Rina Sepupuku Yang Gila Ngentot // Part 2

RAKSASAPOKER “Ahh.. Johanii.. aahh.. terusss… aahh.. sayaanggg..” mulutnya tetap meracau sementara pinggulnya jadi bergoyang-goyang. Pantat Rina termasuk jadi terangkat-angkat. 

Aku pun segera turunkan kepalaku ke arah selangkangannya, hingga pada akhirnya mukaku pas di selangkangannya. 


Kedua kakinya kulipat ke atas, kupegangi bersama dua tanganku dan pahanya kulebarkan agar vagina dan clitorisnya terbuka di depan mukaku.


Aku tidak tahan memandangi keindahan vaginanya. Lidahku segera menjulur dan mengusap clitoris dan vaginanya. Cairan vaginanya kusedot-sedot bersama nikmat. Mulutku menciumi mulut vaginanya bersama ganas, dan lidahku kuselip-selipkan ke lubangnya, kukait-kaitkan, kugelitiki, tetap begitu, hingga pantatnya terangkat, sesudah itu tangannya mendorong kepalaku hingga saya terbenam di selangkangannya. Aku jilati terus, clitorisnya kuputar bersama lidah, kuhisap, kusedot, hingga Rina meronta-ronta. Aku jadi penisku telah tegak kembali, dan jadi berdenyut-denyut.

“Johani.. saya tidak tahan.. aduuhh.. aahh.. enaakk sekaliii.. ” rintihnya berulang-ulang.

Mulutku telah berlumuran cairan vaginanya yang makin lama sebabkan nafsuku tidak tertahankan. Kemudian kulepaskan mulutku berasal dari vaginanya. Sekarang giliran penisku kuusap-usapkan ke clitoris dan bibir vaginanya, sambil saya duduk mengangkang juga. Pahaku menghambat pahanya agar selalu terbuka. Rasanya nikmat sekali disaat penisku digeser-geserkan di vaginanya. Rina termasuk merasakan perihal yang sama, dan sekarang tangannya ikut menolong dan menekan penisku digeser-geserkan di clitorisnya.

“Rinaii.. aahh.. enakkk.. aahh..”

“aahh.. iya.. eeennaakkk sekaliii..”

Kita saling merintih. Kemudian sebab penisku makin lama gatal, saya jadi menggosokkan kepala penisku ke mulut vaginanya. Rina makin lama menggelinjang. Akhirnya saya jadi mendorong pelan hingga kepala penisku masuk ke vaginanya.

“Aduuuhh.. Johani.. saakiiitt.. aadduuuhh.. jaangaann..” rintihnya

“Tahan dulu sebentar… Nanti termasuk hilang sakitnya..” kataku membujuk

Kemudian pelan-pelan penisku saya keluarkan, sesudah itu kutekan lagi, kukeluarkan lagi, kutekan lagi, sesudah itu pada akhirnya kutekan lebih didalam hingga masuk nyaris setengahnya. Mulut Rina hingga terbuka tetapi telah tidak mampu bersuara.

Punggung Rina terangkat berasal dari karpet menghambat desakan penisku. Kemudian pelan-pelan kukeluarkan lagi, kudorong lagi, kukeluarkan lagi, tetap hingga dia tenang lagi. Akhirnya disaat saya mendorong ulang kali ini kudorong hingga amblas seluruhnya ke dalam. Kali ini kita sama-sama mengerang bersama keras. Badan kita berpelukan, mulutnya yang terbuka kuciumi, dan pahanya menjepit pinggangku bersama keras sekali agar saya jadi ujung penisku telah mentok ke dinding vaginanya.

Kita selalu berpelukan bersama erat saling mengejang untuk sebagian sementara lamanya. Mulut kita saling menghisap bersama kuat. Kita sama-sama merasakan keenakan yang tidak ada taranya. Setelah itu pantatnya sedikit demi sedikit jadi bergoyang, maka saya pun jadi menggerakkan penisku pelan-pelan, maju, mundur, pelan, pelan, makin lama cepat, makin lama cepat, dan goyangan pantat Rina termasuk makin lama cepat.

“Johani.. aduuuhh.. aahh.. teruskan sayang.. saya nyaris niihh..” rintihnya.

“Iya.. nihh.. tahan dulu.. saya termasuk hampirr.. kita bareng ajaa..” kataku sambil tetap menggerakkan penis makin lama cepat.

Tanganku termasuk ikut meremasi susunya kanan dan kiri. Penisku makin lama keras, kuhunjam-hunjamkan ke didalam vaginanya hingga pantatnya terangkat berasal dari karpet. Dan saya jadi vaginanya termasuk menguruti penisku di dalam. Penisku kutarik dan kutekan makin lama cepat, makin lama cepat.. dan makin lama cepat.. dannn..”Raaniii.. saya mau nampak niihh..””Iyaa.. keluarin saja.. Rina termasuk nampak sekarang niiihh.”Aku pun menghunjamkan penisku keras-keras yang disambut bersama pantat Rina yang terangkat ke atas hingga ujung penisku menumbuk dinding vaginanya bersama keras.

Kemudian pahanya menjepit pahaku bersama keras agar penisku makin lama mentok, tangannya mencengkeram punggungku. Vaginanya berdenyut-denyut. Spermaku memancar, muncrat bersama sebanyak-banyaknya menyirami vaginanya.

“aahh… aahh.. aahh..” kita sama-sama mengerang, dan vaginanya masih berdenyut, mencengkeram penisku, agar spermaku berulang-kali menyembur. Pantat Rina masih termasuk berusaha menekan-nekan dan memutar agar penisku seperti diperas. Kita orgasme seiring sepanjang sebagian saat, dan sepertinya tidak akan berakhir.

Pantatku masih ditahan bersama tangannya, pahanya masih menjepit pahaku erat-erat, dan vaginanya masih berdenyut meremas-remas penisku bersama enaknya agar sepertinya spermaku nampak semua tanpa tersisa sedikitpun.

“aahh.. aahh.. aduuuhh…” Kita telah tidak mampu bersuara ulang tidak cuman mengerang-erang keenakan.

Ketika telah jadi kendur, kuciumi Rina bersama penis masih di didalam vaginanya. Kita saling berciuman ulang untuk sebagian sementara sambil saling membelai. Kuciumi tetap hingga pada akhirnya saya paham jika Rina tengah menangis. Tanpa bicara kita saling menghibur.

Aku paham bahwa selaput daranya telah robek sebab penisku. Dan disaat penisku kucabut berasal dari sela-sela vaginanya sebenarnya mengalir darah yang bercampur bersama spermaku. Kita tetap saling membelai, dan Rina masih mengisak di dadaku, hingga pada akhirnya kita berdua tertidur kelelahan bersama berpelukan.

Aku terbangun kurang lebih jam 11 malam, dan kulihat Rina masih terlelap di sampingku masih telanjang bulat. Segera saya bangun dan kuselimuti badannya pelan-pelan. Kemudian saya segera ke kamar mandi, kupikir shower bersama air hangat tentu menyegarkan. Aku membiarkan badanku diguyur air hangat berlama-lama, dan sebenarnya berikan kesegaran sekali. Waktu itu kupikir saya telah mandi kurang lebih 20 menit, disaat saya jadi kaget sebab ada suatu hal yang menyentuh punggungku. Belum sempat saya menoleh, badanku telah dilingkari sepasang tangan.

Ternyata Rina telah bangun dan masuk ke kamar mandi tanpa kuketahui. Tangannya memelukku berasal dari belakang, dan badannya merapat di punggungku.

“Aku ikut mandi yah..?” katanya. DAFTAR ID PRO PKV


Aku tidak menjawab apa-apa. Hanya tanganku mengusap-usap tangannya yang ada di dadaku, sambil menenangkan diriku yang masih jadi kaget. Sambil selalu memelukku berasal dari belakang, Rina mengambil alih sabun dan jadi mengusapkannya di dadaku. Nafsuku jadi naik lagi, bahkan saya termasuk merasakan susunya yang menekan punggungku.

Usapan tangan Rina jadi turun ke arah perutku, dan penisku jadi berdenyut dan berangsur menjadi keras. Tidak lama sesudah itu tangan Rina hingga di selangkanganku dan jadi mengusap penisku yang makin lama tegak. Sambil menggenggam penisku, Rina jadi menciumi belakang leherku sambil mendesah-desah, dan badannya makin lama menekan badanku.

Selangkangan dan susunya jadi digesek-gesekkan ke pantat dan punggungku, dan tangannya yang menggenggam penisku jadi meremas-remas dan digerakkan ke pangkal dan kepala penisku berulang-ulang agar saya merasakan kenikmatan yang luar biasa.

“Rinaii oohh.. nikmat sekali sayang.”

“Johanii uuuhh”, erangnya sambil lidahnya makin lama liar menciumi leherku.

Aku yang telah jadi gemas sekali segera menarik badannya, dan sekarang posisi kita berbalik. Aku sekarang memeluk badannya berasal dari belakang, sesudah itu pahanya kurenggangkan sedikit, dan penisku diselinapkan di antara pahanya, dan ujungnya yang nongol di depan pahanya segera di pegang ulang oleh Rina. Tangan kiriku segera meremasi susunya bersama gemas sekali, dan tangan kananku jadi meremasi bulu kemaluannya.

Kemudian disaat jari tangan kananku jadi menyentuh clitorisnya, Rina pun mengerang makin lama keras dan pahanya menjepit penisku, dan pantatnya jadi bergerak-gerak yang sebabkan saya makin lama jadi nikmat. Mukanya menengok ke arahku, dan mulutnya segera kuhisap bersama keras. Lidah kita saling membelit, dan jari tanganku jadi mengelusi clitorisnya yang makin lama licin. Kepala penisku termasuk jadi dikocok-kocok bersama lembut.

“Rina saya tidak tahan nih aduuuhh.”

“Iya Den.. saya termasuk telah tidak tahan.. uuuhh.. uuuhh.”

Badan Rina segera kubungkukkan, dan kakinya kurenggangkan. Aku segera mengarahkan dan menempelkan ujung penisku ke arah bibir vaginanya yang telah menganga lebar menantang.
“Johan.. cepat masukkan sayang cepat uuhh ayoo.” Aku yang telah gemas sekali segera menekan penisku sekuat tenaga agar segera amblas semua hingga ke basic vaginanya. Rina menjerit keras sekali. Mukanya hingga mendongak.

“aahh.. kamu kasar sekali.. aduuhh sakit aduuhh..” Aku yang telah tidak sabar jadi menggerakkan penisku maju mundur, kuhunjam-hunjamkan bersama kasar yang sebabkan Rina makin lama keras mengerang-erang. Susunya saya remas-remas bersama dua tanganku.

Tidak lama sesudah itu Rina jadi nikmati permainan kita, dan jadi menggoyangkan pantatnya. Vaginanya termasuk jadi berdenyut meremasi penisku. Aku menjadi makin lama kasar, dan penisku yang telah keras sekali tetap mendesak basic vaginanya. Dan jika penisku tengah maju membelah vaginanya, tanganku termasuk menarik pantatnya ke belakang agar penisku menghunjam bersama kuat sekali. Tapi tiba-tiba Rina membiarkan diri.

“hh sekarang giliranku saya telah nyaris sampai.” katanya. Kemudian saya disuruh duduk selonjor di lantai di antara kaki Rina yang jadi turunkan badannya. Penisku yang mengacung ke atas jadi dipegang Rina, dan di arahkan ke bibir vaginanya.

Tiba-tiba Rina turunkan badannya duduk di pangkuanku agar penisku segera amblas ke didalam vaginanya. Kita sama-sama mengerang bersama keras, dan mulutnya yang masih menganga kuciumi bersama gemas.

Kemudian pantatnya jadi naik turun, makin lama lama makin lama keras. Rina melakukannya bersama ganas sekali.

Pantatnya termasuk diputar-putar agar saya jadi penisku seperti dipelintir.

“Johani.. aku.. aku.. sudah.. hampirrr, uuuhh…” Erangnya sambil tetap menghunjam-hunjamkan pantatnya. Mulutku berubah berasal dari mulutnya ke susunya yang bulat sekali. Putingnya kugigit-gigit, dan lidahku berputar menyapu permukaan susunya. Susunya sesudah itu kusedot dan kukenyot bersama keras, sebabkan gerakan Rina makin lama liar.

Tidak lama sesudah itu Rina menghunjamkan pantatnya bersama keras sekali dan tetap menekan sambil memutar pantatnya.

“Sekaranggg aahh sekaranggg Johan, sekaranggg”, Rina berteriak-teriak sambil badannya berkelojotan.

Vaginanya berdenyutan keras sekali. Mulutnya menciumi mulutku, dan tangannya memelukku amat keras. Rina orgasme sepanjang sebagian detik, dan sehabis itu ketegangan badannya berangsur mengendur.

“Den, makasih yah.., sekarang saya pengin ngisep boleh yah..?” katanya sambil mengangkat pantatnya hingga penisku lepas berasal dari vaginanya. Rina sesudah itu menundukkan mukanya dan segera memegang penisku yang amat keras, berdenyut, dan mendambakan segera memuntahkan air mani. Mulutnya segera menelan senjataku hingga menyentuh tenggorokannya.

Tangannya sesudah itu mengocok pangkal penisku yang tidak muat di mulutnya. Kepalanya naik turun mengeluar-masukkan penisku. Aku amat telah tidak tahan. Ujung penisku yang telah hingga di tenggorokannya masih saya dorong-dorong. Tanganku termasuk ikut mendesakkan kepalanya. Lidahnya mengelilingi penisku yang ada didalam mulutnya. “Rinaii isap tetap terusss hampirr terusss yyyaa sekaranggg sekarangg.. issaapp..”, Rina yang jadi penisku nyaris menyemburkan sperma makin lama menyedot bersama kuat.

Dan…”aahh.. sekaranggg.. sekaranggg.. issaappp..” spermaku menyembur bersama deras berulang-kali bersama rasa nikmat yang tidak berkesudahan. Rina bersama rakusnya menelan semuanya, dan masih menyedot sperma yang masih ada di didalam penis hingga habis. Rina tetap menyedot yang sebabkan orgasmeku makin lama nikmat. Dan sehabis selesai, Rina masih termasuk menjilati penisku, spermaku yang sebagian tumpah termasuk masih di jilati.

Kemudian sehabis beristirahat sebagian saat, kita pun meneruskan mandi sambil saling menyabuni. Setiap lekuk tubuhnya saya telusuri. Dan saya pun makin lama paham bahwa badannya amat indah. Setelah itu kita tidur berdua sambil tetap berpelukan.

Pagi-pagi disaat saya bangun ternyata Rina telah mengenakan pakaian rapi, dan dia cantik sekali. Dia mengenakan rok mini dan pakaian tanpa lengan yang selaras bersama kulitnya yang halus. Dia mengajakku membeli ke Mall sebab persediaan makanan sebenarnya telah habis. Maka saya pun segera mandi dan bersiap-siap.

Di perjalanan dan sepanjang berbelanja kita saling memeluk pinggang. Siang itu saya nikmati jalan berdua dengannya. Kita membeli sepanjang sebagian jam, sesudah itu kita mampir ke sebuah Café untuk makan siang. Di didalam mobil didalam perjalanan pulang kita ngobrol-ngobrol berkenaan semua hal, berasal dari persoalan pelajaran sekolah hingga hal-hal yang ringan.

Ketika ngobrol berkenaan suatu hal yang lucu, Rina tertawa hingga terpingkal-pingkal, dan saking gelinya hingga kakinya terangkat-angkat. Dan itu sebabkan roknya yang pendek tersingkap. Aku pun sembari menyetir, sebab memandang panorama yang indah, meletakkan tanganku ke pahanya yang terbuka.

“Ayo.. nakal yah..” kata Rina, bercanda.

“Tapi bahagia kan?” kataku sambil meremas pahanya. Kami pun sama-sama tersenyum. Mengusap-usap paha Rina sebenarnya berikan sensasi tersendiri, hingga saya jadi penisku menjadi tegang sendiri.

“Johan.. telah kamu nyetir saja dulu, tuh kan itunya telah bangun.. pingin ulang yah? Rina menjadi pengin ngelusin itunya nih..” kata Rinamenggodaku. Aku hanya senyum menanggapinya, dan sebenarnya saya telah kepingin mencumbunya lagi.

“Johan, bajunya dikeluarin dong berasal dari celana, biar tanganku ketutupan. Dipegang yah?” Aku makin lama nyengir mendengarnya. Tapi sebab sebenarnya kepingin, dan sebenarnya lebih safe begitu berasal dari pada saya yang meneruskan aksiku.

Sambil menyetir saya pun mengeluarkan ujung bajuku berasal dari celanaku. Kemudian tanpa menunggu, tangan Rina segera menyelinap ke balik bajuku, ke arah selangkanganku. Tangannya mencari-cari penisku yang makin lama tegang.

“Ati-ati, masih siang nih, jika ada orang nanti tangan kamu ditarik yah!” kataku. Rina diam saja, dan sesudah itu tersenyum disaat tangannya menemukan apa yang dicari-cari. Tangannya sesudah itu jadi meremas penisku yang masih di didalam celana. Penisku makin lama tegang dan berdenyut-denyut.

Karena terangsang juga, Rina jadi berusaha membuka ritsluiting celanaku, dan sesudah itu menyelinapkan tangannya, dan jadi memegang kepala penisku. Cairan pelumas yang jadi nampak diusap-usapkan ke kepala dan batang penisku.

“Johan.. saya pengin ngisep ininya.. saya pengin ngisep hingga kamu nampak dimulutku..” katanya sambil agak mendesah. Aku termasuk mendambakan segera merasakan apa yang dia ingini. Yang ada di otakku adalah segara hingga di rumah, dan segera mencumbunya.

Tapi harapan kita ternyata tidak segera terwujud sebab sesampainya di rumah, ternyata orang tua Rina telah pulang. Kita hanya saling berpandangan dan tersenyum kecewa.

“Eh, telah pada pulang yah..” Rina menegur mereka.

“Iya nih, ada perubahan acara mendadak. Makanya sekarang cape banget. Nanti malem ada undangan pesta, makanya sekarang mau istirahat dulu. Kamu masak dulu saja ya sayang.. telah membeli kan?” kata maminya Rina.

“Iya deh, sebentar Rina ganti pakaian dulu. Eh, Johan, katanya kamu pengin studi masak, ayo, sekalian bantuin aku”, kata Rina sambil tersenyum penuh arti. Aku hanya mengiyakan dan ke kamarku ganti pakaian bersama celana pendek dan T-shirt. Kemudian saya ke dapur dan mengeluarkan belanjaan dan memasukkannya ke lemari es.

Tidak lama sesudah itu Rina menyusul ke dapur. Dia pun telah berpindah pakaian, dan sekarang Mengenakan daster kembang-kembang. Tante termasuk ikut-ikutan mempersiapkan bahan makanan dan Rina jadi mengajariku memasak.

“Sudah Mami istirahat saja sana, kan ini termasuk telah ada yang ngebantuin..” kata Rina.

“Iya deh, emang Mami cape banget sih, telah yah, Mami mau cobalah istirahat saja”, kata Maminya Rina sambil nampak berasal dari dapur. Aku yang tengah memotongi sayuran hanya tersenyum. Setelah sebagian saat, Rina tiba-tiba memelukku berasal dari belakang, tangannya segera ditelusupkan ke didalam celanaku dan memegang penisku yang masih tidur.

“Eh.. kok ininya bobo lagi.. Rina bangunin yah?” tangannya dikeluarkan sesudah itu Rina mengambil alih salad dressing yang ada di depanku, masih sambil merapatkan badannya berasal dari belakangku.

Kemudian salad dressingnya dituangkan ke tangannya, dan segera menyelinap ulang ke celana dan dioleskan ke penisku yang segera menegang. Sambil merapatkan badannya, susunya menekan punggungku, Rina jadi meremasi penisku bersama dua tangannya. Nikmat yang saya rasakan amat luar biasa. Aku segera melingkarkan tangan ke belakang, meremas pantatnya yang bulat itu.

Tanganku saya turunkan hingga ke ujung dasternya, sesudah itu kusingkapkan ke atas sambil meremas pahanya bersama gemas. Ketika hingga di pangkal pahanya, saya baru paham jika Rina ternyata telah tidak Mengenakan celana dalam. Maka tanganku menjadi makin lama gemas meremasi pantatnya, dan sesudah itu menelusuri pahanya ke depan hingga ke selangkangannya. Jari-jariku segera membuka belahan vaginanya dan jadi memainkan clitorisnya yang telah amat basah terkena cairan yang makin lama banyak nampak berasal dari vaginanya. Tangan Rina termasuk makin lama liar meremas, meraba dan mengocok penisku.

“Rina.. sana diliat dulu, apa Om dan Tante sebenarnya telah tidur..” kataku berbisik sebab jadi agak tidak aman.

Rina sesudah itu membiarkan pegangannya dan nampak dapur.

Tidak lama sesudah itu Rina ulang dan bilang seluruhnya telah tidur. Aku segera memeluk Rina yang masih ada di pintu dapur, sesudah itu pelan-pelan pintu kututup dan Rina kupepet ke dinding. Kita berciuman bersama gemasnya dan tangan kita segera saling menelusup dan memainkan semua yang ditemui. Penisku segera ditarik nampak oleh Rina dan saya segera menyingkap dasternya ke atas, sesudah itu kaki kirinya kuangkat ke pinggulku, dan selangkangannya yang menganga segera kuserbu bersama jari-jariku.

Tangan Rina menuntun penisku ke arah selangkangannya, menyentuhkan kepala penisku ke belahan vaginanya dan terus-terusan menggosok-gosokkannya. Untuk menghambat agar Rina tidak mengerang, mulutnya tetap kusumbat bersama mulutku. Kemudian sebab telah tidak tahan, saya segera mengarahkan penisku pas ke mulut vaginanya, dan menekan pelan-pelan, tetap ditekan, tetap ditekan hingga semua batangnya amblas.

Kaki Rina satunya segera kuangkat termasuk ke pinggangku, agar sekarang dua kakinya mengelilingi pinggangku sambil kupepet di dinding. Kita saling mengadu gerakan, saya maju-mundurkan penisku, dan Rina berusaha menggoyang-goyangkan pantatnya juga. Vaginanya berdenyutan jadi meremasi batang penisku. Tidak lama sesudah itu saya jadi Rina nyaris orgasme.

Denyutan vaginanya makin lama keras, badannya makin lama tegang dan isapan mulutnya di mulutku makin lama kuat. Kemudian saya jadi Rina orgasme. Kontraksi otot vaginanya sebabkan penisku jadi seperti diurut-urut dan saya termasuk jadi nyaris raih orgasme. Setelah orgasme, gerakan Rina tidak liar lagi, dia hanya ikuti gerakan pantatku yang masih menghunjam-hunjamkan penisku dan mendesakkan badannya ke dinding.

Kemudian sementara penisku masih di didalam dan kaki Rina masih di pinggangku, saya melangkah ke arah meja dapur dan duduk di tidak benar satu kursi, agar sekarang Rina ada di pangkuanku bersama punggung menyandar di meja dapur. Selama sebagian sementara kita hanya berdiam diri saja. Rina masih nikmati sisa kenikmatan orgasmenya dan nikmati penisku yang masih di didalam vaginanya.

Sementara saya nikmati sekali posisi ini, dan nikmati memandang Rina ada di pangkuanku. Tanganku mengusap-usap pahanya dan menyingkapkan dasternya ke atas hingga memandang bulu kemaluan kita yang saling menempel. Belahan vaginanya kubuka dan saya memandang panorama yang amat indah. Penisku hanya kelihatan pangkalnya sebab semua batangnya masih di didalam vagina Rina, dan di atasnya saya memandang clitorisnya yang amat basah.

Jari-jariku jadi mengusap-usap clitorisnya hingga Rina jadi mendesis-desis lagi, dan pantatnya jadi bergerak lagi, berputar dan mendesakkan penisku menjadi makin lama masuk. Aku jadi vaginanya jadi berdenyutan ulang meremas-remas penisku. Karena gemas, kadang waktu clitorisnya kupelintir dan kucubit-cubit.

Kemudian dasternya kusingkap makin lama ke atas hingga saya memandang susunya yang menantangku untuk segera memainkannya. Dengan tak sabar segera susunya yang kiri kulumat bersama mulutku, yang sebabkan kepala Rina mendongak merasakan kenikmatan itu. Sambil melumati susunya, lidahku termasuk memainkan putingnya yang telah amat tegang. Kadang-kadang putingnya termasuk kugigit-gigit kecil bersama gemas. Tanganku dua-duanya meremasi pantatnya yang bulat.

“Ya Tuhan Johanii aahh aahh”, rintihnya di kupingku, sambil kadang menjilati dan menggigit kupingku.

“Johani.. aahh.. saya nyaris dapet lagii.. ahh.., tetap gitu sayang”, rintihnya bersama gerakan yang makin lama liar.

Pantatnya makin lama keras menekan dan berputaran, yang sebabkan penisku termasuk seperti dipelintir bersama lembut.

Aku pun menuruti dan tetap memberi tambahan kenikmatan bersama tetap memainkan susunya bergantian yang kiri dan kanan, dan tanganku termasuk ikut memainkan puting susunya, hingga Rina tiba-tiba menggigit kupingku bersama keras dan sehabis menghentakkan pantatnya dia memelukku bersama eratnya.

“hh Denddiii.. hh. hh.” Aku merasakan Rina orgasme untuk ke dua kalinya dan lebih hebat berasal dari yang pertama.

Denyutan vaginanya keras sekali dan berjalan sepanjang sebagian detik, dan kenikmatan yang saya rasakan membuatku jadi telah nyaris orgasme. Tapi sehabis orgasme, ternyata Rina masih ingat keinginannya untuk menghisap penisku.

“Johan.. jangan dikeluarin dulu.. nanti di mulutku saja yah”.
Maka sehabis turun berasal dari pangkuanku, Rina segera jongkok di depanku dan segera mengulum penisku. Lidahnya mengelilingi batangnya dan mulutnya menyedot-nyedot sebabkan saya jadi orgasmeku telah amat dekat. Tanganku memegang belakang kepala Rina, dan kutekan agar penisku makin lama masuk di mulutnya, sesudah itu saya termasuk menolong memasuk-keluarkan penisku di mulutnya, dan

“aahh Rina saya keluarrr tetap isaappp.. aahh..” dan sebenarnya Rina bersama lahapnya tetap menghisap spermaku yang segera berhamburan masuk ke tenggorokannya. Penisku yang masih mengeluarkan sperma tetap disedot dan dikenyot-kenyot dan pangkal penisku termasuk terus-terusan dikocok-kocok. Orgasmeku kali ini kurasakan amat luar biasa.

Setelah itu kita ulang berciuman, dan ulang meneruskan memasak.

“Johan.. makasih yah, tetapi saya belum puas, habis tidak cukup bebas sih, entar malem ulang yah..!” saya yang jadi perihal yang mirip hanya mengangguk.

“Ran, saya nanti malem pengin nikmati semua tubuhmu.”

“Maksudmu..? apa sepanjang ini belum?”

“Aku pengin melaksanakan perihal yang lain mirip kamu.., tunggu saja..”

“Ihh.. apaan sih.., Rina menjadi merinding nih”, kata Rina sambil memperlihatkan bulu-bulu tangannya yang sebenarnya berdiri, dan sambil tersenyum saya mengelusi tangannya. Kemudian badannya kupeluk berasal dari belakang bersama lembut. Aku jadi bahagia sekali.