Ngewek Tante Centil Tetangga Sebelah // Part 2

RAKSASAPOKER Ku perhatikan suasana warung tersebut. Warung semi permanen itu dibangun dengan 1/2 tembok, setengahnya ulang kayu. 

RAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Lantainya terbuat berasal dari adonan semen dan pasir saja yang tidak di beri ubin . Kulihat kondisinya terasa sedikit berdebu, tampaknya warung ini sudah lumayan lama tutup,

mungkin sebab bangkrut. Memang kulihat di lebih kurang warung tersebut suasananya lumayan sepi, di sebelah kirinya terkandung lahan yang lumayan luas yang tampaknya adalah garasi truk-truk ekspedisi yang malam itu nampak kosong.


Di sebelah kanannya adalah lahan kosong yang ditumbuhi ilalang lumayan tinggi.Cukup lama kita berteduh di beranda warung tersebut, hujan turun semakin deras disertai kilat dan petir. Hesti sering terpekik pas kilat menampakkan cahayanya di langit disertai nada petir yang menggelegar. Posisi berdirinya didekatkannya padaku.

Aku pun berinisiatif 1/2 memeluknya berasal dari belakang. Awalnya saya hanya memegang pinggangnya namun lama kelamaan saya pun melingkarkan tanganku di depan perutnya. Entah sebab terbawa suasana atau kedinginan, Hesti mendiamkan saja perbuatanku itu. Kepala dan punggungnya tambah di sandarkan ke dadaku. Aku terus memeluknya berasal dari belakang sambil melihat ke arah jalur raya di mana selanjutnya lintasnya semakin sepi.

Sudah satu jam kita berteduh di area tersebut. Tidak tersedia satupun berasal dari kita yang besuara, repot dengan asumsi masing-masing.Sambil memeluknya berasal dari belakang, saya mencium wangi harum rambutnya yag tergerai basah. Karena posisi kita yang berhimpitan, mau tidak mau batang kemaluanku menempel di bongkahan pantatnya yang lumayan kenyal.

Dan sesekali bergesekan. Lama kelamaan keinginan kelelakian ku pun bangkit. Kejantananku sedikit demi sedikit mengeras di balik celana jeansku. Hesti tampaknya sadar perubahan biologis di tubuhku itu namun ia hanya melirikku sekilas sambil tersenyum. Merasa mendapat lampu hijau saya terasa berani untuk berbuat lebih. Segera kususupkan tanganku ke balik blus batiknya dan mengusap usap dengan halus dinding perutnya. Kurasakan otot-oto perut yang lumayan lihat dengan kulit yang halus. Bener-benar aduhai bodi si hesti batinku.

Hesti sedikit mengelinjang kala telapak tanganku menyentuh kulit perutnya.Karena malam semakin dingin dan keinginan kelelakianku terus bergejolak, ku beranikan diri tanganku main lebih ke atas. Dengan cepat kususupkan ke balik bra yang dikenakannya. Hesti lumayan kaget dengan apa yang kulakukan dan berusaha berontak dan menepis kedua tanganku, namun dengan tidak kalah cekatan, saya memeluknya lebih keras berasal dari belakang dan kedua telapak tanganku mencengkram dengan lumayan kuat payudaranya.

Kurasakan payudara itu miliki daging yang begitu kenyal dan terasa tonjolan puting susu yang semakin mengeras. Segera saja saya mengusap usap puting dan payudara Hesti dengan telapak tanganku. Akhirnya pertahanan Hesti pun melemah, nafasnya terasa tersengal-sengal.

Kuciumi leher jenjangnya dan ia pun menggelinjang sambil merintih tertahan“aaahhhh….”Karena tubuh Hesti yang menggelinjang, tubuhku pun sedikit terdorong ke belakang dan tersandar pada pintu warung. Tiba-tiba kunci pada pintu warung itu lepas di karenakan dudukan kayu area kait gembok pengunci warung tersebut sudah lapuk termakan rayap. Pintu warung itu pun terdorong sedikit terbuka.

Aku langsung menghentikan kegiatanku dan langsung menarik kedua tanganku berasal dari balik bajunya. Segera kuambil senter kecil yang senantiasa kubawa berasal dari kantong jaketku. Kudorong pintu warung itu sehingga terbuka lebih lebar, dan langsung kusinari seisi ruangan itu dengan sinar senterku. Ruangan di di dalam warung itu berukuran 3 x 3 meter.

Di dalamnya sudah kosong hanya tersedia sebuah lemari kaca yang sudah usang, mungkin bekas area meletakan barang dagangan. Sebuah bangku kayu seperti bangku yang biasa kita temui di sekolah basic dan di pojokan tersedia sebuah bale/dipan yang terbuat berasal dari potongan-

Ruangan itu sedikit berdebu dan di langit-langit kutemukan fiting lampu yang memuat bohlam kecil berdaya 5 watt dan saklar type tarik. Ku tarik saklar tersebut dan ternyata lampu itu tetap menyala, entah mendapat pasokan listrik berasal dari mana, mungkin tersedia kelanjutan berasal dari garasi truk di sebelahnya.Ruangan itu menjadi lebih terang kendati cahayanya tetap temaram.

Suhu di dalam ruangan tersebut lebih hangat di banding di luar. Segera saja Hesti kuajak masuk ke anggota di dalam warung. Hesti agak ragu, namun kutarik lengannya sehingga ia langsung masuk. Jauh lebih baik dan hangat di di dalam di banding di luar.Hesti meniup sedikit debu yang menempel pada bale-bale dan ia pun duduk di segi bale tersebut DAFTAR ID PRO PKV


Aku langsung menutup pintu warung berasal dari di dalam sehingga ruangan menjadi lebih hangat, dan saya pun duduk disamping Hesti, lama kita terdiam sambil menelisik dengan seksama suasana ruangan tersebut.Akhirnya saya teringat dapat permainan kita yang terputus di luar tadi. Hesti selanjutnya membuka jaket yang di sampirkan di bahunya dan meletakkan di sandaran kursi kayu. Aku langsung menggeser tubuhku dan memposisikan tubuhku berhadapan dengan Hesti. Hesti nampak cantik di bawah sinar temaram lampu 5 watt, rambutnya sedikit acak-acakan dan basah.

Segera saja kuraih tengkuk Hesti dengan tangan kananku dan mendekatkan wajahnya ke padaku. Segera kulumat bibir Hesti yang sudah merekah. Sementara tangan kiriku melingkar di pinggangnya. Cukup lama kita berpagutan dengan posisi duduk saling berhadapan.Aku pun terasa merebahkan tubuh Hesti ke bale-bale sambil mulut kita senantiasa berpagutan.

Kugeser tubuhnya agak ketengah dan ia pun mengangkat kakinya naik ke atas bale-bale. Sudah tak kupedulikan ulang debu tipis yang menempel di bale tersebut. Hasrat kita jauh lebih menggebu di banding debu.Sambil terus mengulum bibirnya, lidahku dengan liar mengeksplore rongga mulut Hesti. Ku susupkan ulang tanganku ke balik blouse nya dan berusaha meraih payudaranya.

Kumainkan ulang puting susu itu dengan telapak tanganku walapun blouse dan bra tetap menempel di tubuhnya. Namun lama kelamaan posisi itu tidak membuatku nyaman. Kuhentikan pagutan bibirku dan langsung kutarik ke atas blouse batiknya. Hesti mengangkat tangannya ke atas dan mengangkat sedikit kepalanya. Blouse itu pun lolos berasal dari tubuhnya. Setelah blouse nya terlepas, langsung kuraih kait bara di punggung Hesti.

Ia sedikit melengkungkan punggungnya sehingga tanganku enteng meraih dan membebaskan kait bra yang dikenakannya. Bra itu pun kelanjutannya terlepas. Kini terlihat di hadapanku tubuh Hesti yang 1/2 telanjang dengan bentuk payudara yang bulat prima dan puting susu yang tidak benar-benar besar berwarna coklat muda mendekati merah muda. Sesaat saya terpana dengan keindahan tubuh Hesti.

Hesti sadar saya perhatikan tubuhnya lekat-lekat, ia pun mendekapkan tangannya menutupi payudaranya. Aku langsung manarik tangan Hesti ke atas dan menahannya dengan tanganku. Payudara itu ulang mencuat dengan puting susu yang sepertinya menantang untuk di hisap. Segera saja ku dekatkan wajahku ke payudaranya dan ku hisap puting susu payudara sebelah kirinya.

Hesti melenguh dan punggungnya melengkung merasakan nikmat berasal dari rangsangan yang kuberikan. Tanganku senantiasa mencegah tangan Hesti di atas. Mulutku terus menghisap puting susu dan memainkan nya dengan lidahku bergantian di kedua payudaranya. Hesti menggelinjang semakin hebat, kepalanya tergolek ke kanan ke kiri dengan mulut yang terus meracau mencegah nikmat.

“Aahhh…..ouuhhh….issshhhh….”Cukup lama saya memainkan kedua payudaranya. Setelah suka saya pun terasa membuka kancing dan retsleting celana jeans Hesti selanjutnya meloloskannya melalui kedua tungkai kakinya. Celana di dalam hitam berenda yang dikenakannya kulepas juga. Di hadapanku kini terlihat gundukan daging yang ditumbuhi bulu halus yang tersusun rapi. Terlihat garis yang membentuk belahan memeknya berwarna kemerahan. Liang vagina itu nampak sempit, nyaris tidak yakin kecuali Hesti sudah dulu melahirkan.

Dengan 1/2 berlutut di hadapannya, Kurenggangkan kedua pahanya dan kudekatkan wajahku ke liang vaginanya. Segera saja ku sapukan dengan lembut lidahku ke liang vaginanya. Hesti ulang menjerit dan punggungya ulang melengkung.

Ku mainkan lidahku terus menembus liang vagina. Vagina itu benar-benar rapat dan wangi. Terus saja kusapukan lidakhku menerobos lobang kenikmatannya dan sesekali menyentuh klitorisnya. Hesti terus merintih dan menggelinjang. Liang itu benar-benar basah oleh cairan kewanitaannya. Kurasakan kedutan halus otot-otot vaginanya di lidahku.

Setelah lumayan lama saya pun bangkit. Sambil senantiasa berlutut di atas bale saya membebaskan semua busana dan celana yang ku memakai terhitung celana di dalam ku. Kontolku langsung melejit keluar, tegak mengacung dengan urat-urat yang nampak menonjol. Hesti sedikit kaget melihat ukuran kontolku. Ia pun bangkit. Sambil duduk bersimpuh di hadapanku, ia terasa memegang dan membelai kantung zakar dan batang penisku.

Perlahan di kulumnya batang kontolku. Batang kontol yang lumayan besar dan panjang nampak tidak mampu dikulum sepenuhnya oleh bibir mungil Hesti. Tetapi saya lumayan suka sebab hisapan dan sapuan lidahnya yang lembut di batang dan kepala kontolku memicu aliran darah semakin deras mengalir ke urat-urat kejantananku. Kontolku pun semakin keras. Bokep Jepang

Cukup lama Hesti menghisap kontolku, akhinya ku cabut perlahan batang kontolku berasal dari mulutnya dan kurebahkan tubuh Hesti ke bale-bale. Kudekatkan kepala kontolku yang sudah basah oleh air liurnya ke arah liang vagina Hesti.

Kedua paha nya di renggangkan dan lututnya di tekuk. Liang vagina itu sedikit merekah. Terlihat berwarna merah muda dan berkilat basah oleh cairan yang membanjirinya. Perlahan ku tempelkan kepala kontolku tepat di pintu masuk liang vaginanya.Ku majukan perlahan pinggulku dan kepala kontolku pun meyeruak masuk mencoba menembus pertahanan Hesti.

Terasa sempit. Hesti pun seperti nya mencegah rasa sakit. Ketika batang kontolku terbenam setengahnya di liang vaginanya. Kucoba memaju mundurkan batang kontolku perlahan. Akhirnya dengan sedikit paksaan, batang kontoku terbenam sepenuhnya di dalam liang vagina Hesti. Hesti menjerit tertahan merasakan tubuhnya di masuki batang kontol yang lumayan besar.“aaacchhhhh…..iiissshhhhttt…..ooouuuuchhhh.”Saking sempitnya, vaginanya nampak menggembung, sesak menampung batang kontolku.

Kudiamkan sementara batang kontolku di di dalam vagina Hesti. Merasakan sensasi kedutan-kedutan halus otot vaginanya yang mencengkram erat semua batang kontolku. Sunggung sensasi yang tidak terkira.Perlahan ku maju mundurkan pinggulku ulang dan penisku nampak bergerak maju mundur di liang vaginanya.

Batang itu nampak basah berkilat dilumuri cairan kewanitaan Hesti. Semakin lama kupercepat gerakan pinggulku dan Hesti pun semakin meracau dan merintih merasakan kenikmatan persetubuhan kami.“Aaacchhhhh……ooouuchhhh…..acchhhhh……sssttt……mmmaaa asss….”Terus saja kuhujamkan batang kontolku ke vagina Hesti. Posisiku 1/2 berlutut di topang kedua tanganku yang diposisikan mengapit kedua payudara Hesti.

Daging kenyal itu bergesekan dengan kulit lenganku mencipatan sensasi tersendiri. Payudara itu terus berguncang ikuti irama sodokan pinggulku.Serunya aktifitas kita di atas bale-bale menciptakan nada berderit yang lumayan riuh di ruangan tersebut. Belum ulang nada nafas kita yang memburu dan rintihan dan juga nada Hesti yang terus meracau, menciptakan suara-suara di malam sunyi itu.

Tiba-tiba Blackberry Hesti berdering, Hesti agak kaget. Segera di raihnya Blackberry yang diletakan di di dalam tas tak jauh berasal dari tubuhnya. Terlihat nama suaminya di layar BB. Hesti member kode dengan telunjuknya, memintaku sehingga berhenti sementara menggenjot tubuhnya.“iya mas…..” jawab Hesti.“Aku tetap di jalan, ini ulang berteduh. Aku numpang mirip temen naik motor,” Hesti pun berbohong pada suaminya“Iya sebentar ulang saya jalan,” tutupnya. Begitu bunyi pembicaraan Hesti dengan suaminya di telepon.

Ketika menerima telpon, saya tidak menghentikan genjotanku, saya hanya mengurangi temponya, sehingga ia pun berkata sedikit tertajah sehingga tidak hingga merintih. Di cubitnya perutku, sambil merajuk.“Hampir aja ketahuan,’ ujarnya lagi.Tidak terlihat perasaan bersalah di wajahnya kendati vagina yang selayaknya menjadi hak suaminya sedang di masuki oleh kontol tetangganya.

Tampak birahinya yang menggebu mengalahkan logika dan akal sehatnya. Segera saya menggenjot ulang pinggulku denga tempo yang lebih cepat. Hesti ulang merintah dan tak lama ia pun menjerit panjang sambil meremas lenganku dengan kerasnya. Di bawah sana terasa kedutan dan otot vaginanyamencengkram semakin keras di barengi dengan punggungnya yang sedikit melengkung mencegah ledakan kenikmatan yang dirasakannya. Hesti meraih klimaksnya.

Melihatnya mengalami orgasme saya pun semakin mempercepat tempo permainanku. Sudah 40 menit saya menggempurnya dengan posisi misionaris. Tak lama, pertahananku pun terasa jebol. Tempo sodokanku semakin cepat lagi. Tubuhku mengejang dan pinggulku kudorong kuat kuat sehingga kantong zakarku membentur bibir vaginanya. Ujung penisku pun terasa menyentuh mulut rahimnya. Spermaku menyemprot dengan deras ke di dalam liang vaginanya. Batang kontolku berdenyut dengan kerasnya.

Hesti merasakan sensasi kenikmatan yang tidak ada tara. Matanya terpejam, mulutnya 1/2 terbuka. Suara rintihan tertahan nampak berasal dari mulutnya bersamaan sensasi aliran lava hangat yang mengalir ke di dalam tubuhnya. Tangannya tiba-tiba mencengkram tengkukku dan menarik wajahku mendekat padanya.

Dilumatnya bibirku dengan liarnya. Digigit-gigit terhitung bibir bawahku dan lidahnya menyapu liar tiap tiap segi rongga mulutku. Terlihatlah segi liar Hesti.Tubuh kita berhimpitan, tubuhku tetap menindih tubuhnya. Payudaranya yang lumayan keras tertindih dadaku. Keringat kita bercampur menjadi satu. Cairan kelamin kita pun berpadu di liang vagina Hesti.

Batang kontolku tetap tertanam seluruhnya. Otot vagina Hesti mencengkram dengan erat sepertinya enggan membebaskan batang kontolku. Hujan di luar semakin reda bersamaan berakhirnya pertempuran kami. Suhu ruangan tidak ulang dingin namun panas diiringi nada nafas yang terengah-engah.Perlahan saya membebaskan bibir Hesti dan mengeluarkan batang kontolku berasal dari vaginanya.

Terlihat batang kontolku benar-benar basah. Dan kulihat lubang memeknya yang tadi sempit kini merekah seperti bunga dan nampak lelehan cairan putih spermaku. Aku pun bangkit berdiri dan terasa berpakaian. Hampir satu jam kita bersetubuh di warung itu. Hesti tampaknya benar-benar kepayahan. Aku pun membantunya untuk bangkit dan mengenakan pakaiannya.

Kepalanya di sandarkan di bahuku dan kupapah tubuhnya menuju motor yang terpakir di luar. Dengan lembut Hesti mencium pipiku sambil berbisik  “Besok ulang ya sayang………”