Di Perkosa Sahabat Sendiri // Part 1

RAKSASAPOKER Sebut saja namaku Imelda. Ini peristiwa yang tak terlupakan, agar saya menjadi ketagihan seks. 

RAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Aku ceritakan kisah ini untuk menuangkan libido ku yang tak terbendung. Jujur saja saya sedang horny apalagi pas ketemu forum ini,

menjadi kupikir dambakan ku bagi ke agan seluruh yang mesum. Silahkan nikmati.


Umurku 25 tahun, badanku lumayan bongsor untuk cewe se usiaku. Tinggiku 175 cm, berat 57 kg. Lingkar bra 36 bersama dengan cup C. Pantatku lumayan besar. Banyak yang bilang pinggangku kecil seperti body gitar. Oh ya, kulitku putih. Chinese menado. Rambutku hitam panjang hampir hingga pinggang. Wajahku biasa saja. Ada teman yang bilang mirip Scarlett Johanson. Keseharian tubuhku wangi sabun palmolive teraphy. Untuk wangi-wangian saya gak ngasih tahu.

Ya. Itulah uraian diriku. Semoga agan sanggup membayangkan sendiri.

Aku membawa kawan dekat pria.. sebutlah namanya Jeksen. Dia sahabatku yang paling dekat sejak kuliah di Jakarta. Pribumi asal Lampung. Satu lagi Toni, pribumi asal Bogor. Hanya saja saya lebih dekat bersama dengan Jeksen. Dia biasa kerap curhat mengenai pacarnya, dia terhitung kerap cerita mengenai kenakalannya. Bahkan dia terhitung terbuka cerita mengenai seks dan prostitusi.

Kami seperti kawan dekat karib yang saling menceritakan seluruh mengenai dunia kami. Bisa dibilang seperti saudara. Aku mengganggapnya kakak. Bila saya pergi dugem dan minum2, dia selalu menjagaku. Aku terlalu yakin kepadanya. Bahkan saya telah biasa tukar busana di depannya. Begitu pula dia. Pernah dia masturbasi di depanku waktu kita sama2 nonton film porno sambil menghisap ganja.

Aku telah memiliki pacar, begitu pula Jeksen. Tapi itu tidak kurangi persahabatan kita sedikitpun. Kami terhitung telah mengenalkan pacar kita masing2. Nah.. perihal laknat ini berlangsung terhadap waktu Jeksen putus bersama dengan pacarnya. Dia terlalu stress.. saya tau dia terlalu mencintai pacarnya, Natalia. Gara2 Jeksen kepergok selingkuh bersama dengan teman kantorku, Merry. Jeksen menyesal karena telah selingkuh, tapi seluruh telah terlambat. Aku mengenal Natalia seperti apa. Dia cantik dan tegas.

Seperti biasa, Jeksen kerap main ke kost ku, dia curhat, apalagi sempat nangis. Aku terlalu kasihan, saya menyayangi Jeksen seperti kakaku, saya kerap menghibur dia.. ngajak nonton, ngajak dugem, dll.

Suatu kali terhadap hari sabtu, saya ingat sebelum libur lebaran. Jeksen mengenalkan saya terhadap temannya sebut namanya, Alex. Dia bandar sabu dan extacy. Malam minggu itu saya diajak Jeksen untuk dugem di tempat Jakarta Utara. Malam itu saya mabuk berat, menikmati musik dan keadaan diskotik. Kami berlima.. aku, Jeksen, Toni, Alex dan temannya. Terakhir saya tau namanya Bram, orang ambon, tinggi besar dan hitam bersama dengan tatto di seluruh lengannya. Sejauh kukenal, Alex dan Bram orangnya asik dan lucu.

Saat sedang on, saya hanya ingat sepintas, Bram memeluk cewe, entah itu cewe diskotik atau temannya. Sedangkan Toni seperti biasa, selalu mengajak kenalan cewe dugem yang tersedia di situ. Masing2 berjoget sambil pelukan. Jeksen dan Alex tidak memanggil cewe.. mereka terhitung asik on. Kadang mereka bergantian memelukku dari belakang. Aku telah biasa dipeluk oleh Jeksen.. tapi kala Alex memelukku, saya agak risih sebenarnya. Tapi karena sedang on, saya mengusahakan biasa saja, tidak memperdulikan. DAFTAR ID PRO PKV


Kami hanyut di dalam keadaan diskotik. Seru sekali.. Baru kali itu saya benar2 mabuk parah hingga kepalaku menjadi berat sekali. Tapi saya tenang saja selama tersedia Jeksen dan Toni. Ya mereka sahabatku telah lama. Aku yakin terhadap mereka.

Entah kenapa sebagian jam kemudian, saya telah berada di hotel. Aku terlentang di kasur, kepalaku tetap berat dan sesekali hilang kesadaran. Jadi saya tidak ingat persis kenapa sanggup hingga di hotel. Badanku lemas semua, mataku menyapu ruangan melacak Jeksen dan Toni. Aku memandang Jeksen tergeletak duduk senderan di samping pintu kamar mandi.

Lalu saya melacak Toni, bersama dengan posisiku yang tetap terlentang di kasur ini. Aku pikir, kemungkinan Toni cek in bersama dengan cewe kenalannya. Aku tau kebiasan Toni dan Jeksen. Hanya di dalam hatiku, tumben Jeksen gak nyari cewe untuk cek in, atau kemungkinan dia mabuk parah?…. ah ya sudahlah, saya pejamkan mata, tiduran bersama dengan nada musik yang tetap terngiang di kupingku.

Tiba2 tersedia nada pintu kamar dibuka. Aku tetap sedikit paham di dalam posisi tidur bersama dengan mata terpejam, saya mengenali itu nada Alex.. rupanya bersama dengan Toni. Aku hanya mendengar…

“Brengsek tadi tuh cewe, telah minta minum ini itu, tambah kabur!” Umpat Toni..
“Hahaha.. sabar bro. Biasalahh. Pecun” seloroh Alex sambil menutup pintu kamar hotel.

Lalu tersedia nada kunci yang dijatuhkan ke meja, tersedia nada plastik, dan nada langkah mendekat. Tiba2 saja, Alex merebahkan badannya disampingku persis. Aku kaget dan mengakses mata memandang Alex. Mukanya merah padam, matanya terhitung merah. Aku merasakan tangannya menggerayangi perutku. Malam itu saya memakai tanktop hitam bersama dengan jeans warna putih.

“Kurang ajar nih Alex” di dalam hatiku.. tanganku menjadi berat untuk menepis tangan Alex yang menjadi menyelip dibalik tanktop ku anggota perut. Kepalaku terhitung menjadi pusing. Hanya mataku yang tetap lincah memandang keadaan. “Ckk! Ahh.. ngapain sihh” saya ngedumel ke Alex. Suaraku tidak sanggup kencang.. serak rasanya. Alex hanya tersenyum. Matanya penuh nafsu melihatku.

Aku sadar, di kamar itu hanya saya wanita satu2nya.

“Ton.. ni tersedia cewe nganggur nih. Heheheheh” godanya kepada Toni. Aku tau kemungkinan itu maksudnya bercanda, tapi saya menjadi menjadi risih. Toni kulihat sedang duduk di kursi samping ranjang sambil mengakses botol vodka.. lalu menatapku tersenyum. Aku hanya memandang tatapannya seolah saya mengancam untuk menjagaku.

Tidak lama kemudian Jeksen berdiri melangkah ke kasur mendekati saya dan Alex. Dia hanya terdiam.. lalu matanya memandang ku. Jeksen menindih badanku, lalu mencium keningku. Entah kenapa saya menjadi risih. Aku menjadi ini menjadi tidak berlangsung seperti biasanya. Jeksen mencium keningku, lalu leherku. Tangannya meremas payudaraku. Anehnya saya tidak sanggup menolak. Mungkin karena saya tetap menjadi terlalu mabuk

Aku hanya terkaget, suaraku lirih.. “Jek.. ngapain sih lu?”. Jeksen hanya diam lalu berbisik di kupingku.. “gue horny Mel.. “.
“Ahh! Gila lu. Jangan gini ah” desahku lirih.. seluruh tubuhku menjadi berat apalagi ditindih oleh Jeksen yang agak tambun. Lalu Alex seperti bajingan, dia menyoraki Jeksen..
“Ayo Jek, dari terhadap gak tersedia cewek. Hajarrrr” teriaknya sambil tertawa.

Aku menjadi ketakutan.. saya paham bahwa mereka bukan lagi pelindungku. Mereka menjadi kesetanan karena nafsu. Aku paham mereka tidak mendapat cewe malam ini. Timbul ke khawatiranku, jangan2 mereka seluruh sudi memperkosaku?..

Penis Jeksen menjadi keras dibalik celananya, menjadi melekat di pahaku. Aku menjadi keresahan dan bingung, saya menyadarkan Jeksen lewat kata2.

“Jek.. pliss jangan gini ah.” Aku memelas. Jeksen yang kulihat saat ini berbeda dari biasanya, dia seolah tidak ingat bahwa saya adalah sahabatnya yang selayaknya dia jaga.

Jeksen mencium leherku, dadaku. Aku terus merengek dan tanganku mengusahakan menolak badannya yang besar itu. Postur Jeksen tidak terlalu tinggi, badannya agak gemuk. Seperti om2 penampilannya. Dia terus menciumku bersama dengan nafsu. Sesaat saya kaget bukan main.. tangannya menyelinap tanktop ku dari anggota perut merayap keatas bersama dengan cepat meremas buah dadaku yang tetap terbungkus bra.

Aku akhirnya menjerit. Untuk menyadarkan Jeksen. Tapi apa daya, Jeksen menjadi beringas, apalagi dikompori oleh Alex. “Benar2 bajingan lu Lex” beberapa kali saya memaki di dalam hati.

Lebih tidak cukup ajar lagi, Alex ikut meraba payudaraku, dia meremas sambil mencium pundakku. Aku menjadi panik, rasanya sudi nangis.. Jeksen bangkit bersama dengan posisi duduk, menindih pahaku.. dia mengakses celananya mengeluarkan penisnya. Aku sebetulnya tidak terlalu kaget karena telah dulu melihat. Tapi yang saya kaget adalah membayangkan dia akan menyetubuhiku. Sahabatnya.

Jujur saja, waktu itu saya tidak berontak, saya hanya berharap ini tidak terjadi. Dalam hatiku saya terlalu tidak ingin, tapi keadaan diriku yang tetap mabuk. Rasanya seperti pasrah.. penolakan yang saya lakukan tidak sanggup kuat, karena tetap menjadi on.

Aku hanya teringat pacarku Febrian.. saya apalagi belum dulu lakukan seks dengannya. Memang saya telah tidak perawan, karena dulu dulu kuserahkan kegadisanku terhadap mantanku yang dulu. Semua kuceritakan kepada Febrian.. dia pria yang baik. Dia sudi menerimaku apa adanya. Aku terlalu sayang padanya. Kami akan menikah terhadap bulan November nanti.

Tapi kini saya menjadi terlalu berdosa terhadap Febrian. Aku akan disetubuhi oleh sahabatku yang tidak sanggup saya cegah. Rasanya miris sekali mengingat Febrian. Saat ini dia sedang nampak kota, dinas kerja. Dia type cowo yang setia dan alim. Aku apalagi menyebut nama Febrian untuk mengingatkan Jeksen.

Tapi Jeksen tidak perduli.. dia menciumku bersama dengan buas.. apalagi dia melicuti tanktop ku.. badanku tetap menjadi lemas sekali. Aku merasakan kedua tanganku dipegangi oleh Alex keatas, agar tanktop ku sanggup dilepas. Lalu Jeksen turun dari ranjang, dia mengakses kancing celanaku. Aku sempat menahan tangan Jeksen, tapi tenaga Jeksen jauh lebih kuat.

Aku terus merengek memohon terhadap Jeksen.. saya tidak perduli terhadap yang lain. Kunci ku adalah terhadap Jeksen, pikirku.
“Jek… please. Jangan dong. Please” kataku. Saat itu saya menjadi menangis. Sudah berapa kali saya memohon tapi tidak digubris.

Jeksen sukses mengakses kancing celana jeansku, lalu dia menarik paksa celanaku kebawah. Aku yang tetap terlentang dikasur terseret kepinggir karena jeansku yang ketat. Aku merasakan bongkahan pantatku, pahaku dingin kena angin AC.

Sekarang badanku telanjang, hanya bra dan celana di dalam saja. Aku tetap ingat busana dalamku itu berwarna merah bersama dengan renda.

Alex duduk di kasur di sebelah atas kepalaku, dia mengangkat badanku dari belakang hingga saya keposisi duduk di ranjang menghadap Jeksen.. Alex duduk persis dibelakangku, kedua kakinya masing2 disamping segi pinggangku. Dia memelukku dari belakang sambil meremas payudaraku, tanganku tetap lemas memegang tangan Alex, kutahan untuk tidak meremas tubuhku. Tapi saya kalah kuat. Aku terhitung merasakan penisnya mengeras dibalik celananya, melekat pantatku.

“Toketnya berat bro.. kenyaaal… hahaha” kata Alex terhadap Jeksen. Kedua tangannya meremas payudaraku agak kasar.
Aku ingat betul kata2 itu.. hatiku miris dihina oleh Alex.

Tidak lama saya tersentak, Jeksen naik ke ranjang menghadapku bersama dengan posisi berlutut. Penisnya yang tegang pas berada di wajah ku sekitar 10 cm. Aku tau, Jeksen dambakan saya meng oral penisnya. Rasanya betul2 pusing kepalaku menghadapi peristiwa ini.. gak tau wajib berbuat apa, karena saya lemah sekali dan tetap melayang rasanya.

Jeksen menempelkan penisnya dibibirku, dia memegang kepalaku bersama dengan satu tangan agar kepalaku tegap menghadap penisnya dan agar saya tidak sanggup memalingkan muka.

Sudah lama sekali saya tidak dulu lakukan oral seks. Jadi teringat, mantanku yang telah mengambil kegadisanku. Dia terlalu untungkan telah mendapat perawanku, dan waktu itu saya terus memanjakan dia, menuruti seluruh keinginan dia, lebih-lebih di dalam seks. Sampai akhirnya saya disakiti, saya hampir tidak yakin lagi kepada seluruh pria.. hingga saya menemukan Febrian.

Tapi lihatlah sekarang.. Jeksen, sahabatku yang terbaik kini memangsaku. Hatiku pilu sekali.. bersama dengan terpaksa saya mengulum penisnya.. tentu saja rasanya aneh, canggung..

Selama saya memberi tambahan oral seks. Alex terus meremas badanku, dari toket , perut, pinggang, paha, seluruh tangannya meraba seluruh tubuhku setiap inci. Terus terang saya menjadi terangsang. Kuakui.. karena terus menerus di stimulasi oleh Alex. Tapi otakku menyebutkan ‘tidak’.

Aku menghentikan oral seks. Tanganku memegang kedua tangan Jeksen dan terus memelas agar berhenti dari kegilaan ini. Aku dambakan pulang ke rumah.

Ternyata mereka tambah jadi beringas. Kedua tanganku dipegang oleh Alex kebelakang tubuhku, seperti polisi membekuk penjahat. Karena tanganku tertekuk kebelakang, saya agak kesakitan.. dan disitu saya merasakan kekuatanku menjadi pulih. Sedikit tersedia tenaga.. saya menjadi berontak.

“Apa2an sih ini.. ahhh!” Teriakku.. beberapa kali saya berontak seperti itu kala tangan2 mereka menjamah badanku.
Namun saya lebih kaget lagi, Toni tiba2 telah disamping kiri ku.. dia telah tidak mengenakan celana. Penisnya tegak lebih panjang bersama dengan diameter lebih kecil. Dia membujukku bersama dengan keadaan mabuk. Aku menjadi benci kepada mereka.

“Mel.. ayolah.. sekali aja kita ngewe..” bujuk Toni. “Mel.. gue sayang mirip elo” tambah Jeksen sambil membelai rambutku.
Hatiku hancur, sahabatku yang saya yakin kini seutuhnya tambah memangsa diriku. Aku hanya menunduk menangis sebisanya. Mereka bener2 gak memiliki hati lagi. Bukannya kasihan padaku, tambah tanganku dipaksa memegang penis Toni.