Ngewek Tante Centil Tetangga Sebelah // Part 1

RAKSASAPOKER Aku makin terobsesi untuk melacak sasaran tante kesepian lain untuk memuaskan libidoku yang tinggi, Kali ini sasaranku terhitung istri tetanggaku yaitu Hesti. 


RAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Hesti seorang ibu satu anak berusia 3 tahun. Usianya kutaksir baru kurang lebih 28 tahunan.

Perawakan Hesti cukup mungil bersama dengan tinggi hanya 150 an cm bersama dengan rambut ikal sepunggung.


Namun ada aset milik Hesti yang sering membuatku menelan ludah kecuali melihatnya.

Dengan tubuh semampai, Hesti miliki ukuran payudara yang cukup besar bersama dengan wujud bulat sempurna. Hal ini terlihat tahu dikarenakan ia sering mengenakan kaus ketat di lingkungan rumahnya. Dan ia pun miliki wujud bokong yang mirip bulatnya. Intinya, Hesti miliki body yang cukup aduhai.

Tampaknya ia cukup pandai memelihara diri. Sungguh untung laki laki yang bisa meyetubuhinya.Di lingkungan tempat tinggal kami, Hesti dan suaminya masih menumpang di tempat tinggal kedua orang tuanya. Hesti dan suaminya sama-sama bekerja. Menurut informasi yang saya dapatkan berasal dari istriku, Hesti bekerja sebagai staf administrasi di suatu perusahaan di Kelapa Gading.

Sedangkan pekerjaan suaminya, saya tidak tahu. Lagi pula ngapain saya cari informasi mengenai suaminya? Hehehe. Hesti miliki dua orang adik perempuan yang tidak kalah cantiknya. Kiki yang berusia 22 tahun dan baru saja lulus kuliah dan Maya yang baru berusia 17 tahun, masih duduk di kelas 3 SMU. Dengan kedua adiknya ini saya pun nantinya miliki kisah tersendiri yang bakal saya ceritakan di bagian yang terpisah.

Hubunganku bersama dengan Hesti sebenarnya tidak benar-benar dekat, tapi kita sering saling memberi salam apabila berpapasan di jalan. Dan anaknya pun sering bermain bersama dengan anakku. Ia style wanita yang ramah dan supel. Untuk berangkat bekerja Hesti memanfaatkan sepeda motor matic nya. Ia berangkat sendirian. Tampaknya tempat kerjanya dan suaminya, tidak serupa arah, sehingga mereka memanfaatkan sepeda motor masing-masing. Dan ini menyulitkan ku untuk melaksanakan pendekatan padanya. Tak bisa kulakukan lagi cara pendekatan yang mirip bersama dengan Nanik yaitu beralasan berangkat bareng-bareng. Aku harus putar otak untuk bisa medekatinya.

Namun yang namanya rejeki kadang mampir tiba-tiba. Pagi itu saya sedang memanaskan mesin motorku dan bersiap untuk berangkat kerja. Ketika itu kulihat Hesti terjadi kaki ke ujung gang untuk berangkat kerja. Koq, tumben gak bawa motor? Gumanku di dalam hati.

Karena hari itu hari Jumat, kulihat tampilan Hesti cukup kasual. Dengan setelan celana jeans warna hitam dan blouse batik sebagai atasan, tidak bisa menyembunyikan wujud tubuhnya yang aduhai. Bentuk dadanya yang membusung kedepan dan bokongnya yang melenggak-lenggok kekanan ke kiri bersama dengan indahnya.Bergegas ku ambil helm dan juga jaket dan buru-buru pamit pada istriku untuk berangkat kerja.

Kuikuti Hesti berasal dari kejauhan. Dan begitu sampai di ujung gang langsung kuhampiri dia.“Lho koq ga bawa motor mbak Hesti? Mau kerja ya?”“Iya mas, kebetulan motorku lagi di pinjem adik untuk interview. ”“ Oh begitu…..”“ Mbak Hesti kerja di Kelapa Gading khan, Kebetulan saya lagi ada urusan ke Sunter dan lewat kelapa gading. Bareng aja yuk.”

AjakkuSebenarnya alasanku ke Sunter hanya akal-akalan ku saja sehingga saya bisa ada alasan mendekatinya, kalo saya bilang berkenan ke Kelapa Gading, nanti terbaca donk niatku sesungguhnya. HeheheHesti tampak ragu bersama dengan ajakanku“Gak usah deh mas, saya naik angkot saja, lagi pula saya gak bawa helm.”“Udah gak apa apa Mbak, kalo pagi gini khan polisi belum ada.

Masih pada tidur’” candaku.Akhirnya ia luluh bersama dengan ajakanku dan langsung naik ke atas motorku. Motor ku berjenis motor sport sehingga posisi duduk pembonceng agak menunduk dan tentu saja ini memberikan kegunaan tambahan bagiku. Untuk mengantisipasi hal selanjutnya Hesti memasang tasnya diantara posisi dudukku bersama dengan duduknya.

Namun tetap saja sesekali, tonjolan payudara nya menyentuh punggungku. Kulajukan sepeda motorku bersama dengan enjoy sehingga saya miliki kala yang cukup lama untuk ngobrol dengannya. Obrolan kita ringan-ringan saja seputar pekerjaan dan kantornya. Tak lama kita pun tiba di kantornya yang bersifat komplek ruko yang terdapat tidak jauh berasal dari Mall Kelapa Gading.

Setelah Hesti turun berasal dari motorku, ia pun mengucapkan menerima kasih“Terima kasih Mas Ardi atas tumpangannya.”“Iya sama-sama Hes.”Karena sudah menjadi akrab, saya pun tidak lagi memanggilnya Mbak. Itupun dikarenakan Hesti yang memintanya.“Oya nanti pulang bareng yuk. Aku pulang berasal dari Sunter sore hari, anda pulang jam berapa?”“Aku pulang jam 5 sore sih mas, tapi gak usah sibuk – repot, saya naik angkot aja, nanti menyulitkan mas Ardi lagi.” Elaknya.“ Enggak menyulitkan koq Hes, daripada anda naik angkot kemaleman sampe rumah.”“ Nanti jam 5 saya tunggu di sini ya,” Desakku.“Ya sudah deh mas, tapi bener gak ngerepotin khan?” Tanyanya lagi. DAFTAR ID PRO PKV


“Enggak koq tenang aja.”“ Oya saya minta pin BB donk biar nanti ringan ngabarin kalo sudah sampai.”Dia lalu menyatakan serangkain huruf dan angka Pin BB nya“Ya sudah saya masuk pernah ya mas.”“Ok Hes. Selamat bekerja ya.”Hesti pun tersenyum manis padakuAku langsung melajukan motorku bersama dengan cepat ke arah kantor ku di Sudirman, Sudah tentu terlambat ini.

Tapi ya sudahlah, tinggal nanti cari alasan kenapa terlambat mirip si boss.***Pukul 4 sore, saya buru-buru menuju mesin absen finger scan dan terlihat berasal dari kantor secepatnya. Segera ku menuju ke parkiran motor dan melaju ke Kelapa Gading untuk menjemput Hesti, sang wanita dambaan lain.hehehePukul 4. 40 saya pun tiba di Kelapa Gading.

Aku sengaja menunggunya agak jauh berasal dari kantornya sehingga tidak menimbulkan gossip berasal dari rekan-rekan kerjanya. Segera ku kirim pesan via BBM yang mengabarkan keberadaanku. Tak lama BBM itu pun berbalas kalo ia sedang membereskan pekerjaannya dan bersiap pulang. Tak lama masuk lagi BBM darinya. Kali ini Hesti mengabarkan kalo ia harus ikuti meeting mendadak bersama dengan pimpinan dikarenakan ada kekacauan sytem administrasi yang terjadi di bagiannya.

Dia mempersilahkan saya untuk pulang saja dan tidak usah menunggunya dikarenakan dia tidak tahu jam berapa meeting bakal selesai. Tapi saya meyakinkan dia kalo saya bakal tetap tunggu saja. Kasian terhitung kalo dia harus pulang malam naik angkot. Padahal sih di dalam hati dikarenakan ada maunya.heheAku pun lagi tunggu di dekat sebuah kios rokok di pojokan tempat parkir komplek ruko tersebut. Untuk membunuh waktu, saya pun ngobrol bersama dengan tukang parkir dan penjaga kios rokok tersebut

Pukul 19.30, masuk BBM yang mengabarkan kalo Hesti sudah menyelesaikan meeting bersama dengan pimpinannya dan sebentar lagi bakal terlihat kantor. Aku pun memberi tahu dimana posisiku. Tak lama sosok Hesti terlihat terlihat di sertai dua orang temannya. Setelah berpisah bersama dengan teman-temannya, Hesti lalu terjadi menghampiriku di kios rokok.“ih mas Ardi sudah dibilangin pulang saja, masih aja nungguin aku,” gerutunya tapi sambil tersenyum.

“Biarin, abis nya kasian ngeliat anda cantik-cantik malam-malam naik angkot.” Ujarku sambil memujinya.Hesti sedikit tersepu mendengar pujianku“Ih mas Ardi bisa aja, cantikan terhitung mbak Santi,” ia menyebut nama istriku.Aku hanya tertawa saja menanggapinya.“Ya sudah pulang yuk,” ajakku padanya.Segera kupakai jaket dan juga helmku dan menyalakan mesin motor, Hesti pun langsung menaiki jok motor.

BANDAR CAPSA SUSUN

Akupun menjadi melajukan motorku ke arah tempat tinggal kami.Kursakan hawa malam itu begitu dingin dan hawa menjadi lembab, tanda-tanda bakal turun hujan. Dan benar saja, kala saya melaju di jalur Pegangsaan Dua, tanpa pemberitahuan terutama dahulu, hujan turun bersama dengan derasnya, secara tiba-tiba. Aku pun langsung berupaya melacak tempat berteduh.

Tak lama saya pun menemukan sebuah warung yang sudah tutup bersama dengan teras yang cukup untuk kita berteduh. Warung itu letaknya cukup tersembunyi dan tidak ada penerangan di terasnya. Penerangan hanya berasal dari kendaraan yang lewat dan sedikit cahaya berasal dari lampu merkuri penerang jalan.

Aku dan Hesti 1/2 berlari menghindari hujan menuju teras warung tersebut, sedang motorku kubiarkan di bawah guyuran hujan. Karena terlambat melacak tempat berteduh, kulihat baju Hesti sudah cukup basah terkena guyuran Hujan. Sedang aku, dikarenakan mengenakan Jaket kulit, hanya celana ku saja yang basah.

Segera kulepaskan jaket yang kukenakan, dan kukibaskan sehingga air yang melekat di bagian luarnya mengering. Kusampirkan jaketku di pundak Hesti yang kulihat menjadi menggigil kedinginan. Tangannya menyilang di depan dadanya. Kurapatkan jaketku sehingga ia bisa menjadi lebih hangat. Ia lihat ke arahku dan megucapkan menerima kasih bersama dengan bibir yang sedikit gemetar mencegah dinginnya suhu hawa malam itu.