Malam Jumat Dengan Istri Orang // Part 1

RAKSASAPOKER Dengan Istri Orang – Kejadiannya saat aku sudah berkeluarga dan sudah memiliki 1 orang anak usia ±2 tahun..

MAINRAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
 usiaku pas itu 30 tahun. Kami baru tukar ke sebuah kompleks perumahan di kota S yang tetap terlampau baru. Belum banyak penghuni yang menempatinya..

BANDAR DOMINO99 | AGEN BANDARQ | AGEN POKER | DOMINO ONLINE | AGEN DOMINO

malahan di gang rumahku –yang terdiri berasal dari 12 rumah..– baru 2 rumah yang ditempati.. yaitu rumahku dan rumah Pras.


Pras termasuk sudah beristri.. namanya Alina.. namun biasa dipanggil Lina. Mereka belum memiliki anak samasekali sudah menikah lebih berasal dari 2 tahun. Rumah Pras hanya berjarak 2 rumah berasal dari rumahku. Nah.. gara-gara tidak tersedia tetangga yang lain.. kita jadi cepat sekali akrab. Aku dan Pras jadi seperti kawan dekat lama.. kebetulan kita seumuran dan hobi kita sama.. catur.

Lina.. yang berumur 26 tahun.. termasuk terlampau dekat bersama istriku.. Winda. Mereka hampir tiap hari saling curhat mengenai apa saja dan soal seks termasuk kerap mereka perbincangkan. Biasa mereka berbincang di beranda depan rumahku jikalau sore sambil Winda menyuapi Aria.. anak kami.

Mereka serupa sekali tidak jelas jikalau aku kerap ‘menguping rumpian’ mereka berasal dari kamarku. Aku jadi banyak jelas mengenai kehidupan seks Lina dan suaminya. Intinya Lina ‘kurang happy’ soal urusan ranjang ini bersama Pras. Bukannya Pras tersedia kelainan.. namun dia senangnya tembak langsung tanpa pemanasan dahulu.. terlampau konservatif tanpa variasi dan terlampau egois. Begitu sudah ejakulasi ya sudah.. dia tidak acuhkan bersama istrinya lagi. Sehingga Lina terlampau jarang meraih kepuasan bersama Pras.

Sebaliknya istriku cerita ke Lina jikalau dia terlampau ‘happy’ bersama kehidupan seksnya. Dan memang.. samasekali aku bukan termasuk ‘pejantan tangguh’.. namun aku hampir selamanya bisa memberikan kepuasan kepada istriku. Mereka saling sharing cerita dan kadang terlampau mendetail malah.

Sering Lina secara terbuka menyatakan iri pada istriku dan hanya ditanggapi bersama tawa terkekeh-kekeh oleh Winda. Wajah Lina lumayan cantik.. samasekali tidak secantik istriku memang.. namun bodinya sungguh sempurna.. padat berisi. Kulitnya yang putih termasuk terlampau mulus. Dan di dalam memakai pakaian Lina termasuk wanita ‘yang berani’ samasekali tetap di dalam batas-batas kesopanan.

Sering aku secara tak jelas menelan ludah mengagumi tubuh Lina.. di luar jelas istriku tentu saja. Sayang sekali tubuh yang demikian mengundang selera jarang mendapat siraman kepuasan seksual.. kerap aku beranggap kotor begitu.
Tapi semuanya tetap bisa aku tangkal bersama akal sehatku.

Jum’at petang itu kebetulan aku sendirian di rumah. Winda dan Aria tentu saja.. paginya pulang ke rumah orangtuanya di M.. gara-gara hari Minggunya adik bungsunya menikah. Rencananya Sabtu pagi aku bakal menyusul ke M.

Kesepian di rumah sendirian.. setelah mandi aku melangkahkan kaki ke rumah Pras. Maksud hati idamkan mengajak dia main catur.. seperti yang kerap kita laksanakan jikalau tidak tersedia kegiatan. Rumah Pras sepi-sepi saja. Aku hampir mengurungkan niatku untuk mengetuk pintu.. gara-gara aku pikir mereka sedang pergi.

Tapi lamat-lamat aku dengar tersedia nada TV. Kuketuk pintu sambil memanggil.. “Pras.. Pras..!!” Beberapa pas lantas terdengar bunyi gerendel dan pintu terbuka. Splass..! Aku sempat termangu sepersekian detik.
Di depanku berdiri sesosok perempuan cantik tanpa make-up bersama rambut yang tetap basah tergerai sebahu.
Dia mengenakan daster batik mini warna hijau tua bersama belahan dada rendah.. tanpa lengan yang memerlihatkan pundak dan lengan yang putih dan terlampau mulus.

“Eh.. Mas Benny. Masuk Mas..” Sapaan ramah Lina menyadarkan aku bahwa yang membukakan pintu adalah Lina.

Sungguh aku belum dulu lihat Lina secantik ini. Biasanya rambutnya selamanya diikat bersama kuncir rambut.. tak dulu dibiarkan tergerai seperti ini.

“Nnng.. Pras mana Lin..?”
“Wah, Mas Pras luar kota Mas..”
“Tumben Lin dia tugas luar kota. Kapan pulang..?”
“Iya Mas.. kebetulan tersedia acara promosi di Y.. jadi dia wajib ikut.. hingga Minggu baru pulang. Mas Benny tersedia wajib ama Mas Pras..?”
“Enggak kok.. sebatas pengin ngajak catur aja. Lagi kesepian nih.. Winda ama Aria ke M..”
“Wah kalo sebatas main catur ama Lina aja Mas..”

Sebetulnya pas itu aku sudah idamkan menolak dan balik kanan pulang ke rumah. Tapi entah bisikan darimana yang memicu aku berani mengatakan.. “Emang Lina bisa catur..?”

“Eit.. jangan menghina Mas.. biar Lina cewek, belum tentu kalah lho ama Mas..” kata Lina sambil tersenyum yang meningkatkan manis wajahnya.
“Ya bolehlah.. aku pengin menjajal Lina..” kataku bersama nada agak nakal.
Lagi-lagi Lina tersenyum menjawab godaanku.

Dia terhubung pintu lebih lebar dan mempersilakan aku duduk di kursi tamu.
“Sebentar ya Mas.. Lina ambil minuman. Mas susun dulu caturnya..”

Lina melenggang ke ruang tengah. Aku tambah leluasa memperhatikannya berasal dari belakang. Kain daster yang longgar itu ternyata tak bisa menyembunyikan lekuk tubuh Lina yang begitu padat. Goyangan ke dua puncak pantatnya yang berisi terlihat jelas saat Lina melangkah.

Mataku terus melekat hingga Lina menghilang di pintu dapur. Buru-buru aku ambil catur berasal dari rak pajangan dan aku susun di atas meja tamu. Pas saat aku selesai menyusun biji catur.. Lina melangkah sambil mempunyai baki yang berisi 2 cangkir teh dan sepiring kacang goreng kegemaran aku dan Pras jikalau lagi main catur.

Ketika Lina membungkuk letakkan baki di meja.. senang tak senang belahan dada dasternya terbuka dan menyingkap dua bukit payudara yang putih dan terlampau padat. Serr.. Seketika darahku berdesir kencang.. ternyata Lina tidak memakai bra..!

Tampaknya Lina tak jelas jikalau sudah ‘menraktir’ aku bersama panorama yang mengundang selera itu. Dengan wajar dia duduk di kursi sofa di seberang meja.

“Siapa jalan duluan Mas..?”
“Lina kan putih.. ya jalan duluan dong..” kataku sambil tetap berdebar-debar.

Beberapa pas kita terasa asik mobilisasi buah catur. Ternyata sebenarnya benar.. Lina lumayan menguasai permaian ini. Beberapakali langkah Lina memicu aku wajib berpikir keras. Lina pun tampakya kerepotan bersama langkah-langkahku. Beberapakali dia terlihat memutar otak. Tanpa jelas kadang kala dia membungkuk di atas meja yang rendah itu bersama ke dua tangannya Bersandar di pinggir meja.

Posisi ini tentu saja memicu belahan dasternya terbuka lebar.. dan ke dua payudaranya yang aduhai itu jadi santapan empuk ke dua mataku. Byarrr..!! Konsentrasiku terasa buyar. Satu-duakali di dalam posisi seperti itu Lina mengerling kepadaku dan memergoki aku sedang nikmati buah dadanya.

Entah sebenarnya dia begitu tenggelam di dalam berpikir atau sebenarnya sengaja.. dia serupa sekali tidak mencoba menutup dasternya bersama tangannya.. seperti seperti reaksi seorang wanita di dalam situasi ini. Aku tambah berani menjelajah lebih kurang wilayah dadanya bersama sapuan pandanganku Aku nyata-nyata terpesona.. supaya permainan caturku jadi kacau dan bersama gampang ditaklukkan oleh Lina.

“Cckk.. cckk.. cckk.. Lina sebenarnya hebat.. aku ngaku kalah deh..”
“Ah basic Mas aja yang ngalah dan nggak nyata-nyata mainnya. Konsentrasi dong Mas..” jawab Lina sambil tersenyum menggoda.
“Ayo main lagi.. Lina belum senang nih..” Ada sedikit nada genit di nada Lina.

Kami main lagi.. namun kali ini aku mencoba lebih konsentrasi. Permainan berjalan lebih seru.. supaya suatu pas saat sedang berpikir.. tanpa sengaja tanganku menjatuhkan biji catur yang sudah ‘mati’ ke lantai.

Dengan mata tetap menatap papan catur aku mencoba menyita biji catur tersebut berasal dari lantai bersama tangan kananku. Rupa-rupanya Lina termasuk laksanakan hal yang sama.. supaya tanpa sengaja tangan kita saling bersenggolan di lantai.

Entah siapa yang memulainya.. namun kita saling meremas lembut jari tangan di segi meja sambil tetap duduk di kursi masing-masing. Aku lihat ke arah Lina.. dia tetap di dalam posisi duduk membungkuk namun matanya terpejam. Jari-jari tangan kirinya tetap terus meremas jari tangan kananku.

Aku menjulurkan kepalaku dan mencium dahi Lina bersama terlampau mesra.
Dia sedikit terperanjat bersama ‘langkahku’ ini.. namun hanya sepersekian detik saja.
Matanya tetap memejam dan bibirnya yang padat sedikit terbuka dan melenguh pelan.. “Ooohhh..”

Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku kulum lembut bibir Lina bersama bibirku.. dia menyambutnya bersama mengulum balik bibirku sambil tangan kanannya melingkar di belakang leherku.

Kami saling berciuman bersama posisi duduk berseberangan dibatasi oleh meja.
Kulumam bibir Lina ke bibirku beubah jadi lumatan. Bibirku disedot pelan dan lidahnya terasa menyeberang ke mulutku.
Aku pun menyambutnya bersama permainan lidahku.

Merasa tidak nyaman di dalam posisi ini.. bersama terlampau terpaksa aku lepaskan ciuman Lina.
Aku lantas bangkit berdiri.. berjalan melingkari meja dan duduk di segi kiri Lina.

Belum sedetik aku duduk Lina sudah memeluk aku dan bibirnya yang terlihat jadi lebih sensual lagi melumat ke dua bibirku.
Lidahnya terus menjelajah semua mengisi mulutku sepanjang yang bisa dia lakukan.

Aku pun tak senang kalah bereaksi. Harus aku akui bahwa aku belum dulu berciuman begini ‘hot’.. lebih-lebih bersama istriku sekalipun.
Rasanya seumur hidup kita berciuman begini.. hingga selanjutnya Lina agak mengendurkan ‘serangannya’.

Kesempatan itu aku memakai untuk merubah arah seranganku. Aku ciumi segi kiri leher Lina yang putih jenjang merangsang itu.
Rintih kegelian yang keluar berasal dari mulut Lina dan aroma sabun yang harum tambah memompa semangatku.

Ciumanku aku rubah ke belakang telinga Lina.. sambil sesekali menggigit lembut cuping telinganya.
Lina tambah menggelinjang penuh kegelian bercampur kenikmatan.

“Aaaahhhh.. aaaahhhhh..” Rintihan pelan yang keluar berasal dari mulut Lina yang terbuka lebar seakan musik nan merdu di telingaku.

Lengan kananku lantas aku rangkulkan ke leher Lina. Tangan kananku terasa menelusup di balik dasternya dan merayap pelan.. menuju puncak buah dada Lina yang sebelah kanan.

Wow.. payudara Lina.. yang sedari tadi aku nikmati bersama sapuan mataku.. ternyata terlampau padat. Bentuknya sempurna.. ukurannya lumayan besar gara-gara tanganku tak bisa mengangkup seluruhnya.

Jari-jariku terasa menari di lebih kurang puting susu Lina yang sudah tegak menantang.
Dengan ibu jari dan telunjukku kupelintir lembut puting yang mungil itu.
Lina lagi menggelinjang kegelian.. namun tanpa reaksi penolakan sedikitpun.

Dia menolehkan wajahnya ke kiri.. bersama mata yang tetap terpejam dia melumat bibirku.
Kami lagi berciuman bersama panasnya sambil tanganku terus bergerilya di payudara kanannya.
Reaksi kenikmatan Lina dia salurkan melalui ciuman yang tambah ganas dan sesekali gigitan lembut di bibirku. DAFTAR ID PRO PKV


Tangan kiriku aku gerakkan ke paha kiri Lina. Srengg.. Darahku tambah mengalir deras saat aku rasakan kelembutan kulit paha mulus Lina.
Lambat namun pasti.. usapan tanganku aku arahkan tambah ke atas mendekati pangkal pahanya.

Ketika jariku terasa menyentuh celana di dalam Lina di lebih kurang bukit kemaluannya.. aku menghentikan gerakanku.
Tangan kiriku aku lagi turunkan.. aku usap lembut pahanya terasa berasal dari atas lutut.

Gerakan ini aku lagi beberapakali sambil tangan kananku tetap memelintir puting kanan Lina dan mulut kita tetap saling berpagutan.
Ciuman Lina tambah mengganas.. menandakan dia mengharapkan lebih berasal dari gerakan tangan kiriku.

BANDAR POKER

Aku pun terasa meraba bukit kemaluannya yang tetap terbalut celana di dalam itu.
Entah hanya perasaanku atau sebenarnya demikian.. aku rasakan denyut lembut berasal dari alat kemaluan Lina.

Dengan jari sedang tangan kiriku.. kutekan pelan pas di sedang bukit nan empuk itu. Jdudd..!
Denyutan itu tambah terasa. Aku termasuk rasakan kehangatan di sana.

“Aaahh.. Mas Ben.. aahhh.. iya.. iya..” Lina melenguh sambil sedikit meronta dan ke dua tangannya menyingkap daster mininya dan juga turunkan celana dalamnya hingga ke lututnya.

Serta merta mataku bisa menatap leluasa kemaluan Lina.
Bukitnya menyembul indah.. bulu-bulunya lumayan tebal samasekali tidak panjang.. bergerombol hanya di anggota atas.
Di pada ke dua gundukan daging mulus itu keluar celah sempit yang kentara sekali berwarna merah kecoklatan.

Sedetik dua detik aku sempat terpana bersama panorama indah yang terhampar di depan mataku ini.

Kemudian jari-jari tangan kiriku terasa membelai semak-semak yang terasa terlampau lembut itu.
Betul-betul lembut bulu-bulu Lina.. aku tak dulu mambayangkan tersedia bulu pubis selembut ini.. hampir selembut rambut bayi.

Lina mereaksi belaianku bersama menciumi leher dan telinga kananku. Kedua tangannya tambah erat memeluk tubuhku.
Tangan kananku daritadi tak berhenti meremas-remas buah dada Lina yang terlampau berisi itu.

Jari-jariku terasa mengusap lembut bukit kemaluan Lina yang terlampau halus dan lembut.
Perlahan aku sisipkan jari sedang kiriku di celah sempit itu. Aku rasakan sedikit lembab dan agak berlendir.

Jemari tanganku menyusup lebih di dalam lagi.. hingga kutemukan klitoris Lina yang terlampau mungil bersama ujung jariku.
Srett.. Dengan gerakan memutar lembut kuusap benda kecil yang nikmat itu.

“Ahhhh.. iya.. Mas.. Ben.. ahhhh.. ahhhh..” rintihnya akibat ‘ulah nakal’ jemariku di benda peka tubuhnya.

Jari tengahku aku tekan sedikit lebih kuat ke klitoris Lina.. sambil aku gosokkan naik-turun.
Lina meresponsnya bersama terhubung lebar ke dua pahanya.. namun gerakannya terhambat celana di dalam yang tetap bertengger di ke dua lututnya.

Sejenak aku hentikan gosokan jariku.. aku memakai tangan kiriku untuk turunkan benda yang menghambat gerakan Lina itu.
Lina mendukung bersama mengangkat kaki kirinya.. supaya celana dalamnya lepas berasal dari kaki kirinya.

Sekarang benda itu hanya menggantung di lutut kanan Lina dan gerakan Lina sudah tak terhambat lagi.
Dengan leluasa Lina terhubung lebar ke dua pahanya.

Dari sudut pandang yang terlampau sempit aku tetap bisa mengintip bibir kemaluan Lina yang begitu tebal merangsang.. hampir serupa tebal dan sensualnya bersama bibir atas Lina yang tetap menciumi leherku.

Jariku sekarang tambah leluasa menjelajah semua kemaluan Lina yang sudah terlampau licin berlendir.
Penuh perasaan kugosok-gosok klitoris Lina bersama lebih kuat.. sambil sesekali mengusap ujung liang kenikmatannya dan aku gesek ke atas ke arah klitorisnya.

Aku tau ini anggota yang terlampau peka berasal dari tubuh wanita.. tak jikalau wanita molek yang di sampingku ini.
Lina menggelinjang tambah hebat. “Aaaaaahhhhh.. Mas.. Mas.. ahhhhh.. terus.. ahhhhh..” pintanya sambil merintih.

Intensitas gosokanku tambah aku tingkatkan. Aku terasa mengorek anggota luar lubang senggama Lina.

“Iya.. ahhh.. iya.. Mas.. Mas.. Mas Ben..” Lina sudah lupa apa yang wajib dia lakukan.

BANDAR DOMINO QQ

Dia hanya tergolek bersandar di sofa yang empuk itu. Kepalanya terdongak ke belakang.. matanya tertutup rapat.
Mulutnya terbuka lebar sambil tak henti mengeluarkan erangan penuh kenikmatan.
Tangannya terkulai lemas di samping tubuhnya.. tak lagi memelukku.

Tangan kananku pun sudah berhenti ‘bekerja..’ gara-gara aku wajib merangkul erat Lina supaya dia tidak melorot ke bawah.
Daster Lina sudah terbuka hingga ke perutnya.. menyingkap kulit yang terlampau putih mulus tak bercacat.
Sementara celana di dalam Lina tetap menggantung di lutut kanannya. Pahanya kini sudah mengangkang maksimal.

Jariku tetap menari-nari di semua anggota luar kemaluan perempuan cantik yang tambah aku pandang tambah indah ini.
Sengaja aku belum menyentuhi anggota di dalam liang surganya tersebut.

Eksesnya.. Lina bereaksi kian ‘histeris’ .. sekarang kepalanya menggeleng-geleng kiri-kanan bersama liarnya.
Rambut basahnya yang sudah terasa kering tergerai acak-acakan.. tambah meningkatkan keayuan muka Lina.

“Mas.. Mas.. ahhhhh.. enak.. ahhhh nggak tahaaann.. ahhhh..”

Hmm.. Lina sudah hampir meraih puncak kenikmatan birahinya. Pikirku menganalisis.

Maka lantas bersama lembut aku terasa tusukkan jari tengahku ke di dalam lubang vaginanya yang kini sudah terlampau basah.
Kusorongkan hingga semua jariku tertelan liang nikmat Lina yang terasa lumayan sempit menjepit jariku.

Slebb.. kutarik perlahan sambil sedikit aku bengkokkan ke atas.. supaya ujung jariku menggesek lembut dinding atas vagina Lina.

Gerakan ini aku laksanakan berulangkali.. masuk lurus keluar bengkok.. masuk lurus keluar bengkok.. begitu seterusnya.
Hingga.. tak hingga 10 kali gerakan ini.. tiba-tiba Tubuh Lina jadi kaku..
Kedua tangannnya mencengkeram erat pinggiran sofa. Kepalanya tambah mendongak ke belakang. Mulutnya terbuka lebar.

Gerakanku aku percepat dan aku tekan lebih di dalam lagi. “Aaahhhhh..” Lina melenguh di dalam satu tarikan nafas yang panjang. Tubuhnya sedikit menggigil.

Aku bisa merasakan jari tanganku tambah terjepit kontraksi otot vagina Lina.. dan bersamaan bersama itu.. Srrrr.. srrr.. srrr.. kurasakan kehangatan cairan yang menyiram jariku di lorong liang nikmatnya bersamaan bersama kedutan-kedutan dinding kemaluan perempuan cantik istri tetanggaku ini. Hehe.. Lina sudah meraih orgasmenya.

Namun demikian aku tidak menghentikan gerakan jariku.. hanya sedikit mengurangi kecepatannya.
Tubuh Lina tetap menggigil dan menegang. Mulutnya terbuka namun tak tersedia nada yang keluar sepatahpun.. hanya embusan nafas kuat dan pendek-pendek yang dia keluarkan melalui mulutnya.

Kondisi demikian berjalan sepanjang sebagian saat.

Selang sebagian pas lantas tubuh Lina berangsur melemas.. aku pun memperlambat gerakan jariku hingga selanjutnya bersama terlampau perlahan kucabut berasal dari liang kenikmatan Lina.
Kulihat mata Lina tetap terpejam rapat.. bibirnya tetap sedikit ternganga.

Dengan lembut dan pelan aku dekatkan bibirku ke mulut Lina. Kucium mesra bibirnya yang terlampau sensual itu.
Lina pun menyongsong bersama tak kalah mesranya. Kami berciuman bak sepasang kekasih yang saling jatuh cinta.
Agak berbeda bersama ciuman yang menggelora seperti sebelumnya.

“Nikmat Lin..?” Dengan lembut aku berbisik di telinga Lina.
“Mas Ben.. ah.. Lina belum dulu merasakan kenikmatan seperti tadi.. sungguh Mas. Mas Ben terlampau pinter.. Makasih Mas.. Winda sungguh untungkan memiliki suami Mas..”

“Aku yang untungkan Lin.. bisa memberi kepuasan kepada wanita secantik dan semulus kamu..”
“Ah Mas Ben bisa aja.. Lina jadi malu..” ujarnya tersipu.

Seluruh kejadian tadi samasekali terasa terlampau lama.. namun aku jelas sebenarnya tak lebih berasal dari 5 menit.
Oh.. ternyata Lina wanita yang cepat meraih orgasme.. asal jelas bagaimana caranya.
Sungguh tolol dan egois Pras jikalau hingga tidak bisa memuaskan istrinya ini. Pikirku di dalam hati.

Lina lantas jelas bakal kondisinya pas itu.
Dasternya awut-awutan.. kemaluannya tetap terbuka lebar dan celana dalamnya tersangkut di lututnya.
Dia langsung duduk tegak.. turunkan dasternya.. supaya menutup pangkal pahanya.
Gerakan yang sia-sia sebetulnya.. gara-gara aku sudah lihat segalanya. Akhirnya dia bangkit berdiri.

“Lina senang cuci dulu Mas..”
“Aku turut dong Lin.. ntar aku cuciin..” aku menggodanya.

“Ihhh Mas Ben genit..” Sambil bicara demikian dia menggamit tanganku dan menarikku ke kamarnya.
Aku tau tersedia kamar mandi kecil di sana.. serupa sama seperti rumahku.

Sampai di kamar Lina aku berkata.. “Aku copot pakaianku dulu ya Lin.. biar nggak basah..”
Lina tidak bicara apa-apa.. namun mendekati aku dan mendukung melewatkan kancing celanaku pas aku melewatkan kaosku.
Aku lepaskan termasuk celanaku dan aku hanya memakai celana di dalam saja.

Lina melirik ke arah celana dalamku.. atau lebih tepatnya ke arah benjolan berbentuk batang yang tersedia di balik celana dalamku.

Aku maju selangkah dan mengangkat ujung bawah daster Lina hingga ke atas dan Lina mengangkat ke dua tangannya.. supaya dasternya gampang terlepas.
Baru sekarang aku bisa lihat bersama jelas tubuh mulus Lina.
Sungguh tubuh wanita yang sempurna.. semuanya begitu indah dan proporsional.. jauh melampaui khayalanku sebelumnya.

Payudara yang berasal dari tadi hanya aku intip dan raba sekarang terpampang bersama jelas di hadapanku. Bentuknya bundar kencang.. lumayan besar.. namun tetap seimbang bersama ukuran tubuh Lina yang seksi itu.

Puting susunya terlampau kecil kalau dibanding ukuran bukit buah dadanya sendiri.
Warna putingnya coklat agak tua.. sungguh kontras bersama warna kulit Lina yang begitu putih.
Perut Lina sungguh kecil dan rata.. tak terlihat sedikitpun timbunan lemak di sana.

Pinggulnya sungguh indah dan pantatnya terlampau seksi.. padat dan terlampau mulus.
Pahanya terlampau mulus dan padat.. betisnya tidak terlampau besar dan pergelangan kakinya terlampau kecil.

Rupa-rupa Lina jelas jikalau aku sedang mengagumi tubuhnya.
Dengan agak malu-malu di berkata.. “Mas curang.. Lina sudah telanjang namun Mas belum buka celana dalamnya..”

Tanpa menanti reaksiku.. Lina maju selangkah.. agak membungkuk dan memelorotkan celana dalamku.
Aku membantunya bersama melangkah keluar berasal dari celanaku.

Tuink..!! Tongkat kejantananku yang sedari tadi sudah berdiri tegak langsung menyentak seperti mainan badut keluar berasal dari kotaknya.

Kami berdua berdiri berhadapan sambil bertelanjang bulat saling memandangi.

Tak tahan aku hanya lihat tubuh molek Lina.. aku maju.. langsung kupeluk erat tubuh Lina.
Ughh.. Kurasakan nikmat saat kulit tubuhku langsung bersentuhan bersama kulit halus tubuh Lina tanpa sehelai benangpun yang menghalangi.

“Kamu cantik dan seksi sekali Lin..”
“Ah Mas Ben ngeledek aja..”
“Bener kok Lin..” balasku tulus namun modus.. hehe..
Sambil bicara demikian aku rangkul Lina lantas aku bimbing masuk ke kamar mandi.

Aku semprotkan sedikit air bersama shower ke kemauluan Lina yang tetap berlendir itu.
Kemudian tangan kananku aku lumuri bersama sabun.. aku peluk Lina berasal dari belakang dan aku sabuni semua kemaluan Lina bersama lembut.

Rupanya Lina senang bersama apa yang aku lakukan.. dia merapatkan punggungnya ke tubuhku.. supaya penisku melekat rapat ke pantatnya.
Dengan gerakan lambat dan tertib aku menggosok selangkangan Lina bersama sabun.

Lina mengimbanginya bersama mobilisasi pinggulnya seirama bersama gerakanku.
Gesekan tubuhku bersama kulit halus mulus Lina seakan membawaku ke puncak surga dunia.

Akhirnya selesai termasuk aku mendukung Lina mencuci selangkangannya dan mengeringkan diri bersama handuk.
Sambil saling rangkul kita lagi ke kamar dan berbaring bersisian di area tidur.
Kami saling berpelukan dan berciuman penuh kemesraan.

Aku raba semua permukaan tubuh mulus Lina.. nyata-nyata halus dan sempurna.
Lina pun beraksi mengelus batang kejantananku yang tambah menegang itu.

Aku idamkan memberikan Lina kepuasan sebanyak kemungkinan malam ini.
Aku idamkan Lina merasakan kenikmatan yang belum dulu dia rasakan sebelumnya bersama seorang pria.

Dan aku terasa terlampau untungkan bisa laksanakan itu.. gara-gara berasal dari cerita Lina ke Winda.. aku jelas tak tersedia pria lain yang dulu menyentuhnya jikalau Pras.. dan sekarang aku.

Tubuh telanjang Lina aku telentangkan.. lantas aku melorot mendekati kakinya.
Aku terasa menciumi betisnya.. perlahan ke atas ke pahanya yang mulus.
Aku nikmati betul tiap tiap inci kulit paha mulus dan halusnya bersama sapuan bibir dan lidahku.

Akhirnya mulutku terasa mendekati pangkal pahanya. “Ahhhhh Mas Ben.. ah.. jangan.. nanti Lina nggak tahan lagi.. ahh..”
Sekalipun mulutnya bicara ‘jangan’ namun Lina justru terhubung ke dua pahanya tambah lebar.. seakan menyongsong baik serangan mulutku itu.

“Nikmati saja Lin.. aku bakal memberikan apa yang tidak dulu diberikan Pras padamu..”

Aku meneruskan jilatan dan ciumanku ke area selangkangan Lina yang sudah menganga lebar.
Aku lihat jelas bibir vaginanya yang begitu tebal dan sensual. Perlahan aku katupkan ke dua bibirku ke bibir bawah Lina.

Sambil ‘berciuman’ aku julurkan lidahku mengorek ujung liang senggama Lina yang merangsang dan wangi itu.
“Ahhhh.. Mas Ben.. aaaaahhh.. please.. please..” Begitu mudahnya kata-kata Lina beralih berasal dari ‘jangan’ jadi ‘please..’

Bibirku aku rubah sedikit ke atas.. supaya menyentuh klitorisnya yang berwarna pink itu. Perlahan aku julurkan lidahku dan aku menjilatinya berkali-kali.

Sekarang Lina bereaksi pas seperti yang aku duga. Dia terhubung selangkangannya tambah lebar dan menekuk lututnya dan juga mengangkat pantatnya.

Aku langsung memegang pantatnya sambil meremas-remasnya. Lidahku tambah leluasa menari di klitoris Lina.

“Aaaaaahhhhhh.. enak Mas.. enak.. ahhhh.. iya.. ahhhh ahhhhh..” Hanya itu yang keluar berasal dari mulut Lina menggambarkan apa yang sedang dia rasakan pas ini.

Aku tambah meningkatkan aktivitas mulutku.. aku katupkan ke dua bibirku ke klitoris Lina yang begitu mungil..
Kusedot lambat-lambat benda sebesar kacang hijau itu bersama cerucupan keras.

“Maaaaasss.. nggak tahaaaan.. ahhhhh.. Maassss..”

BANDAR CEME

Dari pengalamanku tadi memasturbasi Lina bersama jari.. aku jelas pertahanan Lina tinggal setipis kertas. Lalu aku tukar taktikku. Aku lepaskan tangan kananku berasal dari pantat Lina.. lantas jari tengahku lagi beraksi menggosok klitorisnya.

Lidahku aku julurkan mengorek semua lubang kenikmatan Lina sejauh yang aku bisa. Dan ternyata.. sungguh luar biasa respon Lina.
Tubuhnya menegang.. memicu pantat dan selangkangannya tambah terangkat.. ke dua tangannya mencengkeram kain sprei.

“Aaaahhhhh.. maaaassss..” erangnya lepas.. bersama semangat pinggulnya ke atas.. Srrr.. srrr.. srrrr..!
Bersamaan bersama erangan Lina aku rasakan tersedia cairan hangat dan agak asin yang keluar berasal dari liang vaginanya dan langsung membasahi lidahku.
Kujulurkan lidahku tambah di dalam dan tambah banyak cairan yang bisa aku rasakan.

Tiba-tiba Lina ‘memberontak..’ langsung menarikku untuk mendekatinya. Tangan kananku dia pegang dan sentuhkan ke kemaluannya.
Sambil matanya tetap terpejam.. dia memelukku dan langsung mencium bibirku yang tetap berlepotan bersama lendir kenikmatannya.

Aku jelas apa yang dia mau. Kubiarkan bibir dan lidahnya menari di mulutku menyapu semua sisa lendir yang tersedia di sana.

Jari tanganku lagi kubenamkan ke liang vaginanya dan aku gerakkan masuk-keluar bersama cepat.
Tubuh Lina lagi menggigil.. vaginanya mengeluarkan cairan lagi. Rupanya itu adalah sisa orgasmenya barusan.

Kami tetap berciuman hingga tubuh Lina terasa melemas. Perlahan kuangkat tangan kananku berasal dari selangkangannya.. kupeluk dia bersama lembut. Bibirku perlahan aku lepaskan berasal dari cengkeraman mulut Lina.

Tubuh Lina tergolek lemas.. seakan tanpa tulang. Matanya sedikit terbuka menatap mesra ke arahku.
Bibirnya sedikit menyungging senyum penuh kepuasan.

“Mas.. itu tadi luar biasa Mas.. Lina belum dulu digituin.. Mas Ben hebat.. makasih Mas.. Lina hutang banyak ama Mas Ben..” ujarnya bersama nada sedikit serak namun penuh kepuasan.

“Lin.. aku termasuk terlampau senang kok bisa memicu Lina senang seperti itu..”
Sambil aku kecup lembut keningnya. Mata Lina berbinar penuh rasa terimakasih. Aku merasakan kenikmatan bathin yang luar biasa pas itu.

Kami berbaring telentang bersebelahan untuk sebagian saat. Penisku tetap tegang berdiri.. namun aku tidak acuhkan gara-gara nanti tentu bakal bisa giliran juga.