Gairah Tetanggaku Yang Montok // Part 2


RAKSASAPOKER Aku pijat jadi turun ke pinggang dan dasternya ada masalah menghalangi, jadi aku pijat berasal dari luar (padahal jikalau saat ini aku tentu berani ngomong, 

MAINRAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
"Tante ini dasternya dibuka saja ya.." dasar tetap tolol selagi itu). Dari pinggang aku konsisten ke pantatnya dan kala itu penisku sudah keras kencang.

Tiba-tiba si tante bergeser, pegal bisa saja duduk diam terus, dan agak mundur, aku tidak sempat menghambat dan pantatnya kena penisku.


Aku pakai celana pendek training berasal dari kain kaos selagi itu. Dia kaget dan di kaca aku menyaksikan dia agak mesem tapi tetap diam. Aku termasuk terpana dan terasa salah. Tapi ya aku termasuk tidak ganti menghindari, jadi aku biarkan saja. Terus si tante ambil selimut besar dan menutupi kakinya dan pahanya. Kemudian dia menyender agak ke belakang dan bisiknya, "Pijetin paha Tante dong!" Nah aku mau tidak mau gara-gara berasal dari belakang jadinya harus merapatkan badan. Aku ulurkan tangan ke depan ke paha atasnya, agak bingung dan kala aku menyaksikan di kaca dia senyum, sambil merem matanya, buah dadanya tetap nampak sisi atasnya dan pungungnya terasa hangat di dadaku dan mukaku dekat lehernya yang jenjang. Aku tak sengaja bernafas di lehernya dan telinganya dan dia menggelinjang geli. Ya, aku termasuk jadi berani dan kuulurkan tangan ke depan memijat paha atas berasal dari bawah selimut. Eh, si daster rupanya sudah disingkap ke atas dan aku terpegang paha Tante Ida tanpa daster lagi.

Lututku sudah lemas dan nafasku sudah tidak tertib mendesah di lehernya yang jenjang. Aku pijat pelan-pelan dan tiba-tiba aku terasa tangan Tante Ida menjamah ke belakang dan menyentuh penisku. Aku seperti kena lisrik dan sempat agak menjerit, eh si tante bilang, "Ssst.. diam. Apa sih ini keras bener?" tanyanya sambil nanar menatap aku di kaca. Dan tangannya meraba jadi ke tengah penis dan tiba-tiba dia terhubung kancing celana (kalian jelas kan celana kain kaos itu, kancing "cepret"-nya hanya dua dan aku sebetulnya tidak pakai celana dalam lagi). Dan Tante Ida menggenggam batang penisku. "To, raba konsisten pahaku di atasnya, aku termasuk masukkan tanganku, astaga! tidak tersedia celana dalamnya." Dan aku teruskan jari-jariku (sudah jadi berani dan otakku sudah kacau tidak pikirkan tersedia anak-anak di lantai bawah di depan kita itu, dan suara si oma di dapur tetap klontang klonteng orang berberes). Lebih kaget kembali aku tidak menemukan rambut apa-apa di pangkal paha atas Tante Ida itu. Padahal selagi aku intip tempo hari seingatku lebat sekali tuh. DAFTAR ID PRO PKV 


Kuraba-raba konsisten dan di kaca nampak Tante Ida mukanya seperti orang bingung keenakan (padahal aku belum masukkan ke lubangnya, tetap bego aku, gara-gara ini pengalaman pertamaku, eh aku selagi itu tetap di SMP kelas 3). Tante Ida agak mengangkangkan pahanya dan aku konsisten mengusap-usap dan menangkupkan telapakku di bukit gundul itu, tidak jelas harus apa (uih guoblook tenan jikalau kata Basuki). Hangatnya bukan main, selagi tangan si tante tetap mengurut-urut lembut batang penisku, aku duduk agak maju lagi. Auhh, enaknya bukan main deh dipegang mirip wanita itu. Badan Tante Ida harum termasuk gara-gara lotion dan tersedia semerbak jasmine. Kulit Tante Ida itu hitam manis. Akhirnya dia menyender total dan tanganya di penis dan buah zakarku, ujung penisku sudah kuyup mirip seminal fluid yang keluar. Aku sudah kepingin benar menangkupkan tangan di buah dadanya tapi ada masalah gara-gara tentu dapat nampak anak-anaknya. Tiba-tiba aku inginkan kencing dan agak sakit rasanya, aku bingung dan akhirnya aku bilang tante bahwa aku inginkan kencing. "Ohh.. ya sudah kamu ke kamar mandi Tante situ!" Aku bangun dan ke kamar mandi dan sambil menyesel-nyesel cemas nanti si tante berubah pikiran. Aku kencing dan.. astaga! itu kepala penis sudah terlalu basah, jikalau tidak gara-gara kehalang kencing sudah orgasme bisa saja tadi itu. Setelah kencing aku bersihkan si kepala jamur yang sudah merah tua sekali warnanya.

Aku balik, si tante sudah kemulan mirip selimut sambil duduk, aku duduk kembali di pinggir ranjang dan Tante Ida bilang, "Ayo To, pijetin lagi, kamu duduk lonjorkan kakimu!" Wah aku jadi impuls lagi, penisku sudah agak layu setengah ereksi. Kancing "cepret" celana pendekku aku tidak kancing lagi. Begitu duduk aku rapatkan kembali barisan (he he..he seperti baris berbaris saja). Aku kaget gara-gara ternyata dasternya tidak ada, pantas Tante Ida kemulan selimut. Dan dia tidak duduk tapi berlutut bersimpuh agak nungging ke depan. 

Dia membisikkan, "To, biar Tante duduk di atas pangkuanmu." Aku melonjorkan kaki rapat dan si tante mengangkang lantas duduk berlutut pantatnya identik di atas penisku, aku terlalu setengah tetap terasa apa ini mimpi basah saja. "Kamu ingin pegang susu Tante kan, ayo kamu raba." Dan di dalam selimut itu aku bebas, tanganku merajalela. Duh enaknya memerah susu kenyal, dan putingnya terasa kasar di telapak tanganku, saat itu juga mengeras dan si tante begitu aku meremas gemetar dan bibirnya terlihat di kaca digigitnya. 

Aku meremas-remas seperti tukang roti mengaduk adonan roti. Tangan Tante Ida termasuk tidak diam, dia menggenggam penisku dan digosok-gosokkan di bibir vaginanya. Aku terasa luar biasa hangat itu bukitnya. Dan tanganku kedua-duanya aktif sekali. Jariku memilin pulir-pulir dan melintir putingnya, besarnya tersedia sebesar jari kelingking (anaknya doyan ASI kali ya). Ukuran buah dadanya berapa ya, tersedia 38C barangkali.