Main Seks Swinger Dengan Tetangga // Part 2

RAKSASAPOKER persamaan di antara kami, yakni menyukai dan condong maniak pada sex. Diiringi musik yang disetel oleh isteriku, ada perasaan yang agak aneh kurasakan. 

MAINRAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Aku tidak mampu mengatakan perasaan apa ini, barangkali pengaruh minuman yang dibawakan Agus berasal dari rumahnya.

Tiba-tiba saja nafsuku bangkit, aku mendekati isteriku dan menariknya ke pangkuanku. Musik yang tidak begitu kencang terasa layaknya menyelimuti pendengaranku.


Kulihat Agus termasuk menarik isterinya dan menciumi bibirnya. Aku makin terangsang, Resty termasuk makin bergairah. Aku belum pernah merasakan perasaan layaknya ini. Tidak berapa lama Resty sudah telanjang bulat, entah kapan aku menelanjanginya. Sesaat aku terasa bersalah, kenapa aku jalankan perihal ini di depan orang lain, tapi kemudian

hal itu tidak terpikirkan olehku lagi. Seolah-olah nafsuku sudah menggelegak mengalahkan anggapan normalku. Kuperhatikan Agus perlahan-lahan mendudukkan Rini di meja yang ada di depan kami, mengangkat rok yang dikenakan isterinya, kemudian membukanya bersama cara mengangkatnya ke atas. Aku makin tidak karuan mengayalkan kenapa perihal ini mampu berlangsung di di dalam rumahku. Tetapi itu hanya sepintas, selanjutnya aku sudah nikmati permainan itu. Rini termasuk tinggal hanya mengenakan BH dan celana dalamnya saja, dan masih duduk di atas meja bersama lutut tertekuk dan terbuka menantang. Perlahan-lahan Agus mengakses BH Rini, terlihat dua bukit putih mulus menantang menyembul sehabis penutupnya terbuka. “Kegilaan apa ulang ini..?” batinku. Seolah-olah

Agus mengerti, dikarenakan selamanya aku mencermati menawarkan bergantian denganku. Kulihat isteriku yang masih terbaring di sofa bersama mulut terbuka menantang bersama nafas tersengal mencegah nafsu yang menggelora, seolah-olah tidak keberatan seandainya posisiku digantikan oleh Agus. Kemudian kudekati Rini yang kini tinggal hanya mengenakan celana dalam. Dengan badan yang sedikit gemetar dikarenakan sesungguhnya ini pengalaman pertamaku

melakukannya bersama orang lain, kuraba pahanya yang putih mulus bersama lembut. Sementara Agus kulihat makin beringas menciumi sekujur tubuh Resty yang umumnya aku lah yang melakukannya. Perlahan-lahan jari-jemariku mendekati tempat kemaluan Rini. Kuelus bagian itu, kendati masih tertutup celana dalam, tapi aroma khas kemaluan wanita sudah terasa, dan bagian tersebut sudah terasa basah. Perlahan-lahan kulepas celana

dalamnya bersama hati-hati sambil merebahkan badannya di atas meja. Nampak bulu-bulu yang belum begitu panjang menghiasi bagian yang berada di antara kedua paha Rini ini. “Peluklah aku Mas, tolonglah Mas..!” erang Rini seolah sudah siap untuk melakukannya. Tetapi aku tidak melakukannya. Aku ingin mengimbuhkan kenikmatan yang benar-benar kenikmatan kepadanya malam ini. Kutatapi seluruh bagian tubuh Rini yang sesungguhnya benar-benar sempurna. Biasanya aku hanya mampu melihatnya berasal dari kejauhan, itu pun bersama terhambat pakaian. Berbeda kini

bukan hanya melihat, tapi mampu menikmati. Sungguh, ini suatu yang tidak pernah terduga olehku. Seperti ingin melahapnya saja. Kemudian kujilati seutuhnya tanpa sisa, kala tangan kiriku meraba kemaluannya yang ditumbuhi bulu hitam halus yang tidak begitu tebal. Bagian ini terasa sangat lembut sekali, mulut kemaluannya sudah terasa basah. Perlahan kumasukkan jari telunjukku ke dalam. “Sshh.., akh..!” Rini menggelinjang nikmat. DAFTAR ID PRO PKV


Kuteruskan melakukannya, kini lebih di dalam dan pakai dua jari, Rini mendesis. Kini mulutku menuju dua bukit menonjol di dada Rini, kuhisap bagian putingnya, tubuh Rini bergetar panas. Tiba-tiba tangannya mencapai kemaluanku, menggenggam bersama kedua telapaknya seolah risau lepas. Posisi Rini sekarang berbaring miring, kala aku berlutut, supaya kemaluanku tepat ke mulutnya. Perlahan dia terasa menjilati kemaluanku. Gantian badanku sekarang yang bergetar hebat. Rini memasukkan kemaluanku ke di dalam mulutnya. Ya ampun, nyaris aku

tidak mampu menikmatinya. Luar biasa enaknya, sungguh..! Belum pernah kurasakan layaknya ini. Sementara di atas Sofa Agus dan isteriku layaknya membentuk angka 69. Resty ada di bawah sambil mengulum kemaluan Agus, kala Agus menjilati kemaluan Resty. Napas kita berempat saling berkejaran, seolah-olah jalankan perjalanan panjang yang melelahkan. Bunyi Music yang entah sudah beberapa lagu seolah meningkatkan stimulus kami. Kini tiga jari kumasukkan ke di dalam kemaluan Rini, dia melenguh hebat sampai kemaluanku lepas dari

mulutnya. Gantian aku sekarang yang menciumi kemaluannya. Kepalaku layaknya terjepit di antara kedua belah pahanya yang mulus. Kujulurkan lidahku sepanjang-panjangnya dan kumasukkan ke di dalam kemaluannya sambil kupermainkan di dalamnya. Aroma dan rasanya makin memuncakkan nafsuku. Sekarang Rini terengah-engah dan kemudian menjerit tertahan menghendaki supaya aku segera memasukkan kemaluanku ke lubangnya. Cepat-cepat

kurengkuh kedua pahanya dan menariknya ke bibir meja, kutekuk lututnya dan kubuka pahanya lebar-lebar supaya aku mampu memasukkan kemaluanku sambil berjongkok. Perlahan-lahan kuarahkan senjataku menuju lubang punya Rini. Ketika kepala kemaluanku memasuki lubang itu, Rini mendesis, “Ssshh.., aahhk.., aduh enaknya..! Terus Mas, masukkan ulang akhh..!” Dengan tentu kumasukkan lebih di dalam sambil sesekali menarik sedikit dan mendorongnya lagi. Ada kenikmatan luar biasa yang kurasakan ketika aku melakukannya. Mungkin dikarenakan selama ini aku hanya

melakukannya bersama isteriku, kali ini ada suatu hal yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Tanganku sekarang sudah meremas payudara Rini bersama lembut sambil mengusapnya. Mulut Rini pun layaknya megap-megap kenikmatan, segera kulumat bibir itu sampai Rini nyaris tidak mampu bernapas, kutindih dan kudekap sekuat-kuatnya sampai Rini berontak. Pelukanku makin kuperketat, seolah-olah tidak akan lepas lagi. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh kami. Agus dan isteriku tidak kuperhatikan lagi. Yang kurasakan sekarang adalah sebuah petualangan

yang belum pernah kulalui sebelumnya. Pantatku masih naik turun di antara kedua paha Rini. Luar biasa kemaluan Rini ini, layaknya ada penyedot saja di dalamnya. Kemaluanku seolah tertarik ke dalam. Dinding-dindingnya layaknya lingkaran magnet saja. Mata Rini merem melek nikmati permainan ini. Erangannya tidak pernah putus, kala helaan napasnya memburu terengah-engah.Posisi sekarang berubah, Rini sekarang membungkuk menghadap meja sambil memegang kedua sisi meja yang tadi tempat dia berbaring, kala aku dari

belakangnya bersama berdiri memasukkan kemaluanku. Hal ini cukup sulit, dikarenakan tak sekedar ukuran kemaluanku cukup besar, lubang kemaluan Rini termasuk makin ketat dikarenakan membungkuk. Kukangkangkan kaki Rini bersama cara melebarkan jarak antara kedua kakinya. Perlahan kucoba memasukkan senjataku. Kali ini berhasil, tapi Rini melenguh nyaring, perlahan-lahan kudorong kemaluanku sambil sesekali menariknya. Lubangnya terasa sempit sekali. Beberapa saat, tiba-tiba ada cairan punya Rini membasahi lubang dan kemaluanku sampai terasa nikmat

sekarang. Kembali kudorong senjataku dan kutarik sedikit. Goyanganku makin lincah, pantatku maju mundur beraturan. Sepertinya Rini pun nikmati model ini. Buah dada Rini bergoyang-goyang termasuk maju-mundur ikuti irama yang berasal berasal dari pantatku. Kuremas buah dada itu, kulihat Rini sudah tidak kuasa mencegah suatu hal yang tidak kumengerti apa itu. Erangannya makin panjang. Kecepatan pun kutambah, goyangan pinggul Rini makin kuat. Tubuhku terasa makin panas. Ada suatu hal yang terdorong berasal dari di dalam yang tidak kuasa aku menahannya.

Sepertinya menjalar menuju kemaluanku. Aku masih mengupayakan menahannya. Segera aku mencabut kemaluanku dan membopong tubuh Rini ke tempat yang lebih luas dan menyuruh Rini telentang di bentangan karpet. Secepatnya aku menindihnya sambil menekuk kedua kakinya sampai kedua ujung lututnya melekat ke perut, supaya kini terlihat kemaluan Rini menyembul mendongak ke atas menantangku. Segera kumasukkan senjataku ulang ke

dalam lubang kemaluan Rini. Pantatku ulang naik turun berirama, tapi kali ini lebih kencang layaknya akan mencapai finis saja. Suara yang terdengar berasal dari mulut Rini makin tidak karuan, seolah nikmati tiap tiap suatu hal yang kulakukan padanya. Tiba-tiba Rini memelukku sekuat-kuatnya. Goyanganku pun makin menjadi. Aku pun berteriak sejadinya, terasa ada suatu hal muncul berasal dari kemaluanku. Rini menggigit leherku sekuat-kuatnya, segera

kurebut bibirnya dan menggigitnya sekuatnya, Rini menjerit kesakitan sambil bergetar hebat. Mulutku terasa asin, ternyata bibir Rini berdarah, tapi seolah kita tidak memperdulikannya, kita seolah terikat kuat dan berguling-guling di lantai. Di atas sofa Agus dan isteriku ternyata termasuk sudah mencapai puncaknya. Kulihat Resty tersenyum puas. Sementara Rini tidak berkenan melewatkan kemaluanku berasal dari di dalam kemaluannya, kedua ujung tumit kakinya masih menekan kedua pantatku. Tidak kusadari seluruh cairan yang muncul berasal dari kemaluanku masuk ke liang milik

Rini. Kulihat Rini tidak memperdulikannya. Perlahan-lahan otot-ototku mengendur, dan akhirnya kemaluanku lepas berasal dari kemaluan Rini. Rini tersenyum puas, kendati kelelahan aku pun merasakan kenikmatan tidak ada tara. Resty termasuk tersenyum, hanya muncul malu-malu. Kemudian memunguti pakaiannya dan menuju kamar mandi. Hingga kala ini momen itu masih tahu di dalam ingatanku. Agus dan Rini sekarang sudah ubah dan ulang ke Jakarta.

Sesekali kita masih terkait lewat telepon. Mungkin aku tidak akan pernah meremehkan momen itu. Pernah suatu kala Rini singgah ke rumah kami, kebetulan aku tidak ada di rumah. Dia hanya ketemu bersama isteriku. Seandainya saja