Nafsu Birahi Rintihan Kalbu // Part 1

RAKSASAPOKER Ku padamkan lampu-lampu yang tidak harus lantas perlahan ku membuka pintu kamar anak-anakku tercinta,

RAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
keluar mereka udah tertidur dan ku menyaksikan Lily terhitung tertidur di samping anak-anakku. Perlahan ku bangunkan dia, “Ly.., Ly..,”

BANDAR DOMINO99 | AGEN BANDARQ | AGEN POKER | DOMINO ONLINE | AGEN DOMINO

panggilku perlahan untuk tidak membuatnya terkejut.
“Hghh..,” sahutnya perlahan seraya membuka matanya yang masih mengantuk.


“Pindah ke kamar depan dech, suamimu mungkin tidak menjemput malam ini,” ujarku berbisik.
“Oh..,” sahutnya sejurus lantas dan keluar dari balik selimut.

Tampak Lily udah mengenakan daster yang cuku p tipis agar keluar leku kan tubuhnya yang seksi, belahan buah dadanya terhitung putingnya oleh dikarenakan dia tidak pakai bra, dan celana dalamnya berwarna pink bersama gambar doraemon di bagian pantatnya, yang sempat ku menyaksikan sebelum saat ia menghilang di balik pintu. ku kecup pipi ke-2 anakku sendiri sebelum saat ku rapatkan ulang pintunya dan pergi ke kamarku sendiri untuk beristirahat dan kerja ulang esok hari dikarenakan cuku p banyak terhitung pekerjaan yang tertinggal selama ini.

Subuh ku terbangun oleh deringan jam meja yang udah ku persiapkan malam sebelumnya, mandi pagi bersama air dingin membuatku segar dan siap untuk bekerja.
“Bagaimana? Sudah kau pikirkan?” tanya nada lembut itu yang benar-benar ku kenal.
“Bu..,” sahut Lily putus di sedang jalan
“Yach.. Mas Elmo masih muda, mungkin suatu selagi dia bakal melacak pengganti Linda almarhum kakakmu itu, jikalau udah begitu apakah Ibu masih diijinkan tinggal di sini?” keluh Ibu sejurus kemudian

“Tapi Bu,” Lily mengupayakan membantah perkataan Ibu
“Yach.. Ibu pikir daripada anda di sana di sia-sia lebih baik lepaskan Mas Indramu itu, mungkin Mas Elmo bakal ijinkan Ibu tinggal di sini, tapi apakah calonnya bakal mengijinkan juga?” masih tetap bersama nada lembut yang membujuk.
“Bagaimana bersama Ricky Bu?” tanya Lily lirih.

“Anakmu itu udah cacat, anda ya harus berpikir untuk kebaikannya bukan untuk dirimu sendiri, Ibu rasa mungkin dia bakal lebih berbahagia bilamana di tempatkan di panti asuhan oleh dikarenakan dapat bermain bersama teman-teman senasibnya. Justru dia bakal menderita jikalau anda paksa untuk bergaul bersama anak-anak normal lainnya,” anjuran Ibu melanjutkan

Hening lantas hanya denting piring yang beradu bersama sendok yang sedang dipersiapkan oleh Ibu mertuaku dan Lily putri bungsunya.
“Seandainya kau dapat punyai Mas Elmo, kami masih dapat tinggal di sini andaikan tidak Ibu tak mengetahui kami harus kemana lagi?” keluh Ibu.
“Bu..,” hanya itu ucapan Lily terputus ketika tiba-tiba..

“Good morning, Pa,” teriak Shanti anakku yang paling kecil dari atas tangga menyapaku yang sedang terdiam di tangga mendengarkan obrolan tadi yang berasal dari area makan.
“Good morning honey,” sapaku pula seraya melanjutkan langkahku menuruni tangga.
“Hi.. Shanti,” sapa Lily seraya membuktikan wajahnya dari pintu area makan.
“Hi.. saya mandinya nanti yach,” ujarnya seraya ulang ke kamarnya terburu-buru.
“Eehh.. kakak mana?” Lily bertanya bersama nada yang cuku p keras.
“Masih bobo..,” terdengar balasan dari balik pintu kamar tidur.
“Pagi Mas,” sapa Lily sambil tersenyum manis.
“Pagi juga,”
“Pagi Bu,” sapaku melanjutkan sehabis bertemu bersama Ibu di area makan itu.
“Pagi,.. ini nasi goreng buatan Lyly nich,” promosi Ibu melanjutkan.
“Wah.. terima kasih nich udah merepotkan,” ujarku sedikit berbasa basi.

“Sudah buruan makan.. nanti keburu dingin jadi nggak enak, biar Ibu bangunkan anak-anak dulu,” tukas Ibu.
Dengan terampil Lily melayaniku bersama mengambilkan nasi goreng tersebut selagi saya sendiri menyeruput secangkir teh manis sebagaimana kebiasaanku sejak dulu. Di kantor pikiranku terhitung masih berkutat bersama obrolan Ibu tadi pagi, agar sebenarnya tidak semua pikiranku terkonsentrasi untuk pekerjaan. Masih terngiang-ngiang mungkin saya untuk memperistri Lily.. mungkinkah?

Sore hari selagi pulang kerja.. DAFTAR ID PRO PKV


Sementara Lily berlutut untuk mencapai rak lemari yang paling bawah, sedang saya berdiri di samping sambil memperhatikannya. Tanpa mengetahui pandanganku tertuju pada buah dadanya yang keluar indah dipandang dari atas tersebut. Nampak mengetahui lekukan buah dadanya oleh dikarenakan dia pakai kaos yang longgar agar bagian depannya agak terbuka selagi dia di dalam posisi yang sedikit membungkuk tersebut. Melihat pemandangan yang demikianlah mempesona, penisku tetap saja menegang agar membuktikan tonjolannya di balik handuk yang kukenakan tersebut.

“Nach ini kaos..,” suaranya terputus di sedang jalan ketika di dalam posisi berlutut layaknya itu menyerahkan kaos yang kuminta padaku oleh dikarenakan pandangannya terpaku pada batanganku yang mengeras di balik handuk. Kusadari selagi 2 bulan udah berlalu tanpa pertalian sex sudah pasti sulit bagiku, tapi tertutup oleh kesibukanku. Sedangkan baginya.. dimana Mas Indra, suaminya, yang sejak semalam berjanji untuk menjemputnya, sehabis selama ini Lily menopang tempat tinggal tanggaku yang porak poranda sejak ditinggal kepergian almarhum Linda, istriku yang terhitung kakak dari Lily, mengurus anak-anakku, tempat tinggal tangga dan sebagainya.

Lily terdiam dan tertunduk malu yang bagiku itu adalah sinyal bahwa dia tidak menolakku, agar kuberanikan diriku untuk membuka handuk tersebut agar saat ini tersembullah batangku yang udah tegak menantang bersama tubuh telanjang layaknya ini, dimana masih ada tetesan air yang masih belum mengering, kuyakin meningkatkan sexy penampilanku malam itu.
Perlahan kubangunkan Lily dan segera kukecup keningnya perlahan turun ke arah pipi dan menelusuri lehernya. Dengusan nafas yang memburu mengakibatkan adrenalinku tetap meningkat, kuusap lembut pundaknya, telinganya, disertai bersama kecupan hangat yang kulaku kan bersama sepenuh hati.

“Mas El.. jangan,” pintanya sesaat sebelum saat kucoba untuk membiarkan kaosnya.
“Lily,” gumamku bersama pandangan mata memohon agar kuyakin sulit baginya untuk menolakku khususnya deru birahinya terhitung tetap merayap keatas ubun-ubun.
Kukulum putingnya yang masih kecil bak anak gadis, membuatku gemas.
“Mas.. ergh,” rintihnya perlahan.