Memuaskan Mbok Dan Mbah Ku // Part 1

RAKSASAPOKER Saya menginginkan menceritakan kehidupan di era lantas aku saat baru tumbuh jadi anak laki-laki. 

MAINRAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Saya cuma dapat mengingat kehidupan aku secara lebih lengkap sejak aku berumur 15 tahun.

Dalam umur itu aku baru kelas 2 SMP di sebuah desa yang berada di pelosok, jauh dari keramaian dan kehidupan modern.


Rumah aku cuma terbuat dari dinding anyaman bambu, lantai tanah dan letaknya terpencil di luar kampung.

Kami keluarga miskin, bisa saja jika menurut ukuran pemerintah adalah keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Aku tinggal bersama emakku yang aku panggil simbok dan nenekku yang aku panggil mbah. Kami sebenarnya cuma bertiga. Mbok cerai dari Bapak sejak aku lulus SD. Aku tidak paham apa penyebabnya, namun yang kurasa, Bapak pergi meninggalkan rumah dan hingga sekarang tidak paham keadaannya. Mbah menjanda sudah kira-kira 5 th. dikarenakan kakek meninggal.

Aku ingat Mbah kakung (kakek) meninggal saat aku masih SD. Jadi cuma aku lah laki-laki dirumah itu, yang kudu mengerjakan seluruh pekerjaan laki-laki. Sementara mbok melacak nafkah bersama memburuh tani bersama mbah. Keduanya masih energik.

Ketika umurku 15 th. mbok masih umur 29 th. dan mbah 42 tahun. Umur segitu jika di kota besar masih tergolong belum tua, namun di kampung sudah terhitung uzur. Namun kedua mereka dikaruniai badan yang langsing dan menurut istilah Jawa, singset. Mbokku mewarisi ibunya berbadan langsing. Meski kedua mereka sudah memasuki umur tua menurut ukuran kampung, namun tubuh bereka tidak bergelambir lemak, dengan sebutan lain singset.

Wajah mereka biasa-biasa saja tidak terlalu cantik, namun terhitung tidak jelek. Biasa saja lah orang kampung, Cuma wajahnya bersih dari noda bekas jerawat. Sepengetahuanku mereka tidak terlalu sibuk merawat tubuh dan wajah, dikarenakan makan cuma seadanya dan mandi terhitung biasa tidak pernah dilulur dan sebagainya

Baik mak maupun mbah, tumit kakinya kecil dan betisnya langsing. Ini jadi perhatianku sehabis aku dewasa dan mengenal beberapa ciri wanita yang pintar memuaskan suami.
Agak melenceng sedikit. Kebiasaan di desa kita adalah tiap-tiap rumah membawa kamar mandi yang disebut sumur berada di luar rumah dan umumnya agak jauh di belakang rumah. Tidak jauh dari sumur terkandung daerah membuang hajat besar. Sumur dan wc nayris tidak berdinding penghalang. Yang tersedia cuma bangunan lubang sumur yang bibirnya ditinggikan kira-kira 1 meter, lantas tonggak-tonggak kayu untuk menggantung baju dan handuk.

Di kira-kira sumur dan wc ditumbuhi oleh tanaman rumpun sereh dan tanaman semak yang rimbun supaya agak terlindung. Aku sebagai laki-laki senantiasa bertugas menimba dan isi air ke ember-ember untuk mandi, cuci piring dan cuci baju. Ritual mandi umumnya dijalankan terhadap pagi hari saat mata hari merasa agak terang kira-kira pukul 5 pagi.

Sudah sejak kecil aku miliki kebiasaan mandi bersama orang tuaku. Tidak tersedia rasa malu, supaya jika kita mandi tidak Mengenakan basahan, atau sarung. Kami mandi telanjang bulat. Mungkin bedanya jika orang kota mandinya berdiri di bawah shower atau bergayung ria atau tiduran di bath tub. Kalau kita orang desa mandi umumnya jongkok. Hanya beberapa saat saja berdiri untuk mebilas seluruh tubuh sehabis bersabun.

Di usiaku 15 aku baru merasa tertarik bersama bentuk badan lawan jenis. Yang dapat aku melihat cuma simbok dan mbah saja. Mbok badannya langsing dan kulitnya kencang, payudaranya tidak besar, kakinya terhitung langsing. Di usianya yang hampir memasuki kawasan 30, teteknya masih kencang membusung. Mungkin dikarenakan ukurannya tidak besar jadi buah dadanya tidak mengelendot turun. Jembutnya lumayan lebat, rambutnya sebahu yang senantiasa diikat dan digelung.

Simbah badannya tidak jauh dari mbok, dan tingginya terhitung mirip kira-kira 155 cm, Cuma teteknya sedikit agak turun, namun masih kelihatan indah. Jembutnya terhitung tebal. Badannya meski kelihatan lembut, namun perkasa dikarenakan bisa saja dampak warna kulit yang tergolong sawo matang. Tetek mbah kayaknya sedikit lebih besar dari simbok. Perut Mbah agak banyak tertutup lemak, supaya tidak serata perut mbok.

Aku kenal betul seluk-beluk kedua body mereka dikarenakan tiap-tiap hari pagi dan sore kita senantiasa mandi bersama, telanjang bersama dalam saat yang lumayan lama. Jika pagi hari tidak cuman mandi mbok dan simbah membasuh baju dan peralatan makan semalam. Berhubung tugasku menimba air maka aku senantiasa berada di posku hingga seluruh pekerjaan mereka selesai. Jika sore mandinya lebih cepat dikarenakan acara selingan cuma cuci piring.

Mohon pembaca jangan protes dulu, dikarenakan sekolah kita di desa memundurkan saat masuk jadi jam 8 bersama pertimbangan murid-murid umumnya perlu saat untuk menopang pekerjaan rumah tangga di pagi hari dan berikan peluang kepada murid yang tinggalnya kira-kira sejam jalan kaki dari sekolah. DAFTAR ID PRO PKV


Seingatku sejak aku sunat di umur 12 tahun, atau selepas lulus SD sering kali aku malu dikarenakan penisku sering berdiri jika pagi-pagi saat mandi bersama. Sebetulnya penis berdiri sejak aku bangun pagi, hingga mandi dia tidak surut-surut. Mbok sih cuek-cuek aja, namun si mbah sering mengolok-olok, bahkan sering kadang menampar pelan penisku bersama menyuruh ?tidur?.
Mulanya aku tidak malu, namun sejalan jadi tambah umurku, penisku makin besar dan di sekitarnya merasa ditumbuhi bulu. Anehnya si mbah yang senantiasa berikan perhatian lantas mgomong ke simbok. Mbok ku lantas menimpali, ? cucumu sudah merasa gede mbah,? katanya.

Aku sukar mengendalikan penisku, jika sudah berdiri, dia sukar di layukan, meski aku sirami air dingin. Yang buat makin menegangkan, si mbah sering kadang memegang-megang penisku seolah-olah mengukur perkembangannnya, Si mbok terhitung disuruh Mbah merasakan perkembangan penisku. Meskipun kedua mereka adalah orang tua ku kandung, namun namanya dipegang tangan perempuan, naluri kelaki-lakianku bangkit. Penisku jadi makin mengeras.

Kadang-kadang aku mengusahakan menghambat dikarenakan malu, namun senantiasa dicegah oleh mbah dan menyuruh aku diam saja. Dibandingkan emak ku, mbah lebih agresif. Di umur 15 th. aku sudah memiliki tubuh seperti pria dewasa. Tinggiku lebih dari 165 cm dan penisku sudah kelihatan gemuk dan keras serta agak panjang kira-kira 15 cm.

Sebenarnya bersama aku sebesar itu sudah tidak pantas bersama emak dan mbahku mandi telanjang bersama. Tapi dikarenakan sudah miliki kebiasaan sejak kecil, aku senantiasa saja diakui masih anak-anak.
Entah pantas disebut bagaimana, sialnya atau untungnya, embahku makin suka mempermainkan penisku. Kadang-kadang tangannya dilumuri sabun lantas dikocoknya penisku agak lama lantas dilanjutkan bersama menyabuniku. Emak terhitung sering kadang ikut-ikutan embah, meski penisku sudah berlumuran sabun, dia turut mengocok dan merabai kantong semarku. Rasanya birahiku terpacu dan rasanya nikmat sekali. Makanya aksi mereka itu aku biarkan. Bahkan jika mandi tanpa ritual itu, aku yang senantiasa memintanya.

Tapi seingatku meski dikocok-kocok agak lama kok aku saat itu tidak ejakulasi. Aku sendiri belum paham langkah laksanakan onani, maklum anak desa, yang akses informasi ke dunia luar masih terlalu terbatas.

Entah gimana awalnya namun sehabis seringnya aku dikocok-kocok kita jadi sering mandi saling menyabuni, aku menyabuni seluruh tubuh mak ku dan mbahku. Dalam mengusap sabun tentu saja aku leluasa menjamah seluruh tubuh mereka. Aku suka mencengkram tetek dan memelintir pentil susu. Juga suka mengusap-usap jembut dan menjepitkan jari tengahku ke sela-sela memek. Mungkin itu naluri yang menuntun seluruh gerakan. Sumpah, aku tidak paham kudu bagaimana memperlakukan perempuan terhadap saat itu.

Namun kesannya mereka berdua senang, bahkan badan mereka sering dirapatkan dan memelukku, supaya penisku yang menjulang tegang kedepan senantiasa menerjang bagian pantat atau bagian atas memek. Mbah sering kadang menundukkan penisku supaya masuk ke sela-sela pahanya sambil memelukku erat. Posisi itu paling aku suka supaya kepada makku terhitung aku laksanakan begitu. Mereka kelihatan tidak keberatan dengan sebutan lain oke-oke saja. Saya pun tidak paham terhadap saat itu bahwa berhubungan badan itu memasukkan penis ke dalam lubang memek.

Aku sering dipuji mbah dan itu dikatakan kepada mak ku. ? anak mu ini hebat lho nduk (panggilan anak perempuan jawa), kayaknya dia kuat.?

Terus terang aku tidak paham yang dimaksud kuat. Kala itu kupikir yang dimaksud kuat adalah kemampuanku menimba air, membelah kayu bakar dan mengangkat beban-beban berat.
Mbah ku dan makku tidak kawin lagi sehabis mereka berpisah bersama suaminya. Aku tidak pernah menanyakan alasannya, dikarenakan aku rasa lebih nyaman hidup bertiga gini dari terhadap kudu terima kehadiran orang luar. Padahal yang naksir mbah, bahkan emakku lumayan.

Suatu hari sesudah itu aku dipanggil emakku sehabis mereka berdua bicara berbisik-bisik di kamar Aku saat itu tengah asyik meraut bambu untuk sebabkan layangan di teras rumah. Emakku duduk di sampingku.
?Le (Tole istilah panggilan anak laki-laki Jawa), kamu nanti malam tidur dikamar bersama mbah dan simbok.? kata mak.
?Ah gak senang , kan daerah tidurnya sempit, jika tidur bertiga,? kataku.

Tempat tidur mereka sebenarnya cuma dua kasur kapuk yang dihampar diatas plastic dan tikar di lantai. Masih tersedia ruang untuk menggelar tikar tambahan di segi kiri atau kanannya. Sehingga jika dilengkapi satu bantal, bisalah untuk tidur bertiga, bersama catatan seorang diantaranya tidur di tikar.
Selama ini aku tidur di balai-balai bambu di ruang tengah. Di desaku disebut amben bambu. Tidak tersedia persoalan tidur di amben meski tanpa kasur. Aku tidur cuma beralas tikar dan ditemani bantal kumal serta sarung.

Aku bertanya-tanya, namun tidak dijawab mak atau mbah, kenapa malam itu aku kudu tidur seranjang bersama mereka. ?Udahlah turuti saja, jadi anak yang penurut, jangan suka terlalu banyak tanya,? nasihat mbahku.
Saking polosnya aku, yang terbayang dalam benakku adalah nanti malam aku akan tidur bersempit-sempitan dan bersenggolan. Aku paling tidak suka jika tidur bersinggungan bersama orang lain. Tidak terlintas sedikitpun asumsi yang negatif.
Biasanya aku tidur jam 10 malam, namun malam itu jam 8 malam aku sudah diseret masuk ke kamar mereka. Aku tidur di kasur bersama mbah, disebelah yang lain mbok ku tidur ditikar.
Mulanya cuma tidur telentang, Tidak lama lama sesudah itu mbah tidur memelukku. Terus terang aku merasa risih dipeluk. Tapi senang protes tidak berani, jadi diam saja. Mbah mengusap-usap wajahku, lantas dadaku. Aku mengenakan kaos usang yang di beberapa daerah sudah tersedia yang sobek. Entah berapa lama diusap-usap, aku tunggu bersama persasaan tegang. Aku tidak paham kemana target mereka mengajakku tidur bareng dan sekarang mbah tidur memelukku dan mengusap-usap dadaku. Sejujurnya aku terlalu risih, namun apa daya tidak berani protes. Jika diberi peluang aku akan pilih lagi tidur di luar di amben.

Tangan kanan mbah yang tadi mengusap dadaku merasa merambat ke bawah ke arah sarungku. Aku miliki kebiasaan tidur sarungan dan di dalamnya tidak pakai celana, dikarenakan tidak cuman untuk menghemat pemakaian celana terhitung rasanya lebih enak leluasa. Terpeganglah gundukan kemaluanku dri luar sarung. Tangan mbahku meremas-remas, sebabkan aku tegang. Bukan cuma penis yang menegang, namun perasaanku terhitung tegang, dikarenakan khawatir terhadap perihal apa yang akan berjalan selanjutnya. Aku diam saja, tidak cuman berdebar-debar, penisku jadi mengembang di remas-remas mbah.
Ditariknya sarung keatas supaya terbukalah bagian kemaluanku. Kamar tidur rumah kita cuma bepenerangan lampu minyak yang sejak tadi sudah di kecilkan. Jadi pemandanganku cuma remang-remang.

Diraihnya kemaluanku lantas digenggamnya penisku yang sudah mengeras sempurna. Nikmatnya luar biasa , namun terhitung aku merasa takut, supaya debaran jantungku makin keras. Penisku di kocok-kocok, hingga kelanjutannya aku terbuai dan rasa takutku sudah terlupakan. Tanpa paham aku melenguh nikmat.
Entah kapan si mbah terhubung bagian depan bajunya supaya saat kepalaku ditarik ke dadanya wajahku merasakan kelembutan payudaranya. Mulutku diarahkan ke puting susunya dan aku diperintah menjilati dan mengemut susunya. Perintah itu aku turuti dan naluriku terhitung menuntunnya. Sedap nian rasanya mengemut dan menjilati puting susu yang mengeras.

Meski tidak tersedia rasa, namun memainkan puting susu lebih nikmat rasanya dari terhadap mengunyah marshmallow. Setelah bergantian kiri dan kanan aku diminta nenek menaiki tubuhnya. Sarungku sudah dilepasnya supaya bagian bawahku sudah telanjang. Aku turuti saja perintah si mbah. Aku merasakan bagian bawah mbah terhitung sudah terbuka. Aku berasa gesekan jembut lebatnya menggerus perutku. Sambil aku menindih mbah penisku dipegang mbah dan diarahkan ke lubang vaginanya. Aku diminta mengangkat badanku sedikit dan saat ujung peler sudah di depan lubang aku diminta menurunkan badanku pelan-pelan.

Tidak pernah terbayangkan dan terpikirkan kenikmatan dan sensasi ini. Jiwaku merasa melayang di awang-awang. Aku tidak ingat dan peduli siapa yang tersedia di bawah tubuhku. Yang kurasakan adalah seorang wanita menggairahkan. Sensasi masuknya penisku perlahan-lahan ke vagina mbah merasa terlalu nikmat. Terasa vaginanya licin namun terhitung tidak gampang memasukkan penisku. Setelah seluruh batang penisku tengggelam dilahap memek mbah merasa hangatnya lubang vagina mbah. Kami berdiam sebentar dan aku mematung merasakan sensasi kenikmatan luar biasa yang belum pernah akur rasakan selama hidupku.

Sesaat sesudah itu mbah agak mendorong tubuhku dan menariknya kembali. Mbah mengendalikan gerakanku bersama memegangi melalui kedua tangannya di bongkahan pantatku. Aku tidak menyangka kenikmatan luar biasa ini. Embah terdengar mendesis dan terkadan mengerang. Aku makin cepat laksanakan gerakan sejalan bersama makin nikmatnya rasa yang menjalari merasa dari kemaluanku hingga ke seluruh tubuh.

Seingatku aku tidak terlalu lama bergerak begitu, dikarenakan seterusnya tersedia gelombang nikmat yang mendera tubuhku dan berujung terhadap kontraksi di penis dan seluruh otot di bawah. Aku merasa mengeluarkan sesuatu dari lubang kencing. Tanpa diberi komando selama proses pelepasan itu aku membenamkan dalam-dalam penisku ke dalam memek mbah.

Terasa lega dan plong sehabis seluruh spermaku tumpah. Mbah mendorong tubuhku untuk berbaring di sebelahnya dan seluruh sendi tubuhku merasa lemas. Mbah bangkit dan mengambil alih lap yang lembab bersihkan seluruh kemaluanku yang penuh berselemak cairan sperma dan cairan dari vagina mbah.

Penisku layu perlahan-lahan hingga selesai proses pembersihan itu. Mbah kulihat terhitung bersihkan memeknya bersama lap lain. Setelah kita berdua bersih, mbah berubah rubah ke tikar saat mak tidur di sebelahku.
Dia seperti mbah tadi tidur memelukku dan tangannya meremas-remas penisku yang loyo. Remasan mak sebabkan penisku berkembang per lahan-lahan hingga kelanjutannya tegang mengeras kembali. Tetapi rasanya tidak peka tadi.