Menjadi Pengantin Muridku // Part 2

RAKSASAPOKER “Bagaimana kak? Enak tidak?” bertanya Rendy padaku.

RAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
“Rendyy.. stoop.. auhhh.. jangaan..”

“Ah masaa? Bukannya kakak mendesah keenakan tuh? Yakin nih, nggak sudi lagi?” ejeknya sambil hindari wajahnya berasal dari kemaluanku.


Namun secara refleks, saya tambah mengangkat pinggangku kehadapan wajah Rendy, seolah menawarkannya untuk lagi mencicipi liang vaginaku.

“Tuh, kan?! Malu-malu mau, nih cewek!” lagi Rendy menghinaku. Dipeganginya ke-2 bongkahan pantatku bersama telapak tangannya dan dtegadahkannya tangannya, supaya kini pinggangku turut terangkat pas dihadapan wajah Rendy.

“Aww.. aww.. aaahh..” lagi saya merintih saat Rendy mengecup dan mengisap-isap daging klitorisku. Sesekali saya terasa sentuhan giginya terhadap klitorisku dan hisapannya membuatku kini cuma berupaya untuk mengejar kenikmatan seksualku semata.

SLURP.. SLURP.. Sesekali terdengar suara Rendy yang menyeruput cairan cintaku yang udah banyak muncul berasal dari vaginaku, seolah hendak melewatkan dahaganya bersama cairan cintaku.

“AAHH.. AAHHH.. AAA..” Desahanku tambah keras. Aku terasa tersedia sebuah tekanan luar biasa di vaginaku yang sebentar lagi hendak meledak berasal dari di dalam tubuhku. Otot-otot tubuhku secara otomatis terasa menegang sendirinya.

“HYAA.. AAAKH!!!” jeritku seiring bersama meledaknya tekanan di dalam tubuhku. Tanpa bisa kutahan, pinggangku menggelepar liar, lebih-lebih Rendy terlontar mundur akibat impuls tubuhku. Aku bisa merasakan vaginaku memuncratkan cairan cintaku di dalam kuantitas yang banyak. Seluruh simpul sarafku terasa tegang dan kaku saat sensasi geli dan nikmat yang luar biasa itu menjalari tubuhku, dan pada akhirnya muncul perasaan lega yang nyaman setelahnya. Aku pun terkapar kelelahan, nafasku tersengal-sengal. Tenaga di tubuhku seolah lenyap seketika. Aku sadar, baru saja saya mengalami orgasme yang luar biasa!

“Wah, waah.. Rupanya galak terhitung nih, jikalau orgasme!” ejek Rendy yang kini terduduk di hadapan selagkanganku.

Ia mendekati vaginaku dan lagi ia menyeruput cairan cintaku yang tetap tersaji di vaginaku setelah ledakan orgasmeku barusan. Aku pun cuma mendesah kecil tanpa memberontak. Kepalaku serasa kosong dan saya melewatkan Rendy menikmati cairan cintaku sesuka hatinya. Setelah puas meminum cairan cintaku, Rendy berdiri di hadapanku dan melewatkan pakaiannya supaya ia telanjang bulat dihadapanku. Bisa kulihat penisnya yang panjangnya sekitar 14 cm udah menegang keras memandang keadaanku yang mengangkang lebar, memperlihatkan kewanitaanku di depannya. Rendy berlangsung melalui tubuhku sampai pada akhirnya ia tiba didepan kepalaku. Rendy selanjutnya berlutut di hadapan wajahku sambil mengocok penisnya.

“Kak, tadi rasa memek kakak sedap sekali loh! Nah sekarang giliran kakak ya, ngerasain memiliki Rendy?” seloroh Rendy. Aku yang memahami jikalau Rendy akan mengoral penisnya bersama mulutku, terasa menjerit berharap pertolongan.

“TOL.. uumph!!” jeritanku terhenti karena Rendy segera menyumpalkan penisnya di dalam mulutku. Walaupun ukuran penisnya tidak begitu besar, namun batang penisnya udah memadai memenuhi rongga mulutku yang mungil.

“Hhmmphh.. hmph..” suaraku teredam oleh penis Rendy.

Aku berupaya memuntahkan penis itu, namun Rendy memajukan pantatnya supaya penisnya tetap masuk di dalam mulutku sampai menyentuh kerongkonganku. Rendy menjambak poni rambutku dan terasa menjalankan kepalaku maju mundur. Rasa sakit di ubun-ubunku karena poni rambutku dijambak udah memadai untuk membuatku tidak berontak lebih jauh, saya mengikuti gerakan tangan Rendy yang tengah memaksaku mengulum dan mempermainkan penisnya di dalam mulutku.

“Aahh.. Enaak..” desah Rendy saat penisnya muncul masuk berasal dari mulutku.

“Hmmp.. mpp.. phh..” saya berupaya mengambil nafas untuk sesuaikan gerakan penis Rendy di dalam mulutku. Kocokan mulutku tetap belum berhenti, namun saya terasa agak mual karena rasa di dalam mulutku saat ini. Sementara leherku terhitung pegal karena dipaksa naik-turun oleh Rendy.

Beberapa saat kemudian, Rendy berhenti manjambak poniku, saya pun segera merebahkan kepalaku yang pegal-pegal keatas bantal yang lembut untuk melewatkan penat. Namun rupanya penderitaanku belum terhitung berakhir. Rendy belum sudi melewatkan kenikmatannya dioral olehku.

Belum sempat penisnya muncul berasal dari mulutku, sekarang ia tambah menekan selangkangannya ke wajahku dan menggoyang-goyangkan pantatnya supaya penisnya lagi masuk kedalam rongga mulutku. Aku bisa merasakan buah zakarnya yang terkait menampar-nampar daguku berulang kali seiring bersama gerakan pantatnya yang maju mundur dihadapan wajahku yang kini tertekan oleh bantal, saya pun berulang kali tersedak karena penis Rendy di dalam mulutku bergerak bersama terlampau cepat.

“Oke, kak! Sekarang giliran kakak yang main! Ayo kulum dan mainin menggunakan lidah kakak!” perintah Rendy sambil menghentikan gerakannya. Aku sendiri udah mati kutu, kepalaku terjepit satu diantara selangkangan Rendy dan bantalku, supaya saya tidak bisa bergerak bebas.

“Ayo, Kak! Atau sudi kugerakkan sendiri dimulut kakak seperti barusan?” ancamnya padaku. Aku pun tidak memiliki pilihan lain tidak cuman menuruti perintah Rendy, setidaknya saya akan lebih leluasa bernafas bila saya yang bergerak sendiri. Aku pun menjalankan lidahku membelai-belai batang penisnya yang masuk sampai rongga mulutku. Sesekali lidahku terhitung bersentuhan bersama kepala penisnya. Sebenarnya saya agak jijik terhitung karena tercium bau agak pesing berasal dari ujung penis Rendy, namun apa dayaku? Lebih baik kuturuti perintah anak ini supaya siksaanku cepat selesai. Aku pun berupaya untuk tidak begitu mempedulikan bau itu. Penis Rendy kuanggap saja seperti permen yang luar biasa tidak enak. Aku pun konsisten mengemut penis Rendy itu. DAFTAR ID PRO PKV


“Ayo, kak! Terus! Jago terhitung nih, nyepongnya! Enak bangeet!”

“Mmphh..” erangku.

“Isapin terhitung kak! Seperti ngisap permen!” lagi Rendy berikan perintah padaku, yang segera saja kuturuti.

Kuhisap penisnya bersama pelan dan lembut bersama harapan anak ini bisa segera menghentikan aksinya dan saya bisa terbebas berasal dari siksaan ini. Herannya, sepanjang beberapa menit kuoral, Rendy tetap saja tidak puas. Aku pun terasa kelelahan mempermainkan penisnya di dalam mulutku, walau saya terasa punya kebiasaan bersama situasiku sekarang.

Entah setan apa yang merasukiku, namun saat saya mengingat bahwa saya tengah mengoral penis anak kecil yang tak lain adalah muridku, saya terasa hasrat seksualku lagi meninggi di dalam tubuhku. Aku ingin sekali capai orgasme sekali lagi dan saya ingin coba suatu hal yang lebih hebat lagi bersama Rendy. Pikiran itupun membuatku memainkan penis Rendy sebaik mungkin di dalam mulutku supaya Rendy capai kepuasannya.

“Ookh..” Aku mendengar suara erangan panjang muncul berasal dari mulut Rendy dan saat itulah, saya terasa mulutku disembur oleh cairan kental berbau amis. Aku memahami bahwa Rendy baru saja berejakulasi di dalam mulutku, dan kini mulutku dipenuhi spermanya. Rendy lagi menekankan selangkangannya ke wajahku.

“Telan kak! Jangan sampai bersisa!”

Aku pun menuruti perintah Rendy, kutelan semua sperma di dalam mulutku, sekaligus kuhisap-hisap penis Rendy supaya spermanya tidak bersisa. Rendy cuma mengerang keenakan saat penisnya kubersihkan bersama mulutku.

“Woow.. enaak.. lebih sedap berasal dari onanii” seloroh Rendy. Namun saya tidak peduli, saya konsisten menghisap-hisap penisnya itu sampai saya percaya tidak tersedia lagi sperma yang tersisa. Setelah selesai, Rendy mengeluarkan penisnya berasal dari di dalam mulutku.

“Waah.. Kakak jago banget lho! Enak sekali kak!”

“Rendy, kamu jahaat..” protesku.

“Lho kenapa? Bukannya kakak sekarang udah jadi pengantinku?” balasnya.

“You may kiss your briide!!” sorak Rendy tiba-tiba.

Tanpa basa-basi, Rendy segera mencium bibirku. Bibirku diemut-emut bersama lembut dan sesekali bibirku terhitung dijilati oleh lidahnya. Aku cuma membiarkannya mempermainkan bibirku sesuka hatinya. Pelan-pelan lidah Rendy membelah bibirku dan lidahnya menyusup kedalam rongga mulutku. Aku pun merespon bersama menghisap lidah Rendy bersama lembut. Sesekali terhitung kujulurkan lidahku, supaya giliran Rendy yang menghisap air ludahku yang menyelimuti lidahku. Gairah seksualku sekarang terlampau menguasai tubuhku, tambah kuingat bahwa Rendy yang saat ini tengah bercinta denganku, tambah saya tenggelam di dalam hasratku. Selama beberapa menit kita terlibat di dalam French kiss itu, sebelum akan pada akhirnya Rendy menghentikan ciumannya di bibirku. Aku pun nampak kecewa saat Rendy hindari wajahnya.

“Kenapa kak? Enak kan rasanya? Masih sudi lagi?” tanyanya.

Pertanyaan Rendy itu sekejap memancing gairah seksualku yang meningkat. Aku terasa ini adalah sebuah kesempatan bagiku, namun sebelum akan saya sempat menjawab, tiba-tiba Rendy mengambil sehelai celana di dalam putih berenda yang tadi kupakai dan menjejalkannya ke mulutku sampai celana dalamku memenuhi semua rongga mulutku. Belum puas, Rendy terhitung melakban mulutku supaya celana dalamku itu tersumpal prima di di dalam mulutku.

“Mmfff.” Protesku terhadap Rendy. Namun suaraku terhalang oleh celana di dalam yang menyumbat mulutku.

“Jangan dijawab dulu, Kak. Nanti ya, Rendy sudi istirahat dulu!”

“Oh, Kakak terhitung boleh istirahat kok! Nah, daripada bosan, bagaimana jikalau kakak nonton saja dulu?” lanjut Rendy. Aku bisa mendengar suara televisi yang dinyalakan dan suara pemutar DVD yang dibuka oleh Rendy. Setelah selesai, Rendy selanjutnya mendatangiku yang tetap terbaring mengangkang di ranjang.

“Jangan berontak ya, Kak! Kalau macam-macam, video kakak kusebarkan!” ancamnya. Rendy selanjutnya melewatkan ikatan kakiku di ke-2 tiang ranjang itu. Aku disandarkan ke kepala ranjang dan Rendy menyandarkan sebuah bantal di punggungku dan terhitung sebuah bantal kecil di pantatku untuk kududuki supaya saya terasa nyaman. Tali yang tadi dipakai untuk mengikat kakiku kini digunakan untuk mengikat sikut tanganku yang tetap terikat di punggungku terhadap ke-2 tiang anggota atas ranjang canopy itu supaya saya tidak kabur.

“Oke deh! Rasanya udah cukup!! Nah, kakak santai saja ya? Nikmati saja filmnya!” Rendy selanjutnya memutar DVD itu.

“Mmff!!” Aku berteriak terkejut saat memandang adegan percintaan seorang wanita berambut pirang di layar televisi itu, rupanya Rendy menyetelkan DVD porno untuk kutonton..

“Kakak pelajari gayanya dulu, ya! Supaya nanti siap main bersama Rendy! OK?!” Rendy tersenyum dan beranjak pergi, meninggalkanku sendiri terikat di ranjang sambil berupaya mencegah gejolak birahiku yang tambah mendera karena suguhan adegan panas dihadapanku.

Aku pun terpaksa melihat film porno itu sekitar 2 jam. Yah, saya sesungguhnya pernah memandang sekilas film porno di handphone teman-teman SMUku, namun mungkin karena ini pengalaman pertamaku memandang film porno sepanjang itu, muncul keinginanku supaya vaginaku dimasuki oleh penis seperti wanita bule yang tersedia di film porno itu. Pikiranku bergejolak, saya memahami bahwa saya akan kehilangan keperawananku bila vaginaku dimasuki penis Rendy, namun di segi lain, saya penasaran akan rasa nikmat yang tampaknya melanda wanita di film itu saat vaginanya dimasuki oleh penis. Aku terhitung ingin merasakan kenikmatan itu. Apakah saya terhitung akan terasa senikmat itu bila vaginaku dimasuki oleh penis? Aku tetap bisa mengingat bersama memahami rasa nikmat saat vaginaku dijilati dan dipermainkan oleh Rendy sebelumnya. Tentunya saya akan terasa lebih nikmat lagi bila vaginaku dipermainkan oleh penis Rendy. Lagipula, setidaknya saya tidak harus risau akan hamil karena era suburku baru saja terpecahkan minggu lalu. Akhirnya rasa penasaran dan gairah seksualku mengalahkan perasaanku. Sudah kuputuskan, saya akan melayani Rendy sepenuh hatiku. Aku udah tidak acuhkan lagi akan statusku sebagai gurunya ataupun perbedaan umur kami, yang kini kuinginkan sekedar mengejar kenikmatan seksualku semata. Bahkan standing dan perbedaan umur kita tambah jadi sumber gejolak gairah seksualku. Detik dan menit berlalu, namun bagiku yang kini dikuasai gairah seksualku, serasa menanti sepanjang berhari-hari. Cairan cintaku udah tambah banyak muncul berasal dari vaginaku supaya saya bisa merasakan bantal yang kududuki tambah basah. Akhirnya, pintu kamar itu terbuka terhitung dan masuklah Rendy kedalam kamar itu.

“Bagaimana kak? Sudah puas nontonnya?”

“Sudah memahami kan bagaimana gaya-gayanya?” lanjutnya. Aku cuma mengangguk pelan bersama wajah memelas.

“Bagus, bagus!! Kakak emang pintar!” ujarnya sambil membelai kepalaku bersama pelan, seolah memuji anak kecil.

“Hff..” jawabku.

“Nah, jikalau begitu kakak sudi tidak jikalau saya setubuhi seperti di film?” muncullah pertanyaan yang sedari tadi kutunggu. Tanpa pikir panjang, saya segera mengangguk sambil memandang wajah Rendy. Namun Rendy tambah pura-pura tidak memandang sambil mematikan DVD playernya.

“Apaa? Rendy nggak bisa dengar nih!”

“Mmff!!” Aku berupaya untuk berharap Rendy melewatkan sumbatan mulutku supaya saya bisa berbicara, namun Rendy tambah melewatkan ikatan di ke-2 sikutku supaya saya terbebas berasal dari ranjang canopy itu. namun tanganku tetap terikat kencang di punggungku. Aku selanjutnya dituntun turun berasal dari ranjang. Rendy tidak lagi mengawasiku bersama ketat. Ia memahami bahwa saya sekarang udah tidak ingin kabur lagi.

“Waah, udah gede tetap ngompol yah, Kak?” ejek Rendy saat memandang bekas cairan cintaku di bantal yang tadi kududuki.

Aku cuma menggeleng pelan, namun kurasa Rendy terhitung memahami bahwa itu adalah cairan cintaku yang meluber karena saya terangsang sedari tadi. Rendy selanjutnya menarikku kehadapan sebuah papan tulis putih di kamar itu yang ditempeli berbagai rancangan bu Diana. Rendy melewatkan semua rancangan itu supaya papan tulis itu bersih. Rendy terhitung memposisikan tubuhku supaya terjepit satu diantara sebuah meja dihadapanku dan papan tulis itu dibelakangku. Aku terkejut saat Rendy bersama sigap menundukkan tubuhku di meja itu supaya posisiku kini menungging kearah papan tulis itu. Rendy terhitung meningkatkan rok gaun dan petticoatku anggota belakang dan mengaitkannya di pita putih gaunku yang tersedia di pinggangku, supaya kini pantatku terpampang memahami menungging didepan papan tulis itu.

“Nah, gimana jikalau kakak tulis saja apa yang kakak mau? Soalnya kakak nggak bisa ngomong sekarang” ujarnya berasal dari belakang. Aku pun tambah heran, bagaimana caraku menulis bersama tangan terikat dan posisi tubuh menungging seperti ini? Aku hendak berdiri, namun punggungku ditekan ke meja itu oleh Rendy.

“Tahan sebentar ya, Kak” ujar Rendy sambil membuka celah pantatku. Rendy selanjutnya menuangkan lotion ke jari telunjuknya dan mengusapkan lotion itu ke lubang pantatku. Sesaat saya merasakan jari Rendy yang melekat dilubang pantatku bergerak pelan mengoleskan lotion itu dan saya bisa merasakan rasa dingin dan licin akibat lotion itu di pantatku.

Setelah lubang pantatku selesai dilumuri lotion, saya terasa tersedia suatu hal di lubang pantatku, saya memahami benda itu bukanlah jari Rendy karena benda itu terasa lebih besar dan keras berasal dari jari Rendy.

“HMMFF!!” jeritku saat tiba-tiba saya merasakan rasa sakit yang luar biasa di lubang pantatku. Suatu benda yang panjang dan keras menekan memasuki lubang pantatku. Aku menoleh ke belakang dan memandang Rendy memaksakan untuk memasukkan benda itu ke di dalam anusku. Benda itu diputarnya perlahan masuk ke di dalam pantatku seperti sekrup. Air mataku meleleh saat merasakan rasa perih yang terlampau terlampau saat Rendy memperawani anusku bersama benda itu. Lubang pantatku serasa tersayat-sayat dan rasa perihnya tak terkira.

“Wuiih.. lubang pantatnya seret banget! Padahal udah dikasih lotion! Pasti tetap perawan, nih!” komentar Rendy yang konsisten memutar benda itu masuk kedalam anusku. Aku cuma bisa menggeleng-geleng keras memohon supaya Rendy menghentikan aksinya itu. Namun Rendy konsisten memaksakan benda itu untuk masuk kedalam pantatku.

“Oke! Selesai deh!” seru Rendy. Aku menoleh kebelakang, saya terlampau panik saat memahami sebuah spidol berukuran besar kini tertanam di dalam pantatku. Spidol itu nampak mengacung tegak kearah papan tulis karena posisi tubuhku yang menungging.

“Oops, tenang saja, Kak! Spidolnya udah kumasukkan bersama baik, kok! Kakak tahan saja spidolnya bersama otot pantat kakak supaya tidak jatuh!” ujar Rendy. Kata-kata Rendy serupa sekali tidak menenangkanku lebih-lebih saat merasakan spidol besar yang tengah tertanam di dalam pantatku.

“Nah, ayo tulis apa yang kakak mau!”

“MMFF!!” saya menggeleng memprotes Rendy. Ide anak ini terlampau gila! Aku percaya dia pasti mempelajari cara ini lewat film-film pornonya untuk mempermalukanku.

“Ayoo, jikalau tidak, kakak nanti kubiarkan seperti ini, lho! Spidolnya tidak akan kucabut jikalau kakak tidak sudi menurut!” ancamnya.

“Mmm..” saya memelas mendengar ancaman Rendy. Aku memahami jikalau sedari awal saya tidak memiliki posisi menawar melawan Rendy bersama keadaan seperti ini.

“Nah! Ayo, tulis di papan tulis kak! Seperti saat kita belajar! Sekarang, saya sudi kakak mengajariku menulis!” ujar Rendy sambil beranjak duduk dihadapanku, seolah tengah mendengarkan pelajaran di kelas.

Aku berupaya tetap tenang dan terasa menjalankan pantatku di papan tulis itu.

“Mmf!” saya menjerit kecil dan mataku membelalak saat ujung spidol di pantatku menyentuh permukaan papan tulis.

Pantatku terasa geli dan sedikit perih akibat tekanan spidol itu. Rendy nampak puas memandang ekspresi wajahku yang dipenuhi rasa panik, malu dan bingung akan keadaanku sekarang. Perlahan-lahan saya berupaya untuk menulis bersama pantatku di papan tulis itu. Kaki dan pahaku turut bergerak menaik-turunkan tubuhku yang menungging. Aku tetap merintih tiap tiap kali satu goresan kutulis di papan tulis itu karena sensasi yang ditimbulkan spidol itu di dalam pantatku, yang entah bagaimana tambah menghidupkan gairah seksualku.

“Hati-hati lho, kak. Kalau terlampau ditekan, spidolnya bisa tergelincir masuk kedalam pantat kakak. Nanti tidak bisa muncul lagi lhoo..” sorak Rendy.

Dasar badung! Pikirku. Memangnya tidak benar siapa jikalau nanti spidol ini tambah terselip masuk kedalam pantatku?! Malah sekarang saya yang harus berupaya keras menangkal dampak yang diciptakan oleh anak ini untuk tubuhku! Aku pun terasa kehilangan ketenanganku akibat sorakan Rendy itu. Apalagi sesekali saya terasa spidol itu tambah masuk kedalam pantatku saat saya menulis. Namun saya tetap berupaya keras dan hasilnya, 5 huruf yang acak-acakan tertera di papan tulis itu. Aku menghela nafas lega saat saya memandang hasil tulisanku itu. Sulit untuk dibaca memang, lebih-lebih saya percaya tulisan anak SD pasti jauh lebih enteng dibaca berasal dari tulisanku; namun saya percaya udah menulis huruf P-E-N-I-S di papan tulis itu.