Menjadi Pengantin Muridku // Part 1

RAKSASAPOKER Aku menghela nafas sejenak sambil berpikir menimbang-nimbang permohonan Rendy. Sebenarnya saya tidak begitu rugi bila saya menginap di tempat tinggal bu Diana. 

RAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Aku mampu menghemat uang kosku sepanjang setengah bulan jikalau saya menginap di tempat tinggal bu Diana.

Lagipula saya dapat lebih mampu mengawasi Rendy untuk belajar hadapi ujian semesternya yang kian mendekat, dengan begitu, saya mampu mendapat peluang untuk mengamankan pekerjaanku.


Sebenarnya yang perlu kulakukan hanyalah menegaskan jikalau Rendy tidak “mengerjaiku” lebih kritis berasal dari kemarin.

“Baiklah, kakak setuju. Tapi kamu juga perlu berjanji, kamu perlu belajar yang rajin sepanjang kakak tinggal di rumahmu.” Anggukku sambil memberinya penawaran.

“Berees, kak! Asal kakak mau menurutiku sepanjang itu, saya tentu belajar!” jawabnya dengan bersemangat.

“Iya, iya..” balasku dengan perasaan agak lega

Kami selanjutnya langsung beranjak ke kamar Rendy dan saya pun merasa mengajarinya. Tapi hari ini ada yang tidak serupa berasal dari Rendy. Ia nampak lebih serius dan bersemangat di dalam perhatikan penjelasanku. Kurasa dia telah cukup senang waktu mendengar saya dapat menginap di rumahnya 2 hari lagi. Tak lama kemudian, kudengar suara bu Diana di lantai bawah.

“Nah, Mami telah pulang! Kakak tunggu sebentar ya! Aku mau berkata dulu dengan Mami!”

Rendy langsung beranjak berasal dari kursinya dan muncul berasal dari kamarnya tanpa menghiraukanku. Sayup-sayup kudengar suara pembicaraan Rendy dengan bu Diana, namun saya tidak mampu mendengar dengan mengetahui apa yang mereka katakan. Sambil tunggu Rendy, saya buat persiapan soal-soal latihan yang dapat kuberikan untuknya nanti. Sekitar 5 menit kemudian, Rendy kembali ke kamarnya dengan bu Diana.

“Halo, Erina. Rendy meminta saya untuk mengizinkanmu tinggal di tempat tinggal ini sepanjang saya tidak di rumah.”

“Eh? I.. iya, bu Diana! Rendy memberitahu saya jikalau ia mengidamkan mendapat les tambahan berasal dari saya sepanjang bu Diana tidak dirumah.. Katanya.. untuk persiapan ujian semester..” ujarku dengan agak gugup.

“Wah, kebetulan sekali jikalau begitu! Soalnya tante Rendy juga dapat turut ke Jerman. Makanya tadi saya sempat mengajak Rendy untuk ikut. Tapi sebab ada ulangannya yang penting, Saya menjadi ragu-ragu.”

“Jadi?” tanyaku

“Kalau kamu mau, Saya memperbolehkan kamu tinggal di sini sepanjang saya tidak dirumah. Tapi saya juga meminta kamu untuk mengurus Rendy sepanjang itu. Sebagai gantinya, saya dapat berikan tambahan bonus untukmu di akhir bulan ini. Bagaimana?” Jawab bu Diana mengimbuhkan tawaran.

“Baik, bu Diana. Saya setuju!” anggukku sambil tersenyum. Sekarang saya mendapat tambahan keuntungan dengan menerima tawaran Rendy. Dengan bonus yang disediakan bu Diana dan penghematan uang kosku sepanjang setengah bulan, saya mampu menambah uang tabunganku sekaligus membiayai sebagian keperluanku bulan depan.

“Baguslah! Kalau begitu, Erina, tolong kamu siapkan barang-barangmu yang dapat kamu bawa untuk tinggal disini. Lusa nanti saya dapat menjemputmu sebelum akan kamu mengajar Rendy.” Ujar bu Diana.

“Iya, bu Diana!” saya mengiyakan permohonan bu Diana.

Setelah selesaikan tugasku hari itu, saya langsung bergegas pulang untuk merasa mengemas barang-barangku. Untunglah saya tidak punya banyak barang tak hanya baju dan perlengkapan-perlengkapan kecil milikku. Aku juga memberitahu pemilik tempat tinggal kosku bahwa saya dapat ganti sepanjang setengah bulan. Syukurlah mereka mau mengetahui dan bersedia menyimpankan kamar bagiku bila saya kembali.

2 hari kemudian, bu Diana dan Rendy pun singgah menjemputku sebelum akan saya mengajar Rendy. Aku selanjutnya diantar ke tempat tinggal mereka. Aku diizinkan untuk tidur di kamar tamu di lantai bawah. Malam harinya, saya diberitahu bu Diana tugas-tugasku di tempat tinggal itu sepanjang bu Diana di luar negeri. Aku diminta untuk mengerjakan sebagian pekerjaan tempat tinggal tangga layaknya memasak, membasuh dan membersihkan rumah. Aku telah jadi biasa memasak dan membasuh sendiri sejak kecil, maka tugas ini tidak kembali sesulit yang kubayangkan. Lagipula untuk keperluan sehari-hari, bu Diana telah menyuruh anak buahnya untuk mengantar bahan makanan dan supir studio untuk mengantar-jemput kami. Apabila ada hal lainnya yang diperlukan, saya hanya perlu menelepon studio untuk meminta pertolongan mereka. Esok harinya, bu Diana telah berangkat waktu saya pulang berasal dari kuliah. DAFTAR ID PRO PKV


Sehingga hanya ada saya dan Rendy sendiri di rumah. Aku langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Seusai mandi, saya terlampau terkejut waktu menyaksikan seluruh baju milikku menghilang. Hanya ada satu pelaku yang mampu melakukan hal ini! Aku selanjutnya menutupi tubuhku dengan selembar handuk yang untungnya, tidak sempat disita oleh “pencuri” itu. Aku langsung naik ke lantai atas untuk mengambil kembali baju milikku.

“Rendy! Reendyy!! Buka pintunya!” Seruku sambil menggedor kamar Rendy. Pintu kamar itu sedikit diakses dan wajah Rendy muncul berasal dari sela-sela pintu kamar itu.

“Ya, ada apa kak?!” tanyanya padaku. Namun matanya langsung melirik tubuhku yang hanya berbalutkan sebuah handuk dan ia tersenyum cengengesan menyaksikan keadaanku.

“Wah, waah.. Kakak telah tidak sabaran ya?” tanyanya sambil tertawa kecil.

“Huuh! Dasar usiil!! Ayo, kembalikan baju kakak!!” gerutuku.

“Lhooo.. memangnya baju kakak kuambil? Apa ada buktinya?”

“Kalau bukan kamu siapa lagii? Sudah, ayo cepat kembalikan baju kakak!”

“Kak, jikalau menuduh orang tanpa bukti itu tidak baik lho! Hukumannya, saya tidak mau memberitahu di mana kusembunyikan baju kakak, Hehehe..” Rendy tersenyum mengejekku dan menutup dan mengunci pintu kamarnya dihadapanku.

“Aah! Hei, Rendy! Tunggu duluu..” protesku, namun Rendy telah keburu menutup pintu kamarnya sambil mengejekku dibalik pintu.

Aku pun terpaksa menggigil kedinginan, suhu di tempat tinggal itu dingin sekali sebab dipasangi AC, dilengkapi kembali saya baru saja mandi dan sekarang tubuhku hanya ditutupi oleh selembar handuk saja. Selama sebagian menit saya tetap menggedor pintu kamar Rendy dan berusaha membujuknya, namun ia mirip sekali tidak menggubrisku.

“HATSYII..!!!” Karena tidak biasa, saya pun bersin akibat pilek sebab suhu dingin itu.

“Kak! Kakak pilek, ya?” tiba-tiba terdengar suara Rendy berasal dari balik pintu.

“I.. iya.. Rendy, tolong kembalikan baju kakak.. di sini dingin sekali.. kakak tidak tahan..”

“Oke deh, namun kakak perlu mau kenakan baju yang kuberikan ya!”

“Iya.. iya.. cepat doong. Kakak kedinginan disini..” pintaku pada Rendy

Rendy kembali muncul berasal dari kamarnya. Ia menyaksikan sekujur tubuhku yang menggigil kedinginan. Anehnya, raut wajahnya nampak berubah, ia tidak kembali nampak senang ataupun senang mengerjaiku. Kini ia nampak agak gelisah.

“Haa.. HATSYII!!!” kembali saya bersin dihadapannya. Kulihat raut wajahnya makin kuatir saja menyaksikan keadaanku.

“Ayo Kak, turut denganku!” pinta Rendy padaku yang langsung kuturuti saja.

Rendy menuntunku ke ruang disebelah kamarnya. Pintu ruang itu dikunci, namun Rendy langsung mengakses pintu itu dengan sebuah kunci di tangannya. Begitu saya masuk, saya kagum menyaksikan puluhan helai gaun pengantin putih di dalam berbagai ukuran dan style yang bergantung rapi di kamar itu. Berbagai aksesori pengantin wanita juga tertib rapi dengan gaun-gaun itu. Rupanya kamar itu adalah kamar desain bu Diana sekaligus tempatnya menyimpan hasil rancangannya yang belum dikirim ke studio.

“Kak, saya minta kakak kenakan baju itu.” ujar Rendy seraya menunjuk ke arah sehelai gaun pengantin putih yang dipasang di sebuah mannequin.

“Apaa?! Kenapa kakak perlu kenakan baju layaknya itu? Memangnya kakak mau menikah, apa?!” jawabku setengah tak percaya, setengah kebingungan.

“Ya, sudah! Kalau kakak tidak mau, kakak boleh kenakan handuk itu saja kok!” balas Rendy.

“Iyaa! Dasar!! Kamu mintanya yang aneh-aneh saja!!” ujarku agak kesal. Terpaksa kuturuti permohonan Rendy, daripada pilekku makin parah.

“Oh iya Kak!”

“Apa lagii?”

“Pakaiannya yang lengkap ya, Kak! Soalnya baju itu telah 1 set dengan aksesorisnya!” pinta Rendy.

“Jangan lupa juga untuk merias diri dengan kosmetik Mami ya Kak! Sudah kusiapkan lhoo..” imbuhnya.

Aku menghela nafas dan menutup pintu kamar itu. Memang kulihat gaun itu dilengkapi dengan mahkota, sarung tangan, lebih-lebih stocking dan sepatu yang seutuhnya berwarna putih susu. Luar biasa! Sejenak saya kagum dengan kepandaian bu Diana di dalam merancang gaun itu, komposisi yang disusunnya terlampau serasi. Aku selanjutnya menuruti perintah Rendy untuk kenakan seluruh baju itu dengan lengkap. Berat bagiku memang, sebab saya belum dulu kenakan gaun pengantin sebelumnya. Setelahnya, saya pun merias diriku dengan kosmetik milik bu Diana. Kulihat seluruh kosmetik itu buatan luar negeri.

Aku sendiri agak canggung untuk kenakan kosmetik-kosmetik itu, mengingat harganya yang selangit bagi mahasiswi sepertiku. Tapi setidaknya, saya mendapat sebuah peluang untuk coba kosmetik-kosmetik itu, maka saya berusaha untuk tidak menyia-nyiakan peluang ini. Setelah sebagian lama, saya kelanjutannya selesai mempengantinkan diriku. Kubuka pintu kamar itu dan layaknya yang telah kuduga, Rendy sedari tadi telah menungguku di depan pintu.

Ia nampak terlampau terpana melihatku yang berbusana pengantin itu. Busana pengantinku berbentuk sebuah gaun pengantin putih yang indah sekali. Atasan gaun punya sepasang puff bahu yang terikat dengan sepasang sarung tangan satin dengan panjang selengan di ke-2 tanganku yang kini menutupi jari-jariku yang lentik. Di bagian perut dan dada gaunku bertaburan kristal-kristal imitasi yang samar-samar membentuk sebuah pola hati.

Bagian pinggang gaun itu punya hiasan kembang-kembang sutra yang mengelilingi bagian pinggang gaun itu layaknya sebuah kuncir pinggang yang seolah menghubungkan atasan gaunku dengan rok gaun polos yang dihiasi manik-manik membentuk hiasan bunga-bunga yang bertebaran disekeliling rok gaunku. Pinggulku dipasangi pita putih besar. Aku juga memakaikan rok petticoat di pinggangku agar rok gaunku nampak mengembang. Rendy sendiri nampak kagum menyaksikan cantiknya wajahku yang telah kurias sendiri; kelopak mataku kurias dengan eye-shadow berwarna pink dan alsiku yang kurapikan dengan eye-pencil. Sementara lipstick yang berwarna pink lembut kupilih untuk melapisi bibirku yang nampak cocok dengan riasan bedak make-upku.

Riasan mahkota bunga putih nampak cocok dengan rambut hitam-sebahuku yang kubiarkan tergerai bebas. Aku telah memasang stocking sutra berwarna putih yang lembut di kakiku yang dilengkapi dengan sepasang sepatu hak tinggi berwarna putih yang nampak cocok layaknya gaun pengantinku. Tubuhku juga kuberi minyak wangi melati milik bu Diana agar sekujur tubuhku pancarkan aroma melati yang terlampau wangi.

“Nah, bagaimana?” ujarku pada Rendy yang masih melongo menyaksikan penampilanku.

“Hei! Kok tambah bengong sih?!” seruku, yang langsung menyadarkan Rendy berasal dari lamunannya.

“E.. eh.. ccantik sekali Kak!” jawab Rendy tergagap-gagap, saya tertawa kecil menyaksikan tingkahnya yang kebingungan.

“Kak, ini.. bikin kakak..” Rendy mengulurkan setangkai mawar merah kepadaku. Mawar merah yang indah itu nampak segar berkilauan.

“Waah, menerima kasih ya!!” otomatis saya mencium bunga itu untuk menghirup aromanya. Sejenak aroma yang menyengat memasuki hidungku saya pun langsung merasa pandanganku tiba-tiba kabur dan tubuhku merasa lemas.

Aku pun ambruk tidak sadarkan diri. Sayup-sayup kulihat senyuman Rendy, saya berusaha untuk selalu sadarkan diri, namun mataku merasa berat sekali dan kelanjutannya saya menutup kelopak mataku. Entah apa yang terjadi pada tubuhku, namun waktu saya sadar, saya menyaksikan diriku telah terbaring mengangkang di sebuah ranjang canopy di dalam suasana berbusana pengantin lengkap.

Kedua tanganku terikat di belakang punggungku waktu kakiku terikat erat di segi kanan-kiri tiang ranjang itu agar posisi tubuhku mengangkang lebar. Aku merasa terlampau geli di tempat kewanitaanku, layaknya ada sebuah daging lunak hangat yang menyapu-nyapu tempat kewanitaanku, kadang waktu daging itu menusuk-nusuk seolah hendak mengakses bibir kewanitaanku melalui celah vaginaku. Aku juga merasa tempat disekitar vaginaku terlampau becek akibat gerakan daging itu.

“Aahh.. oohhh..” Aku pun mendesah pelan menikmati sensasi di kewanitaanku itu. Rasanya vaginaku seolah diceboki, namun gerakan daging itu yang seolah berputar-putar mempermainkan vaginaku menimbulkan sensasi nikmat disekujur tubuhku. Aku merasa tubuhku diairi listrik tegangan rendah waktu daging itu membelah bibir kewanitaanku dan menyentuh lubang pipisku.

“Eh! Kakak telah bangun rupanya!!” tiba-tiba kudengar suara Rendy dibalik gaunku. Aku berusaha mendongak dan kulihat wajah Rendy tengah berada pas di depan selangkanganku yang terbuka lebar. Sadarlah saya jikalau “daging” tadi tak lain adalah lidah Rendy yang tengah menjilati vaginaku. Aku berusaha berontak, namun untuk menutup ke-2 pahaku yang tengah terbuka lebar saja terlampau sulit. Tubuhku merasa terlampau lemas tanpa tenaga. Saat saya menyaksikan sekitarku, saya baru mengetahui jikalau saya kini berada di di dalam kamar bu Diana.

“Badan kakak masih belum mampu digerakkan, soalnya efek obat tidur Mami masih tersisa.” Jelas Rendy sambil terjadi ke sampingku.

Sekejap saya merasa terlampau panik dan berusaha mengerahkan seluruh tenagaku untuk kabur, namun sia-sia saja. Tubuhku tidak mau bergerak sedikitpun. Astaga! Bagaimana saya mampu sebodoh itu mencium aroma bunga yang ditaburi obat bius?! Niatku untuk merawat jarak berasal dari Rendy kini sia-sia saja. Sekarang tambah kesucianku terpampang mengetahui di hadapannya, saya di dalam suasana terjepit dan tidak mampu kabur lagi.

BANDAR CAPSA SUSUN

“Kakak tenang saja, dijamin sedap kok! Hehehe..” tawa Rendy terkekeh-kekeh.

“Jangan, Rendy.. Jangan.. kakak mohon!!” pintaku berderai air mata waktu menyaksikan Rendy berbalik terjadi menuju arah selangkanganku.

Namun sia-sia saja, Rendy mirip sekali tidak mau mendengar permohonanku. Aku pun makin panik dan cemas. Air mataku kembali meleleh membasahi mataku, namun apa dayaku? Tubuhku kini terlampau sulit digerakkan sebab ikatan itu dilengkapi rasa lemas disekujur tubuhku sebab efek obat bius yang tersisa. Kini saya hanya mampu pasrah membebaskan Rendy menyantap kewanitaanku. Jantungku berdegup makin kencang dan wajahku merah merona waktu Rendy makin mendekati selangkanganku. Rendy selanjutnya memegang ke-2 pahaku yang mulus. Ia merasa mengendusi paha kananku waktu paha kiriku dibelai-belai dengan tangannya.

“Essh..” saya mendesis sesaat sesudah bibir Rendy mencium bibir kemaluanku. Hembusan nafas Rendy di pahaku mengakibatkan tubuhku sedikit mengigil kegelian. Saat bibir kemaluanku bertemu dengan bibir Rendy, Rendy merasa menjulurkan lidahnya. Seperti lidah ular yang menari-nari, bibir kemaluanku dijilati olehnya. Kembali bibir kewanitaanku dibelah oleh lidah Rendy, yang kembali menarikan lidahnya menceboki liang vaginaku perlahan-lahan. Aku berusaha sekuat barangkali untuk menahan gejolak birahi yang kini merasa melanda diriku, namun selalu saja suara desahan-desahanku yang tertahan sesekali terdengar muncul berasal dari bibirku sebab rasa nikmat yang menjuluri tubuhku lebih-lebih belaian lembut Rendy di pahaku makin merasa geli akibat stocking sutra yang kupakai.

“Haaa?! Aakh..!!” Sontak saya menjerit terkejut waktu merasakan sensasi rasa geli dan nikmat yang tiba-tiba melanda tubuhku. Rupanya Rendy menjilati klitorisku. Sesekali ia menyentil klitorisku dengan lembut agar sekujur tubuhku layaknya dialiri listrik dan bulu kudukku berdiri. Rendy mengetahui bahwa saya merasa dikuasai oleh gejolak birahiku. Ia tetap melancarkan serangannya ke klitorisku. Berulang kali permohonanku yang disertai dengan desahan kusampaikan ke Rendy, namun ia tambah nampak kian bersemangat mengerjaiku. Kesadaranku pun makin menghilang tergantikan dengan rasa nikmat dan keinginan seksual yang makin merasuki tubuhku.