Gairah Tetanggaku Yang Montok // Part 1

RAKSASAPOKER Tante Ida, suaminya perwira di satuan **** (edited) dan kami bertetangga. Kamar tidurku pas di sebelah dapur mereka (kami tinggal di komplek,

RAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
di rumah dinas karena ayah aku itu pegawai sipil AD). Jadi hal yang biasa, bangunan tadinya terpisah di satu kompleks lama-lama dibangun dan tergabung.

Dinding pemisah di depan kamarku itu manfaatkan batu karawang dan ditutup bersama dengan lembar seng. Di depan dapur Tante Ida itu mereka bikin tempat cuci baju sebenarnya.


Tapi si tante suka mandi di situ. Nah, aku sudah lepaskan ujung seng pemisah, menjadi dapat mengintip. Buah dadanya besar. Pernah sekali kuintip terus, dia mengetahui dan hanya bilang, "Ayo anda ngapain?" katanya. Hari Sabtu aku suka main ke rumahnya, anaknya masih kecil-kecil. Aku suka ke sana karena banyak majalah dan koran dari kantor si oom. Dan si oom lagi tugas studi 1 tahun untuk naik pangkat ke Bandung. Di situ tersedia ibunya Tante Ida tinggal di situ juga, dia sudah janda; anaknya Tante Ida 2 orang, selagi itu umurnya 2 3 tahunan. Ia menikah setamat SMA selagi itu.

Kira-kira jam 09.00 malam aku masih asyik bongkar majalah-majalah tua dan si tante memanggil dari kamar. "To, tolong dong Tante agak pegel, pijetin ya!" Biasa kami sebetulnya suka saling tolong, kadang ibu aku minta dikerokin serupa Tante Ida atau Tante Ida minta dibuatkan kue, begitu deh tetangga yang baik. Aku sih tidak ragu walaupun kerap aku intip. Lagi pula anak-anaknya masih terhadap bangun nonton video di kamarnya. Biasa film kartun. Aku rada enggan karena masih asyik baca, sebenarnya. Pintu kamar tidak ditutup, si oma masih di dapur sedang beberes, menjadi tidak tersedia keadaan yang membantu untuk ngeres-ngeres. Aku masuk ke kamar masih sambil menenteng majalah, aku pikir sambil mijati (paling punggungnya, aku pikir) aku sudi baca. Soalnya si Oma itu pelit, majalahnya tidak boleh dibawa pulang. DAFTAR ID PRO PKV


Waktu di kamar aku lihat Tante Ida manfaatkan daster batik (itu lho yang murahan di Pasar Senen, 5 ribu ya satunya). "To, ini leher Tante kok kencang dan badan rasanya pegel linu, sudi flu kali ya," katanya. Kemudian dia duduk menghadap TV di kamar di ranjang besar (ukurannya king, jika tidak salah) dan katanya, "Pakai itu saja To, krim Viva." Aku ambil dan duduk di belakangnya, karena dia di sedang aku jadinya duduk termasuk ke sedang ranjang dan Tante tersedia di pada kakiku, majalah aku buka di samping kanan, aku separuh hati sudi pijat karena sedang baca artikel menarik. Bisa dibayangi ya suasananya, masih ribet, tersedia anak-anak, tersedia ibunya, suara TV kencang. Pokoknya aku sih tidak tersedia intensi apa-apa.

Tante Ida mengakses daster resleting belakangnya, dan aku tuang lotion ke telapak dan mulai memijat lehernya, sambil baca majalah. Terasa lehernya sebetulnya hangat lebih dari normal. Aku pijat pelan-pelan dan si tante mendesah keenakan (aku sebetulnya pintar mijat kayaknya). Sudah agak lama si tante bilang, "Tolong ke punggung bawah dong? dan sletingnya turuni lagi saja biar gampang." Aku tarik sleting dan dasternya tersibak jauh ke kanan dan kiri. Aku agak surprised karena tidak tersedia tali BH (mestinya selagi mijat leherku sudah mengetahui ya karena di atas bahu tidak tersedia tali, basic tidak niat menjadi tidak konsen).

Aku tuang lagi lotion dan kusaputkan di punggungnya, "Uhh dingin," kata Tante Ida sambil membungkuk ke depan lebih jauh. Aku pijati bahunya dan dasternya agak merosot dan dari kaca meja hias di sebelah pojok kanan TV aku lihat bukit susunya mulai tersembul separuh lebih dan pikiranku tiba-tiba agak mendesir, mulai deh ngeres. Majalah sudah tidak aku lihat lagi, penis mulai mulai keras dan aku sengaja memijatnya agak kugoyang-goyang bahunya bersama dengan harapan dasternya merosot lagi. Eh, karena agak pas, tidak sudi turun lagi. Wah bagaimana nih, aku agak maju duduknya tapi belum merapatkan barisan ke badan Tante Ida. Aku lanjutkan memijat ke arah lengan atas dan sengaja kudorong dasternya lagi dan kali ini berhasil, debar jantungku jadi kencang dan mulutku mulai kering. Dasternya turun lagi dan pinggir pentil buah dadanya sudah kelihatan. Tapi selagi kudorong lagi jadi tidak sudi turun, aku kecewa dan si tante termasuk diam saja. Ya sudah aku nikmati seadanya di kaca itu. Lalu aku pijat konsisten ke arah punggung dan aku tersedia ide, aku ulur tanganku memijat bersama dengan keempat jariku mendekati meraba pangkal buah dadanya, lama aku memijat dan aku mengupayakan semakin ke depan keempat jariku (bisa dibayangi tidak). Ya, memadai aku dapat termasuk tepi-tepi buah dadanya. Si tante diam saja sambil nonton TV, aku termasuk tidak berani melanjutkan macam-macam (takut ditampar pula).