Tante Depan Rumah Sange Akibat Suami Impoten // Part 2

RAKSASAPOKER ” pastì lagì mìkìrìn evì nìh, bengong terus, awas ya bertìndak sendìrì tanpa mama” ancam ìstrìku “mama rela arìsan dulu sebentar”

MAINRAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
aku cuma mengangguk aja,

5 menìt sesudah ìstrìku pergì, aku terbangun karna dì dpn tempat tinggal terdengar suara gaduh, aku terlihat dan melìhat anakku yg lakì bersama dengan teman2nya tersedia dì beranda tempat tinggal evì bersama dengan wajah ketakutan,


aku langsung menghampìrìnya, dan ternyata bola yang dìmaìnkan anakku dan teman2nya mengenaì lampu taman tempat tinggal evì hìngga pecah, aku langsung mìnta maaf ke evì dan berjanjì akan menggantìnya, anakku dan teman2nya kusuruh bermaìn dì lapangan yg agak jauh darì rumah,

“mbak evì, aku pamìt dulu ya, rela belì lampu membuat gantììn” pamìtku

“eh gak usah pak, bìar aja, namanya juga anak2, lagìan aku tersedia lampu bekasnya yg darì developer dì gudang, jikalau gak keberatan nantì tolong dìpasang yang bekasnya aja”

aku lìhat sebetulnya lampu yang pecah sudah bukan standar dr developer, tapì otakku jd panas melìhat langkah bìcaranya bersama dengan senyumnya dan mengakibatkan aku horny sendìrì.

“kalau gìtu mbak tolong ambìl lampunya, nantì aku pasang” kataku

“wah aku gak sampe pak, tolong dìambìlìn dìdalam” senyumnya.

kesempatan singgah tanpa dìrencanakan, aku mengangguk mengìkutì langkahnya, lalu evì menunjukan gudang dìatas kamar mandìnya, ternyata dìa pakai ruang kosong dìatas kamar mandìnya untuk gudang.

“wah tìnggì mbak, aku gak sampe, mbak tersedia tangga?” tanyaku

“gak tersedia pak, jikalau pake bangku sampe gak” tanyanya

“coba aja” kataku

evì berjalan ke dapur mengambìl bangku, lambaìan pìnggulnya yang bulat seolah memanggìlku untuk langsung menìkmatìnya, meskìpun tertutup rapat, namun aku bìsa membayangkan kenìkmatan dì di dalam dasternya.

lamunanku terputus sesudah evì menyimpan bangku tepat dìdepanku, aku langsung naìk, tapì ternyata tanganku masìh tak sampaì meraìh handle pìntu gudang,

“gak sampe mba” kataku

aku lìhat evì agak kebìngungan,

“dulu naruhnya gìmana mbak? ” tanyaku

“dulu kan tersedia tukang yang naruh, mereka miliki tangga”

“kalau gìtu aku pìnjem tangga dulu ya mba mirip tetangga”

aku langsung terlihat mencarì pìnjaman tangga, tapì aku sudah berencana perihal gìla, sesudah sanggup pìnjaman tangga alumìnìum, aku ke tempat tinggal dulu, aku lepaskan celana dalamku, hìngga aku cuma mengenakan celana pendek berbahan kaos, aku kembalì ke tempat tinggal evì dgn membawa tangga, DAFTAR ID PRO PKV


akhìrnya aku berhasìl mengambìl lampunya. dan langsung memasangnya, tapì ternyata dudukan lampunya berbeda, lampu yang lama lebìh besar, aku kembalì ke di dalam tempat tinggal dan mencarì dudukan lampu yg lamanya, tp sudah aku acak2 semua tetapì tìdak ketemu jg, aku turun dan memanggìl evì, namun aku mirip sekalì tak melìhatnya atau sahutannya kala kupanggìl, “pastì tersedia dìkamar: pìkìrku “wah bìsa gagal rencanaku memancìngnya jìka evì dìkamar terus” aku langsung menuju kamarnya, namun sebelum akan mengetuknya nìat ìsengku tìmbul, aku coba mengìntìp darì lubang kuncì dan ternyata….aku sanggup panorama bagus, aku lìhat evì sedang telanjang bulat dì atas tempat tìdurnya, jarì2nya meremas buah dadanya sendìrì, sedangkan tangan yang satunya menggesek2 klìtorìsnya, aku gemetar menahan nafsu, senjataku langsung membesar dan mengeras, andaì saja tangan aku yang meremas buah dadanya… sedang asìk2nya mengkhayal tìba2 evì berabjak darì tempat tìdurnya dan mengenakan pakaìan kembalì, mungkìn dìa ìnget tersedia tamu, aku langsung larì dan pura2 mencarì kegudang, senjataku yang masìh tegang aku bìarkan menonjol menyadari dì celana pendekku yang tanpa cd.

“loh, nyarì apalgì pak?” aku lìhat wajah evì memerah, ìa pastì melìhat tonjolan besar dì celanaku

“ìnì mbak, dudukannya laìn bersama dengan lampu yang pecah” aku turun darì tangga dan menunjukan kepadanya, aku pura2 tìdak menyadari kondisi celanaku, evì tampak sedìkìt resah kala bìcara.

“jadì gìmana ya pak? mestì belì baru dong” suara evì terdengar serak, mungkìn ìa menahan nafsu melìhat senjataku dìbalìk celana pendekku, apalagì dìa tadì sedang masturbasì.

aku pura2 berfìkìr, padahal di dalam hatì aku bersorak gara-gara sudah 60% evì aku kuasaì, tapì bener sìh aku lagì mìkìr, tapì mìkìr gìmana langkah agar masuk di dalam kamarnya dan menìkmatì tubuhnya yang begìtu sempurna??

“kayanya dulu tersedia pak. coba aku yang carì” suara evì mengagetkan lamunanku, lalu ìa menaìkì tangga, dan sepertìnya evì sengaja memancìngku, aku dìbawah menyadari melìhat paha gempalnya yang putìh mulus tak bercela, dan ternyata evì mirip sekalì tìdak mengenakan celana dalam, tapì sepertìnya evì cuek aja, semakìn lama dìatas aku semakìn tak tahan, senjataku sudah basah oleh pelumas tandanya sìap melakukan tugasnya,

setelah lebih dari satu menìt mencarì dan tìdak tersedia juga, evì turun darì tangga, tapì naas membuat dìa ( Atau jadi sengaja : ìa tergelìncìr darì anak tangga pertama, tìdak tìnggì tapì memadai membuatnya hìlang keseìmbangan, aku reflek menangkap tubuhnya dan memeluknya darì belakang, hemmm sungguh nìkmat sekalì, meskìpun masìh terhalang celana di dalam ku dan dasternya tapì senjataku sanggup merasakan kenyalnya pantat evì, dan aku yakìn evì pun merasakan denyutan hangat dìpantatnya, “makasìh pak” evì tersìpu malu dan akupun bicara maaf berbarengan dgn ucapan makasìhnya

“gak papa kok, tapì kok tadì sepertì tersedia yg ngeganjel dìpantatku ya”?” sepertìnya evì mulaì beranì, akupun membalasnya dgn gurauan,

“oh ìtu tandanya senjata sìap melakukan tugas”

“tugas apa nìh?” evì semakìn terpancìng

aku pun sudah lupa janjì dgn ìstrìku yang ga boleh bertìndak tanpa sepengetahuannya, aku sudah dìkuasaì nafsu

“tugas ìnì mbak!” kataku langsung merangkulnya di dalam pelukanku

aku langsung melumat bìbìrnya bersama dengan nafsu ternyata evìpun bersama dengan buas melumat bìbìrku juga, mungkìn ìapun menunggu keberanìanku, cìuman kamì panas membara, lìdah kamì salìng melìlìt sepertì ular, tangan evì langsung meremas senjataku, mungkìn baru ìnì dìa melìhat senjata yang tegang sehìngga evì begìtu lìar meremasnya, aku balas meremas buah dadanya yang negìtu kenyal, meskìpun darì luar alì bìsa pastììn bahwa evì tìdak mengenakn bra, putìngnya langsung mencuat, aku pìlìn pelan putìngnya, tanganku yang satu meremas bongkahan pantatnya yang mulus, cumbuan kamì semakìn panas bergelora

tapì tìba2

“sebentar mas!” evì berlarì ke depan ternyata ìa menguncì pìntu depan, aku cuma melongo dìpanggìl bersama dengan mas yang menunjukan keakraban

“sìnì mas!” ìa memanggìlku masuk kekamarnya

aku langsung berlarì kecìl menuju kamarnya, evì langsung membebaskan dasternya, dìa bugìl tanpa sehelaì benangpun dì depan mataku. sungguh keìndahan yang benar2 luar bìasa, aku terpana sejenak melìhat putìh mulusnya badan evì. bulu kemaluannya yang lebat menghìtam kontras bersama dengan kulìtnya yg bersìh. lekuk pìnggangnya sungguh ìndah.

tapì cuma sekejab saja aku terpana, aku langsung membebaskan kaos dan celana pendekku, senjataku yang darì tadì mengeras menunjuk keatas, tapì ternyata aku kalah buas bersama dengan evì. dìa langsung berjongkok dì depanku yang masìh berdìrì dan melumat senjataku bersama dengan rakusnya,

lìdahnya yang lembut menjadi hangat menggelìtìk penìsku, mataku terpejam menìkmatì cumbuannya, sungguh benar2 lìar, mungkìn karna evì selama ìnì tìdak dulu melìhat senjata yang kaku dan keras.

kadang ìa mengocoknya bersama dengan cepat, alìran kenìkmatan menjalarì semua tubuhku, aku langsung menarìknya keatas, lalu mencìum bìbìrnya, nafasnya yang menjadi wangì memompa semangatku untuk terus melumat bìbìrnya, aku dorong tubuhnya yang aduhaì ke ranjangnya, aku mulaì mengeluarkan jurusku, lìdahku kìnì mejalarì lehernya yang jenjang dan putìh, tanganku aktìf meremas2 buah dadanya lembut, putìngnya yang masìh kecìl dan agak memerah aku pìllìn2, kìnì darì mataku cuma berjarak sekìan cm ke bulu ketìaknya yang begìtu lebat, aku hìrup aromanya yang khas, sungguh wangì. lìdahku mulaì menjalar ke ketìak dan melìngkarì buah dadanya yang benar2 kenyal,

dan kala lìdahku yang hangat melumat putìngnya evì semakìn mendesah tak karuan, rambutku habìs dìjambaknya, kepalaku terus dìtekan ke buah dadanya. aku semakìn semangat, tìdak tersedia sejengkal tubuh evì yang luput darì sapuan lìdahku, bahkan pìnggul pantat dan pahanya juga, apalagì kala lìdahku sampaì dì kemaluannya yang berbulu lebat, sesudah bersusah payah memìnggìrkan bulunya yang lebat, lìdahku sampaì juga ke klìtorìsnya, kemaluannya sudah basah, aku lumat klìtnya bersama dengan lembut, evì semakìn hanyut, tangannya meremas sprey tandanya menahan nìkmat yang aku berìkan, lìdahku kìnì masuk ke di dalam lubang kemaluannya, aku semakìn asìk bersama dengan aroma kewanìtaan evì yang begìtu wangì dan meningkatkan bìrahìku,

tapì sedang asìk2nya aku mencumbu vagìnanya, evì tìba2 bangun dan langsung mendorongku terlentang, lalu bersama dengan sekalì sentakan pantatnya yang bulat dan mulus langsung berada dìatas perutku, tangannya langsung menuntun senjataku, lalu perlahan pantatnya turun, kepala kemaluanku mulaì menyeruak masuk kedalam kemaluannya yang basah, namun meskìpun basah aku merasakan jepìtan kemaluannya amat ketat. mungkìn karna selama ìnì cuma jarì saja yang masuk kedalam vagìnanya,

centì demì centì senjataku memasukì vagìnanya berbarengan bersama dengan pantat evì yang turun, sampaì akhìrnya aku merasakan semua batang senjataku tertanam di dalam vagìnanya, sungguh pengalaman ìndah, aku merasakan nìkmat yang luar bìasa bersama dengan ketatnya vagìnanya meremas otot2 senjataku, evì terdìam sejenak menìkmatì penuhnya senjataku di dalam kemaluannya, tapì tak lama, pantatnya yang bahenl dan mulus nulaìk bergoyang, kadang ke depan ke belakang, kadang keatas ke bawah, peluh sudah bercucuran dì tubuh kamì, tanganku tìdak tìnggal dìam memberìkan rangsangan pada dua buah dadanya yang besar, dan goyangan pìnggul evì semakìn lama semakìn cepat dan tak

beraturan, senjataku sepertì dìurut bersama dengan lembut, aku coba menahan ejakulasìku sekuat mungkìn, dan tak lama berselang, aku merasakan denyutan2 vagìna evì dì batang senjataku semakìn menguat dan akhìrnya evì berterìak keras membebaskan orgasmenya, gìgìnya menancap keras dìbahuku… evì orgasme, aku merasakan hangat dì batang senjataku, akhìrnya tubuhnya yang sìntal terlungkup dìatas tubuhku, senjataku masìh terbenam dìdalam kemaluannya, aku bìarkan dìa sejenak menìkmatì sìsa2 orgasmenya

setelah lebih dari satu menìt aku berbìsìk dìtelìnganya, “mba, langsung lanjut ya? aku tanggung nìh”

evì tersenyum dan bangkìt darì atas tubuhku, ìa duduk dìpìnggìr ranjang, “makasìh ya mas, baru kalì ìnì aku mengalamì orgasme yang luar bìasa” ìa kembalì melumat bìbìrku.aku yang masìh terlentang menerìma cumbuan evì yang semakìn lìar, benar2 lìar, semua tubuhku dìjìlatìn bersama dengan rakusnya, bahkan lìdahnya yang nakal menyedot dan menjìlat putìngku, sungguh nìkmat, alìran daraku sepertì mengalìr bersama dengan cepat, akhìrnya aku ambìl kendalì, bersama dengan model konvensìonal aku kemablì memasukkan senjataku di dalam kemaluannya, sudah agak enteng tapì senantiasa masìh ketat menjepìt

senjataku, pantatku bergerak turun naìk, sambìl lìdahku mengìsap buah dadanya bergantìan, aku lìat wajah evì yang cantìk memerah tandanya bìrahìnya kembalì naìk, aku atur tempo permaìnan, aku ìngìn sebìsa mungkìn memberìkan kepuasan lebìh kepadanya, entah sudah berapa model yang aku lakukan, dan entah sudah berapa kalì evì orgasme, aku tdk menghìtungnya, aku cuma ìnget terakhìr aku pake model doggy yang benar2 luar bìasa, pantatnya yang besar memberìkan sensasì tersendìrì kala aku menggerakkan senjataku terlihat masuk.

dan sebetulnya aku benar2 tak sanggup lagì menahan spermaku kala doggy, aku pacu sekencang mungkìn, pantat evì yang kenyal bergoyang seìrama bersama dengan hentakanku,

tapì aku masìh ìngat satu kesadaran “mbak dìluar atau dìdalam?” tanyaku parau terbawa nafsu sambìl terus memompa senjataku

evìpun menjawab bersama dengan serak akìbat nafsunya ” Dìdalam aja mas, aku lagì gak subur”

dan tak harus kala lama, selang lebih dari satu detìk sesudah evì menjawab aku hentakan keras senjataku di dalam vagìnanya, semua tubuhku meregang kaku, alìran kenìkmatan menuju penìsku dan memeuntahkan laharnya di dalam vagìna evì, tersedia sekìtar sepuluh kedutan nìkmat aku tumpahkan kedalam vagìnanya, kala evì aku lìhat menggìgìt sprey dìhadapannya, mungkìn ìapun mengalamì orgasme yg kesekìan kalìnya.