Ziarah Membawa Berkah // Part 2

RAKSASAPOKER Ah, alangkah nikmatnya jikalau Mas Ganjar bukan tidur di kuburan tetapi duduk disampingku sini sambil memeluk berikan kehangat pada tubuhku. 

MAINRAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Terus terang hampir 2 bulan lebih dia nggak pernah menyentuhku bahkan menggauliku. Sehari-hari pikirannya cuma dikejar uang, harta, uang, harta, uang, harta, uang.

Tiba-tiba saya menjadi ingat pandangan haus mata Mas Tardjo tadi.


Aku maklum, seorang laki laki terkecuali sudah lebih berasal dari 1 minggu meninggalkan istrinya pasti lihat barang siapa atau bahkan apa-pun bakal muncul cantik adanya. Dan berasal dari yang saya dengar tadi hari ini adalah hari yang kesepuluh dia berada di desa Melati ini. Tentu saat dia melihatku serasa lihat bidadari jatuh berasal dari langit.

Bulu kudukku berdiri, sepertinya ada angin dingin yang meniupkan birahi di malam dining di lereng Merapi ini. Kulihat dalam cahaya bulan sesorang bergegas memasuki halaman joglo. Ternyata dia Mas Tardjo. Dia langsung masuk rumah, bisa saja ada sesuatu yang rela diambil alih berasal dari kamarnya. Tetapi beberapa menit sesudah itu saya mendengar cara kaki memasuki lantai pendopo dan mendekat ketempat saya duduk sendiri ini. Aku tebak pasti dia.

“Bu Ganjar belum ngantuk? Nggak raih setelah seharian di perjalanan?”.
Kemudian dia duduk di kursi sebelah depanku. Dalam cahaya lampu minyak ini muncul kumisnya yang tidak tipis melintang. Dalam cahaya remang-remang lampu minyak layaknya ini saya tidak kudu menyembunyikan wajahku yang terasa bengap karena darahku naik terdorong oleh pikiran-pikiranku tadi dan sedikit banyak juga makin terdorong saat tiba-tiba Mas Tardjo, laki laki haus ini kini berada benar-benar dekat denganku.

Terus terang hatiku belum pernah terasa sesepi ini. Dan yang lebih gila ulang belum pernah jantungku bergetar layaknya ini saat seorang laki laki yang bukan suamiku ada di dekatku. Mungkin karena malam yang dingin ini, atau karena lampu minyak yang remang-remang di pendopo ini, atau karena cahaya bulan yang menerangi tanah basah halaman joglo ini, atau karena gairah libidoku yang sudah lebih berasal dari 2 bulan tak tersalurkan ini. DAFTAR ID PRO PKV


Dan tiba-tiba rasa bahagiaku yang mengawali saat saya duduk di pendopo ini tadi beralih menjadi derita dan siksa. Rasa yakin diriku yang tak diragukan oleh Mas Ganjar suamiku kurasakan oleng. Aku kehilangan ketegaranku yang kerap kurasakan saat-saat pendakian di karang terjal, tak risau untuk jatuh. Kini saya risau jatuh. Bukan jatuh berasal dari ketinggian, tetapi jatuh dalam sepi dan kehausan yang nisbi. Tanpa terasa air mataku menggenang di pelupuk mataku dan tiba-tiba wajahku tertelungkup di meja kecil di depanku sambil saya menangis sesenggukan. Tentu saja Mas Tardjo kaget. Pertanyaan yang dia lontarkan padaku tadi kujawab bersama tangisanku.

“Kenapa bu, Bu Ganjar sakit?”.
Kemudian dia menghampiriku, menyentuh bahuku, memeluknya, sesudah itu mengangkat supaya saya tegak kembali.
“Sebaiknya Bu Ganjar istrirahat. Mari kuantarkan ke kamar Ibu”.

Aku nggak jelas kenapa saya sepakat saja bersama usulannya. Saat saya dibimbingnya untuk berdiri berasal dari kursi dan sesudah itu sedikit dipapah saat menuju ke kamarku saya merasakan semacam ketenangan berasal dari sebuah tempat perlindungan. Mas Tardjo seakan menukar peran Mas Ganjar yang seharusnya dalam saat-saat layaknya ini berada di dekatku. Tanpa jelas tanganku berpegangan pada pinggangnya dan seketika rasa hangat tubuhnya mengalir ke tubuhku. Aku terasa kamarku yang cuma beberapa meter berasal dari pendopo seakan demikianlah jauh. 

Perjalanan dalam papahan Mas Tardjo yang cuma beberapa cara ini seakan bermil-mil. Dan saat berada tepat di depan pintu sepertinya saya tetap inginkan berlangsung lebih jauh lagi, tubuhku makin menggelendot pada papahan Mas Tardjo yang sesudah itu bersama sigapnya raih kakiku sesudah itu menggendongku memasuki kamar dan menidurkan saya ke ranjang.

Tanganku yang otomatis memeluk lehernya saat dia menggendongku tak kulepaskan ketika Mas Tardjo hendak bangkit turun berasal dari ranjangku. Pelukan itu saya pererat bahkan kutarik wajahnya mendekat kewajahku. Aku inginkan bantuan yang lebih berasal dari dia. Aku mencium pipinya dan sesudah itu bibirnya. Aku belum pernah mencium bibir berkumis karena suamiku tidak berkumis.

Saat saya merasakan aneh pada bibirku karena kumisnya, Mas Tardjo langsung menyongsong ciumanku bersama lumatannya yang saya rasakan benar-benar nikmat dan sekaligus menyejukkan gejolak birahiku. Malam itu kita benar-benar tidak tidur dan saat pakaian-pakaian kita lepas berasal dari tubuh kita juga tak sempat memakainya lagi.

Menjelang matahari terbit yang ditandai ayam berkokok di dusun Melati di lereng Merapi ini kita tertidur telanjang dalam selimut tidak tipis yang ada di ranjang kami. Sejak hari itu, sepanjang 3 hari 3 malam Mas Ganjar “bertapa” di makam, saya dan Mas Tardjo terus menerus mendayung nikmat dalam samudra nafsu birahi kita yang melanda bak badai tornado di lautan bebas.

Dalam perjalanan pulang Mas Ganjar menceritakan bahwa dia memperoleh wangsit dalam bentuk mimpi saat tertidur di makam. Dia seakan didatangi seorang kakek berjubah putih, dia adalah Mbah Rogo, yang memberi tambahan pesan jikalau permohonan Mas Ganjar inginkan terpenuhi, dia kudu memperbanyak “bertapa” dirumah dan memberi tambahan amal lebih banyak kepada para karyawannya lewat gaji yang memadai dan membayar mereka tepat pada waktunya. Sekali ulang saya tertawa geli bakal pesan Mbah Rogo yang begitu tehnis dan detail. Dan lebih berasal dari itu seakan Mbah Rogo jelas bakal kehausan birahi dan penyelewenganku

Sepulang berasal dari dusun Melati di lereng Merapi itu, saat Mas Ganjar berada di rumah kita hampir-hampir tidak sempat kenakan baju kami. Dan Mas Ganjar sendiri lebih kerap berada di rumah serta tidak pernah ulang kluyuran melacak makam-makam keramat