Sang Office Girl Yang Seksi // Part 1

RAKSASAPOKER Raraaaaaa!!” suara lantang itu menggelar dari deretan kubikel yang dipenuhi kertas-kertas. Tak lama seorang gadis mampir dengan tergopoh-gopoh.

RAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
” Iya Mas, tersedia yang sanggup aku bantu?”
” Tolong beliin nasi padang dong di tempat biasa, pake rendang ya. Terus bikinin gue teh manis ya.” perintah si Mas yang berteriak tadi.

” Eh gue termasuk Ra. Pakai telur dadar aja. Sambalnya banyakin.” suara lain ikut menyahut dari belakang kubikel si Mas.


” Rara kembali pesanannya ya. Mas Radit nasi padang manfaatkan rendang. Mbak Dian manfaatkan telur dadar. Terus Mas Radit pesan teh manis. Mbak Dian?”
” Gak usah. Gue bawa air dari rumah.” jawab Dian sambil mengangkat botol minum.
” Rara permisi pernah kecuali begitu.”
” Jangan lama Ra!”

Rara mengangguk pelan lalu terjadi menghindari dari kubikel menuju lift.  Di di dalam lift Rara menghembuskan nafas kasar. Dia baru bekerja di perusahaan ini sepanjang 2 bulan tapi lelahnya seperti setahun berlalu. Dia heran, dari sekian banyak OB dan OG, kenapa selamanya dia yang mendapat tugas menyiapkan makannan dan minuman pesana para karyawan kantor. Tahu begini Rara menyesal terlihat dari tempat tinggal majikannya.

Ah, mengingat majikannya membawa dampak ia tersenyum. Banyak kenangan indah di sana. Sayang, ia harus berhenti bekerja di sana karena pulang kampung di dalam selagi kelewat lama. Pikirannya berkelana menuju tempat tinggal sang majikan. Membayangkan sedang apa ke dua anak majikannya yang selamanya dia asuh. Membayangkan Mbok Min yang sibuk memasak di dapur dan ahhhh mengingat ‘dia’.

Rara memejamkan matanya, coba menggali lebuh di dalam ingatannya perihal ‘dia’. Laki-laki itu meninggallkan benar-benar banyak jejak di dalam hidupnya. Ia rindu. Pukul 17.30 tepat ketika Rara tiba di kos-kosan tempat sepanjang dua bulan ini ia berlindung dari hujan dan panas. Cepat dia membuka busana kerjannya, hanya dengan manfaatkan busana di dalam menggantung seragam kerjanya dengan baik agar bau keringatnya hilang.

Kadang Rara iri dengan para karyawan tempat ia bekerja. Mereka terlihat rapi, tampan dan cantik dengan kemeja atau blus yang melekat di tubuh mereka. Sedangkan ia? Hanya sanggup mengenakan seragam berwarna orange ini untuk membungkus tubuhnya.

Bersyukur Rara, bersyukur. Ucapnya di dalam hati sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri. Rara bergegas bersiap mandi, ia tak sudi jadi benar-benar banyak mengeluh.  Ia membuka kaitan branya. Dengan santai melempar bra itu ke di dalam keranjang pakaiannya. Dengan type centil Rara perhatikan tubuhnya sendiri di balik cermin.

Dadanya yang membusung membawa dampak ia berdecak. Ia menyentuh pelan putingnya yang berwarna kecoklatan. Menyentil secara bergantian puting kiri dan kanan payudaranya. Bukannya berhenti, kini ia meremas pelan dua gunung kembar itu.

Sesekali ia menyentil kembali putingnya yang terasa mengeras. Rara menggigit bibir bawahnya. Menahan birahi yang terasa tersulut. Matanya terpejam, ia coba mengingat sentuhan ‘dia’. Kala ‘dia’ meremas payudaranya dengan kuat dan penuh semangangat. Mengingat termasuk selagi ‘dia’ mengulum gemas ke dua putingnya secara bergantian yang seolah selamanya mengundang untuk diemut.

Rara kini bergeser posisi, tidak kembali di depan cermin tapi di atas kasur yang tidak beranjang itu. Tangan kanannya meremas makin lama kuat di payudara kanannya. Sedangkan tangan kirinya udah berada tepat ditengah vaginannya yang entah sejak kapan udah lepas dari pembungkusnya.

Rara mendesah tertahan ketika jari telunjuknya dengan lembut memijat kacang kecil di kemaluannya.

” Ssshhhhh hmmmpppp”
” Ahhhhh shhhhhh hmmpppp ssshhhh”

Desahan dari bibir Rara makin lama kencang, bersamaan dengan usapan pada klitorisnya. Badan Rara mengejang, ke dua kakinya menekuk.

” AHHHHHHHHHHHHH”

Tak lama sesudah itu terdengar erangan panjang dari mulut Rara beriringan dengan cairan kental yang mengalir dari kemaluannya. Rara melepaskan tangannya dari klitorisnya. Dengan nafas yang setengah-setengah Rara terbaring di kasurnya. Terpejam. Tertidur dengan suasana telanjang dan lupa untuk mandi. Lagi.

Rara mempunyai nampan memuat teh dan kopi yang diminta Pak Baskoro 10 menit lalu. Kepala bagian keuangan itu sedang kedatangan lebih dari satu tamu sejak tadi. Entah mengulas apa, Rara pun tidak paham.

Dengan perlahan diletakkannya satu persatu cangkir di atas coffe table ukuran sedang di ruangan Pak Baskoro. Sesekali ia tersenyum sopan mempersilahkan para tamu itu nikmati hidangannya. Setelah tugasnya selesai ia pamit terlihat ruangan dan menuju pantry

Di pantry, Rara menyeduh kopi sachetan untuk dirinya sendiri. Sebentar kembali jam makan siang, dan dia perlu caffein untuk tingkatkan mood dia selagi menggerakkan tugas membelikan makanan untuk lebih dari satu karyawan. Sambil menyesap kopi, Rara tersemyum kecil. Ia ingat lebih dari satu orang di ruangan Pak Baskoro tadi mengambil pandang selagi ia meletakkan cangkir-cangkir itu di meja.

Kemejanya yang tidak begitu ketat, memang memudahkan akses pandangan ketika ia menunduk. Dan Rara puas itu. Ada hal lain yang dia rasakan ketika para pria itu asyik mengintip apa yang tersedia d balik kemeja yang dia Mengenakan dan memikirkan seperti apa bentuk dan rasanya.

Ughhhh lagi-lagi…. mengingat ini saja sanggup membawa dampak putingnya mengeras. Rara melirik jam dinding yang berada di pantry. 20 menit sebelum saat jam makan siang. Rara, meletakkan cangkir kopinya di meja dan bergegas menuju toilet khusus kacung seperti dia yg berada di belakang pantry.

Rara buru buru masuk ke di dalam toilet. Membuka celana kain dan celana di dalam yg dikenakannnya.
Sambil bersandar Rara terasa memainkan klitorisnya. Membayangkan tubuhnya yang dijamah oleh tamu-tamu bosnya. Tangan kirinya menyusup kedalam kemeja yang kancingnya udah terbuka tiga. Meremas penuh nafsu payudaranya sendiri. Memainnkan tiap-tiap inci dari puting coklatnya.

” Shhhhh shhhh” Rara tidak lupa ia berada di mana, maka dari itu ia berupaya sekuat kemungkinan meredam suara yg terlihat dari mulutnya.

Jari telunjuknya kini terasa mengelus lubang kecil di bawah klitoris. Sedangkan jarinya masih menstimulan klitorisnya. Tidak sanggup menghindar desakan, Rara terasa memasukkan satu jarinya ke di dalam lubang kenikmatan itu.

Ditekuknya jarinya itu. Dan perlahan dia memijat bagian yang ia mengetahui sebagai G-spot dirinya.

“Hmppp sshhhh hmmpp”
Makin lama pijatan makin lama kuat. Jempolnya termasuk makin lama kuat menggesek kacang indah itu.

Telunjuknya kini tidak kembali memijat, tapi terasa bergerak terlihat masuk, diikuti dengan desahan yang makin lama cobalah ia tahan.

” Hmmmpppp shhhh hmmmmmpppp uhhhhhh” DAFTAR ID PRO PKV


Gerakan telunjuknya makin lama cepat, cepat dan cepat dan akhirnya………

Baskoro Admajaya adalah keliru satu pegawai senior di perusahaan properti ini. Penampakannya khas laki-laki beumur 50-an. Berperut buncit, rambut terasa terkikis usia, dan kumis melintang, mirip sosok Pak Raden di serial acara anak-anak buatan Indonesia yang lumayan terkenal bagi generasi 90-an.

Dari bincang-bincang para OG lainnya yang di dengar Rara, Pak Raden….eh Pak Baskoro ini duda 3 anak yg kesemuanya udah menginjak umur remaja. Istri beliau meninggal 5 tahun lalu dan sejak selagi itu Pak Baskoro tidak pernah menikah lagi.

Pak Baskoro termasuk dikenal sebagai sosok keras yg idealis. Menjungjung tinggi komitmen hidupnya yang jujur dan penuh moral.

Tapi bukan itu yang jadi alasan Rara memfokuskan dirinya memikirkan pria itu. Tapi sikapnya yang semena- mena kepada dirinya. Dari semua karyawan yang bekerja di perusahaan ini, hanya Pak Baskoro sajalah yang benar-benar kasar kepada dirinya. Tidak terbilang sepanjang dua bulan bekerja, Rara dibentaknya. Entah karna kopi yang kurang manis atau sambal yang tersedia di makanan pesanannya kurang banyak.

Berkali-kali ingin rasanya Rara melemparkan nampan ke wajah laki-laki 1/2 baya itu. Tapi apa daya, itu hanya sekedar angannya karena Rara mengetahui Pak Baskoro itu bosnya.

Seperti sekarang, dengan wajah merengut Pak Baskoro memanggilnya untuk memesan segelas kopi hitam.

” Bikinkan aku kopi sepeti biasa. Tapi gulanya ditambah. Masa tiap-tiap bikin kopi selamanya kuramg manis.”

Rara hanya menggangguk menanggapi omelan Pak Baskoro. 10 menit berlalu Rara kembali mengetuk pintu ruangan berukuran 4×5 tersebut. Setelah mendengar jawaban dari di dalam sana, Rara melangkah pelan menuju meja Pak Baskoro.

” Ini kopinya Pak.” ucap Rara sehabis meletakkan cangkir di meja kerja Pak Baskoro.

Pak Baskoro hanya melirik singkat lalu mendengus dan kembali menekuni laporan keuangan di depannya. Rara yang mengetahui tugasnya selesai, berbalik sehabis mengucapkan permisi. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara Pak Bas.

” Itu seragam kamu, kenapa kancingnya anda buka?” Rara diam, menengok ke bawah, ke arah kemejanya.
” Ini anu Pak…. panas. Jadi tadi aku buka selagi di pantry. Maaf aku lupa membetulkannya lagi.”
” Itu rok anda tidak tersedia kembali yang lain? Kenapa manfaatkan yang pendek begitu. Kamu itu kan hanya OG. Bukan sekretaris.” Kali ini Pak Baskoro menunjuk rok hitam yang dikenakannya.
” Rok dan celana kain yang aku miliki masih basah semua Pak. Beberapa hari ini kan hujan.” jawab Rara gugup.
” Hhhh… ya sudah. Balik sana ke pantry. Besok-besok aku tidak sudi menyaksikan anda manfaatkan rok itu lagi. Paham?!”

Rara mengangguk kuat dan segera berbalik terlihat dari ruangan Pak Baskoro. Rara meletakkan nampan yang ia manfaatkan untuk mempunyai kopi Pak Baskoro tadi di rak piring yang berdampingan dengan kulkas mini.
Lalu dengan santai ia memasang kembali kancing seragam OG-nya. Dan menarik turun bagian bawah roknya agar jadi lebih panjang seperti semula.

Satu senyum simpul terukir di wajah ayunya.

Laki- laki itu terbaring tapi tak jua sanggup terpejam padahal angka jam di sampingnya udah sedari tadi melalui angka 11. Ada suatu hal yang membawa dampak ia tidak sanggup terlelap dan ia mengetahui hal apakah itu.

Laki- laki itu melirik sisi sebelah kanannya, disana seorang wanita yang ia panggil istri asyik terlelap dengan terbungkus selimut. Tidak terganggu dan tidak mengetahui kecuali suaminya gelisah di sampingnya. Seolah hanya ia sendiri saja yang berada di ranjang king size itu.

Laki-laki itu, kita panggil saja dia Radja, pria berumur 45tahun, gagah, dengan wajah yang lumayan lah walaupun belum masuk kategori benar-benar tampan, kembali sibuk membolak balik badannya ke kiri dan ke kanan. Sesekali termasuk ia melirik kembali istrinya, berharap si istri peka. Namun sayang, seperti malam-malam sebelumnya, istrinya kembali enggan melayani dirinya.

Radja bangun dari ranjang, menuju pintu dan keluar. Mengambil bungkus rokok yang berada di area keluarga dan duduk lemas di beranda belakang.

Benak Radja melayang, memikirkan istrinya yang mendadak aneh sejak kehamilan anak ke dua mereka. Tidak kembali bersemangat di dalam urusan ranjang mereka. Bahkan sejak gadis kecil mereka lahir, istrinya itu kerap menampik ajakan paling nikmat di wajah bumi itu. 

Sebenarnya ia tak ambil pusing urusan itu 3 tahun yang lalu, karena Radja miliki ‘dia’. Rumah keduanya, yang membawa dampak dia selamanya bersemangat pulang ke tempat tinggal sepenat apa pun ia di kantor.

Bibir Radja yang menghembuskan asap rokok saat itu juga tersenyum. Setahun yang lalu ‘dia’ masih tersedia di sini. Menemaninya dengan segelas wedang jahe selagi ia diserang insomnia. Memenuhi kebutuhannya selagi istrinya menampik dirinya. Setahun berlalu sejak dia pergi, dan Radja merindukan ‘dia’. Masih merasakan kehadirannya selagi melingkupi bagian tubuh Radja yang mengeras.

Radja melirik ke bawah. Tangannya yang bebas mengelus perlahan batang keras yang makin lama menonjol sejak tadi.

” Sepertinya kita main solo kembali Jo.” bisiknya di sela hisapan rokok.

Radja membelalakkan matanya ketika menyaksikan siapa yang tersedia di depan matanya ‘Dia’ berdiri dengan lingerie yang pernah pernah Radja berikan. Radja ingat ‘dia’ tidak pernah sudi mengenakan lingerie berwarna putih itu dengan alasan malu. Alasan yang selamanya diakhiri dengan kekehan dari Radja mengingat aktivitas ranjang mereka tidak pernah melibatkan sehelai benang pun.

‘ Dia’ terjadi pelan menghampiri Radja yang terlentang diatas ranjang. Dengan type centil yang Radja ajarkan, ‘dia’ perlahan merayap ke atas kasur. Mendekati Radja dengan merangkak dan omenggoda. Radoja selamanya puas menyaksikan hasil karyanya sanggup jadi sehebat ini. Gadis oyang bertransformasi jadi bitch dengan sempurna.

‘Dia’ terus merangkak mendekati Radja. Payudaranya yang hanya tertup lingerie terlihat bergoyang kekanan dan kiri ikuti gerak tubuhnya yang merangkak sensasional.

‘Dia’ kini udah duduk tepat di atas selangkangan Radja Dengan seduktif ‘dia’ mengelus rahang berjambang punya Radja. Menyusuri tulang keras yang membentuk wajahnya itu. ‘Dia’ mendekatkan wajahnya tepat di depan Radja. Menempelkan bibirnya yang terpoles lipstik 
merah ke bibir Radja. Ciuman yang Radja rasa makin lama mahir. 

Ciuman itu mulanya hanya sentuhan biasa, sekedar menempelkan bibir mereka berdua. Namun itu hanya sementara. Tak lama bibir gadis di hadapan Radja ini bergerak membuka. Mencoba menyelusupkan lidahnya ke di dalam rongga mulut Radja yang pasti tidak akan Radja lewatkan.

Lidah mereka saling mengait, menyapu langit2 mulut, menggigit bibir bawah, merasai liur masing-masing. Sembari berkompetisi lidah, tangan si gadis mengeksplor dada dan perut Radja. Meraba bidang datar di hadapannya. Radja melenguh pelan di sedang ciuman mereka.

Membalas tindakan ‘dia’, Radja termasuk tak sudi tinggal diam. Ditangkupnya ke dua bukit kembar favoritnya itu. Merasakan tekstur kenyal dan lembut yang selamanya membuatnya rindu.

Tangan si gadis sendiri sekarang udah melingkar lemas pada punggung Radja. Payudaranya habis dieksplorasi dan perlahan keliru satu tangan Radja menggosok tempat vaginanya.

” Akhhhhhh…” erangan ‘dia’ lolos terdengar selagi Radja mengelus klitnya dari balik g-string berwarna senada.

Ciuman mereka makin lama panas, makin lama lekat dan intens. Sebentar jeda disita Radja untuk meloloskan ‘baju minim’ itu. Sesekali Radja iseng mencubit puting coklat di depannya. Si gadis pun cekatan membuka busana Radja yang tersisa. Segera mereka polos berjamaah.

Tertegun Radja nikmati ‘keajaiban dunia ke-delapan’ yang terpapar di hadapannya. Tangannya masih melekat di payudara sang gadis, penisnya melekat di pintu gerbang taman bermain. Tinggal memasukkan koin, permainan segera di awali ..

Dengan penuh rasa lapar, Radja mendorong perlahan batang lolipopnya. Sempit….. masih mirip seperti terakhir ia menikmatinya. Ditekannya kembali lebih dalam…

” Akhhhhhhhhhhhh”

Helm dan batang Radja berhasil menembus pintu. Radja tidak ingin terburu- buru. Ia nikmati tiap-tiap sensasi denyutan yang dihasilkan vagina gadis di bawahnya.

‘Dia’ ternyata lebih tidak sabar dari Radja. Dengan ke dua kakinya, ditekannya pantat Radja ke depan, agar penis kebanggaan Radja terperosok lebih dalam.

Radja melenguh bak sapi jantan. Menahan tiap-tiap getaran yang terasa di sepanjang batangnya. Tak tahan, Radja menentukan menggoyang pinggulnya. Maju mundur.

” Akhhhhhh ahhhh ahhhh ” desahan dari gadis di bawahnya itu jadi musik penyemangat bagi Radja. Ia jadi lebih bersemangat, khususnya selagi gadis itu mencengkram lengannya selagi Radja menghentakkankemaluannya lebih dalam.

Plok! Plok! Plok! Suara penis dan vagina yang berkompetisi terdengar nyaring mencukupi kamar peraduan mereka. Radja makin lama mepercepat dan memperdalam tususkannya.

Radja menggengam payudara gadis itu ketika di rasanya suatu hal di di dalam sana ikut mencengkram batangnya.

” Radja……..” nama Radja terdengar dari mulut si gadis bersamaan dengan cairan kental yang dirasa Radja menyemprot kemaluannya dan lengkungan indah tubuh ‘dia’.

Radaja tidak sanggup menghindar lebih lama lagi. Ia sampai di batas pertahanannya. Tanpa ampun Radja menggenjot vagina si gadis dengan lebih cepat. Lebih cepat. Semakin dalam.

” Ahhhhh ahhhhh uhhhhh ohhh yessss… ohh god…. ohhhhh ahhhh nooooo AKHHHHHHHHH”

‘Dia’ beroleh kembali puncak itu dan tak lama sesudah itu Radja mengejang. Badannya kaku. Dengan sekali hentakkan di dalam Radja mengeluarkan cairan hangatnya ke di dalam rahim si gadis.

Tapi sebelum saat itu terjadi, selagi di kurang lebih mereka seolah berhenti.

” Mas bangun! Kamu nggak ngantor?”

Suara yang terdengar melengking membawa dampak Radja mengerjapkan ke dua matanya. Ia terkejut, ia masih di ruangan yang sama, dengan ruangan tenpat ia memadu kasih tadi, tapi sosok gadis itu tidak kembali terlihat, digantikan sosok istrinya yang udah memakai pakaian rapi.

” Kamu sudi kemana?” Radja bertanya selagi mengetahui istrinya sedang memasukkan lebih dari satu busana ke di dalam koper kecil di atas ranjang.
” Aku tersedia kerjaan di luar kota kembali Mas.” jawab sang istri singkat.
” Lho anda kan 2 minggu lalu baru pulang dari luar kota. Masa iya harus pergi lagi?” Radja seolah tak percaya dengan jawaban sang istri.
” Ya memang begitu kenyataannya, aku sanggup apa. Udah deh aku sanggup telat boarding kalo layanin anda ngobrol. Kamu bangun sana mandi.” 

Istrinya itu menutup koper yang udah rapi dan menatap semua tubuh Radja. Tapi gerak matanya berhenti ketika menyaksikan bercak basah di bagian selangkangan Radja.

” Kamu mimpi basah y Mas?” bertanya si istri sambil mendengus dan menatap dengan sinis. Radja yang mendengar pertanyaan istrinya, menuju tempat yang dilihat sang istri. Dan mengetahui apa yang membasahi celana tidurnya itu.

Sekarang ia mengetahui apa yang sedang terjadi. Ia bermimpi.

Rara menutup panggilan yang udah terjadi hampir 1 jam di handphonenya. Tanpa jeda ia lalu menghela napas penat memikirkan apa yg tadi disampaikan oleh adiknya.

” Mbak yu, ayah ngutang maning. Sudah 3 kali yang nagih, gedor-gedor umah. Piye Mbak?”

Lagi, Rara menghela nafas ketika berpikir keterlaluannya ulah ayah kandungnya itu. Tidak lumayan memadu ibu ketika ibu sakit, sekarang berhutang untuk istri keduanya dan kabur begitu saja. Meninggalkan beban kepada keluarga mereka.

Tanpa Rara sadar, air matanya menetes di pipinya yang mulus. Karena tingkah laku bapaknya itu ia sudi meninggalkan mimpinya untuk berkuliah dan bekerja jadi pembantu di Jakarta. Mengumpulkan uang untuk membayar hutang dan ongkos penyembuhan sang ibu.

Beruntung majikannya begitu baik padanya, mengajarkan banyak hal dan kadang mengimbuhkan uang lebih untuk dikirimkan kepada keluarganya di kampung.

Rara tersenyum kecil dengan air mata yang masih mengalir mengingat itu. Majikannya itu….hhhh Rara melirik jam yang tertera di layar handphone-nya.

Pukul 10.45

Rara sejak pernah miliki kebiasaan tidur larut, dan formalitas itu tidak berubah sampai sekarang. Karena formalitas itu termasuk ia jadi kerap bertukar cerita dengan majikannya itu. Karena formalitas itu termasuk Rara mengenal ‘dia’. Cinta pertamanya.

Mengingat cinta membawa dampak ia makin lama terasa sepi dan sendiri. Sudah setahun ia menghindar gejolak itu. Dan ia mengetahui akhir- akhir ini tersedia suatu hal yang menghidupkan gejolak itu untuk berkembang lebih besar lagi.

Rara termenung mengingat perihal tadi sore.

Rara bersiap menyeberangi jalan raya di depan tempatnya bekerja selagi sebuah mobil menghampirinya. Sempat terkejut ia selagi mengetahui siapa yang berada di balik kemudi stir.

” Kamu pulang ke arah mana?”
” Eh..iya Pak?”
” Kamu pulang ke arah mana?” laki-laki di balik setir ulangilah pertanyaannya dengan dengusan kesal.
” Pasar Minggu, Pak.”
” Naik. Saya tersedia urusan termasuk di kurang lebih Pasar Minggu.”

Rara terlihat enggan. Ia memang pernah menggoda laki-laki ini. Tapi ia termasuk mengetahui posisinya hanya seorang kacung. Lagipula dia menggoda laki-laki itu karena kesal selamanya diomeli.

” Tidak usah Pak, aku sanggup naik bus kok.” Rara menampik halus tawaran laki-laki itu.
” Ngapain anda sungkan begitu?? Kemarin termasuk anda tidak sungkan melepaskan kancing busana anda di depan saya.”

Pipi Rara bersemu merah mendengar ucapan laki-laki itu.

” Kan aku udah jelaskan Pak. Saya lupa memasang kancing busana ketika kepanasan di Pantry.”
” Ya udah kalo gitu ayo masuk.” perintah laki- laki itu sekali lagi.
Setelah memastikan lebih dari satu hal selanjutnya Rara setuju untuk menumpang mobil berwarna putih itu.

Tak tersedia yang dibicarakan oleh Rara dan laki-laki yang menyetir disampingnya itu. Laki-laki itu fokus kedepan, namun Rara sering kadang melirik ke arahnya. Lebih tepatnya ke arah hal yang mengelembung di balik celana kain berwarna hitam yang dikenakan laki-laki paruh baya itu.

Baskoro bukan tidak mengetahui bahwa Rara sedari tadi melirik ke arah dirinya. Namun ia diam saja, coba fokus walaupun ia mengetahui itu adalah hal sia-sia.

Kemaluannya tidak sanggup bersikap acuh tak acuh dengan pandangan seduktif Rara. Batang itu menggeliat, bangun dan membesar.

Oh God, dia bukan ABeGe yang baru mengenal video dewasa. Dia udah miliki 3 orang anak. Menjadi hal lucu kecuali dia terangsang hanya karena diperhatikan oleh gadis itu.

” Kamu kenapa lirik-lirik aku terus?” bertanya Baskoro tiba-tiba. Mengejutkan Rara.
” Eh tidak Pak. Saya tidak lirik-lirik.”
” Jelas-jelas dari tadi anda menyaksikan aku terus. Ada yang keliru dengan wajah saya?”

Rara gelagapan beroleh pertanyaan mendadak seperti itu. Wajahnya memerah menghindar malu karna tertangkap basah perhatikan laki-laki tua di sebelahnya.

” Maaf Pak.” lirih Rara dengan wajah tertunduk.

Baskoro sedikit terasa bersalah karena bertanya dengan suara tinggi. Ia lalu menyentuh paha Rara yang berbalut rok sepanjang lutut.

” Sudah, sudah. Saya tidak marah. Hanya bingung.” ucap baskoro pelan sambil mengelus tempat tangannya bersarang. Tubuh Rara sedikit meremang. Dari mulutnya terlihat erangan kecil tapi masih sanggup tertangkap telinga Baskoro.
Tersadar, Baskoro menarik tangannya dari paha Rara dan kembali fokus kepada jalan di depan mereka tanpa menyaksikan Rara yang menggigit bibir bawahnya.
” Pak, yang tadi itu..”

” Saya tidak sengaja. Saya hanya sudi menenangkan kamu. Tidak usah berpikir aku bernafsu dengan kamu.” belum selesai Rara bicara, Baskoro lebih dahulu memotong.
” Saya bukan sudi mengulas yang tadi Pak. Saya termasuk mengetahui diri aku siapa. Saya hanya sudi bilang, tadi itu jalan ke arah kos saya. Bapak terlewat jauh.” balas Rara sewot. 

Sok sekali laki- laki ini. Pikir Rara di dalam hati.