Nafsu Birahi Rintihan Kalbu // Part 2

RAKSASAPOKER Belaian hangat jariku terus mengusap seluruh permukaan kulitnya yang putih mulus halus terawat disertai bersama jilatan dan pijatan ringan. Perlahan kudorong Lily supaya rebah di kasurku.

RAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
“Mas janji jangan dimasukkan yach.., aku tetap milik Indra,” rintihnya ulang kala kucoba mencopot celana pendeknya.

Ternyata Lily tidak mengenakan celana didalam di balik celana pendeknya selanjutnya supaya langsung muncul rerumputan hitam bersama panjang yang seragam dan terawat bersama rapih.


“Iya aku janji,” sahutku tanpa berhenti melepas celana pendeknya tersebut.
Harum bau tubuhnya terus memompa birahiku tapi perlakuanku tetap saja lembut dan tidak terburu -buru untuk mempunyai Lily menikmati belaian asmara ini. Jilatan mandi kucing yang kulancarkan ini membuat Lily makin terlena dan pasrah. Jilatan demi jilatan yang menyusuri tiap-tiap inci permukaan kulit dadanya, turun ke lembah buah dadanya, terus turun menelurusi garis tengah untuk capai kubangan di tengah pusaran perut, membuat otot perutnya tertarik tertahan mencegah geli nikmat yang tidak terkira.

Kulewatkan anggota padang ilalang hitam di sana, tapi kumulai berasal dari lipatan paha anggota didalam kanan dan kiri yang terus menuruni jenjang kakinya berasal dari anggota didalam sampai capai punggung kakinya dan berakhir bersama teriakan tertahan yang disertai hentakan kakinya, “Akhh..”
Kubalikan tubuhnya dan kini jilatannya merayap naik berasal dari anggota tumitnya menelusuri betis indahnya sedikit ke anggota dalam, tidak kupaksa untuk mengakses lipatannya tapi terus naik sampai ke punggung dan berakhir di kurang lebih tengkuknya yang mulus, disertai bersama bulu kuduknya yang telah berdiri membuatku makin gemas, supaya gigitan sedikit keras kuberikan padanya yang meningkatkan sensasi nikmat, disertai bersama remasan jemari lentiknya terhadap bantal yang sempat diraihnya untuk share kenikmatan.

Puas bermain di punggungnya ulang kubalikkan tubuhnya, sementara mata kita sempat beradu pandang, muncul sayu tertutup perlahan dan menggodaku untuk mengecup lembut bibirnya. Kulumanku mendapat balasan yang malu-malu dan langsung kuterobos bersama lidahku untuk mengait lidahnya supaya pagutan lidahku bagaikan aliran listrik untuk mencetuskan butiran keringat halus bagaikan tetesan embun di dahinya.

Perlahan tapi pasti sambil berpagutan selanjutnya kunaiki tubuh mungilnya dan Lily sempat melirik ke kaca yang ada di lemari baju dan memahami muncul tubuh mungilnya saat ini berada di bawah tubuhku yang tinggi besar, sensasi tersendiri lihat tubuhku menindih tubuh mungilnya di mana baru kali ini dialaminya bahwa seorang pria yang bukan suaminya tengah menindihnya didalam suasana tubuh yang bugil, telanjang bulat.

Batanganku yang telah mengeras pas berada di atas perutnya dan kala seluruh berat tubuhku telah menindihnya memahami sekali kurasakan getaran tubuhnya laksana menggigil akibat mencegah birahi. Kulumanku belum kulepaskan dan lidahku terus bermain bersama lidahnya bersama respon yang makin menggila disertai lenguhan birahi.

Ketika kulepaskan pagutan liar itu, langsung ku membuka lebar pahanya supaya memahami muncul ilalang hitam di anggota bawah telah lepek dan tanpa rasa malu-malu ulang Lily memahami membentangkan kakinya lebar-lebar, memberiku jalan untuk menerobos masuk. Namun tak kulakukan itu, sebaliknya perlahan kubuka lipatan bibirnya supaya muncul celah memanjang bagaikan irisan roti dan diikuti bersama mengalirnya secara perlahan cairan kental mirip lem anak SD. DAFTAR ID PRO PKV


Setelah kujilat 1-2 kali sapuan, langsung kuhisap kuat di antara celah yang terbuka itu dan langsung kurasakan sebagian cc cairan kental bening itu bagaikan benang yang ditarik berasal dari sumur paling didalam dibetot keluar, akibatnya..
“Mas..,” lengkingan tinggi Lily disertai bersama hentakan berulang kali berasal dari pinggulnya yang tertarik ke atas dan kemudian berakhir bersama kekakuan terhadap tungkai kakinya selama sebagian sementara dan berakhir bersama selesainya hisapanku terhadap celah vaginanya.

Kubiarkan Lily yang telah capai orgasme pertamanya, matanya tetap tertutup rapat tak bergerak menikmati gulungan birahi yang menjadi mereda menyisakan kelelahan yang teramat sangat. Sesaat kemudian belaian jari lentiknya yang mengusap wajahku menyadarkanku berasal dari lamunanku.
“Thanks yach.., Mas belum yach?” tanyanya sendu menjadi bersalah.
Segera kukembangan senyum manisku yang menusuk kalbu, “Enak..,” tanyaku suatu pertanyaan bodoh yang harusnya tak harus kutanyakan.

Anggukan halus berasal dari Lily membenarkan pertanyaanku dan langsung kulanjutkan “Pernah diberikan oleh Mas Indra?” selidikku untuk membandingkan kemampuanku.
Lily capai penisku dan mengocoknya perlahan. “Mas Indra tidak pernah membelai, dia lebih bahagia tembak langsung dan itu juga nggak lama, sebentar juga muncul setelah itu tertidur tapi..,” sahutnya memutus di tengah jalan.
“Kenapa?” tanyaku penasaran.

“Kalo besar sich lebih besar Mas Indra, menjadi tiap kali sakit sesudahnya. Mungkin tidak cukup foreplay kali yach,” sahutnya untuk menambahkan alasan.
“Oh..,” sahutku yang percaya bahwa apa yang kuberikan pasti lebih berkesan dibandingkan bersama Indra suaminya.

Buliran keringat halus di keningnya dan selama lehernya menggodaku untuk ulang menjilatnya dan kali ini Lily mengelinjang geli. Namun tak kuperdulikan. Kujilat habis seluruh buliran keringat di dahi dan selama lehernya menelusuri uratnya kanan dan kiri yang berkilau tertimpa sinar lampu dan tanpa menjadi tubuhku yang besar ulang menindihnya dan sempat terdiam tatkala kurasakan batanganku terjepit di atas perutnya. Senyum penuh rasa malu berkembang di bibir Lily tatkala kedutan penis kuberikan padanya supaya memahami menjadi di atas perutnya. Pagutan lidahku ulang menghisap bibirnya disertai pilinan jari jemariku yang lincah bermain di antara kedua putingnya.

“Mas.. jangan,” pekiknya terperanjat kala kucoba untuk memasukkan penisku ke vaginanya.
“Iya dach.. aku bermain di depan aja yach,” janjiku menenangkannya.
“Aku kocok saja yach,” pintanya tergetar mencegah birahi yang berusaha menerjang masuk oleh karena ujung kepala penisku telah berhasil mengakses bibir kemaluannya dan bergesek di muara vaginanya. Aku menggeleng tanda tak setuju.

“Tapi jangan dimasukkan yach.. aku ngga senang mengakibatkan kerusakan perkawinanku bersama Mas Indra, aku tetap miliknya,” rintihnya tertahan antara memahami dan nafsu.
“Aku janji dech,” sahutku sekenanya oleh karena gesekan kepala penisku terus menambahkan sensasi nikmat yang tiada taranya.

Hisapanku terhadap kedua putingnya, memaksa puting itu telah membesar kurang lebih 2 kali lipat berasal dari semula, antara bengkak dan juga rangsangan yang ada aku tak mempedulikan itu, tapi permainan lidahku di putingnya mempunyai kenikmatan tersendiri supaya tanpa ada penolakan ulang yang kuterima tahu-tahu seluruh batang penisku telah tertanam di rongga vaginanya dan kala Lily tersadar..
“Mas, kok dimasukkan, tadi janjinya nggak masuk,” protesnya bersama suara pasrah.
“Tanggung Li.., aku bener-bener nggak tahan,” kataku seraya menjadi memompa.

Busyet bener dach otot-otot vagina Lily, tetap terlampau kencang meskipun dia pernah melahirkan, ototnya tetap kencang sekali akibatnya pasti nikmat yang kurasakan ini bak bermain bersama anak ABG saja. Hal mirip juga dirasakan Lily bahwa dinding vaginanya tetap ketat supaya kala aku memompa, dia juga mengimbangi bersama goyangan pinggulnya untuk menghimpit ke atas, sementara kutusukan masuk sedalam-dalamnya, dan itu juga dikombinasikan bersama kontraksi otot kegelnya yang terlampau baik, supaya yang kurasakan dan kunikmati adalah empotan vagina yang luar biasa.

Irama genjotanku makin kuat dan menemukan iramanya bersama goyangan pinggul Lily, yang secara mencuri juga lihat di dinding kaca supaya sementara ini memahami muncul tubuh mungilnya timbul tenggelam di kasur busa ikuti hentakan tubuhku. Buliran keringat sebesar jagung telah membasahi tubuhku dan tubuh Lily yang menetes ke kasur busa dan bantal, seiring bersama dengus nafasku yang terus berpacu ditimpali oleh lenguhan dan rintihan Lily yang berkejaran.

Semakin lama kurasakan makin sempit liang vagina Lily, supaya gesekan yang terjadi makin mantap dan kala kulirik memahami muncul lipatan bibir vagina Lily sementara ini ikuti gerakan penisku, yang memahami menonjolkan urat darahnya berwarna kebiru-biruan muncul masuk laksana mengurut batang penisku.

Secara refleks saat ini Lily telah mengangkat secara maksimal kedua tungkainya ke atas untuk memaksimalkan nikmat dunia yang kuberikan dan kubantu bersama mengangkat kakinya lebih tinggi ulang dan meletakkannya dipundakku.
“Hhh.. hh..,” desisku seraya menghunjam-hunjamkan penisku ke didalam liang vaginanya sedalam mungkin.
“Aak..,” desisan halusnya juga tak kalah gencarnya mengiringi tingkatan birahi yang terus mendaki untuk capai kepuasan tertinggi. Tak lama kemudian kurasakan rasa penuh, gatal dan kurasakan terdapatnya desakan berasal dari didalam yang dapat langsung memuntahkan lahar sperma.

“Ugh.. ahh..,” pekik Lily tak tertahankan disertai bersama kejangnya ke dua tungkai kakinya dan pasti saja jepitan vagina itu menjadi maksimal supaya akupun tidak tahan.
“Lily.. aku.. sampai,” teriakku tanpa tertahankan disertai bersama hentakan kuat menghantam vaginanya.

Crot.. crot.., bendungan lahar spermaku tak tertahankan ulang menyembur bersama dahsyatnya menghantam dinding mulut rahim Lily. Luluh lantak rasanya tulang belulang di tubuh, supaya tubuh besarku bagaikan tak bertenaga ambruk menindih tubuh mungil Lily. Campuran keringat kita berdua di atas permukaan kulit menambahkan sensasi tersendiri, sementara kesadaran kita juga hilang untuk sesaat.

Antara memahami dan tak memahami sempat kulihat bayangan Ibu diuar pintu kamar sementara sebelum akan terdengar pintu yang ditutup, sesungguhnya tadi pintu itu tidak tertutup rapat sich.
“Ibu yach?” bertanya Lily memandangku terkejut.
Aku tersenyum dan mengecup keningnya dan melepas penisku untuk tetap berada di vagina Lily, sebaliknya Lilypun melepas vaginanya untuk tetap menampung penisku dan kamipun tertidur pulas karena kelelahan.