Mama Anak Sama-Sama Germo Sex // Part 1

 RAKSASAPOKER Namaku Shinta. Aku seorang gadis remaja, usiaku 15 tahun. Semua temanku menyukai ku gara-gara keceriaan aku dalam berteman. 

RAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Duduk di bangku smp aku biasa disebut gadis yang senang bergaul, lincah dan centil. Namun berjalannya usiaku yang tambah dewasa.

BANDAR DOMINO99 | AGEN BANDARQ | AGEN POKER | DOMINO ONLINE | AGEN DOMINO

Banyak percakapan yang aku dengar dari tetanggaku. Maupun dari teman-temanku. Bahwa aku dari anak seorang pelacur murahan.


Tempat pelacuran yang populer di area bekasi. Komplek pelacuran tanah merah Kedung Waringin. Yang berdiri di atas tanah tanggul. Disanalah ibu ku melacak nafkah, bersama menjajakan dirinya kepada laki-laki pemburu shahwat.

Aku tidak perduli, karna sesungguhnya aku belum menyadari tentang apa itu pelacuran. Akupun tak perduli apa yang di jalankan ibuku bersama profesinya. Yang aku tau aku membawa seorang Ayah tiri dan ibu kandung.

Aku dulu menanyakan bersama ibu ku. Siapa bapak kandungku. Namun ibu cuma terdiam dan beranggap ku anak yang tetap kecil, yang perlu anda mampu jajan ga usah nanya-nanya soal ayahmu..Itulah yang muncul dari mulut Ibu ku kalo aku menanyakan tentang siapa Ayah kandungku.

Aku menyaksikan ibu bersolek bersama Farfum bau yang menyengat hidungku. Sore pukul 18.00 Ibu bersiap untuk pergi bersama ayahku layaknya biasa.

“Kamu jaga tempat tinggal nak..kalau senang muncul tolong pintu di kunci yang rapat” Pesan ibu ku di pas tiap tiap senang pergi.

Yang aku menyadari kepergian mereka tiap tiap malam, untuk melacak uang. Aku tidak perduli dan sesungguhnya gak harus peduli. Yang perlu aku mampu sekolah dan mampu jajan yang di berikan orang tua ku.

Pukul 07.00 Aku bersiap untuk berangkat sekolah. Kulihat di kamar orang tuaku mereka belum terlihat, bermakna mereka belum pulang dari area mereka mengais rejeki. Aku bergegas mandi. Waktu nyaris menunjukan 1/2 delapan tidak cukup bermakna aku telambat, karna sesungguhnya hari ini akan tersedia acara OSIS, jadi harus pagi sekali aku berangkat ke-sekolah.

Terbiasa hidup sering di tinggal orang tua membuatku jadi gadis belia yang bebas tampa tersedia yang melarang kemana pun aku pergi bermain. Tidak perdulinya orang tua ku bersama apa yang aku jalankan memicu ku jadi anak yang kuarang perhatian dan kasih sayang. Termasuk urusan aku sekolah pun Orang tua ku tidak memperdulikan.

Bergegas aku berangkat ke sekolah. Bagas teman akrab karib kekasih ku, Rian udah membully ku

“Widiiih.. cantik bener loe hari ini Shin!” ” Rayu bagas rekan tapi mesra-ku

“Mmm senang cantik kek, senang tidak baik kek, persoalan bikin loe.” Ku tunjukkan mukaku bersama jutek.

Aku pun berlari menuju area kelas bersama berlari kecil. “Shiin.. di cari’in ama Rian..” Teriak bagas.

“Bo’do terlalu cowok tidak cukup tidak cukup berani ..hehehe.” Cela ku.

Rian adalah kekasih ku, juga sebagai kakak kelas ku. Dengan nya aku tetap mengutarakan curhatanku padanya. Namun hari-hari ini dia tetap menahan dari ku. Entah kenapa yang memicu dia tetap menahan dariku. Bahkan sms ku jarang di balas, pon pun sering di rijek. Namun aku tidak memperdulikan, karna aku sesungguhnya bebas lepas tampa ikatan apa pun dari orang tuaku maupun dari pacarku Rian.

Memang seminggu sebelumnya. Rian mencoba mampir kerumahku di malam minggu. Mencoba untuk menyadari siapa dan apa keluargaku. Mungkin itu dia terasa memberanikan main kerumahku.
Sebelumnya Rian cuma berani menemuiku di jalur dan mengobrol di area yang gelap.

Bisa di katakan Rian terlalu pemalu, justru yang bertentangan bersama sifatku yang bebas.
Namun di balik pemalunya aku suka. Suka untuk menggoda dia sehingga jadi Cowok yang gentleman.
Apalagi bersama yang polos memicu aku meningkatkan senang padanya.
Bisa di katakan kami pasangan remaja yang Fenomenal di sekolah kami. Dengan gaya tomboy tapi seksi dan Rian seorang anak cowok yang kuper dan pemalu. Sehingga menjadikan kami sepasag yang gak nyambung dalam sifat.

“Riaan nanti malam main yah kerumah.. jangan di tanggul mulu ah, ketemuannya .” Aku mengirim Sms.
“Gak ah.. aku kuatir menyaksikan ibu mu say..” Balas Rian.
“Ih anda mah era sama ibu ku aja takut.. gimana senang pacaran di tempat tinggal jikalau menyaksikan ortu ku takut.” Jawabku dalam sms itu.
“ii ya dah nanti yah jam delapan..” Balas Rian.
” Ok sayaang aku tunggu yahh..” Balas ku kembali.
Rasa gembira di hatiku disaat Rian bersedia untuk main kerumahku..

Tidak layaknya biasa. Aku menyaksikan ibu ku tidak bersama ayahku. Biasanya mereka jikalau senang berangkat ke area warung remang-remang yang mereka kelola, tetap berdua. Namun kali ini aku menyaksikan ibu ku sendiri berdandan dan hiasi diri.
“Bu Ayah kemana ko gak kelihatan,” Tanya ku terhadap ibu ku yang tetap bertelanjang, cuma BH dan celana dalam yang ia kenakan yang menurut ku terlalu seksi di kenakan ibu ku yang 1/2 baya itu. Dengan stockingnya yang hitam dan tembus pandang, muncul seksi aku lihat.
Ayah duluan tersedia urusan sama teman-temannya. anda gak muncul malam ini..” Kata ibuku.
“Mmm… gak bu.. ooh nanti temen Shinta senang maen kemari bu..” Kilah ku.
“Cowok yah.” Kata ibu ku.
“Iya bu namanya Rian temen sekolah ku..”
“Temen apa pacar,..” Ledek ibu sambil gunakan lipstick di bibirnya.
“Temen..bu..” Aku sedikit berbohong.
“Ya udah yang perlu anda hati-hati jaga diri dan rumah. Ibu senang berangkat yah..” Kata ibu ku sambil memegang hp nya sepertinya senang menelpon seseorang entah ayahku atau lelaki lain, tak sekedar Ayahku.

“Haloo sayang.. aku udah siap nih.. jemput aku yah..” Kata ibu ku dalam percakapan di hand phon-nya.

Rupanya Ibu senang berangkat bersama lelaki lain dan bukan Ayah tiriku.

“Ibu berangkat sama siapa.?” Tanyaku.
“Ini temen Ayahmu, sesama Preman di sana ” Kata ibu ku

Aku cuma mengangguk biarpun gak aku menyadari apa yang ibu maksud..

Terlihat seseorang lelaki yang ibu maksud. Dengan gunakan motor gede, berjaket hitam, dan berperawakan lumayan tegap, memakir motor di depan tempat tinggal ku. Rupanya rekan pria ibuku.

“Permisi dee.. ibu ada.?” Sapanya
“Ada pak.. tunggu yah.. ibuu tersedia yang nyariin .” Teriak ku dan segera kedalam menghampiri ibu yang tetap berada di kamar.

Ibu pun keluar. Rupanya ibu belum selesai berdandan.

“Silahkan masuk mas.. mmm.. aku belum selesai dandannya mas.” Kata ibu ku bersama manja.
“Ok aku tunggu yah.. cepetan dandannya.. ” Kata pria itu sambil duduk di sofa.

Setelah berapa lama ibu tidak kunjung muncul dari kamarnya, ternyata memicu lelaki itu gelisah menunggu. Sebentar berdiri sebentar duduk. Melihat tingkah laku Pria itu, aku pun jadi risih melihatnya. Akhirnya aku memutus untuk keluar, dan tunggu Rian yang senang mampir menemuiku.

Selang berapa lama aku mencoba untuk kembali kedalam. Aku terkejut ternyata pria itu tidak tersedia di dalam, aku cari kesetiap pojokan ruangan. “Mmm.. kemana om-om tadi ,” Bathinku.
Terlihat daun pintu Ibu ku terbuka, aku penasaran, ‘Apakah om-om tadi tersedia di kamar Ibu ku.’

Dugaan ku benar, ternyata om-om itu udah tersedia di dalam kamar Ibuku. Namun aku gak berani mengintipnya, aku cuma mendengarkan nada dari balik daun pintu mamahku.

“Mas jangan saat ini kami kan senang pergi.. nanti telambat looh.. eehh” Sekilas aku mendengar ibuku berkata bersama om-om itu.
“Sebentar aja .. nanti dah selesai baru kami berangkat..” Kata om-om itu bersama manja.
“Ya udah tapi ingat yah, sebentar saja… buru-buru anda keluarin… awas loo mas, kuatir suami ku menunggu.” Terdengar ibuku berucap manja.
“Tenang aja maam.. aku tau cuma sekalii aja pas suami anda disana! kapan kembali aku mampu menikmati memek Mamih..” Ucap om-om itu yang memilukan telinga ku.

Rasa penasaran terlintas di hatiku, untuk menyaksikan apa yang di jalankan om-om itu di kamar Ibu ku.

Rasa untuk mengintip pada akhirnya aku lakukan. Rasa jantung ini berdebar kencang, saat-saat aku mengakses daun pintu itu, secara perlahan-lahan. “Astaga… aku menyaksikan Ibuku di cumbu dan di cium bersama rakusnya. uleh om-om itu. Sudah dalam suasana bertelanjang tidak sehelai benang pun yang menempel dubuh nya. Sambil duduk di samping area tidur. Dan aku meliahat om-om itu berdiri di hadapan Ibu ku, entah apa yang di jalankan Ibu ku. Ibu ku berhadapan deket sekali bersama selangkangan om-om itu. Aku tidak cukup menyadari melihatnya, gara-gara pantat om-om itu menghalagi muka Ibu ku. Aku penasaran apa yang di jalankan Ibu.

Tak berapa lama, om-om itu mengakses celana jiens nya, aku menyaksikan bokong nya yang kekar biarpun hitam. Dengan terhalang bokong om-om itu, aku tidak cukup tau apa yang di jalankan ibu ku, muncul ibu ku sedang memainkan penis om-om itu.
Aahh.. tambah penasaran aku bersama mereka, apa yang mereka perbuat bersama begitu, maklum aku belum dulu menyadari apa yang mereka perbuat. DAFTAR ID PRO PKV


Sedikit aku pejamkan mata, rasa kuatir dan penasaran, menyelimutiku. Ku menyaksikan kembali ternyata mereka udah suasana bugil. Ku menyaksikan ibu sedang asik memainkan selangkangan om-om itu. Si om cuma meringis terdengar desahannya. “Ahhh…eehmm.. enak sayaang aahh aku senang aahh uuuhhh..” desah om-om itu.
“Ayoo.. mas buruan kuarin… uuhuhuhu..” Terdengar desahan ibu ku yang merintih nikmat.

Aku memperhatikan bersama penuh penasaran, aku kaget disaat si om-om itu membalikan tubuhnya bersama kaki kanannya yang di angkat ke sisi area tidur, dan menyamping. Kini aku menyaksikan menyadari apa yang di jalankan ibu ku. Ternyata sedari tadi Ibu ku sedang memainkan penis om-om itu bersama mulutnya. Aku terasa jiik melihatnya, tapi rasa penasaranku tambah mem beranikan diriku untuk mengintipnya. Terlihat ibu terlalu menikmati Penis om-om itu, terliahat besar dan memanjang.

Dengan lidah nya ibu ku menjilati tiap tiap sisi batang penis om-om itu. Om-om itu cuma mendangak keatas, dan terkadang tersenyum senang menyaksikan muka ibu ku yang sedang bernafsu menikmati batang penis om-om itu. Di masukan dalam-dalam, di jilati kepala penis itu. “Mmm…. enak mas..mm.. besar banget si mas..mmm.. gunakan obat yaah..” Desah ibu ku terdengar sayup-sayup.”.

Si om-om itu cuma tersenyum mendengar gumamam ibu ku. “Suka yah sayaang.. senang kan yang gede-gede..hehehe.” Ledek om-om itu bersama senyum puas.

Om-om itu bergerak kembali kehadapan ibu ku. dan memaksa ibu ku bertelentang. Dengan posisi berdiri om-om itu mencelentangkan ibu ku. Ibu ku menuruti apa yang di minta om-om itu. Dengan posisi kaki di angkat ke atas, Ibu ku mengangkangkan ke dua pahanya yang muncul besar dan putih. Terangkat setinggi-tingginya memicu Vagina ibu ku begitu nyata muncul tebal, tembem dan di tumbuhi bulu-bulu yang lebat di sekeliling vaginanya. Om-om itu pun segera berjongkok di sisi di mana ibu ku sedang mengangkangkan ke dua paha nya.

“Mmm… sayang besar banget memek kamu.. uh.. mmm.. aku jilatin yah.” Kata om-om itu.

Sssst… Om-om itu terasa memainkan lidahnya. Dengan rasa rakus Vagina ibu ku di santapnya, di gigit lelentit yang sedari tadi udah membesar dan memerah.

“Mm.. iyaah… ahh.. geliii…” Rintih ibu ku sambil bergelenjang nikmat dan gerakan yang tidak tertata dan nafas tersengal-sengal, memicu ibuku mengayun-ngayun kan kakinya ke atas.bak layaknya mengayuh sepeda. “Ahhh,,, mas uhh…oyo mas …uuhh ..ssst..ehmmm…isep konsisten mas uuhhh…” Ibu ku tambah bergelinjang nikmat. Merasa nikmat yang terlalu luar biasa yang di jalankan om-om itu di vagina ibu ku, memicu ibu bergelinjang dan menaikan bokongnya berulang-ulang, sehingga memicu om-om itu sulit untuk menjilati. Si om-om itu tidak kehabisan akal, di dekapnya ke dua kaki ibu ku bersama ke dua tangan nya, sehingga memicu ibu ku tidak kembali bergelinjang.

“Maaass….eeenakk…ahh… geli maass… ssst..” Ibu mendesah bersama muka menoleh kearah om-om itu. Tangan nya memegang kepala om-om itu yang berrambut cepak.

Om-om itu asik menjilati vagina ibu ku yang muncul tembem, dan penuh bersama bulu-bulu yang menghiasi di sisi-sisi vaginannya bersama terlalu indahnya dan tertata rapi. Karna ibu ku sesungguhnya senang merawat tubuhnya, lebih-lebih veginanya yang tetap di jaga kebersihannya. Dengan rakusnya om-om itu menjilati vagina ibu ku, dan memicu ibu ku bergelinjang nikmat bersama desahan dan nafas yang tersengal-sengal yang memicu suasana jadi mencekam. “Aaahh…eeennaak ..mas uh.. ayo mas isep konsisten uh.. aah..” Desah ibu ku. “Mmm…ssssst….” Om-om itu pun berdesah sambil menghirup air yang muncul dari vagina ibu ku.

“Ahh…slursuslp…ssst ..mmm,,oh..” Dengan bangganya om-om itu mampu memicu ibuku senang bersama mainan lidahnyanya di kelentit ibu ku yang muncul membesar dan memerah.Terasa layaknya mementil, lidah om-om itu mengulum-ngulum kelentit ibu ku.

Tak senang bersama perminan lidahnya di liang vagina ibu ku, om-om itu terasa mengocok-ngocok penisnya bersama tangannyasendiri. Rupanya si Om sedang membangkitkan penisnya kembali.

“Cepat.. memebesar doong..Cepet keluarin.. aku kuatir mas.. suami ku tunggu ..ahh” Teriak ibu ku. Rupanya ibu ku tersadar bahwa ia sedang di tunggu bapak tiriku di warung, di mana para wanita anak buah ibu ku menjajahkan kenikmatan sesaat.

Mendengar ibu sedang di tunggu ayah, aku jadi kuatir jikalau bapak tiri mampir menjemput ibu ku. Dan ternyata tersedia laki-laki yang menggauli ibuku. “Ah biar lah toh udah miliki kebiasaan mungkin.” Bathin ku.

Setelah kupandang lagi. Ternyata ibu ku udah bergumul bersama om-om itu.

Terlihat bersama posisi ke dua kaki ibu ku berada di pundak om-om itu. dan si om posisi berdiri dan berpegangan bersama ke dua tangannya ke kasur. Pantatnya yang muncul besar memicu aku ikut merangsang memperhatikan bokong om-om itu.

‘cpluk, cpluk, cpluk,’ Terdengar nada dari sentuhan kulit ibu ku dan om-om itu.
“Ahh…enaaak…mam…ah.. uh uh uh..” Om itu bersama cepatnya menghujamkan penis nya ke vagina ibu ku.
“Eeeeh…aaahh…pelan-pelan mas.. ah.. uuh..aaah..” Sangat berdesir aku mendengarnya.

Desahan mereka memicu aku gak mampu diam melihatnya. Tampa ku menyadari aku pun terbawa nikmat seiring gerakan dan desahan mereka. “Eeegghht… aku merabah sedikit celana dalam ku yang ku kenakan. tak menyadari aku pun merabah vaginaku..”Ohh…mmm.” Ternyata vaginaku ikut basah. “Ahhh…eeeemm…” Ku rasakan denyut di dinding vaginaku dan tersa gatel “eeehss..” Aku konsisten berdesah, meracau sendiri.

Tiba-tiba sms berbunyi.. triliiing..Ku baca sms itu ternyata dari cowokku. Aku pun teringat jikalau Rian yang berniat senang main kerumahku.

“Aku di depan tempat tinggal nih.” Tulis sms nya
“Oh yah masuk aja kerumah. ” Balas ku.

Suara motor terdengar, ia pun memakirkan motornya di sebelah motor om-om itu.

“Ini motor siapa say.” Tanya Rian
“Motor tamu Ibu ku.” Jawabku.
“Ohh.. tersedia tamu yah. gak mengganggu say..” Rian kembali berujar. Rupanya tetap tersedia sangsi di hati Rian untuk berteman bersama Ibuku ku.
“Gak apa-apa ko ayo masuuk..”Ajak ku, dan segera menarik tangan Rian ke area teras depan rumah.

Rian pun duduk di bangku yang tertentu untuk tamu yang senang bersantai di area teras rumah
Aku pun duduk pada mulanya aku mengambilkan minuman untuknya. “Di minum sayang….” Tawar ku.

Aku pun segera mengambilkan minuman untuk Rian. Ketika langkah ku senang menuju dapur untuk mengambilkan minuman untuk Rian. Terbesit di hatiku dambakan mengintip sekali kembali apa yang di jalankan ibu ku terhadap om-om itu. “Ahhh.. ..” Kucoba untuk menghilangkan rasa penasaranku. Aku pun menuju area dapur. Namun desahan ibu ku memicu aku tambah penasaran untuk melihatnya lagi.

“Ah .. ah .. ah… eeehhgt… ssst..” Terdengar desahan ibu ku yang tambah menggila ku mendengarnya.

Untuk menghalau rasa penasaranku ku cobalah untuk mengintip kembali. “Enak..mas..aaahh..enaaakkk” Teriak om-om itu bersama nafsunya menghujamkan vagina ibu ku bersama posisi Doggy Style. “Uhh.. aahh..” Kulihat ibu posisi menungging dan bersama leluasa-nya om-om itu mengocok-ngocok penis nya maju mundur bersama cepat ‘plok plok plok.. “aahhhh..uuh..gilaa..aaght..ehm.. tetap enak memekmu mam..eeh..”om-om meracau. “Setan lo mas..eehh.. dah tua-tua juga tetap doyan meemeekk bini .. oorang uuhh..ahhh..” Hardik nikmat terdengar dari rintihan nikmat ibu ku.

Om-om itu mencoba memegang rambut ibu ku yang panjang terurai. Di jambak dan di kepal rambut ibuku yang muncul tetap tebal. Dengan mengepal rambut ibuku layaknya menarik delman om-om itu bersama asiknya mengocok-ngocok vagina ibu ku bersama gerakan maju mundur bersama cepat

“Aw aw aw.. anda nakal mas uuh senang di apakan rambut ku.” Kata ibu bersama mata sayu nikmat. Ibu ku cuma pasrah dan menikmati vaginanya “Uuuh..ee..eenaakk aaahh….”. Merasakan begitu terasa nikmatnya, dan lebih nikmat dari penis bapak tiriku. Mungkin itu yang terukir di hati ibu ku pas sedang merasakan vaginannya di kocok-kocok sama om-om itu

“Ayo… maas.. sayang uuhh enaakk..aahh ” Ibu ku kembali mendesah “Ini aaa..eeehh gurih memek anda sayaaang, aahhh..eenakk.. say…enak memek anda oohh…” Racau om-om itu. ‘plok plok plok’ Suaranya begitu menyadari aku dengar, sentuhan dari kulit mereka. sleb bleb sleb bleb “Ahh,,, uuhhh.” “Maass…sssstt gila anda mas kontolmu giilaaa..uhh..” Lagi-lagi ibu ku meracau nikmat “Ahhh..” Dengan gerakan volume yang cepat, muncul menyadari di mataku, penis om-om itu muncul masuk ke vagina ibu ku.

“Ah.. pelan-pelan maaas..” Uh ibu terlalu menikmatinya. “iya sayaaang aku kayanya ma ma senang muncul nih..eeegh..” Terdengar nada om-om itu bersama terbata-bata. Om-om itu tambah bersemangat mengocok vagina ibu ku bersama penisnya yang muncul batang dan urat-uratnya udah mengencang “Aku siaap maas..menerima peju mu ..aah..” desah ibu ku..”

Om-om itu mengejang otot-ototnya, sepertinya akan muncul suatu hal dari penisnya, yang udah mengacak-ngacak vagina ibu ku. “Aght… aku muncul sayang uuuh..” Tiba-tiba om-om itu naik keatas punggung ibuku, yang tetap posisi meningging. “Eehh senang kemana anda maas..” Kata ibu ku, sambil membalikan kepalanya keatas. Yang ternyata muncul penis om-om itu udah berada di muka ibu ku. Dengan di kocok-kocok sendri bersama tanganya si om-om.

Terlihat kepala penis om-om itu udah memerah dan mengkilap bersama air mazinya. Dengan di acung-acungkan ke mulut ibu yang sedang mendangak keatas. “Uhhh ayo sayang anda nga-nga.” suruh om-om itu. Mendengar perintah dari om-om itu ibu ku cuma menurut. “Ahh,,… ” Mulut ibu ku terbuka lebar dan siap terima apa yang akan mampir dari penis om-om itu.

‘Crot crot crot crot’ “aahh uhhh..” Terlihat cairan putih kental muncul dari penis om-om itu. Entah apa namanya air kental itu, aku tak tahu, karna aku belum menyadari air putih kental itu. Aku mendengar ibu menceloteh. “Uwweekk… uuh.. bau tau mas…mmm.. uuh.. kesat sepet… sialan anda maa..s…” Ucap ibu ku bersama mata kosong menatap om-om itu.

“Uhh.. gila ibu ku rakus terlalu hingga di minum air yang menjijikan dari penis om itu.” Bathinku ku.

Setelah senang bersama cairan yang kental putih itu muncul dari penis om-om itu. Kulihat ibu ku terlalu menikmati air putih kental itu, yang belumuran di seluruh rongga mulutnya.

“sayang gimana rasanya hehehe..enak yah” Tanya om-om itu kepada ibu ku bersama senyuman bangga. “Ssst.. sepet mas uuh hehehe.bauuu…” Jawab ibu ku manja .”Tapi senang kaan..” Ledek om itu.

Ibu ku cuma mengangguk. Mereka pun berpelukan dan mencium bibir ibu ku bersama mesra. “Ya udah gunakan kembali busana kamu! Ayo kami berangkat.” Om-om itu pun bergegas kenakan celananya.

Ibu ku segera merapikan rambutnya. Dan kenakan bajunya kembali layaknya semula. Entah apa yang di rasakan di kepala mereka. Mereka pun segera beranjak muncul kamar.

Melihat ibu dan om-om itu senang keluar, aku pun segera menjauh dari pintu. Rupanya aku lupa aku sedang membawakan minuman untuk Rian yang udah lama menunggu.

“Ma.. maaf yah say..hehehe lama..” Sapaku bersama tersenyum.
“Iya iya..” Rian mengangguk.

Terdengar langkah keluar. Rupanya ibu ku yang membawa farfum khas yang di gunakan jikalau senang berangkat ke warung remang-remang yang ibu punya pasti bersama puluhan PSK yang di bimbing oleh ibu ku.

“Nak ibu berangkat yah..ooh.. teryata tersedia tamu.” Sapa ibu ku sambil bersalaman bersama Rian.
“Kenal kan Rian ini ibu ku.” Aku memperkenalkan Rian sehingga tidak canggung.
‘Ya udah ibu senang berangkat melacak nafkah bikin Shinta anak ibu yang manja ini.. anda jaga tempat tinggal baik-baik yah nak.” Kata ibu ku sambil membawa tas kecilnya, dan menuju motor om-om itu.

Om-om itu cuma tersenyum menyaksikan aku dan Rian. Dan segera menaiki motornya. Ibu ku udah siap sedari tadi tunggu untuk berangkat.

Di dalam kencan pertama Rian kerumahku, memicu aku gugup. Di tambah kembali aku baru saja menyaksikan adegan yang tidak aku mengerti. Adegan yang terlalu aku berimajinasi apa yang di jalankan ibu bersama om-om itu.

Rian cuma diam, dia emang terlalu pemalu untuk berkata dulu, makanya aku jikalau senang ngobrol sama dia harus aku dulu buka pembicaraan, sesudah itu baru Rian membuaka pembicaraan.

‘Udah minum jangan di lihatin doaang.” Ucapku untuk memulai obrolan.
“Yang laki-laki tadi ayhamu..” Tanya Rian yang memicu terkejut.
“Mmm.. bukan itu temannya ibu ku..” Kataku mencoba meyakinkan bersama muka semeringah.

Aku kuatir Rian memperpanjang percakapan yang pasti akan menanyakan asal-usul aku dan siapa sesungguhnya orang tua ku. Akhir ya ku cobalah mengalihkan pembicaraan.

“Say masuk apa senang di luar aja.. masuk juga boleh kami nonton tv nyo..” Ajak ku.
“Mmm… ga baik ah,, berduan di dalam. orang tua mu kan gak ada.” Kilah Rian bersama muka lucunya.
“Ok dah.. gak mauya udah.. di sini ajah..” Aku pun terdiam. Aku tetap teringat apa yang barusan aku lihat. Pengalaman aku menyaksikan sepasang manusia yang bergumul, saling merabah, menjilati, yang ternyata yang aku menyaksikan itu adalah ibu ku sendiri.

Dan yang memicu aku sedih ternyata Ibu tetap senang melayani lelaki hidung belang. Dan pasti menghianati cinta tulus bapak tiriku. Atau sesungguhnya bapak tiriku cuek-cuek aja jikalau ibu di gauli lelaki lain. Entahlah.

Masih teringang-ingang di telingaku mendengar desahan dan racauan yang memicu darahku berdesir cepat, desahan orang-orang dewasa yang belum aku menyadari makna sebuah desahan kenikmatan. (Baca cerita sebelumnya), sesudah aku menyaksikan erangan yang terlalu memilukan telingaku. Erangan dan racauan yang muncul dari Mamahku sendiri pas Ia di senggama oleh lelaki yang bukan Ayah tiriku. Entah apa yang tersedia dipikiran mereka.

“Eh!..Bengong aja,” Rian mengejutkan aku.

Aku, tertawa dingin untuk menutupi apa yang tersedia di pikiranku. 

“Say..kamu senang kedalam gak, di sini dingin tau,” kata ku.
“Em..gimana yah aku kuatir jikalau kami kedalam, nanti tersedia yang sangsi sama kita.” Aku menyadari apa yang Rian maksud, sesungguhnya Rian lelaki yang lumayan dewasa, mampu membaca suasana dan keadaan. “Em..terus kami ngapain, jikalau di dalam kan kami mampu nonton tivi,” ujarku. “Seterah anda sih, aku cuma ngajak aja, itu juga jikalau anda mau!”

“Sepertinya anda layaknya tersedia asumsi dah!” Rian mencoba menebak-nebak apa yang tersedia di pikiranku. “Kalau ku lihat, muka anda agak sedikit gimana gitu?!..”
“Ah perasaan anda aja kali say,” ucapku.
“Cerita dong sayang..” katanya membujukku. “Wajahmu kelihatan gelisah gitu, apa habis di marahi Mamah anda sebelum saat berangkat tadi sama rekan cowoknya?.” Rian terasa merocos menanyai aku bersama kepo.

Aku menggeleng kepala, berupaya untuk menyembunyikan apa yang mengganggu di pikiranku disaat aku menyaksikan Mamahku bergumul sama lelaki yang tidak aku kenal, lelaki dari dari rekan Mamahku.