 gelas. Room Service mungkin heran, ya..? Kami sempat ngobrol sebentar hingga Cici memintaku untuk melanjutkan puncak-puncak pendakian kenikmatan yang sempat teputus.

Cici langsung terhubung semua pakaiannya dan tubuh mungil indah itu berdiri tegak di hadapanku.
?Har, kamu diam saja. Aku dapat melayanimu habis-habisan..!?
Dan sambil bicara begitu, Cici terhubung bajuku pelan-pelan sambil mencium dan menjilati dadaku. Ooh nikmat sekali. Lalu giliran celanaku dibukanya, sambil menjilati dan menciumi penisku yang sudah tegang memerah. Aku seperti majikan yang dilayani oleh seorang dayang. Pahaku, kakiku, pantatku, semua dielus, dicium dan dijilat. Aku tidak memahami Cici belajar berasal dari mana, atau mungkin naluri saja.

Dengan posisiku tetap duduk di kursi, Cici membalikkan badan, duduk di pangkuanku dan memasukkan penisku ke vaginanya. Gerakan-gerakan lembut dilakukannya. Tubuhnya menggeliat-geliat dikarenakan kuremas lembut buah dadanya sambil kuciumi dan kujilat punggungnya. Beberapa waktu kemudian, Cici melenguh dan mengejang lagi. Dan ulang denyutan-denyutan itu kurasakan.
?Hugh Say, kenapa menjadi saya yang hingga duluan..? Nikmat sekali rasanya, kamu senang kuapakan sehingga sampai..?? semua ini dikatakan Cici sambil tetap menggoyang pinggulnya.

Aku mengajaknya naik ke ranjang. Kuarahkan dia sehingga dia siap dengan posisi doggy style. Cici menurut saja. Kutusukkan batang penisku amblas di dalam vaginanya dan kogoyang dengan keras dan cepat. Lama sekali kunikmati posisi ini, dikarenakan berasal dari belakang saya dapat menikmat kemolekan tubuhnya dan meremasi buah dadanya. Akhirnya, saya tidak kuasa ulang menghambat tekanan hebat di dalam penisku, dikarenakan remasan-remasan vagina yang tidak kunjung habis.

?Ci.., saya senang nampak niich..! Tahan ya Sayang, jangan hingga lepash..!? dan kogoyang pantatku keras-keras hingga akhirnya, ?Aachh..!? teriakku dengan keras menyertai semprotan-semprotan maniku yang membajiri liang vagina Cici.
?Say, goyang tetap jangan berhenti..! Aku terhitung senang hingga lagi, ooh..!? pinta Cici.
Aku yang sebelumnya jadi melemas ulang menggoyang kemaluanku dengan lebih cepat dan keras.

Cici akhirnya menjerit, ?Saych..!? dan denyut-denyut kenikmatan itu ulang mengurut-urut penisku. Kami rebah kehabisan tenaga. Badan kami basah oleh peluh. Pendakian kami akhirnya hingga terhitung terhadap puncak kenikmatan bersama-sama. Sambil tetap berpelukan, kami saling meraba daerah-daerah kenikmatan kami. Sampai akhirnya kami benar-benar lemas. Tidak berdaya.

?Yuk berendam yuk..! Biar nggak capek..? kuajak Cici ke kamar mandi untuk berendam air hangat.
Setelah air penuh. Kami pun berendam, di ujung bath tub saling berhadapan. Kakiku kadang-kadang usil untuk mempermainkan selangkangan Cici, yang membuatnya sesekali memejamkan mata. Pastilah nikmat.

?Har, tadi waktu kamu berasal dari belakang, jari dan burungmu sesekali menyentuh lubang duburku, kok enak yach..?? Cici terhubung pembicaraan yang mengejutkanku.
Mungkin secara tidak memahami saya sudah menyentuh duburnya tadi, dikarenakan gerakanku yang liar penisku seringkali lepas. Dan saya pun seringkali sambil terpejam meremas-remas pantatnya yang aduhai, indah dan merangsang.
?Kamu senang nggak melakukannya lagi..?? bertanya Cici.
Aku mengiyakan, dikarenakan saya terbayang adegan-adegan yang dulu kutonton di BF. Mungkin Cici tipe wanita yang suka coba-coba, meski kadang itu menyakitkan dirinya.

Setelah mandi dan beristirahat entah berapa lama, kami memulai akivitas lagi. Seperti janjiku, saya menghendaki Cici untuk menungging sehingga pantatnya lebih terbuka. Kuelus lembut pelan-pelan lubang pantatnya. Kuciumi dan lalu kujilati. Entah apa yang kulakukan ini, dikarenakan saya belum dulu melakukannya. Terpikir olehku, mungkin ini dapat menjadi anal seks yang pertama. Cici sudah beri tambahan keperawanannya padaku, sebanarnya itu sudah luar biasa bagiku. Tapi ini, tampaknya dapat menjadi lebih dahsyat lagi.

Cici terlihat sangat nikmati perlakuanku. Desahannya sangat merangsang, memunculkan gairahku yang semakin membara. Batang penisku sudah menjadi sangat tegang. Cici memegangnya dan, ya ampun.., dia mengarahkan batang kemaluanku ke anusnya. Seperti sudah tidak dapat mengendalikan diri lagi, kugesek-gesekkan penisku ke anusnya.

?Ooch Har, enak sekali Say..! Aach..!? kata Cici sambil mobilisasi pantatnya, seolah menginginkan kenikmatan di semua permukaannya.
Bayanganku terhadap adegan-adegan BF menguasai anggapan dan nafsuku.
?Ci, boleh nggak kumasukkan kontolku ke duburmu..??
Cici terlihat terkejut, pasti dia tidak mengira.

?Memangnya nggak jijik..??
?Nggak memahami deh, saya hanya menginginkan mencobanya.? jawabku sedikit bohon.
Padahal saya sangat menginginkan mencobanya dikarenakan adegan BF itu. Cici menyebutkan terserah saja. Akhirnya kucoba juga. Sangat sulit, dikarenakan Cici kesakitan dan tetap menghindarkan lubang pantatnya.

?Ci, jangan bergoyang terus..! Susah nih, pasrahlah..!? pintaku padanya.
Entah dapat ilham berasal dari mana. Akhirnya kupaksa Cici telungkup dan kutindih pantatnya, sehingga ia tidak dapat dapat banyak bergerak. Kululuri penisku dengan ludahku sehingga menjadi lebih licin, seperti di BF. Dengan agak memaksa dan penuh nafsu, kutekan batang penisku masuk ke anusnya.
?Har, sakit..! Stop..! Ach..!? Cici memekik kesakitan.
Tapi panisku sudah amblas di dalam anusnya. Aku terdiam. Cici kadang mengejangkan lubang anusnya, sehingga memberiku kenikmatan. Cici tetap telungkup menutup wajahnya dengan bantal.

?Kalau sesungguhnya enak, terusin..! Tapi pelan-pelan..!? katanya kemudian.
Aku pun langsung mengayun sepelan mungkin. Ooh, nikmat sekali rasanya. Belum dulu kunikmati kenikmatan seperti ini. Mungkin dikarenakan Cici menjadi lebih rileks, sodokanku pun menjadi lebih lancar. Kuangkat pantat Cici sehingga saya dapat menyusupkan tanganku, sehingga dapat meraba vaginanya. Cici mengeliat-geliat. Tampaknya dia sudah jadi menikmati. Vaginanya menjadi lebih basah. Desahannya pun tetap terdengar. Aku menjadi semakin nikmati pengalaman baru ini. Kenikmatan puncak yang diberikan oleh gadisku, yang sangat mencintaiku.

Jari tengahku kumasukkan di dalam lubang vaginanya. Cici sangat menikmatinya dan vaginanya pun menjadi basah sekali.
?Har, dua jari sehingga lebih terasa..!?
Maka kumasukkan jari telunjukku di dalam lubang nikmat itu. Cici menjadi lebih gila. Goyangannya menjadi semakin hebat, sehingga saya tidak mesti menggoyang, dikarenakan tanganku mesti menjangkau lubang nikmatnya itu.

?Harh.. har.. saya senang hingga Har..! Ochh Har.. Aach..!? tinggi lenguhannya dan banjirlah vaginanya.
Aku menjadi lebih bersemangat menggenjot anusnya dan saya pun tidak dapat menghambat laju air maniku. Cret.. cret.. cret.. kutumpahkan air nikmatku di dalam anusnya dengan denyut-denyut kenikmatan yang tak ada taranya.

Kami ke kamar mandi untuk membersihkan diri sesudah itu. Cici mencegahku untuk membasuh penisku sendiri. Cici memandikanku dengan gosokan-gosokan yang lembut. Aku sungguh seperti seorang majikan yang dilayani seorang dayang. Belum dulu saya mengalami seperti ini. Tidak terasa, hari sudah pagi. Kami mesti bersiap-siap dikarenakan jam 10:00 Cici mesti ke bandara.

Akhirnya kuantar Cici ke bandara. Air mata Cici membasahi pipinya. Kami berpelukan. Ciuman kami pun tidak tertahankan. Pandangan orang-orang di lebih kurang kami pun terarah terhadap sepasang manusia. Kami tidak menghiraukannya. Cici mesti ulang ke M. Sesak rasanya dada ini. Tapi kami saling berjanji dapat merawat cinta kami.

Dua malam yang sangat melelahkan dan membahagiakan sudah lewat. Kami dapat berjumpa kembali. Cici pasti dapat pulang ke Jakarta lagi?