Ngentot Bareng Pacarku // Part 1

RAKSASAPOKER Untuk membentuk agar bulu kemaluanku tumbuh dengan rapih, suatu hari timbul niat isengku untuk mencukur total. Kusiapkan alat-alat dahulu sebelum akan kumulai aksinya. 

HOKIRAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Mulai dari gunting, kaca cermin, lampu duduk, dan koran bekas untuk alas agar bekas cukuran tidak berantakan kemana-mana.

Kupasang cermin seukuran buku tulis tepat di depan kemaluanku untuk lihat bagian bawah yang tidak muncul secara langsung.


Tidak lupa pula kunyalakan lampu duduk di antara selangkanganku. Kumulai pelan-pelan, kugerakkan pisau cukur dari atas ke bawah.

Baru merasa aku menggoreskan pisau cukur itu, aku dengar suara cara masuk ke kamarku, segera aku lihat bayangan di kaca buffet, tidak tahu benar, namun aku mampu menebaknya bahwa dia adalah si Susan, kemenakan dari ibu kost.

Aku bingung juga, sudi membereskan perangkat ini sangat repot, tidak sempat. Memang aku melakukan kesalahan fatal, aku lupa mengunci pintu depan dikala kumulai kegiatan ini. Akhirnya dalam hitungan detik muncul juga wajah si Susan ke dalam kamarku. Dalam saat yang singkat itu, aku sempat raih celana dalamku untuk menutupi kemaluanku. Sambil meringis berbasa-basi sekenanya.

?He.. he.. tersedia apa En..?? sapaku gelagapan.

?Eh, Mas Eka kembali ngapain..?? kata Susan yang nampaknya juga tengah menyembunyikan kegugupannya.

Si Susan memang akrab dengan saya, dia kerap minta bimbingan dalam hal pelajaran di sekolahnya. Khususnya terhadap mata pelajaran matematika yang memang jadi kegemaranku. Susan sendiri tetap sekolah di SMU. Berkata jorok memang kerap kami saling melakukan namun hanya sekedar berbicara saja. Apalagi Susan juga menanggapinya, dengan perkataan yang tidak kalah joroknya. Tapi hanya sekedar itulah.

Kembali terhadap adegan tadi, dimana aku tengah kehabisan akal menanggapi kehadirannya yang memergokiku tengah mencukur?bulu kemaluan. Akhirnya kubuka juga kekakuan ini.

?Enggak apa-apa En, biasa.. kegiatan rutin.?
?Apaan sih..??
?Susan sudah berusia 17 th. belum..??
?Emangnya kenapa kalau udah..?? kata Susan tetap berdiri dengan canggung sambil terus menatapku dengan serius.

?Gini En, aku khan kembali nyukur ini nih, aku minta tolong kamu bantuin aku. Soalnya di bagian ini kesulitan nyukur sendiri..? kataku sambil kuulurkan pisau cukur padanya.

?Mas Eka, ih..!? namun ia menerima juga pisau cukurnya, sambil duduk di dekatku.
Aku angkat celana yang tadi hanya kututupkan di atas kemaluanku.

?Susan tutup pernah pintunya yach Mas..?? DAFTAR ID PRO PKV


Dia menutup pintu depan dan pintu kamar. Sebenarnya tetap tersedia pintu belakang yang segera menuju ke dapur tempat tinggal induk. Namun terhadap jam segini aku yakin bahwa tidak tersedia orang di dalam. Selesai Susan menutup pintu, dia agak kaget lihat kemaluanku terbuka, sambil menutup mulutnya ia menghendaki agar aku menutupnya.

?Tutup itunya dong..!? katanya dengan manja.

Aku katupkan kedua pahaku, batang kemaluanku aku selipkan di antaranya, agar tidak muncul dari atas, namun bulunya muncul dengan jelas.

?Nah begini khan nggak terlihat..? kataku, dan Susan nampaknya setuju juga.

Susan ragu-ragu untuk melakukannya, namun segera aku yakinkan.

?Nggak apa-apa En, kamu khan sudah 17 tahun, berarti sudah bukan anak-anak lagi, lagian khan sekedar bulu, kamu juga memiliki khan, sudah nggak apa-apa. Nanti kalau aku sakit, aku bilang deh..?

?Bukannya apa-apa, aku geli hi.. hi..? sambil cekikikan.

Dengan super hati-hati dia gerakkan juga pisau cukur merasa menghabisi bulu-bulu kemaluanku. Karena sangat hati-hatinya maka ia perlu melakukannya dengan berulang-ulang untuk satu bagian saja.

Sentuhan-sentuhan kecil tangannya di pahaku merasa mengundang getaran yang tidak mampu kusembunyikan. Dan ini mengakibatkan kemaluanku jadi tegang, tidak hanya itu, hal ini juga mengakibatkan siksaan tersendiri. Dengan?posisi tegang?dan tercepit di antara pahaku menjadikan kemaluanku jadi pegal. Sampai selanjutnya tidak mampu kutahan, kukendorkan jepitan kedua pahaku, agar dengan cepat meluncurlah sebuah tongkat panjang dan keras mengacung ke atas menyentuh tangan Susan yang tetap repot mempermainkan pisau cukurnya.

Begitu tersentuh tangannya oleh benda kenyal panas kemaluanku, dia kaget dan nyaris berteriak.

?Oh, apa ini Mas..? Kok dilepas..?? katanya gugup dikala tahu bahwa batang kemaluanku lepas dari jepitan dan mengarah ke atas.
?Iya En. Habis nggak tahan. Nggak apa-apa deh, dihadapan cewek perlu tampak lebih gagah gitu..?
?Mas Eka sengaja ya..??
?Suer.., ini hanya normal.?

Susan tetap menyimak kemaluanku yang sudah besar dan kencang dengan wajah yang sukar digambarkan. Antara kuatir dan idamkan tahu. Lalu dia raih kain yang tersedia di dekatku untuk menutupinya.

?Kenapa ditutup En..??
?Aku takut, abis memiliki Mas Eka besar banget.??Emangnya Susan belum pernah lihat kemaluan laki-laki..?? bertanya saya.

Susan diam saja, namun digelengkan kepalanya dengan lemah.
?Ayo deh diteruskan,? bisikku.

Kali ini Susan jadi super hati-hati mencukurnya. Mungkin kuatir tersentuh kemaluanku. Sedangkan aku sangat idamkan tersentuh olehnya. Tapi aku risau dia jadi kuatir saja. Akhirnya kubiarkan saja dia selesaikan tugasnya dengan caranya sendiri.

Akhirnya harapanku sebagian terkabul juga. Ketika Susan merasa mencukur bulu bagian samping kemaluanku, sudi tidak sudi dia perlu menghalau kemaluanku.

?Maaf ya Mas..!? dengan tangan kirinya ia mendorong?kemaluanku?yang tetap tertutup kain bagian atasnya ke arah kiri, agar bagian kanannya agak leluasa. Untuk lebih terhubung areal ini, aku rebahkan tubuhku dan kubentangkan sebelah kakiku.

Susan dengan sabar memainkan pisau cukurnya membersihkan bulu-bulu yang menempel di kurang lebih kemaluanku, nafasnya merasa memburu, dan kutebak saja bahwa dia juga tengah horny. Walaupun tetap dengan ragu-ragu dia selamanya memegang kemaluanku. Didorong ke kiri, ke kanan, ke atas dan ke bawah. Aku hanya merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tanpa kusadari kain penutup kepala kemaluanku sudah tersingkap, dan ini nampaknya dibiarkan saja oleh Susan, yang sekali-kali melirik juga ke arah kepala kemaluanku yang mulus dan besar itu.

Lama-kalamaan, Susan jadi punya kebiasaan dengan benda mengagumkan itu. Dengan berani, selanjutnya dia singkapkan kain yang menutup sebagian kemaluanku itu. Dengan terbuka begitu, maka dengan lebih leluasa dia mampu menyantap pemandangan yang jarang berlangsung ini. Aku diam saja, dikarenakan aku sangat menyukainya serta bangga mendapat kesempatkan untuk mempertontonkan batang kemaluanku yang cukup besar.

?Udah bersih Mas..?
Kulihat kamaluanku sudah pelontos, gundul. Wah, jelek juga tanpa bulu, pikirku.
?Di bawah bijinya sudah belum En..?? aku pura-pura tidak tahu bahwa di tempat itu jarang tersedia bulu.
Lalu dengan hati-hati ia sigkapkan kedua bijiku ke atas. Uh, rasanya sedap sekali.
?Udah bersih juga Mas..? ia mengulanginya.
Katanya datar saja. Menandakan bahwa hatinya tengah tersedia kecamuk. Aku tarik lengannya, dan dengan sengaja kusenggol payudaranya, dan kukecup keningnya.
?Terima kasih ya En..!?

Tanpa kusadari, sejak dia memberanikan diri mencukur bulu kemaluanku tadi, buah dadanya yang berukuran tengah terus menempel terhadap dengkulku. Begitu kukecup keningnya, dia diam saja, mematung sambil menundukkan mukanya. Lalu kuangkat dagunya dan kucium bibirnya, kupeluk sepuas-puasnya. Keremas paudaranya dan nafasnya jadi memburu. Aku raih kemaluannya namun dia diam saja, kuselipnkan satu jarinya dari sela-sela celana dalamnya. Wah, ternyata sudah basah bukan main. Namun Susan segera terkejut, dan melepas diri dariku. Disun pipiku, dan dia segera lari ke tempat tinggal induk melalui pintu belakang.