Majikanku Yang Hyperseks // Part 1

RAKSASAPOKER Aku Dina, kala itu aku sedang berkelana di Bali, sebabnya adalah dikarenakan aku bertengkar dengan ayahku (ibuku telah meninggal). 

RAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Ayahku menyebutkan bahwa aku tidak produktif, dikarenakan tiap ari kerjaku hanya menghambur2kan uangnya saja dengan belanja sana sini.

Memang aku ini maniak blanja, laper mata supaya menyaksikan apa saja yang bagus kubeli, padahal aku gak butuh2 amat.


Kebetulan kondisi keuangan ayahku membantu tradisi maniakku itu. Aya sering menegurku dikarenakan kebiasaanku yang tidak produktif itu. Aku tersinggung, supaya timbul keinginanku untuk hidup mandiri, dan wilayah yang kupilih adalah Bali, kata temenku disana banyaklah kerjaan kalo senang kerja apa saja. Begitulah, akhirnya aku terdampar di Bali, seorang diri, tanpa sodara dan teman.

Mula2 bingung juga aku mo ngapain. aku settledi satu losmen yang mur mer, untuk menghemat pengeluaranku. Mencari makan juga di warung2 simple yang mur mer juga. Cukup sengsara hidupku diawal2nya dikarenakan aku telah jadi biasa dengan kehidupan yang serba kecukupan di tempat tinggal ayahku. Tetapi tekadku untuk mandiri, lepas berasal dari ayahku kupelihara teguh, rasa sengsara, perlahan2 menjadi biasa dikarenakan aku berusaha keras untuk menikmatinya.

Segala macam bisnis untuk beroleh duwit walaupun sedikti aku lakukan, demikian aku kerja serabutan, apa saja kulakoni, kalau yang satu itu, jual diri. Terus terang saja, kala tinggal dengan ayahku, aku membawa banyak pacar, dan dengan pacar2ku itu aku sering sekali mereguk kenikmatan sex. Ini yang kadang menyiksaku, ampir gak tahan aku menghindar diri untuk tidak ngesex dengan laki laki yang banyak seliweran disekitarku.

Mereka senang dengan kecantikanku yang alami, warna kulitku yang sawomatang, tubuhku proporsional, toketku gak besar namun gak bisa dibilang tocil. Pinggulku agak besar, supaya kalo laki laki menyaksikan aku memakai celana ketat baik panjang maupun pendek, berasal dari belakang tentu napsu menyaksikan gerakan pinggulku yang selaras dengan langkahku. Pinggulku menggeyol indah kekiri kekanan.

Ada juga laki laki bule yang ngganteng banget, kaya aktor hollywood, yang terang2an ngajakin aq ngesex, tambah dia menjanjikan segepok dolar amrik kalo aku bisa meladenin napsunya, namun aku tetap cobalah bertahan untuk tidak menerima tawaran yang sangat2 mengundang selera itu, dapet duwit dan dapet kepuasan sex , palagi kan katanya kontol bule tu gede panjang. Kontol pacar2ku ya standard ukuran orang kitalah, walaupun mesti diakui aku mendapat kenikmatan juga berasal dari kontol2 standard itu.

Sampe satu siang, dikala aku terjadi didepan sebuah tempat tinggal makan, tiba2 tersedia sebuah sedan mewah yang memotong didepanku, supaya aku terjatuh. Dari dalem mobil mewah itu muncul lelaki. Melihat wajahnya, rasa marah yang meluap2 dikarenakan aku diserempet sampe jatuh (kaya Cici Paramida aja ya) walaupun gak sampe lecet2, sirna seketika. Lelaki itu amat tampan, bodinya amat atletis.

Dia langsung menolongku bangkit sambil minta maaf dengan sangat. “Wah mbak, maaf sekali ya, aku sedang terburu, supaya gak liat mbak lagi jalan. Ada yang luka mbak, ayu aku antar ke tempat tinggal sakit”. “Gak kok mas, hanya kaget saja”. Dia mengeluarkan hp nya, dia berkata dengan seseorang untuk mengcancel pertemuannya siang ini. “Wah mbak, sebagai permintaan maaf dan bersyukur dikarenakan mbak gak sampe luka, gimana kalo aku traktir makan siang di resto ini”.

Aku menyaksikan nama restonya, wah ini resto mewah yang makanannya mahal2, di deket tempat tinggal ayahku juga tersedia resto ini. “Ya deh mas, atau aku manggil apa enaknya”. “Saya … (dia menyebutkan namanya), mo manggil mas bole, manggil nama juga bole kok. Kalo mbak?” “Aku panggil mas aja deh ya, kayanya mas jauh lebi tua berasal dari aku. Aku Dina, mas”. Aku digandengnya masuk restoran yang terletak dipinggir pantai. Kelihatannya dia telah menjadi pelanggan resto ini, tampak berasal dari banyaknya waiter yang eknal dia.

Dia milih area menghadap kelaut. “MO makan apa mbak?” “Jangan panggil mbak ah, Dina aja”. “Ya deh, Dina mo maka apa”. “Aku ikuta mas aja deh, mas kan yang tau menu yang enak2 berasal dari restoran ini”. “Doyan seafood kan?” “Doyan mas, aku apa juga aku makan, kalau batu ma kayu ma beling”. “Bisa aja kamu, kok eling”. “Soalnya aku belon blajar ilmu kuda lumping”.

Tertawanya berderai mendengar guyonanku. “Bener kan tadi gak apa2 kamu Din”. “Gak apa kok mas, aku hanya kaget”. “Sekarang tetap kaget?” “Masih mas”. “Lo kok masi kaget”. “Ya mas, kaget, kok tersedia ya laki laki didunia ini yang seganteng mas”. “Bisa aja kamu”. Demikianlah sepanjang makan, kami bercanda2. Setelah makan selesai, dia menanyakan lagi. “Kamu ke bali dalam rangka apa Din?”. aku menceritakan kondisiku dengan ringkas. “O, kamu lagi cari kerjaan toh, ditempatku aja, mau?” “Jadi apa mas”. DAFTAR ID PRO PKV


Aku mesti asisten bikin koordinir kerjaan di rumahku, ya kerjaan tempat tinggal tangga lah”. “Jadi pembantu gitu?” “O enggaklah, masak prempuan secantik dan seseksi kamu dijadiin pembantu. Kaya kepala house keeping gitu, senang gak, bole tinggal dirumahku kok, gratis, makan minum juga gratis”. “Tapi gak dapet gaji?” “Ya dapet lah, senang ya. butuhnya gawat neh, kalo gak kasian asistenku yang saat ini ini, dia dah bantu aku di pekerjaan, tetap juga ketiban kerjaan ngurus rumahku”.

“Iya deh, bikin mas yang ganteng apa si yang enggak?” “Oke kalo gitu merasa hari ini ya, abis makan kami ambil barang2 kamu berasal dari losmen, dan kerumahku. Aku akan kasi kamu …. sebulan (dia menyebutkan satu angka yang besar). “Mau mas”. Demikianlah aku ubah berasal dari losmen murahan kerumahnya yang lebih besar lagi berasal dari tempat tinggal ayahku.

Aku diperkenalkan kepada sejumlah pembantu, tersedia yang urusan bersihkan rumah, cuci mencuci, masak memasak dan bersihkan dan melindungi kebunnya yang luas, disamping tersedia seorang driver. Mereka semua hormat padaku, karen aku diperkenalkan sebagai kepala house keeping. Aku diajak ke satu kamar, besarnya seperti kamarku dirumah ayahku, tersedia soundsystem dan tv besar, pake ac pula (dilosmen aku bermandi kringet tiap malem dikarenakan so tentu murah ya tanpa fasilitas apa2, juga ac).

“Wah mas, sedap banget ya kerja ma mas”. “Ya udah, kamu sosialisasi ma para pembantu, aku mesti pergi ke kantor ya”. Aku ditinggal dengan sejumlah pembantu, aku coba akrab dengan mereka semua dengan bersikap merendah. “Ibu bapak, aku hanya kebetulan disuru menjadi kepala house keeping, namun aku tu tentu kala pengalaman ma ibu bapak, menjadi kerjaan kami kroyok rame2 ya, aku bersedia kok melakukan kerjaan ibu papa juga”.

Mereka senang dikarenakan aku gak sok2an, mentang2 ditunjuk menjadi kepala, sebentar saja aku dah bisa berakrab2 dengan mereka semua, ngatur kerjaan dengan mereka semua. Cuma mereka sungkan kalo aku mbantu melakukannya. Ya telah akhirnya ya kalo mereka repot banget aku bantu, kalo enggak ya aku enjoy saja. Di halaman belakang tempat tinggal tersedia kolam renang yang memadai luas, kerjaan pak bon yang bersihkan kolam yang hampir gak perna dipakai itu seminggu sekali.

Aku dengan segala senang hati mbantu pak bon yang dah berumur itu bersihkan kotoran yang nempel didinding kolam. Dengan pak sopir, aku juga bisa berakrab2, palagi pak sopirlah yang mengantarkan aku belanja semua kepentingan tempat tinggal tangga, dan diriku sendiri, dengan catatan si mas gak make mobilnya. Kadang dikarenakan tau aku mesti banget pergi, si mas senang nyetir sendiri kekantornya supaya pak sopir bisa nganterian aku kesana kemari dengan mobil satunya lagi, gak semewah mobil si mas yang pasti, namun cukuplah untuk beli2 ini itu.

Maklumlah si mas itu pengusaha yang sukses dalam bisnis mobil mewah import build up. Demikianlah aku menjalani hari2ku dengan segala senang hati, kerjaan gak berat2 amat, duwit berlimpah dikarenakan semua keperluan hidupku dipenuhi si mas, tambah kadang si mas membelikan aku pakaian kalo aku mesti turut bantu di kantor. Kadang tersedia event besar dimana aku juga mesti turut bantu asisten yang satunya lagi. yaman sekali kan.

Sampe suatu malem, si mas ngetok kamarku. “Napa mas?” “Aku lagi bete Din, temenin aku muncul yuk”. Tumben dia ngajak aku keluar, biasanya aku liat di kantor, banyak prempuan2 muda yang cantik2 yang seliweran disekitarnya. “Lo, kan biasanya mas jalur ma mbak ajeng apa mbak Lina”. “Aku bosen ma mreka Din, mreka tu hanya ngincer uangku aja, makanya penuh basabasi dan kaya pake topeng”. “rus koq mas ngajak aku”. “sejak aku ketemu kamu, kamu kayanya memperlakukanku apa adanya. Kamu kliatan sekali melakukan kerjaan kamu dengan senang ati”.

“Laiyalah mas, mana tersedia kerjaan yang lebi asik berasal dari mbantu mas ngurus tempat tinggal besar ini, santai, trus mas ngasi duwitnya besar lagi, utuh lagi, dikarenakan semua kebutuhanku mas penuhi. Makanya buru2 cari permaisuri dong mas, menjadi mas gak sepi dirumah besar ini”. “ada kamu koq yang bisa bikin aku tentram, ngobrol ma kamu kayanya ngobrol ma orang yang dah lama aku kenal, padahal kamu baru 3 bulan ya dirumahku”.

Aku dibawanya ke dermaga dipinggir laut, sambil berjalan2 nikmati angin laut yang memadai kencang, kami ngobrol saja sambil terjadi menyusuri dermaga yang menjorok kelaut. Sampe diujung, kamu duduk ditangga yang turun ke bebatuan ditengah laut, angin memadai kencang menyapu ombak, supaya dikala ombaknya memecah di bebatuan, airnya memercik tinggi sekali, demek deh pakean kami.

“Mas dingin ni lama2 disini, bisa basah semua bajuku”. Aku kala itu memakai jins ketat dan tanktop ketat supaya lekakliku bodiku keliahatn dengan jales. aku kadang menyaksikan juga sebersit kesan napsu di pandangan mata si mas. Biar aja, laki laki normal tentu juga gitu kalo ngeliat aku. “Ya udah, balik yuk, kami cari miuman anget aja ya, dipntai kayanya tersedia deh warung kopi atau semacam itu.

Kembalinya dia menggandenga tanganku, dikarenakan dia sering menggandeng tanganku kalo sedang terjadi berdua aku, aku diem saja. Sesampai dipantai, kami datang di warung kopi itu. Ramai juga suasana. tersedia sebagian prempuan muda yang menyapa si mas, namun begitu menyaksikan tersedia aku, mreka gak menjadi mendekat. “Mas, terkenal ya, banyak temennya”. “Iya mreka kan pake topeng, yang disapa itukan duitku”. Pulang kerumah, dia bilang, “Din aku mo brenang, mo ikutan gak?” “Dah malem gini koq brenang si mas, kan dingin”.

“Justru kalo malem gini brenang airnya anget, bisa bikin relax, menjadi ringan tidurnya”. “aku gak punyai pakean renang, mas”. “aku punyai bikini, kamu mo pake?” “Siapa punyai mas, cewek2 mas ya”. “Ah enggak, aku perna beli bikin ole2 namun akhirnya gak menjadi aku kasi, bikin kamu ja ya”. Dia masuk kekamarnya dan muncul membawa bikini itu. ‘Seksi amat mas bikininya”, kataku dikarenakan bikininya minim sekali. “Prempuan seksi mesti pake pakean seksi dong”. Karena kala itu dah malem, para pembantu dah istirahat.

“Tu ubah ja dikamar bilas”, katanya menujuk ke satu bangunan pondokan yang merupakan kamar bilas. Aku masuk kesana, mengakses pakeanku dan mengenakan bikini minim itu. Ketika aku muncul si mas dah nunggu aku didipan memakai celana gombrong. “Wah seksi kamu Din”. Karena minim makanya sebagain besar bodiku terpampang dengan jelas.

Toketku gak tertutup bra seutuhnya supaya belahannya tampak dengan jelas. Palagi jembutku yang lebat, ngintip berasal dari belahan kaki cd nya. Kupikir ya iarlah dia nikmati tubuhku, hanya ngeliat ja gak apa, pikirku. Kami berenang mondar mandir sebagian kali. “Din, kamu napsuin deh”, bisiknya dikala kami istirahat dipinggir kolam. Wah signal2 gak beres neh, pikirku. namun aku diem aja, “udahan yuk mas, dingin lama2”. “aku senang koq ngangetin kamu”, katanya sambil memelukku dan mencium bibirku.

“Din, dah lama aku senang ma kamu, terangsang ma bodi kamu. kamu ma ya Din ngeladenin aku malem ini”. Ciumannya asik, kumisnya menggesek bibirku, palagi sepanjang dia mengulum bibirku, tangannya asik memerah toketku berasal dari luar braku. bendunganku bobol juga, sekian lama aku menghindar napsuku untuk gak mikirin sex akhirnya gak ketahanan juga. aku diem saja dikala dia menggandengku masuk ke kamarnya. Pakean luar ku dan dia punyai hanya kutenteng masuk kekamarnya.

Dikamar, lagi dia memeluk aku dan mencium bibirku, lembut dan lama. Aku agresif sekali menyambut ciumannya, maklum deh aku dah nahan napsuku lama sekali, saat ini tersedia yang kasi kesempatan, aku gak bisa nahan diri lebih lama lagi. Dia tetap mencium bibirku dan merasa dilumatnya dengan penuh napsu. Aku membalas lumatannya juga.

“Din, aku senang sama badanmu yang montok”, katanya sambil menciumi leherku. Aku diam saja, hanya mengusap2 pinggungnya. tangannya merasa meremas2 toketku. Gak lama sesudah itu dia membebaskan braku. Ciumannya menjalar menyusuri leherku dan belakang kupingnya. Aku menggelinjang kegelian, “Geli mas “. Aku makin lama menggeliat dikala lidahnya menyelusuri toketku dan turun di belahannya. Dia tetap memainkan lidahnya di toketku namun tidak hingga ke pentilnya. “mas diisep pentilnya dong, nanti Dina isep kontol mas juga”, aku mendesah2.

Dia tetap saja menjilati area kurang lebih pentilku, namun pentilnya tidak disentuh. Kemudian ciumannya turun ke arah perutku sambil tangannya mengusap2 area memekku. Aku gak tahan lagi, kepalanya kutarik dan kudekatkan ke pentilku. “Diisep dong mas “, rengekku. Dia langsung mengisap pentilku dan tangannya meremas toketku. “Terus mas , diisep yang keras mas , sedap mas akh”, erangku.

Dia mengemut pentilku bergantian, demikian pula toketku diremasnya bergantian. Sesekali tangannya mengelus2 itilku berasal dari luar CDku. Aku bangkit, kulepas semua yang menempel dibadannya. kontolnya yang besar dan panjang telah ngaceng dengan kerasnya. “kontol mas besar dan panjang ya mas , keras banget lagi”, kataku sambil menciumi kontolnya dan kukenyot kepalanya.

Kepalanya sesudah itu kujilati dan jilatanku turun ke arah bijinya. Seluruh kontolnya kujilati. “Enak Din terusin dong emutannya”, katanya. CDku langsung dilepasnya, “Ni jembut lebat banget”, katanya sambil mengelus2 jembutku yang tambah basah dikarenakan lendir memekku. Aku dibaringkan diranjang dan sesudah itu dia memutar tubuhnya supaya posisinya menjadi 69. Dia merasa menjilati memekku. “Enak mas , terus”, erangku keenakan. Aku makin lama menggelinjang dikala lidahnya menyentuh itilku.

kontolnya kuemut dengan keras, kepalaku mengangguk2 mengeluar masukkan kontolnya dimulutku. Karena napsuku yang telah berkobar, akhirnya aku gak bisa bertahan lebih lama lagi, aku nyampe kerana itilku dikenyot2nya, “mas , Dina nyampe mas , aakh”. kontolnya kukocok dengan cepat keras sambil nikmati nyampeku. “Din, aku senang ngecret juga Din”, katanya terengah. Segera kepala kontolnya kuemut lagi dan kukenyot dengan keras, tanganku tetap mengocok kontolnya hingga akhirnya dia ngecret dimulutku.

Banyak banget pejunya nyembur sampe meleleh muncul berasal dari bibirku. kontolnya tetap kukenyot sampe denyutan ngecretnya hilang baru kulepas. Pejunya kutelan tanpa rasa jijik, “Din nikmat banget ya emutanmu, sudah pasti emutan memekku lebih nikmat lagi ya”, katanya terengah. Aku berbaring disebelahnya, kupeluk badannya. Belum dientot saja dia telah menggiring aku ke kenikmatan. 

Setelah itu kami bersihkan diri di kamar mandi. Didalam kamar mandi pun kami saling bersihkan badan pasangan. kontolnya mengeras lagi dikala kukocok2 pelan2, aku jongkok didepannya dan mengemut kontolnya lagi, langsung saja kontolnya ngaceng dengan kerasnya. Kepalaku bergerak maju mundur memasuk keluarkan kontolnya dimulutku. DIa gak bisa menghindar diri lagi, langsung dia duduk di toilet, aku dipangkunya menghadap dirinya, sambil mengarahkan kontolnya ke memekku.

Segera kontol besarnya nancep dimemekku, merasa sekali memekku melebar untuk menampung kontolnya yang dienjotkan pelan2 supaya makin lama nancep di memekku, “Enak mas , ssh”. Aku mengenjotkan badanku maju mundur supaya kontolnya bisa nancep dalem di memekku, diapun mengenjotkan kontolnya juga supaya terasalah gesekan kontolnya dimemekku. Nikmat banget rasanya. Sedang nikmat2nya, tiba2 dia berhenti mengenjotkan kontolnya. Dia menyuruhku memutar badanku tanpa mencabut kontolnya berasal dari memekku. Aku disuruhnya nungging sambil berpegangan di wastafel.

Mulailah dia mengenjotkan kontolnya berasal dari belakang. Sambil mengenjot, toketku yang mengayun2 selaras enjotannya diremas2nya. “Akh mas , nikmat banget mas . kontol mas nancepnya dalem banget mas. Sesek memek aku rasanya, gesekan kontol mas kerasa banget, enjot tetap yang cepet mas , aku telah senang nyampe lagi”, erangku. “Cepet banget Din”, katanya. “Abis nikmat banget sih mas kontolnya, menjadi aku gak bisa nahan lagi”, erangku.