Tante Pemuas Nafsuku // Part 2

RAKSASAPOKER Beberapa hari sesudah itu aku menerima telephone Dian, sambil terisak Dian pamit padaku sebab dia dan mamanya bakal tukar ke Surabaya. Aku minta alamatnya, namun Dian keberatan. 


Dari suara suaranya terlihat Dian sudah tidak marah lagi padaku; maka aku memohon padanya untuk terakhir kali supaya bisa aku menemuinya. 


Dian mengijinkan aku menemuinya di rumahnya, segera aku meluncur ke rumahnya untuk Inilah waktu terakhir akku berjumpa dengan kekasihku.

Kupencet bel pintu, mama Dian mengakses pintu dan menyilahkan aku masuk. Nampak wajahnya masih berbalut duka dan kesedihan, dia terlalu jadi bersalah sebab menjadi penyebab hancurnya hubunganku dengan Dian. Mama Dian menggandengku menuju ruang keluarga, terlihat Dian kekasihku duduk menungguku.

Melihat aku Dian bangkit dan menghampiri aku, tak kusangka pipiku ditamparnya dengan keras. Kubiarkan saja supaya rasa kesal dan tertekan dihatinya terlampiaskan. Dian berdiri bengong setelah menamparku, dilihat tangan dan pipiku bergantian seolah tak yakin bakal apa yang dia lakukan. Tiba-tiba ditubruk dan dipeluknya badanku, dibenamkan mukanya ke dadaku sambil sesenggukan menumpahkan tangisnya. Aku peluk tubuhnya dan kuelus rambut-nya.

Agak lama kita demikian; kita mengetahui bahwa waktu inilah waktu terakhir bagi kita untuk bertemu. Mama Dian mendekat dan merangkul kita berdua, dan membimbing kita untuk duduk di kursi panjang. Kami bertiga duduk sambil berpelukan, mama Dian ditengah; kedua tangannya memeluk kita berdua.

Akhirnya kesunyian diantara kita tertanggulangi dengan ucapan mama Dian. Mama Dian menjelaskan memberi peluang terhadap kita untuk memutuskan, apakah bakal kita lanjutkan interaksi kita atau kita putuskan hingga disini saja.
Berat sekali rasanya, kecuali kita teruskan interaksi kita maka berarti aku menengahi interaksi kasih ibu dan anak tunggalnya ini. Aku menyerahkan ketetapan akhir terhadap Dian. Sambil terisak Dian selanjutnya mengambil keputusan untuk mengakhiri interaksi kami, waktu kuingatkan bahwa dirahimnya ada benih anakku, Dian menjawab biarlah.., ini sebagai isyarat cinta kasih kita berdua.., Dian kan selamanya pelihara kandungannya dan bakal membesarkan anak itu dengan kasih sayangnya.

Beberapa waktu sesudah itu aku berpamitan, dengan berat Dian melewatkan pelukanku, namun sebelum akan kita berpisah sekali lagi Dian memintaku untuk menemaninya. Ditariknya aku ke kamarnya dan dengan penuh kasih sayang, dibukanya pakaianku dan pakaian yang melekat di tubuhnya. Kami berdiri berpelukan dnegan tanpa sehelai benang melekat terhadap tubuh kami.

Kucumbui Dian kekasihku untuk terakhir kalinya, aku genjot penisku di memeknya dengan lembut dan penuh perasaan, aku cemas kalau-kalau genjotanku bakal menyakit-kan anakku yang ada dirahimnya. Semalam kita bercengkerama, terhadap pagi keesokan harinya aku berpamitan. Dengan perasaan yang terlalu berat dilepas kepergianku, aku berpamitan pula terhadap mama Dian, aku cium punggung tangannya sebagai isyarat kasih anak ke ibunya, ditengadahkan mukaku dan dikecupnya keningku dengan penuh rasa sayang. Aku menitipkan anakku terhadap Dian dan mohon padanya supaya memberi kabar waktu kelahirannya nanti. Sampai disitulah akhir hubunganku dengan Dian dan mamanya.

Beberapa hari setelah perpisahanku dengan Dian, aku jadi sepi dan sedih. tante H yang selamanya menghiburku, dengan gurauan, kemolekan, kehangatan tubuhnya, dan dengan kasih sayangnya Terkadang di dalam kesendirianku, aku terngat tante U, dengan segala kehangatan tubuhnya. Aku teringat moment-moment yang dulu kita jalani di salah satu kamar di tempat tinggal tante H.

Di salah satu kamar di tempat tinggal tante H itulah kita biasa mengumbar nafsu kami, saling menumpahkan rasa rindu kami, sudah tak juga lagi barapa banyak aku menyengga-mainya menumpahkan segenap rasa dan nafsuku, dan sebanyak itu kita terkait tak dulu samasekali kita manfaatkan alat kontrasepsi, baik itu kondom, spriral, pill atau sebangsanya. Jadi kita melakukannya secara alami saja, dan tentu saja bisa dibayangkan akibatnya. Yach.. tante U pergi dengan mempunyai banyak kenangan indahku, mempunyai cintaku dan mempunyai pula janin berasal dari benih yang kutanam di rahimnya.. DAFTAR ID PRO PKV


Awal semester pertama sudah terjadi 2 bulan lebih 5 hari, menjadi tak jadi aku sudah menempati tempat tinggal petak kontrakanku sepanjang itu. Setiap hari aku terjadi kaki ke daerah kuliah, yang sebenarnya tak jauh berasal dari tempat tinggal kontrakanku.
Setiap kali aku berangkat atau pulang kuliah, aku selamanya melewati sebuah tempat tinggal yang dihuni satu keluarga dengan dua anak perempuannya, sebenarnya 3 orang anaknya dan perempuan semuannya. Dua sudah berkeluarga, yaitu Kak Rani dan Kak Rina, tetapi si bungsu Yanti masih SMA kelas 1 (baru masuk).

Kak Rani dan Kak Rina anak kembar, cuma saja nasib Kak Rani lebih baik ketimbang Kak Rina. Kak Rani bersuamikan pegawai Bank dan sudah memiliki tempat tinggal serta dua anak perempuan, tetapi Kak Rina bersuamikan seorang pengemudi box kanvas suatu perusahaan dan belum dikarunia anak, serta masih tinggal dengan ibunya. Bu Maman seorang janda yang baik hati dan sayang benar mirip cucunya, yaitu anak Kak Rani.

Pada awalnya aku berteman dengan Yanti, Yanti juga gadis yang agresif dan aku juga sudah mendengar cukup banyak berkenaan petualangan cintanya sejak dia duduk di bangku SMP, menjadi kasus sex bikin Yanti bukan perihal yang baru lagi.

Perkenalanku terjadi waktu aku pulang kuliah sore hari, di mana hujan turun cukup lebat. Pada waktu aku terjadi hendak memasuki mulut gang, berhentilah sebuah angkot dan ternyata yang turun Yanti dengan seragam SMAnya.

Aku menawarinya berpayung dengan dan ternyata dia mau. Kuantar Yanti hingga rumahnya, setiba di rumahnya dipersilahkannya aku masuk dan duduk di ruang tamu, waktu dia masuk berpindah pakaian. Saat aku tunggu Yanti, Kak Rina terlihat dengan mempunyai secangkir teh hangat dan kue. Mulutku secara tak mengetahui ternganga menyaksikan kecantikan Kak Rina. Mata nakalku tak henti melirik dan mencuri pandang padanya. Padahal Kak Rina cuma mengenakan pakaian sederhana, cuma mengenakan daster motif bunga sederhana, namun kecantikannya selamanya nampak. Kulitnya yang putih kekuningan dan badannya yang fresh dengan buah dada yang menonjol, semakin tingkatkan kecan-tikan penampilannya sore itu.

Melihatku dia tersenyum, terlihat sebaris gigi putih yang bersih berjajar. Aku tergagap dan segera kuulurkan tangan untuk berteman dengannya. Hangat tengannya dalam genggamanku, dan sambil tunggu Yanti selesai berpindah pakaian dia menemaniku ngobrol. Dalam obrolan ku dengan Kak Rina sore itu, baru kutahu kecuali Kak Rina kerap melihatku waktu aku terjadi berangkat dan pulang kuliah. Itulah hari pertamaku berke-nalan dengan keluarga Yanti.

Pagi esok harinya, waktu aku berangkat kuliah, aku berjumpa Kak Rina di mulut gang. Kami bersalaman, tiba-tiba timbul kenakalanku, kugelitik telapak tangan Kak Rina waktu kugeng-gam, ternyata dia diam saja bahkan senyum padaku. Sejenak kita berbasa-basi bicara, sesudah itu aku cepat bergegas kuliah.

Sore hari aku baru pulang kuliah, langit mendung tidak tipis sepertinya sudi hujan. Saat kubuka pintu rumah, kulihat Yanti dan teman kostku sedang ngobrol di ruang tamu., rupanya dia sengaja singgah untukku. Tak lama sesudah itu temen kostku pamit sudi kuliah sore hingga jam 19.00 WIB. Setelah aku berpindah pakaian kutemui Yanti dan kita ngobrol berdua. Tiba-tiba aku teringat bahwa Yanti belum kusuguhi minum, cepat-cepat aku permisi ke dapur untuk membuat minuman buatnya. Saat aku beranjak ke dapur Yanti mengikutiku berasal dari belakang, dan di dapur kita lanjutkan obrolan kita sambil kuteruskan membuat minuman.

Yanti berdiri bersandar meja dapur, aku mendekatinya dan iseng kupegang tangannya. Agaknya Yanti sebenarnya mengharap keadaan demikian, dia tanggapi pegangan tanganku dengan mendekatkan tubuhnya ke tubuhku, supaya muka kita berjarak cuman sebagian senti saja. Hembusan nafasnya jadi menerpa wajahku. Kesempatan itu tak kubiarkan melalui begitu saja, segera aku sambar pinggangnya dan kucium lumat mulutnya.

Kami berciuman agak panjang, lidah kita saling beradu dan memilin, waktu sigap tanganku menggerayangi dan meremas pantat Yanti. Tanganku tidak berhenti, tetap bergerak menyingkap anggota depan roknya, dan segera tanganku mengelus-elus memek Yanti yang masih tertutup celana tipis, waktu itu mulutku menjalar dan menciumi lehernya. Yanti merintih lembut, dan semakin mempererat pelukannya.

Tangan kananku yang sudah terlatih segera melewatkan kancing depan bajunya, setelah itu meremas-remas buah dadanya, kulepas tali Bhnya dan segera kujelajahi dua bukit kembarnya yang sudah mengeras. Kuhisap lembut puting susunya, Yanti semakin menekan kepalaku ke dadanya.

Aku sudah mengetahui apa yang dikehendakinya, segera kutarik dia ke kamarku, dan segera kubuka resleting roknya, kulepas bajunya sesudah itu BHnya. Nampak tubuh Yanti polos tak tertutup kain, cuma CD tipisnya saja yang tinggal melekat di badannya. Segera kuhujani Yanti dengan ciuman, kujilati sekujur tubuhnya, kuhisap puting susunya, dan tetap mulutku bergerak ke bawah, sambil pelan-pelan tanganku melewatkan CD-nya.
Begitu CD-nya terlepas segera kuserbu memeknya, lidahku menjilati memeknya, waktu kedua tanganku meremas-remas pantatnya yang bulat penuh. Yanti merintih dan mengerang, dan sesaat sesudah itu ditariknya bahuku ke atas, supaya kita berdiri berhadapan. Segera dilepas kancing bajuku, dan dilepasnya semua pakaianku. Sambil membungkukan badan dihisap kontolku, dijilati dan dikocoknya pelan.. Ohh.. sungguh nikmat tak terbayang.

Segera kudorong tubuhnya terlentang di atas dipan dan lidahku tetap bergerilya di memeknya, juga ke dua jari tanganku turut pula menjelajahi memeknya, ke dua pahanya mengangkang lebar dan terlihat lobang memeknya sepertinya siap melahap kontolku bulat-bulat. Yanti mengerang-ngerang dan memintaku segera memasukkan kontol ke dalam memeknya. Mas.. ayo.. masukkan.. ayo maas..

Hujan di luar turun dengan deras, suara hujan mengalahkan erangan dan teriakan Yanti, supaya aku tak cemas orang bakal mendengar suaranya. Kubiarkan Yanti dalam keadaan begitu, sambil lidahku tetap menjilati memeknya. Yanti merintih dan mengerang.. sambil menghiba untuk segera memulai permainan kami. Bau memeknya, semakin menghidupkan gairahku, dan selanjutnya akupun tak tahan..

Segera kutindih tubuhnya dan kebenamkan kontolku dimemeknya dengan satu sentakan yang sedikit agak keras. Segera kukocok memeknya dengan cepat dan keras. Yanti mengerang, merintih dan mengimbangi gerakan terlihat masuk kontolku dengan pas.., supaya kadang jadi kontolku bagai dihisap dan diremas di dalam memeknya.

Terasa kontolku berdenyut-denyut, sepertinya hendak terlihat air maniku; segear kuhentikan gerakan kontolku dan segara kucabut. Kugeser tubuhku dan kumasukan penisku ke dalam mulutnya. Segera dihisap dan dikulumnya penisku, tanpa rasa jijik. Setelah agak menyusut denyutan penisku, segera kubenamkan lagi dalam memek Yanti.

Bukan main, remasan dan sedotan memek Yanti. Aku menjadi mengetahui saat ini beda antara memek seorang wanita yang masih gadis dan belum dulu melahirkan dengan wanita yang sudah melahirkan layaknya tante U. Kubalik tubuh Yanti dan kuangkat pantatnya agak tinggi, supaya Yanti dalam posisi nungging. Segera kutancapkan penisku ke memeknya berasal dari belakang. Lagi-lagi Yanrti mengerang-erang kadang menjerit kecil Tiba-tiba diangkat dan diputar badannya ke belakang, serta di raihnya kepalaku serta diciumnya mulutku, waktu penisku selamanya bekerja terlihat masuk memeknya.

Berapa waktu sesudah itu kuganti posisi, aku berbaring terlentang dan Yanti menindih tubuhku. Dipegang dan dibimbingnya penisku masuk ke vaginanya, dan segera digoyang badanya naik turun di atas tubuhku. Kuremas payu daranya dan kuhentakan pantatku ke atas, waktu badan Yanti bergerak ke bawah menekan masuk penisku ke dalam memeknya. Tak lama sesudah itu gerakan Yanti semakin menggila dan semakin cepat. Dari mulutnya terdengar erangan yang semakin keras dan selanjutnya badanya menegang sambil berasal dari mulutnya terdengar lenguhan Ughh.. Aaah.. Aaah.., sesudah itu tubuhnya menubruk dan memeluk tubuhku erat-erat, mass.. aku sudah.., keluar..ooh.. Enak..

Pelan kubalik badanya, dan kutindih serta kugenjot memeknya cepat dan keras.., terlihat mata Yanti mendelik, membalik ke atas.., mulutnya merintih dan mengerang..
Kupercepat gerakanku dan kugenjot penisku sepenuh tenaga.., 15 menit sesudah itu jadi penisku berdenyut-denyut. Kepala Yanti bergoyang ke kanan dan ke kiri dan ke kanan, kedua kakinya mengepit pantatku supaya tak ada mungkin aku mencabut kontolku waktu air maniku terlihat nanti, dan selanjutnya dengan suatu sentakan yang keras kubanjiri liang memeknya dengan cairan maniku..

Kumarahi Yanti, sebab dia tak memberiku peluang mengikis air maniku di luar liang kemaluannya. Aku cemas perihal ini bakal berakibat fatal, yaitu Yanti hamil..
Dia cuma ketawa kecil dan memelukku erat, sambil berbisik di telingaku bahwa dia sudah KB suntik. Aku terheran-heran mendengarnya, sebab sudah sedemikian jauhnya pengetahuan dia berkenaan terkait sex dan merawat diri berasal dari kehamilan. Mendengar itu aku lega dan segera kucium dan kulumat mulutnya. Kami bercumbu, berciuman dan bergumul di atas dipan, kebetulan dipanku ukurannya lebar, supaya kita leluasa bercumbu di atasnya.

Dua puluh menit berlalu, jadi penisku jadi menegang dan mengeras. Segera kumasukan lagi kontolku ke memek Yanti. Kembali kita berdua mengumbar nafsu sepuas hati, kali ini aku selamanya merawat posisi di atas, sebab aku mengetahui bahwa terhadap ronde kedua dan ketiga aku lebih bisa sesuaikan dan menahan klimaks lebih lama. Yanti mengerang dan merintih, dan selanjutnya terhadap puncak kepuasan yang kedua kusemburkan lagi benih-benih manusia ke dalam rahim Yanti.

Keringat kita sudah bercampur dan membasahi tubuh kami, seprei daerah tidur sudah berantakan nggak karuan, kita berbaring berpelukan, kepalanya di dadaku, tangan Yanti memainkan penisku, dan sesekali kita saling berciuman.
15 menit sesudah itu kita mengulangi lagi perihal yang sama, hingga klimaks kita dapatkan lagi, Kembali kuguyur memeknya dengan caiaran maniku, sambil kita berciuman panjang sekali.., seolah tak bakal henti..

Setelah cukup beristirahat, segera kita berkemas dan berpakaian, dan tidak lupa berjanji untuk mengulangi lagi apa yang kita lakukan sore ini. Menjelang maghrib kuantar Yanti pulang ke rumah, dan sebelum akan aku pamit pulang, sekali lagi kupeluk pinggangnya dan kucium bibirnya dengan mesra. Sejak hari itu resmilah Yanti menjadi pacar tetapku, dengan sebutan lain pemuas nafsuku.