Malam Jumat Dengan Istri Orang // Part 2

RAKSASAPOKER Selang beberapa sementara Lina bangkit berasal dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Kali ini kubiarkan dia bersihkan dirinya sendiri.

RAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Aku senantiasa berbaring sambil mengenangkan keindahan yang baru kualami barusan tadi.

Tak berapa lama Lina telah kembali dan dia langsung berbaring di sampingku.
Matanya menatap lekat ke penisku seakan dia baru menyadari tersedia benda itu di sana.


“Mas Ben pengin diapain..?” Lina bertanya manja.
“Terserah kamu Lin.. umumnya ama Pras gimana dong..?” Aku cobalah memancingnya.

“Biasa.. ya langsung dimasukin aja Mas. Lina jarang senang ama dia..” ungkapnya tanpa tedeng aling-aling lagi.
“Oh.. tetap Lina penginnya gimana..?”

“Ya.. kayak ama Mas Ben tadi.. Lina senang banget.. Lina pengin cium miliki Mas Ben boleh nggak..?”
“Emang Lina belum pernah..?”

“Belum Mas..” agak jengah dia menjawab.. “Mas Pras nggak dulu mau..”
“Ya silahkan kalau Lina mau..” ujarku lagi.

Tanpa menunggu komando Lina langsung merangkak mengarahkan kepalanya mendekati selangkanganku.
Dia pegang batang penisku.. dia mengamati berasal dari dekat sambil sedikit jalankan gerakan mengocok. Sangat kaku dan canggung memang kurasa.

“Ayo Lin.. aku nggak apa-apa kok. Kalau Lina suka.. lakuin apa yang Lina mau..”

Dengan penuh keraguan Lina mendekatkan mulutnya ke kepala penisku. Pelan-pelan dia buka bibirnya dan memasukkan helm penisku ke dalam mulutnya.
Hanya sampai sebatas leher kemudian dia sedot perlahan.

Dia senantiasa jalankan itu untuk beberapa sementara tanpa perubahan. Tentu saja aku tidak dapat merasakan sensasi yang seharusnya.
Rupanya dia benar-benar belum dulu jalankan oral ke penis lelaki.

Maka dengan lembut aku pegang tangan kiri Lina. Aku genggam jemarinya yang lentik dan aku tarik mendekat ke mulutku.
Aku pegang telunjuknya kemudian aku masukkan ke dalam mulutku.
Aku gerakkan masuk-keluar dengan lambat.. sambil sesekali aku jilat dengan lidahku sementara jari lentiknya masih dalam mulutku.

Lina langsung menyadari bahwa aku tengah ‘memberi bimbingan’ bagaimana seharusnya yang dia lakukan. Tanpa curiga dia mempraktikkan apa yang taku kulakukan terhadap jarinya.

Batang penisku dimasukkan ke dalam mulutnya.. kemudian kepalanya diangguk-anggukkan.. sehingga senjataku tergesek keluar-masuk mulutnya yang sensual itu.
Sekalipun masih agak canggung tetapi aku terasa dapat merasakan ‘pelayanan’ yang diberikan Lina kepadaku.

Semakin lama dia semakin tenang dan tidak kaku lagi. Kadang dia mainkan lidahnya di sekeliling kepala penisku dalam mulutnya.
Wow.. dalam sekejap Lina telah terasa ahli dalam oral sex.

Sepertinya Lina sendiri terasa dapat merasakan sensasi berasal dari apa yang dia jalankan dengan mulut dan lidahnya.
Dia terasa berani bereksperiman. Kadang dia keluarkan penisku berasal dari mulutnya.. menciumi batangnya kemudian memasukkannya kembali.
Sesekali dia cuma mengisap kepalanya sambil mengocok batang kemaluanku. Aku terasa merasakan rangsangan dan ikut menikmati permainan mulut Lina.

“Gimana Lin rasanya..?”
“Mas.. Lina merasakan rangsangan yang luar biasa.. Penisnya Mas enak.. Lina suka..”

Aku bangkit berdiri di atas kasur sambil bersandar di dinding kepala ranjang. Lina pun spertinya langsung menyadari harus bagaimana.
Dia kemudian duduk bersimpuh di hadapanku dan kembali mengisap penisku. Kepalanya senantiasa digerakkan maju-mundur.

Dan saat ini dia mendapatkan langkah baru. Dia menjepit batang penisku di pada ke dua bibirnya yang terkatup.
Kemudian dia mengangguk-anggukkan kepalanya. Wow.. sungguh Lina cepat studi dalam hal beginian.
Batang dan kepala penisku dia gesek dengan bibir tebalnya yang terkatup.

Aku mendukung dia dengan menjalankan pantatku maju-mundur. “Ohhh Lin.. mulutmu sedap sekali.. tetap Lin..”
“Mas Ben suka..? Winda sering ya giniin Mas Ben..?”
“Iya Lin.. tetapi aku lebih senang kamu.. bibirmu seksi sekali.. ooohhh Lin.. Winda termasuk suka.. isep bolaku dan jilati semuanya Lin.. ohhh..”

Lina rupanya nggak rela kalah.. dia langsung membebaskan batang penisku berasal dari mulutnya dan terasa menjilati dan mengisap bola kembarku.
Tangannya sambil mengocok batang kelakianku. Oh sungguh nikmat. Aku belai rambut Lina dan aku usap kepalanya.

Lina senang sekali dan dia masih tetap menggerayangi semua selangkanganku dengan lidahnya. Brrr..! Rasanya sungguh nikmat.

Kemudian kita berpindah posisi. Aku kembali berbaring telentang.. dan Lina aku minta merangkak di atasku dengan posisi kepala terbalik. Kami di posisi 69 dan ini adalah salahsatu favoritku.

Lina saat ini telah lumayan mahir dalam oral sex. Dia langsung mengulum batang penisku.. aku pun terasa menjilati vaginanya.
Dengan posisi ini liang kenikmatan Lina benar-benar terbuka di hadapanku dan aku lebih leluasa menikmati dengan bibir dan lidahku. DAFTAR ID PRO PKV


Aku jilat dan isap klitoris Lina yang telah menantang dan jariku mengorek liang senggamanya.
Sesekali aku ciumi bibir vaginanya yang begitu merangsang.

Lina pun tak rela kalah.. dia jalankan segala langkah yang dia tau terhadap tongkat kejantananku.
Dia mainkan pakai lidah.. dia kocok sambil dia isap.. dia mainkan kepala penisku memutari ke dua bibirnya. Sungguh nikmat sekali.

Tak benar-benar lama aku terasa merasakan bahwa Lina telah tidak dapat menahan lagi.
Pantatnya terasa bergoyang limbung kegelian.. tetapi aku menjilati tetap klitorisnya sambil jariku menusuk-nusuk liang kenikmatannya.

Hingga beberapa sementara berselang kelanjutannya Lina sampai termasuk di puncak nikmatnya.. lagi..!
Tubuhnya menegang.. gerakan anggukan kepalanya sambil mengisap penisku semakin menggila.
Kurasakan tubuhnya yang gemetaran.. tetapi dia senantiasa tak rela membebaskan penisku berasal dari mulutnya.

Aku semakin giat mencium klitorisnya dan mengorek vaginanya dengan jariku.
Tubuh Lina tiba-tiba mematung dan kurasakan cairan hangat meleleh terlihat berasal dari liang senggamanya.

Aku langsung menutup lubang vagina Lina dengan mulutku dan membebaskan cairan kenikmatannya membasahi lidahku.
Rasanya asin.. tetapi mirip sekali tidak amis.. sehingga aku tak curiga menelan cairan itu sampai tandas

Kemudian perlahan aku terasa kembali menciumi dan menjilati semua permukaan vagina Lina. Otot Lina telah agak mengendur juga.
Dia terasa kembali jalankan segala eksperimen dengan mulut dan lidahnya ke penisku.

Kami terasa kembali berasal dari awal. Perlahan tetapi pasti.. Lina terasa mendaki kembali puncak kenikmatan birahinya.
Aku tangkupkan ke dua tanganku ke bukit pantat Lina dan terasa membelai dan meremas lembut.
Lina menanggapinya dengan sedotan panjang di penisku. Lidahku kembali menelusuri segala penjuru selangkangan Lina.

Beberapa sementara kemudian aku terasa merasakan tubuh Lina kembali gemetaran.
Aku cium bibir bawahnya dan aku sorongkan lidahku sedalam kemungkinan ke dalam guanya yang merangsang.
Aku termasuk terasa terasa kalau pertahananku terasa goyah dan bendunganku dapat langsung ambrol.

Lina mempercepat gerakan kepalanya dan akupun mengisap semakin kuat vaginanya.
Aku telah tak kuat menahan ‘amarah’ spermaku dan.. Crotts.. crotts.. crotts..! Lahar hangat spermaku menyembur di dalam mulut Lina.
Untuk sedetik Lina agak kaget tetapi dia cepat tanggap. Dia langsung mempercepat gerakan kepalanya sambil menelan semua air maniku.

Crotts.. crotts..! Sisa maniku kembali menyembur dan kali ini Lina menyambutnya dengan isapan kuat di penisku.. seakan idamkan menyedot apa yang masih tersisa di dalam sana.
Erghhh.. Akhh..! Kurasakan nikmat yang luar biasa.

Ekspresi kenikmatan ini aku lampiaskan dengan semakin gila menjilati dan menyedot vagina Lina.
Rupanya Lina termasuk telah hampir capai klimaksnya. Belaian lidahku di mulut vaginanya mengakibatkan puncak itu semakin cepat tercapai.

Akhirnya sekali kembali tubuh Lina menegang dan cairan hangat kembali meleleh berasal dari kawahnya.
Lidahku kembali terima siraman lendir kenikmatan itu yang langsung aku telan.

Beberapa sementara kemudian.. dengan enggan Lina bangkit dan berbaring telentang di sampingku.
Penisku.. meskipun masih berdiri.. tetapi telah tidak setegak tadi. Lina memelukku dengan manja dan kita berciuman dengan mesra.

“Gimana, Lin..? Puas..? Sorry ya.. tadi aku nggak tahan terlihat di mulut kamu..” bisikku mesra di telinganya.
“Lina senang sekali Mas.. sampai duakali gitu lho.. Lina senang sperma Mas Ben.. asin-asin gimana gitu. Kapan-kapan boleh minta kembali dong Mas..” Lina terasa terlihat kenesnya.

“Boleh aja Lin.. asal disisain bikin Winda.. hehehe..” balasku sembari mengelus payudara sekalnya.
Lina mencubit genit lenganku. “Iihhh.. Mas Ben.. paling dapat deh.. emang Mas sering gaya gituan dengan Winda..?”
Aku menyadari Winda termasuk sering bercerita soal kegiatan seks kita ke Lina.. menjadi aku yakin Lina telah menyadari juga.

“Enggaklah.. ini baru pertama dengan kamu Lin..”
“Ah Mas bohong.. Winda kan sering cerita ke Lina.. katanya Mas Ben pinter ngeseks. Makanya diam-diam Lina pengin main ama Mas..”

“Udah kesampaian kan keinginanmu Lin..”
“Iya sih.. tetapi Mas jangan marah ya.. Lina sering bayangin kita main bertiga dengan Winda.. Mas rela nggak..?”

Kaget termasuk kau mendengar permintaan Lina ini. Jujur saja aku termasuk sering berfantasi mengayalkan alangkah nikmatnya bercinta dengan Winda dan Lina sekaligus.
Tapi pasti saja aku tak dulu berani ngomong dengan Winda. Bisa pecah Perang Dunia III.. lagipula itu kan cuma fantasi liar saja.

Mau sih Lin.. tetapi kan nggak mungkin.. Winda pasti marah besar..”
“Iya ya.. Winda kan orangnya agak alim..”

Beberapa sementara kita tetap berbincang hal-hal demikianlah sampai kira-kira 10 menit.
Hingga beberapa sementara kemudian dengan malas kita ke kamar mandi untuk bersihkan diri.

Di kamar mandi kita saling menyabuni dan saling bersihkan tubuh kami.
Aku menjadi semakin mengagumi tubuh Lina. Tak tersedia segumpal lemakpun di tubuhnya dan semuanya padat berisi.

Setelah mengeringkan diri kita kembali ke atas ranjang dan berpelukan mesra.
Sambil saling berciuman aku terasa menggerayangi tubuh molek Lina..
Tak bosan-bosannya aku meremas dan mengusap buah dadanya yang benar-benar segar itu.

Perlahan aku terasa menghujani leher dan pundak Lina dengan ciumanku. Tak sampai di situ saja.. mulutku terasa aku arahkan ke dada Lina.
Buah dadanya yang tegak terasa aku cium dan aku gigit-gigit lembut.

Lina benar-benar menyukai apa yang aku lakukan. “Ahhhh.. iya Mas.. di situ Mas.. ahhhhh Lina terangsang Mas..”
Lidahku menjilati puting susunya yang mungil dan keras itu.

Lina semakin menggelinjang. Tangannya menyusup ke bawah ke selangkanganku. Dipegangnya batang kemaluanku yang masih agak lemas.
Dia permainkan penisku dengan jari-jarinya yang lentik. Mau tak rela burungku terasa hidup kembali. Lina dengan lembut mengocok tongkat kelelakianku penuh perasaan.

Sambil masih mengulum putingnya.. tangan kananku kembali bergerilya di tempat kemaluan Lina.
Jariku aku rapatkan dan aku tekan bukit kemaluan Lina sembari aku gerakkan memutar.
Dia termasuk menimpali dengan menggoyangkan pantatnya dengan gerakan memutar yang seirama.

“Mas.. aaahhhh Mas.. sedap Mas.. ahhh terus.. iya..” Sambil mendesah dia menarik pantatku mendekat ke kepalanya.
Akhirnya aku terpaksa membebaskan isapanku di putingnya dan duduk berlutut di sisinya.

Lina tetap menekan pantatku sampai kelanjutannya mulutnya capai batang kemaluanku yang telah tegak menantang.
Tangan kiriku aku menempatkan di belakang kepalanya untuk menyangga kepalanya yang agak terangkat. Penisku kembali dia kulum dan jilati.

“Oooh Lin.. sedap Lin.. aku senang Lin..” Aku pun menjalankan pantatku maju-mundur.

Lina mengakses lebar mulutnya dan menjulurkan lidahnya.. sehingga batang penisku meluncur masuk terlihat mulutnya tergesek-gesek lidahnya.
Sungguh luar biasa apa yang aku rasakan sementara itu.

Sementara itu tangan kananku tetap menekan dan memutar bukit vagina Lina.
Kadang jariku aku selipkan ke celah sempit di pada ke dua bukit itu dan mengusap klitoris Lina.

“Ahhh Mas.. Lina nggak tahan Mas.. ahhhhh.. iya.. aaahhhh..”

Aku langsung mengubah posisi. Kedua tangan Lina aku menempatkan di belakang lututnya dan mengakses ke dua lututnya.
Kuangkat pahanya.. sehingga liang vaginanya menganga menghadap ke atas. Lina menahan dengan ke dua tangan di belakang lututnya.
Aku duduk bersimpuh di hadapan lubang kemaluan Lina. Penisku aku arahkan ke lubang yang telah menganga itu.
Clebb..! Kutusukkan kepala penisku ke mulut lubang dan aku tahan di sana.
Kemudian.. srtt.. srtt.. dengan tangan kananku aku gerakkan penisku memutari mulut liang senggama Lina.

“Maassss.. ahhhhh.. nggak tahan.. ayo.. ahhhhhh..” rintihnya erotis..

Sengaja aku tidak rela benar-benar cepat menusukkan batang kejantananku ke gua kenikmatan Lina.
Perlahan kugesek-gesekkan kepala penisku ke klitoris Lina. Akibatnya dia semakin menggelinjang menahan nikmat.

Tak lama.. akhirnya.. srrr.. srrr.. srrr.. tanggul Lina bobol juga. Tak heran.. dengan gosokan jari saja dia tadi dapat capai orgasme.. bahkan ini dengan kepala penisku.. pasti rangsangannya lebih dahsyat.

“Aaahhh.. ahhhh.. Masss..” Rintihan itu sekaligus menandai melelehnya cairan bening berasal dari liang vaginanya.
Lina kembali mengalami puncak orgasme cuma dengan gosokan di klitorisnya.

Blessepp..! Kali ini aku masukkan batang penisku semuanya ke dalam gua kenikmatannya.
Lantas aku berbaring telungkup di atas tubuh molek Lina sambil menumpukan berat badanku di ke dua sikuku.

Kucium lembut mulutnya yang masih terbuka sedikit. Lina membalas ciumanku dan mengulum bibirku.
Aku biarkan senjataku terbenam dalam lendir kehangatannya.

Di telinganya aku bisikkan.. “Lin.. nikmat ya..”
“Oh Mas.. Lina sampai nggak tahan.. nikmat Mas..” sahutnya mendesiskan nikmat.

Selanjutnya dengan perlahan dan gerakan yang benar-benar lembut aku terasa memompa batang penisku ke dalam liang senggama Lina yang kini telah basah kuyup.
Aku menyadari Lina pasti dapat orgasme lagi.. dan kali ini aku idamkan merasakan semburan lumpur panas di batang kemaluanku.

“Ayo Lin.. menikmati lagi.. jangan ditahan.. aku dapat pelan-pelan..” bisikku mesra.. memancing gairahnya kembali bangkit.
“Ahhhh.. iya Mas.. Lina pengin lagi.. ahhhhh..” balasnya disertai lenguhan dan erangan nikmat.

Masih dengan benar-benar pelan aku pompa tetap tongkat kelakianku ke liang vagina Lina yang ternyata masih sempit untuk ukuran wanita yang telah menikah 2 tahun.
Buah dada Lina yang menyembul tegak menggesek-gesek dadaku ketika aku turun-naik. Sungguh sensasi yang luar biasa. Sengaja aku gesekkan dadaku ke payudaranya.

“Aahh.. aahh.. aahhh.. ahhhhhhh.. iya.. ahhhhh.. Lina terangsang kembali Mas.. iyahh.. hhh..”

Kali ini aku pompa sedikit lebih kuat dan cepat. Lina menanggapinya dengan memutar pantatnya.. sehingga penisku rasanya layaknya diperas-peras dalam liang vaginanya.

Gerakan Lina semakin liar.. Tangannya telah tidak kembali menahan lutut tetapi memegang pantatku dan menekannya dengan keras ke tubuhnya.

“Aaaaahhhhhh.. Mas.. aaaahhhhhhh..!”

Maka semakin kencang dan dalam kupompa pantatku menggasak.. menggesekkan batang penisku di liang nikmat perempuan cantik yang tengah megap-megap di bawah tindihan tubuhku ini.

Terlihat mata Lina telah terpejam rapat.. kepalanya menggeleng-geleng liar ke kiri ke kanan.. layaknya yang dia jalankan di sofa tadi.

Gerakannya semakin ganas dan.. “Aahhhh..!!” Dia melenguh panjang sambil menegangkan semua otot di tubuhnya.

Lalu.. Jleghh..!! Kutekan sedalam-dalamnya penisku ke lubang senggamanya.

Serr.. serr.. serr..! Jelas kurasakan aliran hangat di sekujur batang kemaluanku.

Tubuh Lina masih terbujur kaku di bawah tindihanku. Kuhentikan sejenak semua gerakanku sambil tetap menekan liang vaginanya dengan penisku.
Beberapa sementara sepertinya sementara terhenti. Tidak tersedia suara.. tidak tersedia gerakan berasal dari kita berdua.
Aku memberi peluang kepada Lina untuk menikmati klimaks yang barusan dia dapatkan.

Beberapa sementara berselang ketegangan tubuh Lina terasa mengendur.
Tangannya membelai lembut kepalaku. Bibirnya melacak bibirku untuk dihadiahi ciuman yang benar-benar lembut dan panjang.

“Mas.. Lina sungguh nikmat.. Mas Ben jago deh.. Mas belum terlihat ya..?” Tanyanya mirip bisikan.
“Jangan peduli aku Lin.. yang mutlak Lina dapat menikmati kepuasan..” balasku pula.

Setelah kurasa ketegangan tubuhnya telah mengendur.. kemudian dengan lambat aku terasa memompa penisku di liang vaginanya lagi.

Auhhh.. Betapa kurasakan liang senggama Lina terasa benar-benar licin dan agak sedikit longgar.
Selama beberapa sementara aku tetap memompa lambat-lambat.. lalu semakin kutambah.. kecepatan sedang..

“Aaaahhhhhh.. iya.. iya.. Mas.. Lina rela lagi.. iya.. ahhhh..”

Lina kembali memutar pantatnya mengiringi irama pompaanku. Dia terasa mendesah-desah penuh kenikmatan.

Plopp..! Kucabut batang kemaluanku berasal dari vagina Lina. Lantas aku berbaring telentang di sebelahnya.

“Kamu di atas Lin..” ujarku memberi arahan. Lina langsung berjongkok di atas selangkanganku..

Aku arahkan kepala penisku ke lubangnya. Lina kemudian duduk di atas tubuhku dan bertumpu terhadap ke dua lututnya.

Slebb.. Jlebb..! “Nghhh.. masshhh..” rintihnya penuh nikmat ketika batang penisku kembali menelusup.. membelah bibir kemaluannya.

Tak lama kemudian pantatnya terasa bergerak maju-mundur.
“Ayo Lin.. kamu saat ini yang atur.. ohhh iya nikmat Lin..” erangku tak kalah nikmat akibat gesekan padat batang penisku di belahan vaginanya.

Lina semakin bersemangat memaju-mundurkan pantatnya. Kedua payudaranya berguncang indah di hadapanku.
Secara refleks ke dua tanganku meremas bukit daging yang mulus itu.

Tangan Lina dia menempatkan di belakang pantatnya.. sehingga tubuhnya agak meliuk ke belakang mengakibatkan dadanya semakin membusung

“Ohhh Lin.. susumu seksi sekali.. tetap Lin.. ohhhh.. lebih keras Lin..” kataku memberi semangat.
“Aaaaahhhh Mas.. Lina telah rela sampai lagi.. ahhhhh ahhhhhh Mas..” balasnya kian ramai.

“Ayo Lin.. tetap Lin.. cepat.. ohhhhh iya.. iya Lin.. memekmu sedap sekali..”
“Mas.. ahhhh.. Lina nggak tahan.. puasi Lina kembali mas.. ahhhh..”

Gerakan pantat Lina semakin cepat dan semakin cepat. Sementara itu aku pun terasa nikmat ketika penisku tergesek-gesek dinding vagina Lina yang sempit dan licin itu.

Dengan sekuat tenaga aku coba menahan sehingga aku tidak ejakulasi. Pertahananku semakin rapuh.

“Lin.. oooohhhh Lin.. aku nggak tahan.. ohhh Lin.. enak.. enak..”

“Ahhhh.. ayo.. Mas.. Lina termasuk telah nggak tahan.. saat ini mas.. ahhh sekarang..!”

Tepat terhadap detik itu bendunganku ambrol.. tak dapat menahan terjangan spermaku yang menyemprot kuat.

“Oooooooohhhhhhh Lin..!” Crotts.. crotts crotts..!
Pejuhku muncrat di dalam liang nikmatnya yang termasuk tengah berdenyut-denyut.. seolah idamkan menyedot cairah hangat yang membanjirinya.

“Aaahhhhhh Mas.. ahhhhhhhhhhh..!!” Pekiknya membebaskan nikmat entah untuk keberapakalinya malam ini.

Oughh.. Kami capai puncak kenikmatan bersama-sama.
Penisku yang terbenam di liang vaginanya terasa hangat .. dan aku yakin Lina termasuk merasakan hal yang mirip di dalam vaginanya.

Lina masih duduk di atas tubuhku.. tetapi telah badannya terkaku.. tak bergerak.
Vaginanya dia hujamkan terhenyak dalam.. melahap semua batang kemaluanku di kerapatannya.

“Oooohhh Lin.. nikmat sekali.. makasih Lin.. kamu pinter mengakibatkan aku puas..” ujarku memujinya.

Kugapai tubuh Lina dan kutarik menelungkup di atas tubuhku. Buah dadanya yang masih keras menekan dadaku.
Aku ciumin semua wajahnya yang terasa ditetesi keringat.
“Mas.. ahhhhh.. Lina sungguh senang Mas..” balasnya mirip erangan dan bisikan mesra.

Kemudian kita berbaring sambil berpelukan. Tubuh kita terasa terasa penat.. tetapi bathin kita benar-benar puas.

Hari telah beranjak malam. Diselingi makan malam berdua.. kita memadu kasih beberapakali lagi.
Atau lebih tepatnya Lina mengalami orgasme beberapakali lagi.. namun aku cuma sekali kembali ejakulasi..
Segala gaya kita coba.. bahkan aku sempat ‘membimbing’ Lina untuk memuaskan dirinya sendiri dengan jari-jarinya yang lentik itu.

Aku sungguh-sungguh senang dan senang dapat mengakibatkan wanita secantik Lina dapat capai sekiankali orgasme.
Tak terasa jarum jam tetap berpindah dan jam 1/2 sebelas malam aku meninggalkan rumah Lina.

Sebetulnya Lina meminta aku dapat bermalam menemani dia.. tetapi aku ingat keesokan harinya aku masih harus menyetir lebih berasal dari 4 jam ke kota M menyusul istri dan anakku tercinta.

Maaf Winda.. aku telah mereguk madu kepuasan dengan sahabatmu.. Alina.