Sepupu Istriku // Part 1

RAKSASAPOKER Baru kembali dari luar kota tadi malam Aku agak malas buat siap- siap ke kantor, nanti agak siang saja Aku masuknya. 

MAINRAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Istri aku telah berangkat, anak semata wayang aku telah ke sekolah. Berakhir makan pagi yang disiapkan oleh Yuni Aku belum pula mandi tetapi menikmati 3 hari koran yang belum pernah aku baca sepanjang keluar kota di kursi ruang tamu. Santai? Hari menjelang siang.

Yuni baru saja berakhir mengepel lantai kemudian ke balik.


Rasanya terdapat yang aneh pada Yuni. Masing- masing hari ia memanglah mengepel lantai serta itu biasa. Entah apanya yang berbeda pada ia pagi ini Aku tidak mencermati serta memanglah tidak mau ketahui. Cuma aku rasakan agak aneh saja. Kembali Aku membaca koran. Kala terdengar suara guyuran air di kamar mandi balik, pula masih biasa, Yuni berakhir bersih- bersih rumah kemudian mandi.

Kemudian separuh jam setelah itu ia nampak sliweran antara dapur serta ruang makan pula biasa. Pula kala masuk ke kamar anak aku. Sekilas Aku pernah melihatnya melalui dari balik bentangan koran aku. Bisa jadi ini yang tidak biasa, ia nampak lebih apik dari umumnya. Daster yang ia kenakan tampaknya baru. Bisa jadi ia ingin keluar belanja, pikirku.

Dalam banyak aktivitas ia di ruang makan kadangkala ia membuat suara- suara benturan piring serta perlengkapan yang lain. Dengan sendirinya Aku sedikit mengangkut kepala alihkan pemikiran dari koran ke arahnya. Itu gerakan refleks yang biasa. Yang tidak biasa merupakan ia sebagian kali? tertangkap? lagi memandang ke arah aku tetapi tatapan matanya agak ke dasar. Kala ia lagi ke balik Aku coba mempelajari apakah ada yang aneh pada diri aku? Kerutinan di rumah Aku senantiasa menggunakan celana pendek. Itu telah kerap serta Yuni pula telah ketahui. Jadi apanya yang aneh? Ah, memanglah Aku hirau! Aku terus saja membaca.

Hingga tidak lama setelah itu, dikala lagi asyiknya Aku membaca tanpa aku sadari Yuni telah berdiri di depan aku. Koran aku letakkan, belum pernah Aku membuka mulut buat bertanya, seketika Yuni menghambur ke arah aku, duduk di pangkuan aku serta memeluk badan aku. Kemudian kepalanya yang tersembunyi di dada aku nampak sedikit berguncang. Yuni menangis. Terdapat angin apa nih?

? Maafkan saya Kang?? katanya di sela- sela isakan tangisnya.

Yuni memanglah bukan pembantu. Ia merupakan sepupu istri aku, bersama dari Kuningan, asal istri aku. Ia lumayan pintar walaupun Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) saja tidak tamat, sebab keburu disuruh menikah oleh ibunya. Sahabatnya di kampung pada biasanya cuma tamatan SMP ataupun apalagi SD. Ia sesungguhnya mau sekolah hingga tingkatan sarjana, cuma kerutinan di kampung mewajibkan anak wanita telah berrumah- tangga kala menggapai usia 16 ataupun 17 tahun. Malang menurutnya, kala umur perkawinan menjelang setahun suaminya tertangkap basah berselingkuh. Ia memohon cerai serta mau turut istri aku ke Jakarta sembari siapa ketahui dapat meneruskan sekolahnya serta mencapai cita- citanya jadi sarjana pertanian. Di kampung dahulu ia memanglah amat dekat dengan istri aku.

Sehabis bicara dengan aku, istri aku sepakat menyekolahkan ia hingga tamat. Yuni bersedia kerja apa saja, jadi pembantu sekalipun, buat mengejar cita- citanya. Kami, aku, istri serta anak aku tidak sempat menyangka ia bagaikan pembantu. Kami perlakukan ia bagaikan salah satu saudara dekat. Telah nyaris 2 bulan ia turut dengan keluarga kami. Ia telah terdaftar di Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) kelas 3, cuma belum mulai sekolah sebab menunggu tahun ajaran baru, bulan depan. Usianya saat ini 18 tahun. Memanglah sedikit terlambat. Anak seusia ia biasanya telah tamat SMU.

? Mengapa Yun?? DAFTAR ID PRO PKV


? Maafkan saya Kang??

? Kalian salah apa??

Ia tidak menanggapi, masih terisak. Aku coba menduga- duga, bisa jadi ia tidak betah sebab mengerjakan urusan rumah tangga mirip pembantu.

? Kalian pengen kembali??

Yuni menggeleng. Sesungguhnya tidak pula bagaikan pembantu sebab istri aku jika lagi di rumah pula turut terjun kerja bersama ia. Anak aku juga begitu. Kami memanglah telah biasa tidak memiliki pembantu.

? Ataupun kalian gak betah di mari??

? Bukan Kang bukan? Aku bahagia tinggal sama Teteh?? yang ia sebut teteh merupakan istri aku.

? Jadi mengapa??

Sepi sejenak, lalu

? Sayanya Kang, saya yang tidak beres??

? Tidak beres apanya? Mari cerita, jangan sungkan- sungkan. Kalian kan telah saya anggap adikku sendiri?

? Bukan permasalahan itu Kang? Akang sekeluarga disini baik- baik seluruh? saya betah??

? Kemudian??

Yuni masih diam, tangisnya mereda. Tetapi masih belum ingin bicara. Tidak siuman Aku mengelus- elus rambutnya yang lurus serta panjang sepunggung, semacam rambut istri aku. Memanglah Yuni banyak kemiripan dengan istri aku. Wajah mirip, cuma istri aku langsat ia sawo matang. Wujud badannya sama ramping, cuma dada Yuni sedikit lebih besar. Jangan beranggapan macam- macam. Dari? nampak luar? saja telah nampak, tidak wajib? mengecek? ke dalam.

Memangnya Aku sekurang ajar itu berani mengecek dada sepupu istri aku. Dada? Ah? gumpalan daging kembarnya itu menempel erat di dada aku saat ini. Baru saat ini pula Aku menyadari kalau bongkahan itu melekat di badan aku hampir tidak terdapat penghalang. Tidak terdapat? kain keras? di antara kami. Masa sih? Buat penuhi rasa penasaran aku, tangan aku yang lagi membelai rambut Yuni? mampir? sebentar ke punggungnya. Cuma kain daster saja yang terdapat dipunggungnya. Benar, Yuni tidak menggunakan bra! Aku lebih banyak beranggapan positif. Bisa jadi saja tadi ia sehabis mandi belum pernah memanfaatkannya. Tetapi menyadari? kondisi? begini, bagaikan lelaki wajar tidak urung terdapat yang menggeliat di balik celana pendek aku.

Kemudian, aku perkenankan benak aku mengelana, aku bayangkan wujud bongkahan yang menekan dada aku, pastinya masih kencang karena ia belum memiliki anak serta belum setahun? dipakai?, dengan putingnya yang kecil serta kecoklatan. Imagi begini jelas saja membuat fitur dasar aku terus menjadi menegang. Seketika Yuni mengangkut kepalanya yang dari tadi ngumpet di dada aku. Ditatapnya mata aku sejenak, kemudian pemikiran bergeser ke badan aku bagian dasar serta setelah itu memandang aku lagi. Aku percaya pantatnya sudah merasakan pergantian yang terjalin di celana aku.

? Kang?? bisiknya serak.

Pantatnya bergerak menggoyang, melumati kelamin aku. Tiba- tiba mulut aku dipagutnya. Aku masih shock atas tindakannya ini sehingga bibir aku pasif saja menerima sapuan bibirnya. Tetapi itu tidak lama, cuma sebagian dikala setelah itu bibir aku malah merespon lumatan bibirnya. Kami berciuman. Celakanya, entah gimana Aku jadi membayangkan kalau yang lagi aku ciumi ini merupakan istri aku sehingga ciuman kami kian seru.

Aku pernah melayang- layang hingga sesuatu dikala pemahaman aku mendarat kembali ke bumi, rasio mengalahkan emosi. Aku dorong kepala Yuni menghindar, ciuman terlepas.

? Yun???

Aku amati ekspresi mukanya yang kaget sekejap.

? Kang? maafkan saya? tetapi saya perlu banget? perlu Kang? udah lama banget menahan??

? Kalian siuman Yun??

? Iya Kang, siuman kalau saya sangat membutuhkanmu Kang??

? Mengapa saya?? tanya aku lagi.

? Gak ketahui Kang. Tubuhku ini udah lama membara? Udah lama saya coba menahannya tetapi saya gak sanggup Kang? tolong Akang paham??

Tanpa menunggu respon aku Yuni kembali menciumi aku. Kami berpagutan lagi. Aku mulai menikmati. Pemahaman aku berangsur menghilang.

Setelah itu, ini gerakan refleks yang normal serta biasa kala sembari berciuman telapak tangan kanan aku mulai meremas- remas buah dada kirinya yang cuma tertutup daster. Daging yang sekal cocok bayangan aku tadi. Yuni melepas ciuman kemudian mengerang sembari kepalanya mendongak menikmati remasan aku. Apalagi erangannya mirip rintihan istri aku. Hanya sebentar, kembali ia mengejutkan aku, dengan sigapnya ia melepas kancing- kancing dasternya kemudian menyodorkan dadanya ke muka aku. 2 bulatan kembar itu saat ini terhidang di depan hidung aku. Putingnya kecil tetapi sudah mengacung ke depan. Aku ciumi buah dadanya, bergantian kanan serta kiri. Puting kecil itu memanglah keras.

Pula gerakan normal bila tangan aku setelah itu mulai membelai- belai pahanya, menyusup ke balik dasternya, merambat hingga pangkalnya. Lagi- lagi Aku dibikin kaget. Cuma daster seperti itu salah satunya baju yang menempel di badan sintal Yuni. Aku tadi tidak memperhatikannya. Selangkangan berbulu halus itu sudah membasah serta lembab. Yuni kian merajalela.