Diam Diam Aku Bercinta Dengan Anak Semata Wayangku // Part 2

RAKSASAPOKER Sesungguhnya saya ketahui Irvan tidak sempat pacaran serta tidak sempat kepelacuran dari diary- nya.

MAINRAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Kami bersama menyusun piring serta melap piring hingga ke ring ke rak- nya, sambil kami terus menceritakan.“ Ma…besok Irvan diajak sahabat mendaki gunung…boleh engak,

BANDAR DOMINO99 | AGEN BANDARQ | AGEN POKER | DOMINO ONLINE | AGEN DOMINO

Ma?” tanya Irvan memohon izinku sambil tangannya memasuku bagian atas dasterku serta mengelus tetekku.“ Nanti jika telah SMA saja ya sayang…”


kataku sambil mengelus penis Irvan.“ Berarti tahun depan dong, Ma,” katanya sambil mengjilati leherku.“ Oh… iya sayang.

Tahun depan” kataku pula sambil membelai penisnya serta melepas kancing celana biru sekolahnya serta melepas seluruh pakaiannya hingga Irvan telanjang bundar.“ Jika mama bilang gak boleh ya udah. Irvan gak turut,” katanya sambil membebaskan pula kancing dasterku hingga saya telanjang bundar.

Ya.. kami terus menceritakan tentang sekolah Irvan serta kami telah bertelanjang bundar bersama.“ Sesekali kita wisata ke puncak ayo ma…” kata Irvan sambil menjilati leherku serta mengelus tetekku. Saya duduk di sofa makan serta Irvan berdiri di belakangku. Uh… anakku telah betul- betul berusia.

Ia mau sekali bermesraan serta sangat riomantis.“ Kapan Irvan maunya ke puncak?” kataku sambil menkmati jilatannya. Saya juga mulai menuntunnya supaya terletak di hadapanku. Irvan kubimbing buat naik ke atas tubuhku. Kedua kakinya mengangkangi tubuhku serta bertumpu pada sofa.

Panttanya telah terletak di atas kedua pahaku serta saya memeluknya. Kuarahkan wajahnya buat mengisap pentil tetekku.“ Gimana jika malam ini saja kita ke puncak sayang. Esok libur serta lusa telah minggu. Kita di pucak 2 malam,” kataku sambil mengelus- elus rambutnya.

“ Sepakat ma. Kita membawa 2 buah selimut ma,” katanya mengubah isapan nya dari tetekku yang satu ke tetekku yang lain.“ Mengapa wajib 2 sayang. Satu saja..” kataku yang merasakan tusukan penisnya yang membeku di pangkal perutku.

“ Selimutnya kita satukan supaya terus menjadi tebal, supaya hangat ma. 2 selimut kita lapis 2,” katanya. Ia mendongakkan mukanya serta memejamkan matanya, memohon supaya lidahku merambah mulutnya. Saya membernya. Sluuupp… lidahku langsung diisapnya dengan lembut serta sebelah tangannya mengelus tetekku.

Seketika Irvan berdiri serta memusatkan penisnya ke mulutku. Saya menyambutnya. Dikala penis itu terletak dalam mulutku serta saya mulai menjilatinya dalam mata terpejam Irvan berkata:” Rasanya kita langsung saja berangkat ya ma. Hingga dipuncak belum sore.

Kita boleh jalan- jalan ke gunung yang dekat villa itu,” katanya. Saya paham maksudenya, supaya saya kilat menuntaskan keinginannya serta kami lekas berangkat. Kilat saya menjilati penisnya serta Irvan Meremas- remas rambutku dengan lembut. DAFTAR ID PRO PKV


Hingga kesimpulannya, Irvan menekan kuat- kuat penisnya ke dalam mulutku serta meremas rambutku pula. Pada tekak mulutku, saya merasakan hangatnya semprotan mani Irvan sebagian kali. Setelah itu di dudk kembali ke pangkuanku.

Di ciumnya pipiku kiri- kanan serta mengecup keningku. Uh… dewasanya Irvan. Angkatan udara(AU) membalas mengecup keningnya dengan lembut. Irvan turun dari sofa, kemudian memakaikan dasterku serta ia berangkat ke kamar mandi. Saya kekamar mempersiapkan suatu yang wajib kami membawa.

Saya tidak kurang ingat bawa 2 buah selimut serta baju yang sanggup menghangatkan tubuhku. Seluruh siap. Mobil meluncur ke puncak, menjajaki liuknya jalur aspal yang gelap menembus kabut yang dingin. Kami datang jam 15. 00.

Sehabis check in, kami langsung makan di restoran di tepi sawah serta memesan ikan mas goreng dan lapannya. Kami makan dengan lahap sekali. Dari situ kami menempuh jalur setapak menaik ke lereng bukit. Dari situ, saya memandang suatu mobilo biru tua,

Toyota Land Cruiser melintas jalur mengarah villa yang tidak jauh dari villa kami. Mobil suamiku, bapaknya Irvan. Tentu ia dengan isteri mudanya ataupun dengan pelacur muda, bisik hatiku. Kilat kutarik Irvan supaya ia tidak memandang bapaknya.

Saya terlambat, Irvan terlebih daulu memandang mobil yang ia tahu itu. Irvan meludah serta menyumpahi bapaknya:” Biadab!!!” Begitu bencinya ia pada bapaknya. Saya cuma memeluknya serta mengelus- elus kepalanya. Kami meneruskan ekspedisi.

Saya tidak ingin atmosfer rehat ini buatnya jadi tidak indah. Suatu bangku dibuat dari bata yang disemen. Kami duduk berdampingan diatasnya memandang jauh ke dasar situ, ke hamparan sawah yang baru ditanami. Indah sekali. Irvan merebahkan kepalanya ke dadaku.

Saya ketahui galau hatinya. Kuelus kepalanya serta kubelai belai.“ Tidak boleh menyalahkan siapapun dalam hidup ini. Kita wajib menikmati hidup kita dengan tenanag serta damai dan tulus,” kata kumengecup bibirnya.

Angin mulai berhembus sepoi- sepoi serta kabut sesekali menampar- nampar wajah kami. Irvan mulaui meremas tetekku, walaupun masih ditutupi oleh pakaianku serta bra.“ Iya. Kita wajib hidup senang. Senang cuma buat kepunyaan kita saja,” katanya kemudian mencium leherku.

“ Kalian amati petani itu? Mereka sangat senang meniti hidupnya,” kataku sambil mengelus- elus penisnya dari balik celananya. Irvan berdiri, kemudian menuntunku beridir. Akua mengikutinya. Ia mengelus- elus pantatku dengan lembut.

“ Lumpur- lumpur itu tentu lembut sekali, Ma,” katanya terus mengelus pantatku. Tentu Irvan terobsesi dengan anal seks, pikirku. Saya wajib memberinya supaya ia bahagia serta senang dan tidak lari kemana- mana terlebih ke pelacur. Ia tidak boleh mendapatkannya dari wanita jalang.

Kami mulai menuruni bukit sehabis mobil Toyota biru itu lenyap, bisa jadi ke dalam garasi villa. Irvan senantiasa memeluk pinggangku serta kami memesan duabotol teh. Kami meminumnya di tepi warung.“ Wah… anaknyanya ganteng sekali bu. Manja lagi,” kata owner warung.

Saya tersenyum serta Irvanpun tidak membebaskan pelukannya. Sifatnya memanglah manja sekali.“ Bahagia ya bu, memiliki anak ganteng,” kata owner warung itu lagi. Kembali saya tersenyum serta orang- orang yang terletak di warung itu nampak iri memandang kemesraanku dengan anakku.

Mereka tentu tidak tau apa yang lagi kami rasakan. Keelokan yang gimana. Mereka tidak ketahui. Sehabis membayar, kami menuruni bukit serta kembali ke villa. Angin terus menjadi kencang sore menjelang mahgrib itu.

Kami memesan 2 gelas kopi susu panas serta membawanya ke dalam kamar. Sehabis mengunci kamar, saya melapaskan seluruh pakaianku. Bukankah tadi Irvan mengelus- elus pantatku? BUkankah ia mau anal seks? Sehabis saya bertelanjang bundar, saya mendekati Irvan serta membebaskan seluruh pakaiannya. Kulumasi penisnya gunakan lotion.

Saya melumasi pula duburku dengan lotion. Di lantai saya menunggingkan tubuhku. Irvan mendatangiku. Kutuntun penisnya yang begitu kilat membeku menusuk lubang duburku. Saya sempat merasakan ini sekali dalam hidupku kala saya baru menikah.

Sakit sekali rasanya. Dari temanku saya mengenali, jika ingin main dri dubur, harusmemakai pelumas, katanya. Saat ini saya mau praktekkan pada Irvan Irvan memusatkan ujung penisnya ke duburku. Kedua lututnya, tempatnya bertumpu. Perlahan…perlahan serta lama- lama.

Saya merasakan tusukan itu dengan lama- lama. Ah… Irvan, kau begitu sanggup memberikaapa yang saya mau, bisik hatiku sendiri. Tiap kali saya merasa kesat, saya denga tanganku menambahi lumasan lotion ke batangnya. Saya merasakan penis itu keluar- masukdalam duburku.

Kuarahkan sebelah tangan Irvan buat mengelus- elus klentitku. Waw… nimat sekali. Di satu sisi klentitku nikat disapu- sapu serta di sisi lain, duburku dilintasi oleh penis yang keluar masuk sangat tertib. Tidak terdapat suara apa juga yang terdengar. Sepi hening serta diam.

Cuma terdapat desau angin, desah napas yang meburu serta sesekali terdapat suara burung kecil berkicau di luar sna, mengarah sarangnya. Badan Irvan telah melekat di punggungku. Sebelah tangannya mengelus- elus klentitku serta sebelah lagi meremas tetekku.

Lidahnya menjilati tengkukku serta serta leherku bergantian. Saya sangat beruntung mememiliki anak semacam Irvan. Ia laku- laki perkasa serta penuh kelembutan. Tapi… mengapa kali ini ia begitu buas serta demikian binal? Tapi… Saya terus menjadi menikmati kebuasan Irvan anak kandungku sendiri.

Buasnya Irvan, merupakan buas yang sangat santun serta penuh kasih. Saya telah tidak sanggup membendung nikmatku. Saya menjepit tangan Irvan yang masih mengelus klentitku pula menjepit penisnya dengan duburku. Irvan mendesah- desah.

“ Oh… oh…. oooooohh…” Irvan menggigit bahuku serta mempermainkan lidahnya di sela- sela gigitannya. Serta remasan pada tetekku terasa begitu nikmat sekali. Ooooooooooohhhh… desahnya serta saya juga menjerit.. Akhhhhhhhhhhhh………

Kemudian saya menelungkup di lantai karpet tidak sanggup lagi kedua lututku buat bertumpu. Penis Irvan mengecil serta meluncur kilat keluar dari duburku. Irvan kilat membalikkan tubuhku. Langsung saya diselimutinya serta diamasuk ke dalam selimut, sambil mengecupi leherku serta pipiku.

Kami terdiam, hingga desah napas kami wajar. Irvan menuntunku duduk serta membimbingku duduk di sofa, kemudian melilit tubuhku dengan selimut hotel yang ada di atas tempat tidur. Ia mendekatkan kopi susu ke mulutku. Saya meneguknya.

Kudengar ia cuci penisnya, kemudian kembali mendekat padaku. Ia kecup pipiku serta berkata:” Malam ini kita makan apa, Ma?”“ Terserah Irvan saja sayang.”“ Sehabis makan kita kemana, Ma?” ia membelai pipiku serta mengecupnya lagi.

“ Terserah Irvan saja sayang. Hari ini, merupakan harinya Irvan. Mama ngikut saja apa maunya anak mama,” kataku lembut.“ OK, Ma. Hari ini harinya Irvan. Esok hingga minggu, harinya mama. Malam ini kita di kamar saja.

Saya tidak ingin ketemu dengan orang yang naik Toyota Biru itu,” katanya geram. Nampaknya penuh dendam. Saya menghela napas. Usai makan malam, kami kembali ke kamar serta langsung tidur di dasar 2 selimut yang hangat serta berpelukan. Kami tidur hingga jam 09. 00 pagi baru terbangun.