Saat Suaminya Pergi // Part 1

RAKSASAPOKER Cerita yang bakal saya tuturkan di bawah ini adalah kisah nyata yang terjadi sebagian tahun yang silam. 

MAINRAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Namaku Didi, Dulu saya tinggal bersama dengan ke-2 orang tuaku di sebuah kompleks kecil milik sebuah instansi pemerintah dan dihuni oleh sebagian keluarga saja di didalam satu pagar.

Tetangga yang paling dekat bersama dengan kami adalah Om Hendra dan Tante Desi yang membawa 2 orang anak laki-laki yang tetap kecil-kecil, yang besar berumur 3 tahun dan yang kecil berumur 1 tahun.


Pada selagi saya kelas 3 SMA, Om Hendra secara kebetulan ditugaskan oleh kantornya untuk belajar ke Jepang (terakhir saya baru jelas kecuali Om Hendra bertugas sepanjang 1 tahun lebih). Dan tinggallah Tante Desi dan 2 orang anaknya beserta 1 orang pembantunya. Keadaan selanjutnya membuat saya berhasrat untuk senantiasa bertandang ke rumahnya bersama dengan alasan ingin bermain bersama dengan ke-2 anaknya.

Alasan selanjutnya memadai kuat gara-gara orang tua saya dan Tante Desi tidak dulu sangsi mirip sekali. Seringkali saya termasuk memergoki Tante Desi tengah berpindah pakaian di kamar bersama dengan tidak menutup pintunya, atau mandi bersama dengan tidak menutup pintunya. Sampai pada suatu ketika, selagi saya tengah bertandang ke rumahnya dan cuma Tante Desi yang tersedia di rumah. Kedua anaknya dan pembantunya di-hijrah-kan ke daerah KD, sebelah timur kota BT gara-gara Tante Desi kerap berpergian. DAFTAR ID PRO PKV


Dan kebetulan termasuk orang tua saya selagi itu tengah ditugaskan ke luar daerah. Dengan ikutnya ibu dan kakak saya, yang berarti saya termasuk cuma tinggal sendiri di rumah. Sekedar gambaran, Tante Desi itu membawa tinggi badan kira-kira 165 cm, membawa pinggul yang besar, buah pantat yang bulat, pinggang yang ramping, dan perut yang agak rata (ini gara-gara senam aerobic, fitness, dan renang yang diikutinya secara berkala), bersama dengan dapat dukungan oleh buah dada yang besar dan bulat (belakangan saya baru jelas bahwa Tante Desi kenakan Bra ukuran 36B untuk menutupinya).

Dengan wajah yang seksi menantang dan warna kulit yang putih bersih, wajarlah kecuali Tante Desi jadi impian banyak lelaki baik-baik maupun lelaki hidung belang. Hingga pada suatu sore, selagi saya mendengar tersedia suara langkah kaki di luar, lantas saya intip berasal dari jendela dan ternyata Tante Desi baru pulang. Tidak lama lantas saya ingin ke kamar mandi (kamar mandinya terletak di luar masing-masing rumah dan tersedia sebagian daerah yang berjejer). Di selagi saya muncul berasal dari kamar mandi, saya berpapasan dengannya. Dia kenakan kimono tipis warna biru muda bersama dengan handuk di pundak dan rambut yang diikat agak ke atas sehingga leher jenjangnya muncul seksi sekali.

Sedangkan saya cuma kenakan celana pendek tanpa kaos (memang kecuali di rumah, saya jarang kenakan kaos/baju). ?Malem Tante?, saya sapa dia sehingga muncul agak sopan. ?Malem Mas Dio.. kok belum tidur..?? balasnya. Dan tanpa saya menyadari tiba-tiba dia mencekal tangan saya. ?Mas Dio..? katanya tiba-tiba dan muncul agak sedikit ragu-ragu. ?Ya Tante..?? Jawab saya. ?Eee.. nggak jadi deh..? Jawabnya ragu-ragu. ?Ada yang mampu saya bantu, Tante..? Tanya saya agak bingung gara-gara melihat keragu-raguannya. ?Eee.. nggak kok. Tante cuma rela nanya..? jawabnya bersama dengan ragu-ragu lagi. ?Mas Dio di rumah ulang ngapain sekarang..?? bertanya dia. ?Lagi nonton. Emangnya kenapa Tante..?? saya bertanya dia lagi.

?Lagi nonton apa sih..?? bertanya dia agak menyelidik. ?Lagi nonton BF Tante?, kata saya yang tidak jelas berasal dari mana tiba-tiba saya mendapat keberanian untuk bilang begitu. ?BF..? bertanya dia agak kaget. ?Maksudnya Blue Film..?? ?Iya.. emangnya tersedia apa sih Tante? Kalo tidak tersedia apa-apa saya rela nerusin nonton ulang nih..? kata saya bersama dengan agak memaksa. ?Eee.. rela bantuin Tante nggak..? Soalnya Tante agak was-was sendirian di rumah. Kalau kamu rela sambil nonton termasuk boleh kok.

Bawa aja filmnya ke rumah, Tante termasuk punya sebagian film layaknya itu. Nanti Tante temenin nontonnya deh?, kata dia agak merajuk. ?Iya deh Tante, saya pilihin dulu yang bagus?, kataku tanpa ba bi Bu segera setuju bersama dengan ajakannya. Pucuk di cinta ulam tiba, suatu hal yang sangat saya impikan sejak lama untuk mampu berdua bersama dengan Tante Desi. Hari ini saya bakal berdua dengannya sambil memirsa Film Biru bersama dengan harapan mampu melihat keindahan ragawi seorang wanita yang saya puja-puja berasal dari dulu dan apalagi (mungkin) merasakan kenikmatannya juga. Singkat kata saya segera memilah-milah video yang bagus-bagus (Maklum, selagi itu tetap jamannya Betamax, belum VCD).

Kemudian saya masuk rumah Tante Desi lewat pintu dapurnya. Saya setel lebih dulu video yang tadi saya tonton dan belum habis. Beberapa menit lantas Tante Desi masuk lewat pintu dapur termasuk bersama dengan wangi tubuh yang segar, apalagi rambutnya termasuk kelihatan basah layaknya habis keramas. Saya selidiki tiap sudut tubuhnya yang tetap terbalut kimono tipis biru muda yang agak menerawang tersebut, sehingga bersama dengan leluasa mata saya melihat puncak buah dadanya gara-gara dia tidak kenakan Bra. Tanpa kusadari, di antara degupan jantungku yang menjadi menjadi keras dan kencang, kejantananku termasuk sudah menjadi menegang. Dengan enjoy dia duduk pas di sebelahku, dan ikut memirsa film BF yang tengah berlangsung. ?Cakep-cakep termasuk yang main..? akhirnya dia memberi komentarnya.

?Dari kapan Mas Dio menjadi nonton film beginian..? tanyanya. ?Udah berasal dari dulu Tante..? kataku. ?Mainnya termasuk bagus dan tidak kasar. Mas Dio sudah jelas rasanya belum..? bertanya dia lagi. ?Ya belum Tante. Tapi kata temen-temen sih enak. Emang kenapa Tante, rela ngajarin saya yah? Kalau iya boleh termasuk sih?, kataku. ?Ah Mas Dio ini kok jadi nakal yah sekarang?, katanya sambil mencubit lenganku. ?Tapi bolehlah nanti Tante ajarin biar kamu jelas rasanya?, tambahnya bersama dengan sambil melirik ke arahku bersama dengan agak menantang. Tidak lama berselang, tiba-tiba Tante Desi menyenderkan kepalanya ke bahuku.

Seketika itu pula saya segera kaget dan bingung gara-gara belum dulu mirip sekali lakukan tingkah laku itu. Tapi saya cuma mampu pasrah saja oleh perlakuannya. Sebentar lantas tangan Tante Desi sudah menjadi mengusap-ngusap daerah tubuhku kira-kira dada dan perut (karena lagi-lagi saya tidak kenakan kaos selagi itu). Rangsangan yang ditimbulkan berasal dari usapannya memadai membuat saya nervous gara-gara itu adalah kali pertama saya diperlakukan oleh seorang wanita, apalagi wanita selanjutnya tidak lain adalah Tante Desi. Kejantananku sudah menjadi semakin berdenyut-denyut siap bertempur.

Kemudian Tante Desi menjadi menciumi leherku, lantas turun ke bawah sampai dadaku. Sampai di daerah dada, dia menjilat-jilat ujung dadaku, secara bergantian kanan dan kiri. Tangan kanan Tante Desi termasuk sudah menjadi masuk ke didalam celanaku, dan menjadi mengusap-usap kejantananku. Karena didalam situasi yang sudah sangat terangsang, saya menjadi memberanikan diri untuk terhubung kimono yang dia pakai. Aku remas payudaranya, dan saya pilin-pilin ujung berasal dari payudara yang berwarna kecoklatan dan sangat sensitif itu, kadang kala saya termasuk mengusap ujung-ujung selanjutnya bersama dengan ujung jariku. ?Ssshh.. ya situ sayang..? katanya setengah berbisik. ?Ssshh.. oohh..? Tiba-tiba dia memaksa lepas celana pendekku, dan diusapnya kejantananku. Akhirnya bibir kami saling berpagutan bersama dengan penuh nafsu yang sangat membara.