Nafsuku Bergejolak Saat Nonton Film Porno // Part 2

RAKSASAPOKER Aku ketuk kamarnya Dina. Aku menginginkan menerangkan. Eh, dirinya diam saja. Masih senantiasa kaget kali ya, fikirku.

MAINRAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Aku tidur saja, dan tampaknya aku ketiduran sampai malam. Sesuai kebangun, aku tidak bisa tidur sekali lagi, aku keluar kamar. Nonton Televisi ah, fikirku. Sesuai sampai dimuka Televisi tampaknya adikku sekali lagi tidur di sofa depan Televisi.

BANDAR DOMINO99 | AGEN BANDARQ | AGEN POKER | DOMINO ONLINE | AGEN DOMINO

Pasti ketiduran sekali lagi nih anak, kataku dalam hati. Disebabkan amati ia tidur dengan agak“ terbuka” tiba- tiba aku jadi keingat sama film X2 yang belum pula usai kutonton, yang ceritanya menimpa ikatan sex pada adik dan kakak,


ditambah kemauan aku yg tidak kesampaian sesuai sama Anti barusan. Dikala adikku menggerakan kakinya buat roknya terungkap, dan terlihatlah CD- nya. Demikian amati CD- nya aku jadi kian nafsu. Tetapi aku khawatir. Ini kan adikku sendiri masa aku setubuhi sich. Tetapi dorongan nafsu kian merajalela.

Ah, aku peloroti saja CD- nya. Eh, nanti apabila ia bangun gimana? Ah, cuek saja. Demikian CD- nya turun seluruhnya, wow, belahan kemaluannya nampak masih senantiasa sangat rapat dan dihiasi bulu- bulu halus yang baru berkembang. Kucoba sentuh, hmm.. halus sekali. Kusentuh garis kemaluannya. Tiba- tiba ia menggumam, aku jadi kaget. Aku terasa di ruangan Televisi sangat terbuka. Kurapikan sekali lagi pakaian adikku, senantiasa kugendong ke kamarnya.

Sampai di kamar ia, it’ s show time, fikirku. Kutiduri ia di kasurnya. Kubukakan pakaiannya. Tampaknya ia tidak pakai bra. Wah, payah pula nih adikku. Nanti apabila payudaranya jadi turun gimana. Demikian pakaiannya terbuka, buah dada mungilnya menyembul. Ih, lucu mempunyai wujud. Masih senantiasa kecil buah dadanya tetapi cukup terdapat. Kucoba hirup putingnya, hmm.. nikmat! Buah dada dan putingnya demikian lembut. Eh, tiba- tiba ia bangun!“ Kak.. mengapa lo!” teriaknya sambil mendorongku. Aku kaget sekali,“ Ngg.. ngg.. tidak kok, aku cuma mau meneruskan barusan sesuai sama sang Anti, tidak bapak kan?” jawabku ketakutan. Aku mengharapkan orang- tua aku tidak mendengar teriakan adikku yang agak keras barusan. Ia menangis.

“ Sorry ya Din, gue salah, habis elo pula sich mengapa tidur di ruangan Televisi dengan keadaan cocok sama itu, tidak gunakan bra sekali lagi,” kataku.

“ Jangan katakan sama bunda dan bapak ya, please..” kataku.

Ia masih senantiasa nangis. Pada kesimpulannya kutinggali ia. Aduh, aku khawatir nanti ia ngadu.

Mulai semenjak waktu itu aku apabila ketemu ia gemari canggung. Apabila ngomong sangat seadanya saja. Tetapi aku masih senantiasa penasaran. Aku masih senantiasa menginginkan coba sekali lagi buat“ ngegituin” Dina. Sampai disuatu hari, adikku tengah sendiri di kamar. Aku cobalah masuk,

“ Din, sekali lagi mengapa elo,” aku berupaya buat beramah- tamah.

“ Lagi dengarkan kaset,” jawabnya.

“ Yang dikala itu, elo masih senantiasa geram ya..” tanyaku.

“..” ia diam saja.

“ Sebenernya gue.. gue.. mau nyoba sekali lagi..” lenyap ingatan ya aku nekat sekali.

Ia kaget dan sesuai ia mau ngomong sesuatu perihal lekas aku dekati wajahnya dan lekas kucium bibirnya.

“ MmhHPp.. Kakk.. mmHPh..” ia semacam mau ngomong sesuatu perihal.

Tetapi pada kesimpulannya ia diam dan simak permainanku buat ciuman. Sambil ciuman itu tanganku coba meraba- raba dadanya dari luar. Awal rasakan payudaranya diraba, ia menepis tanganku. Tetapi aku senantiasa berupaya sambil tetaplah berciuman. Setelah sebagian menit berciuman sambil meraba- raba payudaranya, aku coba buka pakaiannya. Eh, kok ia lekas mau saja di buka ya? Bisa jadi saja ia sekali lagi rasakan kesenangan yang sangat begitu dan awal kalinya dirasakannya. Demikian di buka, lekas kubuka bra- nya. Kujilati

putingnya dan sambil menyeka dan mneremas- remas buah dada yang satunya. Walaupun buah dada adikku itu masih senantiasa agak kecil, tetapi dapat berikan sensasi yang tidak kalah dengan buah dada yang besar. Dikala tengah dihisap- hisap, ia mendesah,“ Sshh.. sshh.. ahh, lezat, Kak..” Setelah kuhisap, putingnya jadi tegang dan agak keras. Senantiasa kubuka celanaku dan aku menghasilkan“ adik”- ku yang sudah cukup tegang. Sesuai ia amati, ia agak kaget. Soalnya dulu kami pernah mandi bareng sesuai“ memiliki”- ku masih senantiasa kecil. Dikala ini kan sudah besar dong.

Aku bertanya sama ia,“ Berani buat ngisep miliki gue tidak? Entar miliki elo pula gue isepin deh, kita gunakan tempat 69.” DAFTAR ID PRO PKV


“ 69.. apa’ an tuch?” tanyanya.

“ Posisi di mana kita bersama menghirup dan ngejilatin punyanya mitra kita kala terpaut,” jelasku.

“ Ooo..”

Cerita Bokep– Sehabis Nonton Video Porno Saya Mempraktekkanya– Lekas aku buka celana ia dan CD- nya. Kami lekas ambil tempat 69. Aku buka belahan kemaluannya dan terlihatlah klitorisnya semacam wujud kacang didalam kemaluannya itu. Dikala kusentuh pakai lidah, ia mengerang,

“ Ahh.. Kakak nyentuh apanya sich kok lezat banget..” tanyanya.

“ Elo harusnya ngejilatin dan ngisep miliki gue dong. Masa elo doang yang lezat,” kataku.

“ Iya Kak, habis khawatir dan geli sich..” jawabnya.

“ Jangan bayangin yang bebrapa tidaklah dong. Bayangin saja keenakan elo,” kataku sekali lagi.

Waktu itu pula ia lekas menjilat punyaku. Ia menjilati kepala anu- ku dengan lambat- laun. Uuhh, lezat benar. Senantiasa ia mulai menjilati seluruh dari batanganku. Lalu ia masukan punyaku ke mulutnya dan mulai mengisapnya. Oohh.. lenyap ingatan benar. Ia tampaknya mempunyai bakat. Hisapannya membuatku jadi hampir keluar.

“ Stop.. eh, Din, stop dulu,” kataku.

“ Lho kenapa?” tanyanya.

“ Tahan dulu entar aku keluar,” jawabku.

“ Lho memanglah kenapa apabila keluar?” tanyanya sekali lagi.

“ Entar permainan over,” kataku.

Tampaknya adikku memanglah belum pula ketahui problem sex. Betul- betul polos. Pada kesimpulannya kujelaskan kenapa apabila laki- laki sudah keluar tidak bisa senantiasa pemainannya. Pada kesimpulannya ia mulai ketahui. Tempat kami sudah tidak 69 sekali lagi, jadi aku saja yang bekerja. Kemudian aku lanjutkan mengisapi kemaluannya dan klitorisnya. Ia terus- terusan mendesah dan mengerang.

“ Kak Iwan.. senantiasa Kak.. di sana.. iya di sana.. oohh.. sshh..”

Aku senantiasa mengisap dan menjilatinya. Ia menjambak rambutku. Sambil matanya merem- melek. Pada kesimpulannya aku sudah dalam kondisi bugat sekali lagi( barusan kan keadaannya sudah mau keluar). Kutanya sama adikku,

“ Elo berani ML tidak?”

“..” ia diam.

“ Gue mau ML, tetapi terserah elo.. gue tidak maksa,” kataku.

“ Sebenerya gue khawatir. Tetapi sudah kepalang tanggung nih.. gue sekali lagi‘ on air’,” kata ia.

“ OK.. jadi elo mau ya?” tanyaku sekali lagi.

“..” ia diam sekali lagi.

“ Ya sudah deh, kayanya elo mau,” kataku.

“ Tetapi tahan sedikit. Nanti agak sakit awalannya. Soalnya elo baru awal kalinya,” kataku.

“..” ia diam saja sambil memandang kosong ke langit- langit.

Kubuka ke- 2 belah pahanya lebar- lebar. Nampak bibir kemaluannya yang masih senantiasa kecil itu. Kuarahkan ke lubang kemaluannya. Demikian aku sentuhkan kepala“ anu”- ku ke liang kemaluannya, Dina menarik napas panjang, dan nampak sedikit keluarkan air mata.“ Tahan ya Din..” Lekas kudorong anu- ku masuk kedalam lubang kemaluannya. Tetapi masih senantiasa susah, soalnya masih senantiasa kecil sekali.

Aku senantiasa coba mendesak anu- ku, dan..“ Bleess..” masuk pula kepala kemaluanku. Dina agak berteriak,

“ Akhh sakit Kak..”

“ Tahan ya Din..” kataku.

Aku senantiasa mendesak biar masuk seluruhnya. Pada kesimpulannya masuk seluruhnya kemaluanku kedalam selangkangan adikku sendiri.

“ Ahh.. Kak.. sakit Kak.. ahh..”

Setelah masuk, lekas kugoyang maju- mundur, keluar masuk liang kemaluannya.

“ Ssshh.. sakitt Kak.. ahh.. lezat.. Kak, teruss.. goyang Kak..”

Ia jadi mengerang tidak karuan. Setelah sebagian menit dengan tempat itu, kami ubah dengan tempat“ dog model”. Dina kusuruh menungging dan aku masukan ke lubang kemaluannya melalui balik. Setelah masuk, senantiasa kugenjot. Tetapi dengan keadaan“ dog model” itu tampaknya Dina lekas natural orgasme. Merasa sekali otot- otot didalam kemaluannya itu semacam menarik batang kemaluanku buat lebih masuk.

“ Ahh.. ahha.. aku lemess banget.. Kak,” rintihnya dan ia jatuh telungkup. Tetapi aku belum pula orgasme. Jadi kuteruskan saja. Kubalikkan badannya buat tidur terlentang. Senantiasa kubuka sekali lagi belahan pahanya. Kumasukkan kemaluanku kedalam lubang kemaluannya. Walaupun sesungguhnya ia sudah kecapaian.

“ Kak, sudah dong! Gue sudah lemes..” pintanya.

“ Sebentar sekali lagi ya..” jawabku.

Tetapi setelah sebagian menit kugenjot, eh, dirinya segar sekali lagi.

“ Kak, yang agak cepet sekali lagi dong..” tuturnya.

Kupercepat dorongan dan genjotanku.

“ Ya.. semacam gitu dong.. sshh.. ahh.. uhuuh,” desahannya terus menjadi maut saja.

Sambil menggenjot, tanganku meraba- raba dan meremas payudaranya yang mungil itu. Tiba- tiba aku seakan mau meledak, tampaknya aku mau orgasme.“ Ahh, Din aku mau keluar.. ahh..” Tampaknya waktu yang berbarengan ia orgasme pula. Kemaluanku semacam dipijat didalam. Karna masih senantiasa lezat, kukeluarkan didalam kemaluannya. Nanti kusuruh minum kapsul KB saja supaya tidak berbadan dua, fikirku dalam hati.

Setelah orgasme bareng itu kucium bibirnya sebentar. Setelah itu aku dan ia pada kesimpulannya ketiduran dan senantiasa dalam keadaan bugil dan berkeringat di kamar disebabkan kecapaian. Dikala bangun, aku dengsr ia sekali lagi merintih sambil menangis.

“ Kak, gimana nih. Punyaku berdarah banyak,” tangisnya.

Kulihat tampaknya di kasurnya terdapat bintik darah yang lumayan banyak. Dan kemaluannya agak sedikit melebar. Aku kaget memandangnya. Gimana nih jadinya?

“ Kak, aku sudah tidak perawan sekali lagi ya?” tanyanya.

“..” aku diam saja.

Habis mau jawab apa. Lenyap ingatan! aku sudah merenggut keperawanan adikku sendiri.

“ Kak, punyaku tidak apa- apakan?” tanyanya sekali lagi.

“ Berdarah begini lumrah buat awal kalinya,” kataku.

Tiba- tiba, disebabkan amati ia tidak pakai CD dan memerlihatkan kemaluannya yang agak melebar itu ke aku, anu- ku“ On” sekali lagi!