Surga Buat KeponakanKu // Part 1

RAKSASAPOKER Cici (aku biasa memanggilnya CC) adalah keponakan yang ketemu lagi sebagian bulan yang lalu (sekitar September 2001) di Mataram. 

HOKIRAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Sebagai mahasiswi tidak benar satu Akademi Pariwisata kondang di Jakarta, dia wajib merintis studi praktik di tidak benar satu hotel berbintang di Lombok.

Umurnya baru 19 tahun, beda jauh bersama dengan umurku yang udah 35 tahun dan udah menikah bersama dengan dua anak.


Sekarang saya merintis hidup pisah ranjang bersama dengan istriku, sejak dia menyeleweng bersama dengan kawan bisnisnya. Aku membutuhkan kawan wanita, tapi tidak suka ganti-ganti atau jajan. One women at a time, lah. Hubungan kita berlangsung biasa saja, karena kita cuma bersua satu atau dua kali sebulan, pada saat saya jalankan kunjungan kerja ke kota S. Rasanya suka miliki saudara di area jauh.

Tapi, lama kelamaan senyumnya itu lho yang membuatku mabok kepayang. Ukuran tubuhnya yang relatif (tingginya cuma 155 cm) kecil pun merupakan impianku, karena saya termasuk tidak sangat tinggi (167 cm). Hubungan kita sesungguhnya jadi sebagai layaknya saudara, sampai suatu hari saya telephone dan memperlihatkan permintaan saya untuk terkait lebih serius.

?Kapan Cici ke Jakarta? Aku udah pengin banget nih ketemu serupa kamu.? tanyaku ketika meneleponnya pada awal bulan yang lalu.
?Wah saya nggak bias bolos, terkecuali terkecuali cuma untuk satu atau dua hari. Aku baru pulang nanti bulan Januari tahun depan. Jatah tiket saya untuk bulan-bulan itu.? jawabnya, ?Kecuali terkecuali tersedia yang rela kasih tiket pesawat, hehehe.?
Kesempatan nih, pikirku.
?Gimana terkecuali saya kirim tiket? Mau kan? Tanggal berapa?? tanyaku penuh harap.
?Gimana terkecuali akhir minggu ini? Tapi jangan bilang serupa orang tempat tinggal terkecuali saya bolos lho!? pintanya mengingatkan.

Benar saja, pada hari Jumat sepulang kantor kujemput dia di Cengkareng. Wow.., beda sekali! Dia mengfungsikan celana jeans biru ketat, bersama dengan kaos ketat menggantung, agar pusarnya kelihatan. Dan, ya ampuun.., bersama dengan kaos yang ketat itu, keluar bersama dengan jelas betapa besar buah dadanya yang keluar sangat besar dibanding bersama dengan badannya yang mungil. Kutaksir berukuran 36 lah.

Biasanya dia mengfungsikan baju agak longgar, jadi tidak begitu kelihatan. Batang penisku segera bereaksi, tapi lalu kutenang-tenangkan agar cepat kendor. Belum waktunya.
?Gimana Ci, kita makan dulu ya..??
Kami segera ke Plasa Senayan, makan sambil ngobrol di Spageti House. Setelah itu, kita segera menuju di Horison Ancol untuk nikmati saat berdua kami.

Setelah ngobrol panjang lebar, kulihat dia berlangsung mendekati jendela yang menghadap ke laut. Kuanggap ini sebagai undangan dan lalu saya mendekati dan memeluknya berasal dari belakang. Kurasakan buah dadanya jadi lebih kencang dan dipejamkan matanya. Kuciumi lehernya bersama dengan penuh gelora nafsu. Kulepas kaitan BH-nya agar bersama dengan leluasa bisa kuraba dan kuremas. Ooh besar sekali buah dada ini. Kubalik badannya, kuangkat kaos mininya dan kucium dan kulumat penuh gelora buah dada itu. Sepertinya ia baru pertama kali pacaran layaknya ini.

?Haarhh.. malu nich..!? katanya, tanpa memintaku berhenti.
Aku jadi makin berani. Celananya kubuka. Cici memberontak sedikit, tapi tidak sangat berarti. Kulepas seluruh pakaiannya agar dia telanjang bulat, saat diriku tetap berpakaian. Putih mulus tubuhnya kunikmati, karena kita tidak mematikan lampu. Kucium seluruh tubuhnya yang berdiri tegak di depanku. Seperti cacing kepanasan, Cici menggeliat dan mengerang. Seluruh badannya merinding dan menggigil. DAFTAR ID PRO PKV


Ketika ciuman dan jilatanku sampai ke area kemaluannya, Cici mengerang hebat sambil meremasi rambutku.
?Hegh.. Harrch.. Enak sekali. Kaki saya lemes Harch.. tolong akhhu heh..!? erangan yang terdengar sangat merangsang bagiku.
Sekali-sekali kuraba dan kuremas lembut buah dadanya yang menggunung itu, sangatlah seksi dan merengsang berahiku.
?Harch heehh please..! Aku lemas sekali nich.. auch..!? lenguhnya makin tinggi.

Aku segera mengangkatnya ke area tidur dan melanjutkan jilatan-jilatanku di area surganya. Tidak terasa, udah lebih berasal dari 10 menit saya memberinya pengantar kenikmatan, seolah ia udah sangat pengalaman. Sampai akhirnya, saya terkejut karena ia jadi layaknya kejang, meremas kepalaku dan menekannya ke vaginanya.

?Harchh.. saya mau.. augh..!? lenguhnya meninggi.
Wow.., dia udah orgasme. Ada sedikit cairan kental keluar berasal dari vaginanya, hangat dan nikmat. Dalam suasana terengah-engah tetap kujilat bibir vaginanya. Lenguhan-lenguhannya layaknya tidak rela berhenti. Terkulailah gadisku lunglai layaknya tanpa daya. Kupeluk dan kucium bibirnya bersama dengan mesra dan cinta. Aku sengaja menghambat diri, untuk memberinya kesempatan lebih dulu.

?Gimana Ci, enak..?? tanyaku, ?Kamu dulu layaknya ini sebelumnya..??
?Aku nggak jelas tentu bayanganmu mengenai diriku, Har. Mungkin anda berasumsi saya perempuan murahan. Tapi sungguh, ini pertama kali saya merasakan kenikmatan yang tak terlukiskan. Biasanya, saya cuma masturbasi saja. Aku rela mempersembahkan keperawananku pada orang yang kucintai.? jawabnya.
?Jadi anda tetap perawan..?? tanyaku bersama dengan heran.
?Ya, saya tetap perawan. Dan saya bakal mempersembahkannya untukmu. Aku sangat mencintaimu, Har.?
Jawaban ini sebabkan hatiku runtuh, karena biasanya saya berpacaran bersama dengan wanita-wanita yang udah tidak perawan.

?Cici saya minta maaf, tapi sepertinya saya tidak bisa melanjutkan. Aku belum mengatakan, gimana latar belakang dan keadaanku sebenarnya.? keinginanku untuk mengatakan dipotong Cici.
?Har, saya udah jelas kok. Aku bertanya serupa teman-temanmu di sana. Dan mereka memberi jelas apa adanya. Jadi, saya udah jelas dan siap untuk jadi madumu.? jawabnya bersama dengan centil sambil mencubitku.
?Yang bener nih..?? tanyaku sambil tertawa, suka sekali rasanya.

Kutengok arlojiku, udah jam 11 malam.
?Kamu nggak rela pulang nengok Papa-Mama Ci..??
?Kan udah saya bilang, saya bolos dan anda wajib merahasiakannya, Oke..!?

Dia membalikkan badannya agar menghadapku, kulonggarkan pelukanku dan dia layaknya tersadar. ?Lho.., jadi anda tuh tetap mengenakan pakaian to..? Ya ampun, malu nih..! Payah kamu. Ayo dong, anda termasuk membuka baju..!?
Aku segera terhubung baju. Cici lihat bersama dengan penuh rasa inginkan tahu. Tanpa sadar, burungku yang tegang sekali ternyata udah mengeluarkan cairan bening.

?Har, burungmu besar sekali. Muat nggak ya..?? tanyanya sambil memandangi penisku yang coklat kehitaman.
Ukurannya sesungguhnya tidak lah besar, tergolong kecil lah karena cuma lebih kurang 14 cm.
?Kok tersedia cairan beningnya sih..??
?Ya iya, saya kan termasuk merasakan kenikmatan bersama dengan memberimu yang tadi itu.?
?Har, kasih jelas dong gimana saya bisa memberimu kenikmatan layaknya yang kurakakan tadi..!? pintanya.
?Learning by doing aja ya.? jawabku.

Setelah memberi jelas cara-caranya, saya lalu rebahan. Masih bersama dengan agak canggung, Cici jadi memegang, menggosok dan memijat penisku, termasuk buah pelirnya.
?Ooh.. Cici, enak sekali..!? gumanku menikmatinya.
?Mulai dikemut dong Sayang..!? pintaku.
Cici bersama dengan agak curiga memasukkan penisku ke dalam mulut mungilnya. Pada awalannya agak sakit, karena sesekali terkena giginya, tapi kemudian Cici jadi lebih pintar. Kuluman atas penisku jadi lebih lembut dan nikmat sekali.

?Kemut, jilat dan raba semuah.. Ci..!? pintaku karena jadi menanjaklah kenikmatan itu.
Karena kerap kali tidak tahan, saya menggoyangkan pantatku. Sehingga, jilatan bagian bawah buah pelir seringkali tidak benar ke area lebih kurang anus. Dia memejamkan mata, jadi dia tidak tahu, tapi saya bisa merasakan kenikmatannya.
?Oougghh.., enak sekali Ci..!? erangku tiap kali area duburku terjilat.
Pada awalannya saya sesungguhnya tidak sengaja, tapi kemudian sesekali kupelesetkan karena nikmatnya. Aku belum dulu mengalami kenikmatan ini berasal dari wanita mana pun.

Kenikmatan jadi memuncak dan saya berharap Cici untuk mengulum penisku, karena saya udah mendekati puncak. Cici mengulum sambil menjalankan kepalanya ke atas-bawah dan kadang memutar. Dan sampailah puncak kenikmatan itu.
?Aauugghhrhh.. saya keluarhh..!? erangku sambil meremas rambut Cici dan memegangnya erat agar tidak lepas.
Cici terkejut karena semprotan spermaku yang kusemburkan air nikmat itu ke dalam mulutnya, yang membuatnya menelan sambil gelagapan.

Sisa spermaku menetes berasal dari mulutnya.
?Kenapa dikeluarkan di mulutku Har..?? Cici memprotes.
?Sama saja Sayang, anda tadi kan begitu juga. Enak kan..?? saya menimpali sekenanya.
Semula ia keluar jengkel tapi kemudian tersenyum, paham.

Jam 12 malam sudah. Satu sama. Cici lihat ke penisku dan heran.
?Lho kok jadi kecil dan pendek. Tadi besar sekali sampai mulutku nggak muat..??
?Ya iya dong Sayang, terkecuali lagi bobok yang cuma 3 cm, tapi terkecuali bangun jadi malah besar, hebat ya..!?
?Trus terkecuali rela buat besar lagi, caranya gimana..?? Cici bertanya sambil meremas-remas penisku.
?Kalau rela agak lama, ya gitu, diremas, diraba. Kalau rela cepet ya dikemut lagi.?

Dan tanpa diminta, Cici segera mengemut batang penisku, yang kemudian sesungguhnya segera membesar pada ukuran penuhnya. Aku tidak rela ketinggalan, kubalikkan badanku agar kita mempraktekkan posisi 69. Cici sepertinya jadi bangkit gairah dan melenguh-lenguh sambil mengulum batang penisku.

Setelah kita sama-sama penuh gelora dan napas kita udah tersengal-sengal penuh kenikmatan, Cici bertanya, ?Gimana lanjutnya Har..??
?Kamu bener udah siap..? Kamu nggak nyesel nanti..?? kutanya Cici karena saya sesungguhnya mendua, inginkan menjaganya sekaligus inginkan menuntaskan hubungan asmara kami.
?Aku kan udah bilang. Aku siap untuk mempersembahkan keperawananku buat kamu. Jadi mulailah, gimana..??

Mendengar jawaban ini, akal sehatku padam. Segera saya berlutut di antara selangkangannya. Kutempelkan batang penisku ke vaginanya. Menggesekkannya dan sedikit menekannya.
?Ouuch Har.., enak sekali..! Terusin Har..! Aahh..!? lenguhnya jadi merasakan kenikmatan.

?Cici, yang pertama ini agak sakit, tapi cuma sebentar. Kamu bakal punya kebiasaan dan jadi merasakan nikmatnya. Tahan ya..!? sambil kutelungkupi badannya yang mungil itu.
Kucium bibirnya bersama dengan penuh nafsu dan kusedot kuat-kuat. Kucium dan kugigit-kecil puting susunya. Cici mendesah nikmat. Kucium lagi bibirnya kuat-kuat. Dan ketika itulah kutekan batang penisku masuk ke liang senggamanya. Cici memelukku erat terhenyak. Pastilah dia menghambat sakit.

Setelah batang penisku masuk sepenuhnya, kubiarkan ia di dalam, diam. Terus kucium bibirnya sambil kubuat kedutan-kedutan kecil di kemaluanku. Cici ternyata jalankan refleks yang sama. Otot vaginanya termasuk sebabkan kedutan-kedutan kecil, yang makin lama jadi layaknya tarikan-tarikan halus, menyedot batang penisku, seolah berharap lebih dalam. Aku jadi mengayun-ayun pelan dan jadi kurasakan ujung kamaluanku menyentuh liang rahimnya. Oooh nikmat sekali. Inilah alasanku, mengapa saya selamanya lebih suka bersama dengan wanita bertubuh mungil. Tubuh yang bisa memberiku kenikmatan lebih. (Tapi terkecuali terdapatnya yang tinggi, ya nggak nolak, hehe..)

Ayunanku jadi lebih lancar dan berirama. Cici sepertinya udah tidak sakit lagi. Atau barangkali kenikmatan ini udah mengalahkan rasa sakitnya.
?Gimana Sayang, enak..??
?Oouuh Har.., terusin..! Lebih keras.., lebih cepat.. hegh.. ooh.. Har nikmat sekali Sayang..!?
?Cici, nanti saya semprotkan maniku di dalam atau di luar..??
?Terserah, apa pun yang sebabkan kita nikmath hegh..!?
?Kalau nanti anda hamil gimana..??
?Biarin, biarin, aauchh..!?

Kami bicara sambil menggoyang badan kami. Dengan refleknya Cici mengimbangi tiap tiap sodokan dan goyanganku. Kalau saya cepat, dia pun mempercepat. Kalau saya melambat, dia pun begitu. Sambil menggoyang, kulumat bibirnya, kusedot dan kugigit-gigit kecil buah dadanya.
Belum lima menit kita mendayung lautan kenikmatan, Cici nampak jadi lebih liar. Goyangan pinggulnya jadi lebih cepat dan tidak terkendali. Pelukannya jadi lebih erat. Dan dia melenguh bersama dengan hebat dan saya merasakan denyutan-denyutan otot vaginanya. Ayunan batang kemaluanku kubuat jadi lebih kuat tapi selamanya pelan untuk memberi tambahan kenikmatan yang lebih. Dua, satu.

?Ooch.., Har saya lelah sekali, tapi anda belum ya..??
?Kita istirahat dulu deh, nanti lagi..!?
?Jangan Har, jangan lepaskan, kita teruskan, kupuaskan kamu, gimana pun..!?
Cici jadi menjalankan pinggulnya. Ayunan batang kemaluanku kuteruskan. Agak tidak tega saya sebenarnya. Tapi Cici sepertinya agak memaksa. Jadi, sambil berpeluk dan berguling kita tetap mengayun, mendayung kenikmantan. Orgasmeku yang ke dua biasanya sesungguhnya agak lama, kadang saya wajib menanti 10-20 menit.

Dan begitulah, Cici jadi melenguh kenikmatan, dia jadi mempercepat dayungan perahu mungilnya. Aku mengimbangi. Betapa nikmatnya. Dan rasa nikmat ini jadi berlebih-lebih lagi, karena saya memberi tambahan kenikmatan pada gadisku yang mungil, cantik dan menggairahkan ini.
?Hhegh.. Har.. Har.. oh Sayang, saya rela sampai lagi..! Oooh cepat.. cepat.. lebih keras..!? lenguhannya datang lagi sejalan bersama dengan urutan-urutan lembut pada batang penisku.
Aku jadi makin bernafsu. Cici jadi lemas. Benar-benar lemas.