Mama Anak Sama-Sama Germo Sex // Part 2

RAKSASAPOKER Aku berdiam sejenak. Tidak ada kata-kata yang terlihat berasal dari mulutku. Rian pun begitu, dia hanya melihat awan yang cerah dengan bintang-bintang bertebaran di angit nan jauh.

RAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Aku pun turut melihat keindahan kelap-kelip bintang itu. Mereka saling bergugus-gugus dengan teraturnya.

Sungguh terlampau mengesankan di selagi aku bersamanya, laksana dunia ini di punyai untuk senantiasa dan hanya berdua, “he..he..he..” aku tertawa di didalam hatiku.


Melihat Rian yang diam dan hanya melongong-longong melihat ke atas langit, sebabkan ku tertawa cekikikan di didalam hati. Wajahnya yang terlihat pilon dan culun, menambah lucu dan jenaka. Sungguh aku makin lama cinta mirip kamu Rian..

Engkau kakak kelasku berasumsi dewasa, gak layaknya cowok yang lain yang bisanya hanya mengajak pacaran di daerah yang gelap cuman hanya ingin mengecup bibir. Tetapi kamu, pandai menepati keadaan, padahal kesempatan banyak untuk berbuat, tapi sungguh ia melindungi etika dan adab, itulah yang membuatku terpesona padanya.

“Eh..jam berapa ini?” Rian mengakses suara. Lalu ia melirik jam tangannya. “Sudah jam sembilan lewat, aku rasa cukup untuk kami bermain-main sayang, dan termasuk kamu telah terlihat mengantuk.”
“Gak kok..santai aja lagi, abis kamunya sih banyak bengong ngitungin bintang, aku jadi ngantuk dah hehehe,” candaku. Rian pun sunggingkan senyum nampak manis di pipi terlihat lesung di pipinya. “Em..jarang sekali cowok membawa lesung di pipi,” batinku.

“Ya udah, toh masih ada hari esok,” ujarnya. “Aku pulang pernah ya say!” Ia pun berdiri, lalu memandangku dengan mata yang sayu, barangkali pusing kali abis ngitungin bintang hehehe. “Ok..dah sayangku..” aku pun berdiri sambil ku cium telapak tengannya, layaknya layaknya suami istri dan wanita baik-baik mencium tangan sang suami jikalau ingin berpamitan kerja hehehe jiaaah…

Ia pun melangkah pulang. Motor yang terpakir di halaman rumahku telah di nyalahkannya. Suara menggerung layaknya anak motor atau layaknya motor yang tidak cukup di rawat, tentu terlampau bising di dengarnya.

Tak beberapa lama Ia pun melaju dengan roda duanya. Di tikungan ia menjadi tak terlihat berasal dari pandanganku. Aku sungguh berbunga-bunga, melihat Rian telah memberanikan diri untuk bermain kerumahku, kendati desas-desus orang-orang yang ada di kira-kira rumahku, memvonis tempat tinggal sarang jablay dan aku di beri makan duwit lendir.

Emm…aku masuk kamar, layaknya biasa dengan handset yang kupasang di telingaku, lalu aku putar untuk mendengarkan lagu-lagu kesayanganku.Kamar yang terlampau indah aku rasakan, kendati aku jarang sekali tidur di kamarku sendiri. Terkadang aku tidur di tempat tinggal teman sesama cewek, hanya untuk menghalau suntuk hidup sendiri di selagi malam karena tidak ada teman untuk mengobrol karena Mamahku yang senantiasa repot dengan pekerjaannya sebagai ketua berasal dari wanita-wanita penghibur para lelaki yang mencari kenikmatan malam, itu termasuk kata orang yang senantiasa aku dengar dengan menjelek-jelekan keluargaku.

Mata ku belum terpejam, pikiranku menerawang keatas mengingat lagi apa yang Mamah melakukan di didalam kamarnya dengan om-om itu. Ahh…mereka sungguh gila dan rupa daratan. Kenapa aku harus mengintip Mamahku sendiri, oh sungguh anak yang tak memahami diri.

Aku gelisah menjadi bersalah apa yang aku lakukan. Tubuhku menjadi gak nyaman malam ini, rasanya senantiasa teringat tetap selagi Mamahku bergelinjang saat Vaginanya di colok-colok oleh penis om-om itu. “Apa rasanya, jikalau memekku termasuk di colok-colok mirip punyai Rian,” batinku. Aku berhayal jikalau tadi aku bermain mirip Rian, tetap Rian mencolok-colok memekku ooh…pasti aku dapat bergelinjang apa yang di melakukan oleh Mamahku, sedap kali yah.

Tampa aku mengerti saat aku berhayal dan ingat lagi apa yang aku melihat perbuatan Mamahku. Tanganku merabah celana yang aku kenakan. Celana yang hanya terbuat berasal dari bahan tenun yang tipis agar jikalau aku sentuh, memahami sekali batok Memekku. Uh.. yah batok memek yang masih putih dan belum di tumbuhi bulu-bulu ini. Aku mengusap-ngusap dengan perasaan. Semakin lama makin lama berdesir darahku. Aku rasakan ada yang beda.

Vaginaku menjadi cenat-cenut. “Ohh…yeeaah..ssst…sungguh uuh..pantesan Mamahku terlihat menikmati saat Memeknya di jilati. Ohh…uh…sungguh enaak ssst ahh…” Aku tetap mengusap dan membelai vaginaku yang masih tertutup oleh celana rajutan jarang. Karena menjadi ada yang lain didalam desiran darah ku. Aku pun memcoba untuk bertelanjang dada.

Baju kaos yang kau kenakan aku lepaskan. Kini hanya BH yang masih terlihat, dan juga celana ngetrit yang aku pakai. Ku pandang buah dadaku yang terlihat kecil, gak layaknya punyai Mamahku yang terlihat besar dan menggandul hehehe. Emm…ku pandangi puting meranum terlampau indah, oh.. barangkali ini untuk menetek saat aku punyai beby. Ssst..Aku gak tahan selanjutnya aku membuka BH yang aku kenakan oh..aku merabahnya, layaknya apa yang aku melihat terhadap Mamahku yang di isap dengan rakus oleh om-om itu, dan di remas-remas dengan rakus. “Emang sedap yah!” DAFTAR ID PRO PKV


Emm.. Eght.. uh…aku menjadi meremas-remas payudaraku. Sttt…eght.. agak berdesir aku rasakan tiba-tiba aku merasakan payudaraku mengembang dan mengeras dengan kencang dan padat. Entah apa yang membuatnya begini aku tidak tahu. Yang aku rasakan bergelinjang seluruh urat-uratku. Sungguh sensasi terlampau luar biasa yang aku rasakan pertama kali didalam hidupku. Em…rupanya ini yang sebabkan Mamahku menjadi ketagihan dan menjadi nikmat di rasakannya. Oh..Mamah sedap mah..sstt..enaaak..

Tampa aku mengerti tangan kanan yang tetap meremas-remas payudaraku, aku mencoba untuk turun ke lebih bawah lagi. Aku ubah tangan kiriku untuk merabah buah dada ku, dan tangan kanan aku turun kan untuk merasakan sensasi Memek ku.

Celana tipis yang aku gunakan masih merekat, ku cobalah merabah gundukan di dalamnya yang bukan lain gundukan memek ku, yeaah..aku menjadi geli oh… menjadi berdesir masuk ke rongga liang memekku. Oh…sungguh terlampau menggidikan bulu kuduk. Yeahh…aku meronta-ronta aku ikuti irama desiran di mana tubuhku klepek-klepek bergelinjang tak tentu arah.

Terkadang-kadang aku naikan bokongku sambil tetap merabah memek ku, lalu aku putar-putar oh.. sunguh terlampau nikmat kendati masih terhambat celana dalamku. em…Mamah inikah yang Mamah rasakan saat om-om itu mengelus-ngelus memek Mamah. Ssstt…benar-benar sedap Mah..

Sensasi onani ku yang pertama aku rasakan kendati aku belum berani untuk merabah lebih didalam lagi.

Tiba-tiba aku di kejutkan dengan suara Hape ku. Rupanya Rian yang menelponku. “Tumben Rian jam segini belum tidur?!” pikrku. Memang gak biasanya Rian menelpon aku jam-jam saat-saat orang-orang tengah terlelap tidur. Dan sebetulnya Rian anak yang penurut mirip orang tuanya, dia terlampau pandai didalam sesuaikan selagi belajar, bermain dan tidur. “Haloo.. sayang,” jawabku, di awalnya ia mengucap kan Halo.

“Kamu belum tidur sayang?” Rian menanyakan dengan suara yang agak berat barangkali grogi jikalau telponan di malam hari, kuatir di dengar mirip keluarganya jadi suaranya di sembunyikan dengan kecil.
“Belum,” jawabku. “Kamu sendiri kenapa belum tidur, tumben ih!”
“Ia gak bapak kan, aku nelpon kamu!”
“Sayang..Malah aku bahagia kebetulan aku sebetulnya belum sanggup tidur.”
“Kamu lagi apa?”

Ah..Pertanyaan yang menggoda, jikalau aku jujur tentu aku di tertawakan. Tetapi hati ku terbesit untuk bercerita terhadap kekasih ku Rian. Cuma aku malu mirip saja mengakses aib Mamahku.

“Em…coba tebak lagi apa?!” ku cobalah untuk mengajaknya becanda.
“Pasti lagi dengar musik kesukaan kamu sambil tidur-tiduran. Benarkan!”
“Em…mau memahami aja kepo nih hehehe,” dia sebetulnya sebabkan aku tertawa, masalahnya aku yang lebih pernah untuk mengakses canda dan tawa. Rian jarang sekali untuk mengakses suara lebih pernah jikalau aku yang lebih pernah membuaka pembicaraan, baru Ia menjawabnya.

Entah apa yang membuatku melemparkan pertanyaan padanya. “Say tebak aku gunakan baju, apa telanjang?”

“Maksud kamu apa sih,” terdengar dengan suara bingung.
“Ia.. Aku tengah gunakan pakaian apa bugil?” lanjutku memberikan pertanyaan menggoda.
“Gila kamu menanyakan layaknya itu!” Rian sedikit membentak aku.
“Ih… ini kan hanya pertanyaan kok! Kalau gak berkenan di jawab ya telah gak bapak kok!” balasku. Entah apa aku tak memperdulikan tercengangannya selagi aku memberikan pertanyaan layaknya itu. Aku rasakan ada yang beda terhadap diriku. Disaat aku didalam keadaan bugil kendati masih kenakan celana sedikit ada rasa ingin memberitahu kepada Rian bahwa apa yang aku melakukan terlampau luar biasa nikmatnya. Mungkin Rian belum pernah melakukan apa yang aku lakukan. “Ah.. telanjur Horny aku”

“Sayang…oh..aku lagi bugil nih,” kata ku. “Sstt..sayang tetek ku oh..tetek ku sst..”
“Et dah!.. Say kamu jangan macam-macam dah!” terdengar Dia makin tambah bingung. “Kamu sebabkan aku binggung tau..” katanya lagi.
“Kamu berkenan nenen gak?” godaku. “he..he..he Kamu lagi apa say?”
“Tau ah,” terdengar agak sinis Rian menjawab. Namun aku tidak perdulikan. Aku sambung lagi remasan payudara ku yang sempat tertunda tampa mematikan Hape. Aku sengaja untuk berdesah di telinga Rian. Lalu aku melewatkan celana ku. Uh..kini memek ku terlihat, putih gempal tampa bulu. Aku mengangkang kan ke dua kaki ku dan paha terbuka lebar dan aku angkat ke dua kaki ku tinggi-tinggi. Uh…seperti apa aku melihatnya gak memahami lah, “Sayang…oh…sayang…”

“Gila kamu Shinta! Dia menyentakku.
“Uh…ah..eeght..enak say..enak..sst..”

Aku tetap mengusap-gusap dinding selangkanganku, sambil mengayalkan apa yang aku melihat terhadap Mamahku dengan om-om yang tidak aku kenal namanya. Ssstt…berdenyut oh berdenyut liang vaginaku uh…ternyata memainkan selangkangan sebetulnya enak. Aku membatin tak memperdulikan Rian, apakah dia masih mendengar desahanku, apa telah di putus teleponnya. “Rian…sayang..kemana kamu?” tanya ku.

Aku cobalah untuk posisi telungkup. Dengan tangan kanan memegang Hape. Sedangkan tangan kiriku menyelusup kebawah perut tentu untuk mengobel-ngobel selangkanganku ssst…gila.. sedap oh.. enak..Memek kurasakan sedikit basah, entah kenapa menjadi lembab aku rasakan, eegh..bahkan aku berkenan pipis tapi beda rasanya, tidak layaknya pipis sehari-hari. Pipis ini menjadi ada yang mengganjal dan layaknya tertahan di didalam tunggu aba-aba untu di semprotkan begitu rupa.

Sela paha aku renggangkan, sedikit di angkat bokongku, menambah mudah aku untuk memainkan vaginaku sambil aku putar-putar dan aku kait layaknya ingin mencongkelnya. Mamah uh pantesan Mamah bergelincang dan membuncah saat om-om itu memainkan vagina Mamah. Ssst ternyata sedap mah..oh..enak…ssst..

“Haloo….hei…Shinta..halo….!?” Rian rupanya ingin menyadarkan aku. Aku tak perduli, uh…bahkan aku menantang Dia untuk ikuti apa yang aku lakukan. “Sayang..Aku lagi ngobel memek sayang..oh..memek Shinta jadi sedap nih!..”
“Gila.. kamu sungguh gila Shinta..”

Tiba-tiba aku mendengarka suara Rian berdesis. Entah apa yang di melakukan Rian terdengar suaranya agak berdesis.

“Sayang.. Kamu lagi apa? tanya ku.
“Eght…..ah…aku jadi berdiri nih.” katanya.
“Berdiri apanya?” tanyaku lagi.
“Punya ku sayang..oh punyai ku jadi berdiri nih! Ohhh..duh..gara-gara dengar ocehan kamu punyai ku jadi tegang nih!”

“Ssst…oh gitu yah.. ucapku pura-pura gak mengerti. Aku tetap memainkan selangkanganku dengan irama cepat.

Aku rasakan sebentar lagi aku dapat pipis. Ya sst berkenan pipis ssstt..eght…oh sungguh sensasi yang terlampau luar biasa aku rasakan pertama kali aku melakukan layaknya ini, apalagi sekaligus aku dengarkan desahanku kepada kekasihku Rian.

“Sayang.. oh.. aku gaceng sayang.. oh..aku jadi ngocok nih!” terdengar suara polos Rian. Rupanya Dia tengah memainkan penisnya.
“Sayang..uh..uh..uh sayang..ssst aku berkenan pipis sayang,” kataku
“Ia…say..aku termasuk oh..kontolku oh panjang banget sayang..ssst..merah nih sst…” ujar Rian kepadaku, makin tambah nikmat aku rasakan saat Ia termasuk melakukan apa yang aku lakukan.
“Diapakan punyai kamu sayang?”
“Eght…aku kocok-kocok say..ssst enak…” kata Rian, “Kalau kamu di apain sayang, sst..memek kamu di apain tuh?…”
“Aku di kobel nih sst sedap say..oh..enak…berdenyut say..memek ku berdenyut nih uh uh uh”
“Ia sayang..aku termasuk sedap nih sst..eah…enak eah..sst uhh…sst enak…” desah Rian sebabkan aku membuncah.

Benar tak lama sesudah itu vaginaku menjadi ada yang ingin keluar. Uh layaknya berkenan terlihat dengan tertahan untuk di muncratkan. Eahh….ssst….eah…aku cepatkan kobelanku. Lendir yang melumuri telapak tanganku, licin rasanya memek ku dengan terlampau becek dan basah aku rasakan uh uh uh.

“Oh……say…oh…aku . aku . aku sst…eeght…aku berkenan pipis sayang. Aku berkenan pipis nih.” desisku.
“Sama say…ah.. ah..ah..ah aku termasuk uh uh uh uh keluarin say, kuarin, ssst”

Tak lama kemudian.

‘Ciiit..ciiit…ciiit’
Oh…….
“Aku pipis sayang, aku pipis oh..” ujarku dengan suara parau.
“Rian..oh…” panggilku.
“Uh..uh..uh..Aku termasuk nih uh..uh..uh.. oh..aku ngecret say sst..ah..” ujar Rian. “Tanganku ku jadi lepek nih, ssst.. gila..banjir sayang!”

Rian berdesis. Aku pun terkulai dengan posisi telungkup dan aku turunkan lagi bokong ku. Uh..aku rasakan kasurku banjir, layaknya aku mengompol selagi kecil dulu. Pipis yang terlampau enak. Pipis yang terlampau sensual sungguh aku baru pertama kali menikmati perbuatan layaknya ini.

Kini aku memahami apa yang aku melakukan itu adalah Masturbasi atau onani. Mungkin kaum pria seluruh melakukannya termasuk Rian kekasihku. Semenjak itu aku jadi pecandu Masturbasi.

Kalau pikiranku tengah membuncah aku melakukannya dengan Rian via Phone. Walaupun Rian sendiri kadang kala menasehatiku jangan terlampau keseringan melakukan berbuatan layaknya ini. Katanya.

Tetapi aku punyai komitmen didalam hidupku, aku tak dapat melakukan pertalian badan sebelum menikah, kendati dengan Rian sendiri kekasihku. Dan termasuk aku dan Rian masih menjenjang pendidikan di bangku sekolah. Masih banyak tugas yang harus di melakukan untuk raih jaman depan yang lebih baik.

Dan aku berjanji di didalam hatiku yan paling dalam. Tidak dapat ikuti jejak Mamah ku sebagai seorang Germo. Biarlah cuman Mamahku mendapat gunjingan berasal dari orang-orang terdekat. Aku memahami Mamahku termasuk tak berkenan aku layaknya dirinya. Dia ingin aku jadi wanita yan baik-baik dan bekerja di daerah yang baik-baik pula, agar aku sanggup menutupi Aib Mamahku sebagai seorang germo.

Aku akui, sampai kapanpun aku dapat meneruskan pendidikanku sampai kuliah, itu keinginan Mamahku, kendati duwit yang di hasilkan untuk menyekolahkan ku berasal dari hasil jadi seorang Germo, apalagi kadang kala hasil menjual dirinya sendiri.