Ziarah Membawa Berkah // Part 1

RAKSASAPOKER Seharusnya Mas Ganjar lebih mensyukuri hidupnya. Keadaan ekonomi keluarga kami boleh dibilang tidak tersedia kekurangan.

RAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Rumah dan perabotannya, mobil, lebih dari satu hektar tanah dan sawah di bermacam lokasi sudah kami miliki.

Sementara usahanya selalu berjalan baik kendati keadaan ekonomi umumnya sedang mengalami kesulitan yang besar.


Tetapi dia selalu merasa kurang, selalu resah dan gelisah. Sampai-sampai dia nggak pernah kembali meluangkan untuk menggauli aku sebagai pengisi kerinduan dan juga menyalurkan libidoku yang relatip masih tinggi ini. Aku sih coba memaklumi sepanjang usaha untuk capai harta yang lebih banyak kembali itu dilaksanakan secara nalar yang sehat, bukan dengan yang dia selalu tempuh sepanjang ini.

Setiap tersedia persoalan dia bukan melakukan perbaikan langkah kerjanya dan berdo’a tapi dia pergi ke dukun-lah, orang sakti-lah, tidur di kuburan-lah, berendam di kali-lah. Aku sungguh tidak mengerti berasal dari mana dia studi cara-cara layaknya itu. Minggu depan ini rencana dia akan ziarah ke sebuah makam keramat Mbah Rogo di desa Melati di lereng Gunung Merapi. Dia minta aku menemaninya.

Menurut Mas Ganjar yang diberi mengerti oleh “orang tua”nya yang diberi mengerti oleh “orang tua”nya kembali yang diberi mengerti oleh “orang tuan”nya kembali kembali dan seterusnya, Mbah Rogo adalah prajurit Diponegoro yang kalah perang lantas bertapa di lereng Gunung Merapi tempat dia dimakamkan kini. Karena kesaktiannya banyak orang yang punya hajat berziarah tidur di samping makamnya. Dia bilang bahwa para jenderal, para menteri, para gubernur dan bupati yang capai berhasil pasti pada mulanya ziarah dan tidur di samping makam Mbah Rogo itu. Aku tertawa bingung dan geli, katanya sakti kok kalah perang. Dan tak kembali mampu tertahan ketawaku meledak sementara Mas Ganjar terhitung berniat tidur di samping kuburan Mbah Rogo.

Kalau soal jalur sih, aku senang-senang saja, hitung-hitung rekreasi, bahkan ke gunung, yang sudah jadi hobby petualanganku sejak SMP dulu. Setiap liburan sekolah mainanku nggak lain camping ke gunung, sampai teman-temanku menjuluki aku sebagai “peri gunung”. Aku bilang jangan ajak aku di kuburannya, nanti malahan aku masuk angin jadi merepotkan. Mas Ganjar menghiburku, bahwa kendati di lereng Gunung Merapi, di desa Melati itu sudah didirikan hotel berbintang dikarenakan para kerabat para jendral, menteri dan macam-macam tadi umumnya turut mengantarkan mereka yang berniat ziarah. Aku dijanjikan untuk nginap saja di hotel berbintang itu.

Singkat kata, terhadap jam 5 sore di suatu hari yang sudah ditetapkan sebuah mobil Kijang di mana Mas Ganjar dengan istrinya, aku, terlihat memasuki gerbang desa Melati. Mas Ganjar yang nyopir seharian itu tidak menyatakan kelelahan. AC mobil kami matikan dikarenakan udara desa ini benar-benar sejuk dan segar. Bahkan aku merasa kedinginan. DAFTAR ID PRO PKV


Dengan penuh stimulus dia menuju alamat tempat tinggal di mana temannya yang terhitung datang berasal dari Jakarta sudah lebih dahulu tiba dan tunggu di sana. Sesudah bertanya sana-sini pada akhirnya kami memasuki halaman sebuah tempat tinggal joglo yang luas dan indah. Dan makin lama indah dikarenakan berasal dari beranda tempat tinggal itu kami mampu melihat puncak Gunung Merapi yang selalu mengeluarkan asapnya.

Sesudah memarkir mobil kami menemui seseorang yang kebetulan berada di situ, Mas Ganjar menanyakan apakah Mas Tardjo yang temannya sudah berada disini. Orang tadi bergegas masuk dan tak lama lantas terlihat disertai dua orang lain. Yang satu gagah dan tinggi besar dengan kumisnya yang tebal melintang dan yang lain biasa-biasa saja. Mereka menyongsong hangat Mas Ganjar yang lantas memperkenalkan aku terhadap Mas Tardjo, ternyata yang berkumis melintang dan Mas Sardi penduduk asli berasal dari desa itu.

Aku agak terganggu terhadap langkah melihat Mas Tardjo terhadap diriku. Matanya sepertinya hendak menelanjangi tubuhku. Aku gampang tergetar dengan pandangan laki laki semacam itu. Walaupun aku berusaha untuk tidak menyatakan kegugupanku tak urung jantungku berdegup kencang juga. Aku mengerti dan sering mengalami bahwa terhadap umumnya laki laki jikalau melihat aku selalu melihat berasal dari faktor tubuhku.

Aku sesungguhnya tidak cantik, tapi tiap tiap orang baik laki laki atau perempuan selalu memuji aku sebagai wanita yang manis dan seksi. Apalagi jikalau aku manfaatkan celan jeans layaknya saat ini ini. Sehingga aku tidak begitu heran sementara Mas Tardjo memandangi aku sepertinya mendambakan menikmati tubuhku.

Kemudian Mas Tardjo dengan Mas Sardi menujukkan kamar kami di tempat tinggal itu. Aku segera komplain terhadap suamiku, Mas Ganjar, yang katanya aku akan diinapkan di hotel berbintang. Dia tidak mampu menjawab dengan mengerti jikalau bahwa hotel yang dimaksud masih didalam perencanaan. Sebentar lagi, katanya dengan enteng. Aku jadi agak sebel.

Tetapi dikala kami memasuki kamar di tempat tinggal joglo itu sekejap sebelku hilang. Kamar ini bukan main indahnya. Dengan perabot dan dekorasi tradisional berasal dari jendelaku kembali aku mampu menikmati Gunung Merapi yang mengepulkan asapnya itu. Aku segera suka dan kerasan. Aku keluarkan dan gantung baju-bajuku untuk rubah sepanjang di perjalanan ini. Sementara Mas Ganjar menyesuaikan rencananya yang merasa malam ini akan “prihatin”an, makan, minum dan tidur di samping kuburan Mbah Rogo sepanjang 3 hari 3 malam berturut-turut sampai hari Jum’at Kliwon yang kebetulan terhitung malam bulan purnama yang diyakininya sebagai hari yang paling keramat.

Sebelum pergi ke makam yang lokasi dan pucuk atapnya terlihat berasal dari tempat tinggal joglo ini Mas Ganjar pesan jikalau aku perlu suatu hal mampu minta pemberian Mas Sardi yang selalu berada di joglo ini pula. Selebihnya Mas Ganjar mengerti sama bahwa aku adalah perempuan yang benar-benar percaya diri dikarenakan dia adalah partnerku tiap tiap kali kami naik gunung dan bermacam petualangan yang lain era sama-sama masih remaja di SMP dulu.

Sepergi Mas Tardjo aku duduk sendiri di pendopo didalam sinar lampu minyak di meja kecil di depanku menikmati sejuknya lereng Gunung Merapi ini. Aku suka dan suka berkesempatan mengalami keadaan indahnya pedesaan layaknya ini. Dari arah timur bulan menjelang purnama terlihat di langit cerah ini Sesekali berasal dari kegelapan sedikit ke atas sana terlihat lelehan panas yang benar-benar spektakuler, itulah lahar Merapi yang terus muntah membawa berkah dan sesekali bencana bagi penduduk di lebih kurang gunung ini.