Sang Office Girl Yang Seksi // Part 2

RAKSASAPOKER Baskoro tidak menanggapi kalimat Rara. Bahkan meminta maaf sebab keliru sangka pun tidak. Hanya memasang muka datar. Wajah menghambat malu.

RAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
” Berhenti di sini saja pak. Putar baliknya nanti susah.” ujar Rara lihat muka datar Baskoro.
” Terima kasih telah mengantar saya Pak. Selamat sore.” pamit Rara kala turun berasal dari mobil Baskoro.

Dengan gerak cepat yang tidak Baskoro sangka Rara mengecup pipi sang kepala keuangan.


Rara tersenyum bahagia setelah kejadian itu terputar lagi di kepalanya. Ya, dia tahu cara beroleh duwit bersama cepat. Hanya butuh sedikit manuver dan mangsanya ada digenggamannya.

Tidak, dia tidak bakal menjual diri atau tawarkan dirinya kepada Baskoro. Baskoro lah yang bakal bertekuk lutut meminta pelayanannya nanti.

Karna satu yang Rara pahami. Laki- laki bakal memberi tambahan apapun bahkan tanpa diminta, bila wanita bisa memberi tambahan yang paling baik untuk selangkangan mereka.

Sejak hari di mana Baskoro mengantar Rara pulang untuk pertama kalinya itu, Baskoro menghindari keberadaan Rara. Dia tidak lagi memanggil Rara kala menginginkan memesan kopi untuknya ataupun untuk kolega yang mampir menemuinya.

Tentu saja perihal itu membawa dampak Rara kesal. Jika Baskoro konsisten menghindari Rara, bakal sulit buat Rara menjalankan rencananya. Bagaimana caranya mendekati duda itu terkecuali segala akses yang bisa digunakan Rara tertutup?

Rara konsisten berpikir keras. Membuat ekspresi nampak lucu. Bibirnya yang senantiasa berbalut lipstik nude yang mengerucut nampak menggemaskan bagi para OB teman kerjanya yang kebetulan berada di pantry.

” Nopo toh Ra, misuh misuh gitu?” tanya Parjo yang sedang membawa dampak minuman pesanan.
” Rapopo mas.”
” Rapopo piye? Mulutmu berasal dari tadi monyong- monyong minta dicium”
” Ih mas Parjo apaan sih.” jawab Rara bersama menekuk wajah.
” Ya konsisten kenapa? Mbok ya cerita.”
” Ndak apa-apa. Aku cuma mikirin keluarga di kampung.”

” Ya wes kalo gitu. Kalau awakmu kesusahan mas siap menjadi pelipur lara hahaha.” badan kurus Parjo berguncang karna tertawa kencang. Rara cuma tersenyum malu-malu.
” Nah daripada kamu misuh, ngelamun. Ini diantar keatas. Ke area Pak Kiki iso toh?”

Rara mengangguk lantas berdiri dan menyita nampan yang telah berisi cangkir- cangkir yang tersusun rapi.

” Hati- hati ya Ra.” Rara membalas bersama senyuman.

” Permisi Pak. Saya rela antar minuman.”
” Oh iya masuk Rara.”

Rara langsung masuk ke dapam ruangan setelah diberi izin. Di dalam sana ada sebagian orang yang Rara tau adalah penghuni lantai 3 dan 4. Pak Kiki Kepala Marketing, Pak Budi, anggota HRD, Pak Feri, anggota Humas dan Pak Baskoro.

Rara menempatkan masing-masing cangkir bersama tangkas tapi senantiasa nampak anggun (please bayangin sendiri gimana bentuknya). Saat menempatkan cangkir milik Pak Feri, tak disangka tangan laki-laki berusia 39 th. itu mengelus paha bawah Rara yang terbungkus rok sepanjang lutut berasal dari belakang.

Terang saja Rara terhenyak, dan itu menarik perhatian Baskoro yang posisinya di seberang Rara. Rara tersenyum kecil mencoba memberi salam Baskoro dan memberi kode minta tolong. Namun dilihatnya cuma Baskoro yang memalingkan wajahnya berasal dari Rara.

Rara tanpa tahu langsung memasang muka sedih dan langsung pamit kepada Pak Kiki, dan itu membawa dampak tangan Pak Feri menyingkirkan berasal dari pahanya. Tapi sempat-sempatnya lagi Feri menepuk pantat Rara sementara gadis itu berbalik menuju pintu yang ditanggapi tawa dua rekannya yang lain.

” Fer, ini kantor. Jangan bawa kebiasaanmu itu lah. Kalian juga, bukannya memberi salam tambah ikut tertawa” tegur Baskoro sementara Rara telah meninggalkan ruangan itu.

” Halah Pak Bas, jangan sok alim. Bapak mupeng juga kan lihat badan montoknya itu OG. Apalagi papa duda menahun. Nggak bisa saja gak ada nafsu mirip itu perempuan.” jawab Feri songong yang lagi- lagi ditanggapi tawa lainnya.

” Ckkk… body-nya itu weleh. Coba terkecuali dia bukan OG sini telah ku jadikan kekepan. Nggak bisa bayangin saya terkecuali pantatnya itu naik turun di atas saya hahaaaa….” nada keras Budi terdengar menyahut.

” Hah, apa kurang perempuan yang telah kamu pelihara? Masih rela nambah hahaaa ?” Pak Kiki tidak ketinggalan bersuara.

Baskoro cuma geleng-geleng kepala mendengar percakapan para laki- laki di hadapannya, tak bermaksud mengiyakan dan berkomentar lagi. Otaknya repot menyesapi rasa kopi yang berbeda. Dia tahu, kopi ini bukan buatan Rara.

Rara menghentakkan kaki bersama kasar sementara menuruni tangga menuju lantai 2 tempat pantry berada.

Ia kesal bersama sikap Pak Baskoro yang mengacuhkannya. Bukannya hari itu Baskoro mengelus pahanya? Artinya laki- laki itu peduli padanya kan? Lalu kenapa sekarang mengacuhkannya?

Terlebih lagi tadi, apa laki- laki itu tidak tahu tatapan minta tolongnya? Ia tidak bodoh, ia tahu Feri berkantong tebal. Tapi ia juga tau Feri laki- laki beristri yang hobi main perempuan.

Paling tidak sepertiga karyawan kantor yang berbadan asyik pernah dimasukinya. Belum lagi ada kabar bila Feri punyai simpanan di luar. Laki- laki seperti itu cuma mengingatkan Rara terhadap ayahnya yang haus sex. Dan Rara benci laki- laki seperti itu.

Lalu bagaimana bersama ‘dia’? Apa Rara membencinya juga? Rara termenung. Terdiam sesaat mengingat laki- laki itu juga telah berkeluarga. Lalu cepat ia menggeleng. ‘Dia’ berbeda, apa yang berjalan terhadap laki- laki itu bukan kehendaknya. Ada alasan ia bermain dibelakang istrinya. Rara tahu karna menyaksikannya berasal dari hari ke hari.

Asyik bersama pikirannya membawa dampak Rara tidak menyimak cara kakinya. Ia tidak tahu terkecuali undakan tangga di bawahnya lebih pendek berasal dari yang lain. Dan kelanjutannya ….

Brukkkk!!!!

” RARAAAAA!”

Rara nampak berasal dari loby kantor pas kala Baskoro tiba berasal dari makan siang di rumah makan terdekat. Dahinya mengernyit lihat Rara berjalan dipapah laki- laki yang Baskoro tahu adalah teman Rara sesama kacung di sana.

” Ini ada apa. Kenapa kudu peluk-pelukan?” tanya Baskoro mendekati mereka berdua.

” Rara jatuh berasal dari tangga Pak. Kakinya terkilir, menjadi saya rela antar dia pulang.”
Baskoro terperanjat mendengarnya dan lihat pergelangan kaki kanan Rara yang terbalut perban.

” Kamu rela antar dia pakai apa? Motor? Sudah kamu temani dia disini. Saya ambil mobil dulu. Biar saya yang antar dia.”

Office Boy yang memapah Rara seperti keberatan dan hendak membantah Baskoro, tapi lihat Baskoro yang mendelik, kelanjutannya OB itu merelakan kesempatan tahu rumah Rara sang pujaan hatinya.

Baskoro tidak bisa pura- pura tak peduli kepada gadis yang sedari awal mengambil perhatiannya itu. Ia tahu tidak sepantasnya ia tertarik kepada gadis yang sesuai menjadi anak atau bahkan menantunya ini. Tapi ia tidak bisa membohongi hatinya meskipun sekuat apapun ia menghindar. Perasaan yang ia sangka tidak bakal nampak lagi setelah kepergian sang istri kini tumbuh.
Diliriknya kaki Rara yang terbalut, jujur ia cemas lihat itu. Juga kesal, mengapa gadis ini sembrono hingga membawa dampak kakinya terkilir. Apa sih yang dipikirkan gadis itu sementara melangkah.
” Kaki kamu bagaimana?” tanya Baskoro memecahkan sunyi
” Sudah lumayan Pak cuma nyeri saja.”
” Kamu memangnya sedang mikirin apa hingga bisa jatuh berasal dari tangga??”
Rara menunduk, wajahnya yang kuning langsat merona seketika. Hal itu tak terlepas berasal dari pandangan Baskoro yang melirik berasal dari kaca spion.
” Saya memikirkan… hmmm… ba..ba… bapak.” jawab Rara tergagap.

Mendengar itu sontak Baskoro langsung mengerem kendaraannya. Rara terlonjak ke depan, untung sealt belt terpasang rapi hingga dia tidak membentur dashboard.
” Kamu bilang apa ?? Memikirkan saya?”
Rara cuma mengangguk pelan bersama muka yang tambah tersipu.
” Kamu….hmm…. bahagia mirip saya?” ragu Baskoro bertanya.
Rara cuma menutup wajahnya yang telah semerah kepiting rebus. Membuat Baskoro gemas. Baskoro membebaskan seat beltnya. Menghadap Rara dan memegang kedua bahu gadis itu.
” Jawab pertanyaan saya. Kamu bahagia mirip saya?”
Rara tetap diam bersama muka tertutup telapak tangan.

” Rara…” Baskoro memanggil Rara bersama nada yang terdengar lebih serak. Rara yang tahu pergantian nada Baskoro mendongak. Menatap kedua netra yang berwarna hitam pekat.
” Jawab !” perintah Baskoro. Rara yang seolah terhipnotis cuma bisa mengangguk.
” Jawab bersama mulut. Saya tidak tahu maksud kamu.”” I…” belum selesai kata- kata yang nampak berasal dari bibir Rara, bibir mungilnya itu telah melekat bersama bibir kasar milik Baskoro.
Entah sejàk kapan Rara berubah posisi menjadi duduk di pangkuan Baskoro. Suara cecapan keduanya mengiringi aksi lidah mereka yang saling membelit. Bergerak liar seolah berlomba meraup lawan. Sesaat benang air ludah mereka memanjang sementara mereka membebaskan pagutan bibir untuk sejenak meraup hawa yang jadi menipis. Kala paru- paru mereka lagi penuh bersama oksigen, bibir mereka lagi menyatu. DAFTAR ID PRO PKV


Rara menggigit bibir bawah Baskoro menggoda agar laki laki itu lagi membuka bibirnya bersama sadar. Menyusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut pria paruh baya di hadapannya. Tangannya yang mengalungi leher Baskoro merambat naik meremas rambut yang sebagiannya jadi memutih sementara Baskoro meremas bokong Rara yang berada pas di atas selangkangan Baskoro.

Rara tidak punyai banyak pengalaman berciuman. Hanya bersama ‘dia’ Rara pernah melaksanakan perihal itu bersama segala tekhnik. Tapi Rara tahu, ciuman yang diberikan Baskoro tidak serupa bersama ciuman milik ‘dia’. Ciuman Baskoro terkesan penuh emosi, bukan nafsu. Baskoro seakan menumpahkan segala perihal yang dirasakan pria itu. Rasa ragu, yang bercampur bersama kerinduan yang ia tidak tahu darimana datangnya.

Rara pakai perihal itu bersama baik. Terus memagut bibir Baskoro, memancing nafsu laki-laki itu. Rara sadar, tidak bakal ada kesempatan lain baginya untuk melempar kailnya terkecuali ia membebaskan sementara ini begitu saja. Dengan tekhnik berciuman yang pernah diajarkan ‘dia’ Rara mengusahakan menaikan kegairahan laki-laki tua dibawahnya.

Tak lama bagi Baskoro yang lama menduda untuk terangsang. Cara Rara mengeksplore mulutnya membawa dampak gelenyar tersendiri bagi dirinya. Ia tidak pernah sekalipun beroleh perlakuan seperti ini bahkan bersama almarhum istrinya dulu. Selalu ia yang menjadi tokoh utamanya, memimpin tiap-tiap permainan ranjang rumah tangga mereka. Namun hari ini, untuk pertama kalinya, Baskoro merasakan apa itu yang namanya diperlakukan bak raja. Pagutan yang berjalan pada dirinya dan Rara membawa dampak dirinya jadi lebih muda. Membuat dirinya lagi penuh bersama geloran semangat

Rara sendiri kini jadi turun menciumi rahang Baskoro. Mengecup tiap-tiap inci permukaan yang jadi halus sebab rajinnya sang empu mencukur jambang yang jadi tumbuh. Bibir Rara juga menciumi sudut bibir Baskoro. Sesekali menggigit bibir bawah Baskoro.

Kemudian Rara bergerak menuju cuping telinga laki- laki itu. Baskoro sendiri tidak tinggal diam, tangannya bersama sigap meremas gundukan yang sepanjang ini cuma ia nikmati belahannya saja kala gadis itu mengantarkan kopi untuknya. Remasan itu sesekali lembut dan menguat tiap-tiap kali Rara mengecup keras tiap-tiap jengkal leher Baskoro.

Dengan tangan gemetar Baskoro mengusahakan membuka kancing kemeja yang tetap membungkus kedua payudara Rara, matanya membulat lihat penampakan bongkahan besar berwarna putih yang setengahnya tertutup bra berwarna hitam. Selama ini ia cuma memikirkan bentuk payudara gadis itu sementara malam menemaninya. Tidak pernah dalam mimpi sekalipun terlintas ia bakal menyentuh bongkahan daging yang terlarang untuk dia sentuh.

Baskoro mengelus pelan anggota atas payudara Rara yang menyembul. Matanya menatap sayu mata Rara, meminta izin untuk nikmati hidangan di depannya. Rara cuma memberi tambahan senyuman kecil sebagai jawaban. Karena memang itu yang Rara harapkan.

Merasa mendapat izin, Baskoro menarik turun bra hitam itu hingga isinya mencuat, memantul tentang ujung hidung Baskoro. Seketika wangi khas berasal dari keringat yang melingkupi dada dara itu menguar, menusuk penciuman Baskoro. Membuat pria itu tambah hilang akal dan menangkupkan kedua tangannya ke atas payudara berukuran besar milik Rara.

Tangan besar Baskoro jadi meremas gundukan bulat yang sekarang jadi lebih nyata sebab tidak tertutup apapun. Puting kecilnya yang kecoklatan nampak menggoda Baskoro untuk langsung melabuhkan jarinya di sana. Gemas, Baskoro melintir kedua puting yang tegak mengacung. Rara bergerak gelisah, menggelinjang kegelian.

Dari mulutnya terdengar erangan pelan sementara puting kecilnya tak lagi dimainkan oleh jari Baskoro melainkan berubah bersama mulut laki laki paruh baya tersebut. Bibir kasar Baskoro jadi mengelitik ditambah bersama gesekan yang disebakan kumis melintang Pak Raden milik Baskoro. Lidah Baskoro pun tak ketinggalan memainkan pentil susu si gadis yang sekarang melonjak kegelian.

Payudara kanan Rara jadi basah dan lembab oleh air liur Baskoro, sedangkan yang sebelah kiri diremas-remas oleh tangan besarnya. Sesekali jarinya mencubit, memelintir puting kirinya. Lima menit di sana, Baskoro mengganti target kenyotannya. Sekarang dada kiri Rara yang jadi geli. Mengisap penuh nafsu seperti bayi yang kehausan. Seakan ada sari kehidupan di sana. Desahan Rara tambah kencang bahkan tangan kiri Baskoro menelusup ke dalam roknya. Kedua dada Rara kini telah basah oleh air liur akibat diisap, dijilat bergantian oleh Baskoro. Gerakan Rara pun tambah tak beraturan sebab gairah yang tambah besar.

Pantatnya bergerah maju mundur, memutar ke segala membawa dampak Baskoro mengerang di sela hisapannya. Rara tahu apa yang dirasakan laki laki itu. Ia bisa merasakan kemaluan laki laki itu yang bergerak membesar meskipun dilindungi celana. Laki- laki itu telah terbakar nafsu dan menjadi pejantan yang siap menyetubuhi betinanya. Kemaluan Baskoro jadi tambah besar di bawah sana. Meminta dipuaskan.

Tangan Rara bergerak menuju selangkangan Baskoro. Mencoba membuka sabuk pinggangnya. Namun gerakannya terhenti oleh tangan Baskoro yang tiba- tiba menahannya. Rara menoleh, menatap Baskoro penuh tanya. Baskoro cuma menggeleng pelan. Enggan terima ajakan Rara. Baskoro menarik tangan Rara menjauh. Melarang Rara membuka celananya, tapi Rara bisa lihat lami- laki itu tidak sungguh- sungguh. Karena mata pria itu berbicara perihal yang bertentangan bersama mulut Baskoro. Pun tubuhnya. Rara bisa lihat kabut gairah yang melapisi mata pria itu.

Dengan lembut Rara mengecup bibir Baskoro. Mengecup rahang dan cuping telinganya. Kembali meraup bibir Baskoro, menghidupkan gairah pria tua itu lebih banyak. Tangannya meraba dada berbulu Baskoro berasal dari sela kancing kemeja laki- laki itu yang terbuka. Diikuti tarian lidah terhadap rongga mulut sang pria.

” Biarin Rara buat papa enak ya?” ucap Rara bersama nada yang mengalun merdu diiringi goyangan pantatnya yang menggesek kemaluan Baskoro setelah membebaskan pagutan penuh air liur mereka.

Rara tak tunggu jawaban, sebab erangan berasal dari bibir Baskoro yang disertai remasan terhadap bokongnya telah lumayan mengandung arti iya baginya. Rara turun berasal dari pangkuan Baskoro, berjongkok bersama lututnya yang melekat terhadap lantai mobil. Diacuhkannya rasa nyeri yang sedikit melanda terhadap pergelangan kakinya. Ia tidak boleh kalah oleh rasa sakit yang tidak seberapa ini.

Rara sigap membuka kuncir pinggng yang melekat di celana Baskoro. Diikuti membuka resleting celana kain berwarna coklat milik pria itu. Tepat kala Rara menurunkan celana dalam laki laki itu, penis laki laki itu melompat keluar. Mengacung tinggi memperlihatkan keperkasaannya kepada dunia. Rara takjub lihat kemaluan milik Baskoro. Di dunia ini cuma dua orang yang penisnya pernah Rara lihat.

Bapaknya yang bajingan itu dan ‘dia’ laki- laki cinta pertamanya. Penis Baskoro tidak serupa bersama penis bapaknya yang kecil. Tenggelam oleh perutnya yang membuncit menjijikan. Walaupun Baskoro juga buncit, tapi tidak separah bapaknya itu. Penis Baskoro juga tidak serupa berasal dari milik ‘dia’. Penis Baskoro tidak sepanjang milik ‘dia’ tapi lebih tebal bersama helm merah yang merekah bagai jamur.

Memperhatikan penis Baskoro bersama jarak benar-benar dekat membawa dampak vagina Rara sendiri berdenyut. Rara memikirkan bagaimana rasanya dimasuki bersama benda yang lebih besar berasal dari yang pernah dia rasakan. Tapi Rara cepat menyadarkan dirinya. Waktu tidak lumayan untuk dia melaksanakan perihal itu. Dia lumayan melaksanakan serangan pertama hari ini.

Rara jadi menggenggam penis Baskoro, mengurutnya pelan. Menggerakkan genggamannya naik turun. Baskoro sendiri memejamkan matanya sementara merasakan jari halus milik Rara menyentuh permukaan kulit penisnya. Sungguh andai Rara tidak melakukannya niscaya ia bakal melewatkan betapa lembutnya jemari makhluk bernama wanita.

Baskoro bukannya tidak pernah bermain wanita setelah istrinya meninggal. Tapi entah kenapa tidak ada satu wanita yang bisa membuatnya bergairah, atau membawa dampak penisnya setidaknya berdiri setengah tenggak. Namun bersama Rara berbeda. Gadis itu tidak kudu melaksanakan apapun untuk membawa dampak dirinya mandi air dingin tiap-tiap hari.

Hanya bersama aroma tubuhnya yang sekilas tercium Baskoro bisa seharian mencoba membawa dampak kemaluannya tertidur. Dan sekarang, bersama gadis itu berjongkok di bawahnya, penisnya langsung bereaksi bersama brutal. Menegang bersama kondisi super maksimal.

Baskoro tetap nikmati kocokan tangan Rara di penisnya sementara tiba- tiba dirasakannya suatu hal yang lembab dan lebih lembut menyentuh kepala penisnya. Baskoro membuka kelopak matanya, menunduk dan tercengang lihat Rara yang mencium ujung kemaluannya tersebut. Baskoro menghambat nafasnya sementara lidah Rara menjilati permukaan ujung penisnya, mencucukkan lidahnya di sela lubang kencingnya.

Lalu sesekali menghisapnya pelan. Rara juga menjilati seluruh permukaan batang penisnya hingga ke pangkal seolah penisnya adalah es krim nikmat yang sayang dilewatkan. Diacuhkan bau keringat yang nampak berasal dari selangkangan Baskoro. Tak ketinggalan skortum yang mengantung juga tak luput berasal dari lumatan bibir sensual Rara.

Dan sementara yang ditunggu kelanjutannya tiba. Baskoro jadi melayang sementara dirasakannya penisnya itu dilingkupi suatu hal yang basah. Setengah berasal dari batang penisnya itu telah masuk kedalam mulut mungil Rara yang kini nampak mengembung. Kepala Rara bergerak naik turun sementara mengulum penis besar Baskoro. Sesekali lidahnya menari di kepala penisnya. Menggoda lubang kencingnya.

Gerakan kepala Rara tambah cepat dan penisnya tambah dalam tenggelam dalam mulut Rara. Baskoro cuma bisa mengerang nikmat sementara seluruh penisnya masuk lebih dalam lagi menerobos tenggorokan Rara. Wajah ayu Rara menubruk rimbunan rambut kemaluannya membawa dampak sensasi tersendiri bagi Baskoro. Tak bahagia cuma bersama gerakan berasal dari Rara, Baskoro jadi menunjang Rara bergerak.

Kedua tangan Baskoro memegang kepala Rara. Mengambil alih gerakan Rara. Mempercepat ritme kepala Rara yang konsisten mengulum dan memainkan penisnya. Baskoro sungguh tidak peduli bersama erangan protes Rara yang tersedak, juga air liur yang mengalir di sela bibir gadis itu. Yang Baskoro pedulikan cuma rasa sesak yang menggumpal di dalam penisnya yang mendesak menginginkan keluar.

Makin cepat ia gerakan kepala Rara, dan sementara pelepasan tiba, ditekannya kepala Rara hingga nyaris seluruh batang penisnya tertelan. Kepalanya menengadah, mulutnya membuka tanpa nada sementara dirasakannya spermanya kencang menyemprot tenggorokan Rara.

Crott crott crott crott

Rara yang jadi Baskoro telah menyampai puncak gelagapan menelan sperma yang tertuang begitu banyak di mulutnya. Asin…rasa yang lama tidak Rara rasakan. Tidak ada sementara bernostalgia bersama rasa sperma yang ia rindukan. Menelan seluruh sperma yang dicurahkan Baskoro adalah prioritas terkecuali tidak maka bisa saja sperma Baskoro menetes berasal dari sela bibirnya dan mengotori jok mobil.

Saat seluruh sperma tertelan olehnya Rara menyedot lubang kencing Baskoro, membersihkan sisa- sperma yang bisa saja tetap menggantung, belum tuntas menyemprotkan diri. Diliriknya Baskoro yang bersandar lemas terhadap punggung kursi pengemudi. Di bibirnya tersungging senyum puas. Dengan pelan dielusnya kepala Rara yang tetap repot membersihkan penisnya yang tetap berdiri tegak.

Rara tersenyum lihat sebuah pesan yang diterima handphonenya. Sebuah nominal angka baru saja masuk ke dalam rekeningnya. Senyumnya tambah lebar mengingat seperempat hutang bapaknya bisa ia bayarkan.

Tiga bulan merintis jalinan bersama Baskoro, laki-laki itu telah memberi tambahan Rara nominal duwit yang tidak sedikit. Tiga puluh lima juta dalam tiga bulan. Membuat Rara bisa membayarkan hutang papa sialannya itu bersama lebih cepat.

Setiap bulan Baskoro mengirimkan Rara sejumlah duwit yang tidak pasti nominalnya tanpa Rara memintanya. Memang Rara pernah bercerita tentang keluarganya, itupun sebab Baskoro yang memaksa, dan Rara tidak meminta sepeser pun secara langsung kepada pria itu. Namun seperti yang Rara pernah ucapkan. Laki- laki pasti bakal memberi tambahan apapun terkecuali mereka terpuaskan. Dan terbukti kan. Jadwal 3 minggu sekali melayani Baskoro membawa dampak Rara beroleh apa yang dia butuhkan.

Rara juga merasakan jalinan yeng lebih nikmat sebab terkait bersama laki- laki yang tidak beristri. Tidak kudu ada rasa cemas atau takut kepergok pasangan si pria. Tidak kudu sembunyi sembunyi untuk pergi bersama. Hanya di kantor saja Rara bersikap menjaga jarak, itu pun di depan umum. Rara tetap tahu diri dan menjaga nama baik Baskoro. Rara tidak rela Baskoro mendapat masalah sebab dirinya. Bagaimana juga, ia tetap perlu Baskoro.

Dering handphonenya tak lama terdengar. Nama Baskoro terpampang di layar handphonenya.

” Halo Pak.” sapa Rara langsung setelah menekan tombol hijau.

” Saya tetap di lantai 4. Kamu balik duluan saja. Nanti saya jemput di kos.” tahu Baskoro. Rara cuma menjawab iya dan Baskoro mengambil keputusan panggilan singkat itu.

Rara lagi menekuni pekerjaan sebelumnya, mencuci sebagian cangkir yang tadi dipakai oleh para karyawan sementara seorang OB yang dikenalnya bernama Rian memasuki pantry. Rian berdiri di sebelah Rara, membantunya menempatkan cangkir- cangkir bersih di rak pengeringan.

” Kamu balik mirip siapa Ra?” tanya Rian tiba- tiba. Rara cuma menoleh singkat, dan lagi membersihkan tumpukan cangkir di depannya.
” Seperti biasa Mas. Sendiri.” jawab Rara tanpa menyimak Rian.
” Masa ? Bukan dijemput pacar?”

Rara cuma tersenyum sambil menggeleng.

” Aku boleh ngantar kamu pulang dong kalo gitu?”

Rara menghentikan gerakan tangannya, lantas berbalik menghadap Rian.

” Rara bukan nggak rela mas. Cuma kos Rara kan jauh berasal dari sini. Setau Rara juga beda arah mirip rumah mas. Jadi Rara nggak rela menyusahkan mas.”
” Nggak kok Ra. Nggak mirip sekali repot.” sanggah Rian, tapi percuma, Rara cuma menggeleng. Tetap menolak ajakan Rian.
” Jangan jual mahal gitulah Ra. Sekali- kali nerima ajakan saya kan nggak apa- apa.”

Rara mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Rian. Memangnya keliru terkecuali dia jual mahal dan menolak laki- laki tersebut?

” Begini juga saya punyai duwit kok Ra. Berapa sih paling mahal buat diservis kamu?” Kini alis Rara terangkat. Tidak tahu ucapan Rian. Rara menginginkan menanggapi ucapan Rian, tapi ia tahu itu percuma.

Rian tetap konsisten berbicara perihal yang tidak Rara pahami, sementara Rara selesaikan pekerjaannya dan mengeringkan kedua tangannya. Rara langsung beranjak berasal dari pantry menuju area loker. Ia tak rela membuang sementara mendengarkan ocehan tak berguna laki- laki ini yang tambah lama tambah tak tahu juntrungannya.

” Rara pamit ya Mas. Mau pulang. Udah jam 5.” menunjuk jam dinding tang tergantung di belakang mereka. Tapi Rian seolah tak peduli dan tetap bersikeras mengajak Rara ikut pulang bersamanya. Ia bahkan ikuti Rara yang repot berbenah di depan loker gadis itu. Rara yang telah lelah bekerja, tak bisa lagi menghambat sabar lihat Rian hang konsisten merongrongnya seolah ia punyai hutang bersama laki- laki itu.

” Mas nggak tahu kata tidak ya? Rara telah bilang Rara bisa pulang sendiri. Mas nggak bodoh kan?” ucap Rara keras membawa dampak sebagian teman kerja mereka yang juga bersiap pulang menoleh. Sebagian berbisik- bisik dan menatap menginginkan tahu apa yang terjadi. Wajah Rara yang memerah mengisyaratkan bahwa gadis itu sedang melampiaskan emosinya, tapi mereka heran apa yang membawa dampak marah gadis yang senantiasa ceria itu.

Rian yang jadi malu bergegas pergi tanpa berbicara apapun. Namun berasal dari raut wajahnya, bisa disimpulkan ia jadi benar-benar kesal terhadap Rara.. Rara menghela nafas panjang. Melirik jam dan juga bergegas meninggalkan ruangan itu tanpa memberi tambahan penjelasan kepada orang- orang di sekitarnya.

Setibanya di kos satu jam kemudian, Rara langsung mengangkat ke luar sebagian kardus barang yang sedari pagi telah diletakkannya di dekat pintu kamarnya. Tas pakaian juga ia angkut seiring bersama sebagian paper bag besar.  Nonton Bokep

” Jadi pindah dek Rara?” tanya seorang wanita yang lebih tua berasal dari Rara yang melongok berasal dari balik daun pintu kamarnya sementara mendengar nada gaduh.
” Iya mbak.” jawab Rara singkat tanpa menoleh. Ia tetap repot menyusun kardus kecil yang bakal dibawanya.
” lho itu kipas mirip perabotan nggak di bawa?”

Rara menengok ke benda yang di tunjuk wanita itu.

” Nggak mbak. Rara tinggal aja. Di kos baru telah lengkap semua.”

” Ooo begitu. Memang kos barunya dimana?” sepertinya wanita itu kepo tingkat akut sebab tidak berhenti bertanya. Rara menyebutkan nama tempat tempat tinggal barunya dan dihadiahi jawaban menjengkelkan oleh wanita itu.

” Disewain mirip om- om kemarin ya Ra? Di sana kan kos-kos mahal.” Rara cuma tersenyum kecil menanggapi. Rara telah kebal tiga bulan senantiasa mendengar nyinyiran wanita yang tiap malam senantiasa pergi bersama pakaian seksi. Di lingkungan kos-nya, wanita ini memang dijuluki Ratu Kepo dan Ratu Nyinyir saking tidak bisa diam mulutnya itu. Beruntung tak lama nampak Baskoro menghampiri Rara dan langsung mengangkat barang- barang Rara tanpa basa basi.

Rara yang lihat itu langsung tahu terkecuali Baskoro tidak nyaman dan langsung ikut berlalu berasal dari kamar kos lamanya. Siapq juga yang nyaman berada di tempat yang terkesan kumuh itu? Kecuali orang yang memang cuma punyai penghasilan terbatas saja yang rela berada di sana.

Itu sebabnya Baskoro memaksa Rara pindah berasal dari sana. Selain lingkungan yang Baskoro rasa tidak aman, benar-benar jauh berasal dari kantor, Baskoro juga tidak nyaman bersama tatapan menyelidik berasal dari tetangga Rara kala ia mampir. Baskoro sadar, jalinan yang dijalaninya bersama Rara itu aneh.

Tidak bakal ada yang yakin terkecuali ia berbicara bahwa ia duda dan Rara bukan simpanannya. Mana ada seorang gadis cantik seperti Rara rela berpacaran bersama laki- laki tua yang mirip Pak Raden sepertinya? Maka setelah berdebat panjang, Baskoro melacak info tempat kos yang menurutnya sesuai bersama syarat-syarat yang diinginkannya.

” Mbak, Rara pamit ya. Permisi.” ujar Rara singkat lantas melangkahkan kaki nampak berasal dari pelataran kos itu. Walau kesal Rara senantiasa mencoba bersikap sopan. Baru lima langkah, nada wanita itu terdengar lagi.

” Perabotanmu buat saya aja ya Rara.” pintanya tak tahu malu. Rara mengangguk dan melanjutkan langkahnya. Terserah rela diapakan, Rara tak lagi peduli.

Setelah sukses menyusul Baskoro yang lebih pernah berada di mobil, Rara langsung ikut menunjang menyusun barang- barangnya di belakang. Ia tidak rela berpangku tangan. Apa yang dijalankan Baskoro melebihi ekspetasinya. Ia tidak bisa bersikap. Seenaknya dan menjadi lupa diri.

” Nanti papa langsung pulang ke rumah atau nginap?” tanya Rara sesaat setelah mereka berdua duduk manis di dalam mobil.
” Saya menginap. Nggak bisa saja biarin kamu sendirian membereskan kamar.” jawab Baskoro bersama raut datar. Pria itu tidak berubah, tetap berbicara bersama raut datar. Hanya sementara berada di atas atau du bawah Rara saja ia memperlihatkan ekpresi lebih. Ekspresi keenakan.” Anak-anak?” tanya Rara lagi. Rara tahu bahwa Baskoro punyai tiga orang anak bersama istri pertamanya yang punyai usia tak terpaut jauh darinya.
” Sudah saya hubungi. Mereka tahu saya ke tempat kamu.”
Nah anggota ini yang tidak pernah Rara mengerti. Bagaimana bisa bersama enjoy Baskoro bercerita soal dirinya kepada tiga anaknya itu? Dan hebatnya tidak ada yang protes atau marah. Walau begitu Rara belum ada permintaan mengenal ketiga anak Baskoro itu. Ia tidak ada konsep menikahi duda tua itu. Yang ada di pikirannya cuma bagaimana menghindari preman suruhan rentenir dan papa sialannya menyingkirkan berasal dari ibu serta ke dua adiknya di kampung.