Ngewe Sama Tina di Kamar Mandi // part 2

RAKSASAPOKER Entah mengapa saya mulai canggung sementara akan membuka kaosku. Padahal tidak ada orang lain dan juga sesekali ke pijat plus. 

RAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Aku buka jam tanganku dulu, selanjutnya saya nampak berasal dari kamar mandi dan kuletakkan di meja makan.

Posisi Tinah tetap senantiasa di belakang pintu, bersama tangan kanan menghindar pintu agar senantiasa agak terbuka.


Kembali ke kamar mandi, kubuka kaosku dan kusampirkan di cantolan yang menempel di tembok. ”Pintunya nggak ditutup aja Tin ?”, tanyaku. Pertanyaanku sebetulnya tidak butuh jawaban, cuma basa basi. “Nggak usah Pak..kan nggak ada siapa – siapa”, jawab Tinah.

Lalu kubuka jinsku, kusampirkan pula. Sesaat saya tetap sangsi melewatkan kain paling akhir penutup tubuhk, cd – ku. “Bapak nggak nglepas celana dalem ?”, tanyanya. “Heh..ya iya”, kujawab bersama nyengir. Penisku sebisa mungkin kutahan tidak mengembang, namun cuma bisa kutahan mengembang ¼ – nya. Sengaja kutatap matanya sementara melewatkan cd – ku. Mata Tinah sedikit membesar. Kusampirkan juga cd – ku. Lalu bersama tenang Tinah menyampirkan handuk biru yang sedari tadi menutup beberapa tubuhnya. “Duh..pantatnya tetap ok. Pinggangnya tidak berlemak. Sabar ya nak..kita liat keadaan dulu”, kataku terhadap sang penis sambil kuelus.

Tinah selanjutnya membalikkan badan. Cegluk, suara ludah yang kutelan. “Uhh..susu yang tetap bagus juga. Pentilnya nggak terlalu besar, areolanya juga, warnanya pas..nggak item banget. Perutnya sedikit rata dan..hmm..rambut bawahnya cuma sedikit”. Mau tidak mau, penisku jadi mengembang dan itu mengetahui dilihat Tinah. Kembali sebisa mungkin kutahan perkembangannya. Tinah selanjutnya menggosok gigi dahulu. Karena saya tidak membawa sikat gigi, cuma berkumur bersama obat kumur. “Bapak saya mandiin pernah ya”, kata Tinah. “Terserah kamu”, jawabku sambil tersenyum. Tinah selanjutnya mengambil segayung air, diguyurkan ke badan berasal dari leher dan pundak. Mengambil ulang segayung, diguyurkan ke perut dan punggung ditambah senyum manisnya. Ia selanjutnya capai sabun, digosokkan ke leher; pundak; dada dan tangan kananku.

Dibasahinya sabun bersama diguyur air selanjutnya digosokkan ke tangan kiri; perut; penis; bola – bolaku. “Uhh..gimana bisa nahan penis nggak ngembang”. Bagaimana tidak, sementara menggosok penis dan bola – bolaku sengaja digosok dan di urutnya. Ditatapnya senjata kebanggaanku, selanjutnya menatapku dan tersenyum. Aku cuma bisa membalasnya bersama senyum juga. Diambilnya ulang segayung air, sabun dibasahi dan sisanya diguyurkan ke paha dan kaki selanjutnya digosoknya. Sabun lantas di tempatkan di pinggir bak mandi, lantas mengambil segayung air dan diguyurkan ke badan depanku. Ambil segayung ulang dan diguyurkan lagi, tak lupa senjataku dibersihkan berasal dari sisa – sisa sabun. Sedikit diremas oleh Tinah. Kutahan keinginanku untuk membalas perlakuannya, “biar Tinah yang pegang kendali”.

“Balik badan Pak”, perintahnya. Air diguyurkan ke punggung dan bagian bawah badanku. Digosoknya punggung; pantat; selanjutnya paha dan kaki segi belakang. Bonusnya, ulang menggosok penis dan bola – bolaku dan meremasnya. “Duh..ni anak. Bikin senewen..sengaja membawa dampak panas aku“. Kembali air mengguyur tubuh belakangku, sebanyak 3x. Dibalikkan badanku selanjutnya mengguyur senjataku, digosok – gosoknya sampai sedikit memerah. Jantungku jadi berdebar. “Sudah selesai Pak“, kata Tinah. “Makasih ya Tin“. “Emm..kamu berkenan tak mandiin juga ?“, kepalang basah, kutawarkan keinginan layaknya dia tadi. “Nngg..nggak usah Pak..ngrepoti Bapak“. “Ya nggaklah..jadi imbang kan“. Langsung kuambil segayung air selanjutnya kuguyur ke tubuh depannya. Ia cuma menatapku. Kuambil ulang segayung. Lalu sabun yang tadi tergeletak di pinggir bak mandi kuambil dan saya basahi.

Kugosok leher; pundak; dan ke-2 tangannya. Kubasahi sabun ulang dan kugosokkan ke dada; ke-2 susu dan pentilnya; dan juga perut. Kutatap matanya sementara kugosok ke-2 gunungnya yang kumainkan sedikit pentil – pentilnya. Tinah juga menatapku. Matanya mulai sedikit sayu. 1menit – an kumainkan pentil –pentilnya, selanjutnya sedikit kuremas susu kirinya. Bibirnya sedikit membawa dampak huruf o kecil dan “ohh..hhmm“. Kubasahi ulang sabun, dan kugosokkan ke pinggang; paha dan ke-2 kakinya. Vagina luar cuma kusentuh sedikit bersama sabun, kuatir perih dan iritasi nanti. Itupun telah memadai membawa dampak matanya jadi meredup. Air segayung selanjutnya kuguyurkan ke tubuhnya 2 – 3x. Kugosok dan kuremas sedikit keras dua gunungnya. Sedikit berguncang. Dua tangan Tinah memegang pinggir bak mandi, mulai erat. Kumainkan ulang pentil – pentilnya.

Aku merundukkan badan dan kukecup pucuk – pucuk bunganya bergantian. Tak harus ulang ijin darinya. Tangan kiriku mengusap – usap lembut luar vaginanya. “Ouuh Paakk..“, Tinah mulai mendesah. Kukecup bibirnya lembut, “nanti dilanjut lagi“. Matanya seakan bernada protes, namun Tinah diam saja. Kubalikkan tubuhnya, selanjutnya kuguyur punggungnya sekarang. Sabun kugosokkan ke punggung; pinggang; pantat. Sabun kubasahi ulang selanjutnya kugosokkan ke paha dan kaki bagian belakang. Aku menyusuri tubuh depannya ulang berasal dari pinggang belakangnya. Tinah sedikit menggeliat geli. Kutangkupkan dua tanganku di dua susunya.

Aku suka bermain – main di susu yang bagus atau tetap ok. Seluruh belakang lehernya saya cium dan kecup, begitu juga dua kupingnya dan kubisikkan ”kamu diam saja ya..cup”. ”Geli Paakk..”, Tinah mendesah lagi. Dua pucuk bunganya jadi mengencang dan keras. Aku menyentil – nyentil, kuputar – putar layaknya melacak gelombang radio. Dua tangan Tinah mencengkeram paha depanku. ”Aahh..hmmppff”, erangnya. Tangan kananku mengambil segayung air, kuguyur ke tubuh depannya. Kali ini kuusap – usap vagina luarnya bersama tangan kanan, sedang yang kiri senantiasa di susu kanan Tinah. DAFTAR ID PRO PKV


Pahaku jadi dicengkeramnya. Kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan sejalan kecupan dan ciumanku di belakang leher dan daun – daun telinganya. Sesekali saya menyentuh bibir dalamnya. Terasa telah menghangat dan sedikit basah. ”Ppaakkk..oohhh”. Tubuhnya mulai menggeliat – geliat. Jari sedang kanan kumasukkan sedikit dan kusentuhkan terhadap dinding atas vaginanya, sedang jempol kananku kutekan – mengutamakan di lubang kencingnya. ”Aauugghhh Ppaakkk..eemmmppfff”. Kuku – kuku jemari Tinah mulai menggores dua paha depanku. ”Kenapa Tinah..hmm..kamu sendiri yang mengawali kan”, bisikku. Tangan kiriku capai kepalanya dan kupalingkan ke kanan, dan kutahan selanjutnya kucium bersama suara 2 kecup 1 masukkan lidah.

Tinah terkejut, matanya sedikit membesar namun lantas ia menikmatinya. Ganti tangan kananku melaksanakan perihal yang sama. Tinah cuma bisa mengeluarkan suara yang tertahan ”nngg..emmppfftt..nnngggg”, begitu berulang. Vagina dalamnya jadi hangat dan basah. Secara tiba – tiba kuhentikan selanjutnya kubalikkan badannya menghadapku. Kemudian saya sandarkan tubuhnya di bak mandi. Aku lantas berjongkok dan mulai mengecupi vaginanya. ”Jjanggann Ppakk..jorok..”, bersama dua tangannya menghindar laju kepalaku. Kutatap matanya dan ”sssttt..”, jari telunjuk kanan kuletakkan di bibirnya. Dua tangannya kusandingkan di samping kiri dan kanan tubuhnya.

Kukecup kecil, sekali dua kali. Kemudian lidahku mulai menjulur di pintu kenikmatan kami. Mataku kuarahkan menatapnya. Tinah agak malu rupanya, namun ada sedikit senyum di sana. Lidahku jadi intens menyerang vagina luar dan dalamnya. ”Ssuuddaahh Pppaakk..aaaddduuuhh..oohhhh”, disertai geliat tubuh yang jadi menjadi. Karena tak tahan bersama seranganku, dua tangannya meremas dan sedikit menarik rambut dan kepalalu. Cairan lavanya jadi keluar. Dua tanganku mendekap erat buah pantatnya. Jari sedang kiriku sesekali kumasukkan ke vagina berasal dari belakang selanjutnya kesentuhkan dan kutekan sedikit ke anusnya. ”Aammppuuunnn Pppaakkk..oouuuggghh..eeemmmpppfffs

Ssuudddaahhh..ooohhhh”, matanya agak membeliak ke atas dan kepala dan juga rambutku diremasnya kuat. Lava kepuasan dirinya mengalir deras, rasanya gurih sedikit manis. Kudekap erat Tinah bersama kepalaku di vaginanya dan pantatnya kuremas – remas. Kepalaku senantiasa diusap –usap oleh Tinah.

Ia menarik kepalaku dan menciumnya ganas. Lambat laun Tinah bisa studi dariku. Tangan kanannya meremas dan menarik – narik penisku. ”Panjang ya Pak”, tanya Tinah. ”Biasa kok Tin..pingin ya..”, godaku. ”Aahh Bapak..”, jawabnya bersama memainkan bola – bolaku. Tinah merundukkan tubuhnya selanjutnya tangan kirinya memegang penis dan menciumnya. Mungkin ia belum pernah meng – oral suaminya pernah gara-gara penisku cuma dicium – cium dan diremas – remas. ”Kamu berkenan ngemut burungku Tin..kayak ngemut permen lolly ? Tapi kalo belum pernah ya nggak usah..nggak pa – pa”. Tinah menatapku dan kubelai rambutnya.

Dengan wajah sangsi didekatkannya penisku di bibirnya. Tinah mulai membuka mulut, sedikit demi sedikit penisku memasuki mulutnya. Tinah menatapku lagi, menghendaki penjelasan langkah selanjutnya. ”Sekarang..kamu maju mundurkan bersama dipegang tanganmu. Yaa..gitu..oohh..hhmm”. Rupanya muridku cepat mengetahui penjelasan gurunya. Rambut dan kepalanya kubelai dan kuremas – remas. ”Lalu..lidahmu anda puter – puter di kepala penis atau di lubang kencing yang bergaris panjang ituuu..yyyahhhh..sssuuudddaahh pppiiinnnttteeerrr kkkaaammuu Tttiinnnn”.

Kuangkat kepalanya berasal dari penisku dan kita berciuman bersama panas. Saling meremas susu; pantat dan kelamin masing – masing. Lalu kubalikkan ulang tubuhnya menghadap bak mandi. Dua tangannya kuletakkan di pinggir bak mandi. Kembali saya bermain – main di gunung Tinah. Penisku yang telah panas dan mengacung sekali kudekatkan ke vaginanya. Kukecup – kecup pundak dan leher belakangnya. Ikat rambutnya saya terlepas agar dirinya nampak jadi seksi sementara menggeliat – geliat dan rambutnya tergerai ke sana kemari. Aku pindah – geserkan penis di pintu surgawinya, sengaja saya mempermainkan rangsangan terhadap Tinah. ”Oohh..Ppaakk..mmaassuukkkiinn..Pppaakkk”, pintanya. ”Kamu berkenan burungku kumasukkin..hmm.. ”. ”Iyyyaa..Pppaakkk..aaayyyoo Pppaakk..”, rintihnya jadi kencang. Kumasukkan penis pelan – pelan. ”Eemmppff..”, erangnya.

Lalu kuhentakkan pelan sampai penisku mulai menyentuh dinding belakang. ”Ooouuggghh..Pppaakkkk..mentok Pppaakk”. Aku menjalankan tubuh pelan – pelan, kunikmati jepitan dinding – dindingnya yang tetap kuat. Dua tanganku tak henti bermain di dadanya. Kumainkan irama di vaginanya bersama hitungan 1 – 2 pelan 3 kuhentakkan didalam – dalam. Lalu tangan kananku capai kepalanya layaknya tadi dan kucium panas bibirnya. Dinding vagina Tinah jadi hangat dan banjir sepertinya. Dua tangannya mencengkeram erat pinggir bak mandi.

Sekarang tanpa hitungan, kumasuk keluarkan penis cepat dan kuat. ”Oohh.. oohh…hhmmppffftt..”, erang Tinah berulang. Sedang saya sedikit menggeram dan ”oouugghhh..hhmmppff..mpekmu enaknya Tttiinn..”. ”Bbuurrruunnggg Bbbaapppakk jjjuugggaaa”. Jarak pinggangku dan pantat Tinah jadi rapat. Tangan kanan kuusap – usapkan di vaginanya. Dalam kamar mandi cuma ada suara tetes air satu – satu dan juga desah, bunyi beradunya paha dan pantat dan erangan kami. ”Pppaaakkk..sssaaayyyaa mmaaauu..ooohhh..”. ”Tttuunnggguu Tttiiinnn..aaakkkuuu jjjuuggggaa..Di didalam apa di llluuaarrr”, tanyaku. ”Dddaa lllammm aajjjaaa Pppaakkkk..oobbaattnyaa mmassihh aaddaa..”, jawab Tinah. Mendengar itu serangan jadi kufokuskan.

Segala yang ada di tubuhnya saya remas. Dua tangan Tinah tak tahan di pinggir bak mandi dan mencengkeram paha dan juga pantatku. Bibirku dicarinya selanjutnya ”hhhmmmpppfffttt..”. Pantatku diremas kuat – kuat. Bibirnya dilepas dariku dan ”ooouuggghhh..”, desah Tinah panjang. Lava yang hangat mulai mengaliri penisku yang tetap bekerja. Kepalanya tertunduk menghadap air di bak mandi. Kudekap erat tubuh depannya. Kukecup dan kugigit leher belakangnya. Lalu tangan kiriku capai kepalanya dan kucium didalam – dalam. Dengan satu hentakan didalam kumuntahkan magma berkali – kali. ”Ooouugghhh Tttiinnaahhh..hhhmmm..”. kepalaku tertunduk di pundaknya bersama tangan kiri di susu sedang yang kanan di vaginanya.

Lama kita berposisi layaknya itu. ”Makasih ya Tin..kamu baik sekali. Enak banget tubuhmu”, kataku bersama membalikkan badannya dan kucium mesra bibirnya. Penis kumasukkan lagi, tetap menghendaki berlama – lama di hangatnya vagina Tinah. ”Saya yang terima kasih Pak. Sudah lama saya pengen namun mirip orang nggak kenal kan nggak mungkin Pak. Burung Bapak pas di mpek saya”, Tinah menjawab dan mencium bibirku pula. ”Mpekmu tetap kuat nyengkeramnya..dan panas”. Kubelai – belai kepalanya, ”kok bisa anda pengen ngajak main mirip saya ? Malah saya yang kuatir anda laporin”. Sambil mengusap – usap punggungku, ”Tadi sementara saya bersihin mainan adik, saya liat gambar di komputer.

Terus sementara Bapak kencing tadi kan lupa nutup pintu..keliatan burung Bapak yang agak gede pas nampak berasal dari celana”. ”Oo gitu..nakal ya kamu. Bener anda tetap nyimpen obatnya ?”, sambil kucubit pipinya. ”Masih kok Pak..sisa yang dulu”, jawab Tinah. Makin lama mulai penisku yang mengecil. Kucium didalam – didalam ulang bibirnya, ”sekarang..mandi yang beneran”. ”Heeh..iya Pak”, Tinah menjawab sambil tersenyum manis. Ia selanjutnya memelukku erat. Aku membalasnya bersama memeluk erat dan mengusap – usap punggung dan juga kepalanya