Ngentot Bareng Pacarku // Part 2

RAKSASAPOKER Aku benar-benar puas, kupandangi tampang kemaluan gundulku yang masih tegak.
?Suatu kala nanti engkau dapat mendapat bagiannya..? kataku didalam hati.

HOKIRAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Sejak peristiwa itu, kita sebetulnya tidak pernah bersua dua mata didalam situasi yang sepi. Selalu saja tersedia orang lain yang hilir mudik di kamarku.

Sampai akhirnya liburan singgah dan kita seluruh tiap-tiap pulang kampung untuk sebagian waktu. Liburan sekolah sudah selesai,


Susan sudah singgah ulang sesudah berlibur ke rumah orang tuanya di Tabanan, Bali. Begitu terhitung aku yang singgah sebelum era kuliahku dimulai.

Waktu itu hujan deras. Susan masih berada di kamarku (suasananya sepi karena tidak tersedia orang sama sekali, terhitung di rumah induk) untuk minta bimbingan atas pelajarannya. Begitu selesai, Susan menyandarkan tubuhnya ke dadaku sambil berkata.

?Mas, itunya sudah tumbuh ulang belum..? Hi.. hi..? sambilnya ketawa cekikikan.
?Oh, itu..? Lihat aja sendiri.? sambil kupelorotkan celana pendekku hingga lepas, dan kemaluanku yang masih lunglai menggantung.
?Mas Eka ih, ngawur..? katanya.

Tapi walaupun demikian, ia santap terhitung panorama itu sambil menyibakkan sebagian T-Shirt-ku yang menutupi daerah itu. Bulu-bulu yang sudah rapih memenuhi ulang sekitar kemaluanku, segera muncul bersama dengan jelas.

?Nah, begitu khan lebih oke..? katanya.
?Aku kapok En, nggak rela nyukur plontos lagi.?
?Kenapa Mas..??
?Waktu rela numbuh. Bulunya tajam-tajam dan itu menusuk batangku.?
?Habis Mas Eka sukanya macem-macem sih..!? sambil tetap lihat kemaluanku yang masih terkait lunglai, ?Mas, kok itunya lemes sih..??
?Iya En, sebentar terhitung gede, asal diusap-usap biar seneng.?
?Ah Mas Eka sih senengnya sedap terus.?

Walaupun bicara seperti itu, rela terhitung Susan terasa memegang kemaluanku dan digerak-gerakkan ke kanan dan ke kiri. Membuat batang kemaluanku semakin besar, keras dan mengacung ke atas. Susan semakin menyandarkan kepalanya ke dadaku. Dan segera saja aku peluk dia, sedemikian rupa hingga payudaranya tesentuh tangan kiriku.

Rupanya Susan tidak gunakan BH, supaya kekenyalan payudaranya segera terasa olehku. Kupermainkan payudaranya, aku pencet, menjadikan Susan terdiam seribu bhs tapi nafasnya semakin cepat. Demikian pula Susan bersama dengan hati-hati memainkan kemaluanku, masih tetap dibolak-balik, ke kanan dan ke kiri. DAFTAR ID PRO PKV


Aku cium bibir Susan, dan dia menanggapinya bersama dengan tidak kalah agresifnya. Barangkali inilah suatu yang ditungu-tunggu. Aku lepas blouse-nya, dan?payudaranya?yang masih kencang dan mulus bersama dengan putingnya yang kecil berwarna coklat muda segera terpampang bersama dengan jelas. Karena tidak tahan, aku segera menciuminya. Hal ini menjadikan Susan semakin menggeliatkan tubuhnya, berarti dia terasa nikmat. Aku ikuti dia ketika dia mambaringkan tubuhnya di daerah tidur. Aku hisap-hisap puting payudaranya, kala rok dan celananya kupelorotkan. Susan sepakat saja, hal ini ditunjukkan bersama dengan diangkatnya pantat untuk memudahkanku melewatkan pakaian yang tersisa.

Begitu pakaian bagian bawah terlepas, segera tersembul bukit mungil di antara selangkangannya, rambutnya masih jarang, nyaris tidak kelihatan. Sekilas cuma muncul lipatan kecil di bagian bawahnya. Pemandangan ini sungguh memicu nafsuku semakin memuncak. Begitu kuraba bagian itu, terasa lembut. Makin didalam ulang barulah terasa bahwa dia sudah banyak berair. Susan masih merem-melek, tangannya tidak rela lepas dari kemaluanku. Begitu pula ketika kulepas pakaianku. Tangan Susan tidak rela lepas dari alat vitalku yang semakin keras saja.

Begitu aku sudah didalam situasi bugil, aku ulang mempermainkan kemaluannya, ketika jari tengahku rela memasuki vaginanya yang sudah banjir itu. Pinggulnya digoyangkannya tanda mengelak, aku nyaris putus asa.

Tetapi kudengar nada manjanya, ?Jangan gunakan tangan Mas. Pakai itu saja.? sambil menarik-narik alat vitalku ke arah vaginanya.

Aku segera mengambil alih posisi. Tangan lembutnya membimbingnya untuk memasuki arah yang tepat. Kugosok-gosokkan sebentar di bibir vaginanya yang berlendir itu. Rasanya nikmat sekali. Setelah kurasa pas berada di ambang lubangnya, aku dorong sedikit, supaya dapat memasukinya. Tapi nampaknya tidak rela masuk. Aku coba sekali lagi, tidak rela masuk juga.

?Kamu masih perawan En..?? akhirnya aku tanya dia.
Diantara jelita dan wajahnya yang sudah seperti tidak tahu itu, aku lihat kepalanya menggeleng dan itu adalah suatu jawaban.

Usaha menembus lubang kenikmatan itu aku tunda dulu. Operasiku berpindah bersama dengan memagut-magut seluruh tubuhnya. Susan semakin terengah-engah terima perlakuanku. Erangan-erangan yang terkesan liar semakin membuatku bernafsu. Aku kecup putingnya, perutnya, dan pahanya. Ketika aku mengecup pahanya, sepintas aku lihat vaginanya menganga, semburat warna merah tua yang licin sungguh menarik perhatianku. Jilatanku semakin dekat ke arah vaginanya. Begitu lidahku menyentuh bibir kemaluannya, Susan berteriak kelojotan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku semakin bersemangat menjilatinya.

Setelah kurasa jenuh, dan kehabisan variasi menjilati vaginanya. Kembali kuarahkan kemaluanku ke arah barang yang paling dilindungi wanita ini. Kembali tangan Susan membimbing kemaluanku. Setelah pas di depan gerbang kenikmatan, aku dorong sedikit.
?Bless..?

Kepala kemaluanku dapat masuk sedikit, Susan meringis, tapi tetap menekan bokongku. Maksudnya, tahu supaya aku masuk lebih banyak lagi. Aku dorong lagi, tapi lubangya benar-benar sempit. Walaupun cuma kepala saja yang masuk, tapi aku mengusahakan memaju-mundurkan, supaya gesekan yang nekmat itu terasa. Setelah sebagian kali aku memaju-mundurkan, sekali ulang aku dorong lebih didalam lagi. Berhasil..! Kini kemaluanku sudah sepertiga berada di dalamnya.

Aku mengusahakan sabar, aku gerakkan maju mundur lagi. Setelah sebagian kali, aku mendorong lagi. Begitulah kulakukan berulang-ulang hingga seluruh kemaluanku tertelan dalam?remasan vaginanya. Kudiamkan untuk sesaat di dalam, kurasakan denyutan-denyutan yang benar-benar nikmat yang memicu seluruh tubuhku mengejang. Kugerakkan ulang bokongku bersama dengan arah maju-mundur. Tanpa kusangka, Susan menjerit sambil mengejang.

?Terus Mas.. tetap Mas.. aku sampaaii.. ouh.. ouh..? jeritan itu lumayan keras.
Aku segera tutup mulutnya bersama dengan bibirku. Bersamaan bersama dengan itu, kemaluanku terasa diremas-remas. Ujung kemaluanku seakan menyentuh dinding yang membuatku terasa geli bukan main. Akhirnya aku tidak tahan terhitung untuk mengeluarkan spermaku ke didalam liang kewanitaannya. Beberapa semprotan agaknya semakin menjadikan Susan semakin liar dan semakin meregangkan tubuhnya. Kami orgasme bersama-sama, dan itu benar-benar meletihkan. Dan aku tidak ingin cepat-cepat meremehkan fantasi yang hebat itu. Kami tertidur untuk sebagian waktu.

Begitu aku bangun, rupanya Susan sudah tidak ada. Yang tersedia semata-mata secarik kertas menutupi kemaluanku bersama dengan tulisan, ?YOU ARE THE GREAT?.

Sejak kala itu, kita selalu melakukannya secara teratur dua minggu sekali, paling lama sebulan sekali. Namun tidak jalankan di rumah tapi kubawa ke hotel di luar kota secara berganti-ganti yang barangkali kecil untuk diketahui oleh orang yang kita kenal. Sampai akhirnya, kita berpisah.

Aku lulus dan di terima kerja di luar kota. Susan kuliah di kota yang jauh sekali dari tempatku berada. Kalau ia membaca tulisan ini, maka ia dapat bersyukur karena namanya sudah aku samarkan. Sekedar untuk mengingatkan saja ketika kita begituan, kemaluannya kujuluki TEMBEM. Dan ia menyebut kemaluanku bersama dengan julukan TOLE.