Bercinta Sama Istri Keponakan // Part 2

RAKSASAPOKER Betapa enaknya ngentotin Ines. Aku mendambakan mengulangi permainan tadi, menggeluti dan mendekap kuat tubuhnya. 

RAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Mengocok nonoknya bersama kontolku bersama irama yang menghentak-hentak kuat.

Dan aku dapat menyemprotkan pejuku di didalam nonoknya sambil merengkuh kuat-kuat tubuhnya pas aku nyampe. Nafsuku terbakar.


“Ines…,” desahku penuh nafsu. Bibirku pun menggeluti bibirnya. Bibir sensual yang menantang itu kulumat-lumat bersama ganasnya. Sementara Ines pun tidak mau kalah. Bibirnya pun menyerang bibirku bersama dahsyatnya, seakan tidak mau kedahuluan oleh lumatan bibirku. Kedua tangankupun menyusup di antara lengan tangannya. Tubuhnya sekarang berada didalam dekapanku. Aku mempererat dekapanku, pas Ines pun mempererat pelukannya pada diriku. Kehangatan tubuhnya terasa merembes ke badanku, toketnya yang membusung terasa semakin menekan dadaku. Jari-jari tangan Ines terasa meremas-remas kulit punggungku.

Ines mencopot celanaku.Ines pun merangkul punggungku lagi. Aku ulang mendekap erat tubuh Ines sambil melumat ulang bibirnya. Aku tetap mendekap tubuhnya sambil saling melumat bibir. Sementara tangan kami saling meremas-remas kulit punggung. Kehangatan menyertai tubuh anggota depan kami yang saling menempel. Kini kurasakan toketnya yang montok menekan ke dadaku. Dan kala saling sedikit bergeseran, pentilnya seolah-olah menggelitiki dadaku. kon tolku terasa hangat dan mengeras. Tangan kiriku pun turun ke arah perbatasan pinggang ramping dan pinggul besar Ines, menekannya kuat-kuat berasal dari belakang ke arah perutku. kon tolku tergencet perut bawahku dan perut bawah Ines bersama enaknya.

Sementara bibirku bergerak ke arah lehernya.kuciumi, kuhisap-hisap bersama hidungku, dan kujilati bersama lidahku. “Ah… geli… geli…,” desah Ines sambil menengadahkan kepala, supaya semua leher hingga dagunya terbuka bersama luasnya. Ines pun membusungkan dadanya dan melenturkan pinggangnya ke depan. Dengan posisi begitu, kendati wajahku didalam keadaan menggeluti lehernya, tubuh kami berasal dari dada hingga bawah perut selamanya dapat menyatu bersama rapatnya. Tangan kananku selanjutnya bergerak ke dadanya yang montok, dan meremas-remas toket tersebut bersama perasaan gemas.

Setelah puas menggeluti lehernya, wajahku turun ke arah belahan dadanya. Aku berdiri bersama agak merunduk. Tangan kiriku pun menyusul tangan kanan, yaitu bergerak memegangi toket. Kugeluti belahan toket Ines, pas kedua tanganku meremas-remas kedua belah toketnya sambil menekan-nekankannya ke arah wajahku. Kugesek-gesekkan memutar wajahku di belahan toket itu. bibirku bergerak ke atas bukit toket sebelah kiri. Kuciumi bukit toket nya, dan kumasukkan pentil toket di atasnya ke didalam mulutku. Kini aku menyedot-sedot pentil toket kiri Ines.

Kumainkan pentil di didalam mulutku itu bersama lidahku. Sedotan kadang kuperbesar ke puncak bukit toket di sekitar pentil yang berwarna coklat. “Ah… ah… om… geli…,” Ines mendesis-desis sambil menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan. Aku memperkuat sedotanku. Sementara tanganku meremas kuat toket sebelah kanan. Kadang remasan kuperkuat dan kuperkecil menuju puncak bukitnya, dan kuakhiri bersama tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jariku pada pentilnya. “Om… hhh… geli… geli… enak… enak… ngilu… ngilu…” Aku semakin gemas.

Toket Ines itu kumainkan secara bergantian, antara sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit toket kadang kusedot sebesar-besarnya bersama tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yang kusedot cuma pentilnya dan kucepit bersama gigi atas dan lidah. Belahan lain kadang kuremas bersama area tangkap sebesar-besarnya bersama remasan sekuat-kuatnya, kadang cuma kupijit-pijit dan kupelintir-pelintir kecil pentil yang mencuat gagah di puncaknya. “Ah…om… terus… hzzz… ngilu… ngilu…” Ines mendesis-desis keenakan. Matanya kadang terbeliak-beliak. Geliatan tubuhnya ke kanan-kiri semakin sering frekuensinya.

Sampai selanjutnya Ines tidak kuat melayani serangan-serangan awalku. Jari-jari tangan kanan Ines yang mulus dan lembut menangkap kon tolku yang sudah berdiri bersama gagahnya. “Om.. Batang kontolnya besar ya”, ucapnya. Sambil melepaskan mulut, wajah, dan tanganku tetap memainkan dan menggeluti kedua belah toketnya, jari-jari lentik tangan kanannya meremas-remas perlahan kon tolku secara berirama. Remasannya itu berikan rasa hangat dan nikmat pada batang konTolku.

AGEN POKER

Kurengkuh tubuhnyadengan gemasnya. Kukecup ulang area antara telinga dan lehernya. Kadang daun telinga sebelah bawahnya kukulum didalam mulutku dan kumainkan bersama lidahku. Kadang ciumanku berubah ke punggung lehernya yang jenjang. Kujilati pangkal helaian rambutnya yang terjatuh di kulit lehernya. Sementara tanganku mendekap dadanya bersama eratnya. Telapak dan jari-jari tanganku meremas-remas kedua belah toketnya. Remasanku kadang terlalu kuat, kadang melemah.

Sambil telunjuk dan ibu jari tangan kananku menggencet dan memelintir perlahan pentil toket kirinya, pas tangan kiriku meremas kuat bukit toket kanannya dan bibirku menyedot kulit mulus pangkal lehernya yang bebau harum, kon tolku kugesek-gesekkan dan kutekan-tekankan ke perutnya. Ines pun menggelinjang ke kiri-kanan.

“Ah… om… ngilu… tetap om… terus… ah… geli… geli…terus… hhh… enak… enaknya… enak…,” Ines merintih-rintih sambil tetap mengusahakan menggeliat ke kiri-kanan bersama memiliki irama bersamaan bersama permainan tanganku di toketnya. Akibatnya pinggulnya menggial ke kanan-kiri. Goyang gialan pinggul itu menyebabkan kon tolku yang tengah menggesek-gesek dan menekan-nekan perutnya terasa semakin keenakan. “Ines… enak sekali Ines… sssh… luar biasa… enak sekali…,” aku pun mendesis-desis keenakan.

“Om keenakan ya? Batang kontol om terasa besar dan keras sekali menekan perut Ines. Wow… kontol om terasa hangat di kulit perut Ines. tangan om nakal sekali … ngilu,…,” rintih Ines. “Jangan mainkan cuma pentilnya saja… geli… remas semuanya saja…” Ines semakin menggelinjang-gelinjang didalam dekapan eratku. Dia sudah semakin liar saja desahannya, rupanya dia terlalu nikmati gelutannya, lupa bahwa aku ini om berasal dari suaminya. “om.. remasannya kuat sekali… Tangan om nakal sekali… Sssh… sssh… ngilu… ngilu…Ak… kon tol om … besar sekali… kuat sekali…” DAFTAR ID PRO PKV


Ines menarik wajahku mendekat ke wajahnya. bibirnya melumat bibirku bersama ganasnya. Aku pun tidak mau kalah. Kulumat bibirnya bersama penuh nafsu yang menggelora, pas tanganku mendekap tubuhnya bersama kuatnya. Kulit punggungnya yang teraih oleh telapak tanganku kuremas-remas bersama gemasnya. Kemudian aku menindihi tubuh Ines.

Kontolku terjepit di antara pangkal pahanya dan perutku anggota bawah sendiri. Rasa hangat mengalir ke batang kontolku yang tegang dan keras. Akhirnya aku tidak sabar lagi. Bibirku kini berubah menciumi dagu dan lehernya, pas tanganku membimbing kon tolku untuk melacak liang no noknya.

Kuputar-putarkan pernah kepala kon tolku di kelebatan jembut disekitar bibir no nok Ines. Ines mencapai batang kon tolku yang sudah terlalu tegang. Pahanya yang mulus itu terbuka agak lebar. “Om kon tolnya besar dan keras sekali” katanya sambil mengarahkan kepala kon tolku ke lobang nonoknya. kepala kon tolku menyentuh bibir no noknya yang sudah basah. bersama perlahan-lahan dan sambil kugetarkan, kontol kutekankan masuk ke liang no nok. Kini semua kepala kon tolku pun terbenam di didalam no noknya. Aku menghentikan gerak masuk kon tolku.

“Om… teruskan masuk… Sssh… enak… jangan berhenti hingga situ saja…,” Ines protes atas tindakanku. Namun aku tidak perduli. Kubiarkan kon tolku cuma masuk ke lobang no noknya cuma sebatas kepalanya saja, namun kon tolku kugetarkan bersama amplituda kecil. Sementara bibir dan hidungku bersama ganasnya menggeluti lehernya yang jenjang, lengan tangannya yang harum dan mulus, dan ketiaknya yang bersih berasal dari bulu ketiak.

Ines menggelinjang-gelinjang bersama tidak karuan. “Sssh… sssh… enak… enak… geli… geli, om. Geli… Terus masuk, om..” Bibirku mengulum kulit lengan tangannya bersama kuat-kuat. Sementara tenaga kukonsentrasikan pada pinggulku. Dan… satu… dua… tiga! kon tolku kutusukkan sedalam-dalamnya ke didalam no nok Ines bersama terlalu cepat dan kuatnya. Plak! Pangkal pahaku berkompetisi bersama pangkal pahanya yang tengah didalam posisi agak terhubung bersama kerasnya.

Sementara kulit batang kon tolku bagaikan diplirid oleh bibir no noknya yang sudah basah bersama kuatnya hingga menyebabkan bunyi: srrrt! “Auwww!” pekik Ines. Aku diam sesaat, melepaskan kon tolku tertanam semuanya di didalam no nok Ines tanpa bergerak sedikit pun. “Sakit om… ” kata Ines sambil tangannya meremas punggungku bersama kerasnya. Aku pun terasa menjalankan kon tolku keluar-masuk no nok Ines. Aku tidak tahu, apakah kon tolku yang berukuran panjang dan besar ataukah lubang no nok Ines yang berukuran kecil. Yang aku tahu, semua anggota kon tolku yang masuk no noknya serasa dipijit-pijit dinding lobang no noknya bersama agak kuatnya.

“Bagaimana Nes, sakit?” tanyaku. “Sssh… enak sekali… enak sekali… kon tol om besar dan panjang sekali… sampai-sampai menyumpal penuh semua penjuru lobang no nok Ines..,” jawabnya. Aku tetap memompa no nok Ines bersama kon tolku perlahan-lahan. toketnya yang melekat di dadaku ikut terpilin-pilin oleh dadaku akibat gerakan memompa tadi. Kedua pentilnya yang sudah mengeras seakan-akan mengkilik-kilik dadaku.

Kontolku serasa diremas-remas bersama memiliki irama oleh otot-otot no noknya bersamaan bersama genjotanku tersebut. Terasa hangat dan enak sekali. Sementara tiap tiap kali menusuk masuk kepala kon tolku menyentuh suatu daging hangat di didalam no nok Ines. Sentuhan tersebut serasa menggelitiki kepala kon tol supaya aku terasa sedikit kegelian. Geli-geli nikmat.

aku mengambil kedua kakinya dan mengangkatnya. Sambil menjaga supaya kon tolku tidak tercabut berasal dari lobang no noknya, aku mengambil posisi agak jongkok. Betis kanan Ines kutumpangkan di atas bahuku, pas betis kirinya kudekatkan ke wajahku. Sambil tetap mengocok no noknya perlahan bersama kon tolku, betis kirinya yang terlalu indah itu kuciumi dan kukecupi bersama gemasnya. Setelah puas bersama betis kiri, pindah betis kanannya yang kuciumi dan kugeluti, pas betis kirinya kutumpangkan ke atas bahuku.

Begitu hal tersebut kulakukan sebagian kali secara bergantian, sambil menjaga gerakan kon tolku maju-mundur perlahan di no nok Ines. Setelah puas bersama langkah tersebut, aku menempatkan kedua betisnya di bahuku, pas kedua telapak tanganku meraup kedua belah toketnya. Masih bersama kocokan kon tol perlahan di no noknya, tanganku meremas-remas toket montok Ines. Kedua gumpalan daging kenyal itu kuremas kuat-kuat secara berirama. Kadang kedua pentilnya kugencet dan kupelintir-pelintir secara perlahan. pentil itu semakin mengeras, dan bukit toket itu semakin terasa kenyal di telapak tanganku. Ines pun merintih-rintih keenakan.

Matanya merem-melek, dan alisnya mengimbanginya bersama sedikit gerakan tarikan ke atas dan ke bawah. “Ah… om, geli… geli… … Ngilu om, ngilu… Sssh… sssh… tetap om, terus…. kon tol om menyebabkan no nok Ines terasa enak sekali… Nanti jangan dingecretinkan di luar no nok, ya om. Ngecret di didalam saja… ” Aku terasa mempercepat gerakan masuk-keluar kon tolku di no nok Ines. “Ah-ah-ah… bener, om. Bener… yang cepat… Terus om, terus… ” Aku bagaikan diberi spirit oleh rintihan-rintihan Ines.

Tenagaku menjadi berlipat ganda. Kutingkatkan kecepatan keluar-masuk kon tolku di no nok Ines. Terus dan terus. Seluruh anggota kon tolku serasa diremas-remas bersama cepatnya oleh no nok Ines. Mata Ines menjadi merem-melek. Begitu termasuk diriku, mataku pun merem-melek dan mendesis-desis gara-gara terasa keenakan yang luar biasa.

“Sssh… sssh… Ines… enak sekali… enak sekali no nokmu… enak sekali no nokmu…” “Ya om, Ines termasuk terasa enak sekali… terusss… tetap om, terusss…” Aku tingkatkan ulang kecepatan keluar-masuk kon tolku pada no noknya. “Omi… sssh… sssh… Terus… terus… Ines nyaris nyampe…

sedikit lagi… sama-sama ya om…,” Ines menjadi mengoceh tanpa kendali. Aku mengayuh terus. Aku belum terasa mau ngecret. Namun aku kudu membuatnya nyampe duluan. Sementara kon tolku merasakan no nok Ines bagaikan berdenyut bersama hebatnya. “Om… Ah-ah-ah-ah-ah… Mau terlihat om… mau keluar..ah-ah-ah-ah-ah… sekarang ke-ke-ke…”

Tiba-tiba kurasakan kon tolku dijepit oleh dinding no nok Ines bersama terlalu kuatnya. Di didalam no nok, kon tolku terasa disemprot oleh cairan yang terlihat berasal dari no nok Ines bersama lumayan derasnya. Dan telapak tangan Ines meremas lengan tanganku bersama terlalu kuatnya. Ines pun berteriak tanpa kendali: “…keluarrr…!” Mata Ines membeliak-beliak. Sekejap tubuh Ines kurasakan mengejang.

Aku pun menghentikan genjotanku. kon tolku yang tegang luar biasa kubiarkan tertanam didalam no nok Ines. kon tolku terasa hangat luar biasa gara-gara terkena semprotan cairan no nok Ines. Kulihat mata Ines memejam sebagian pas didalam nikmati puncaknya. Setelah sekitar satu menit berlangsung, remasan tangannya pada lenganku perlahan-lahan mengendur. 

Kelopak matanya pun membuka, memandangi wajahku. Sementara jepitan dinding no noknya pada kon tolku berangsur-angsur melemah, kendati kon tolku tetap tegang dan keras. Kedua kaki Ines selanjutnya kuletakkan ulang di atas ranjang bersama posisi agak membuka. Aku ulang menindih tubuh telanjang Ines bersama menjaga supaya kon tolku yang tertanam di didalam no noknya tidak tercabut.

“Om… luar biasa… rasanya seperti ke langit ke tujuh,” kata Ines bersama mimik muka penuh kepuasan. kontolku tetap tegang di didalam nonoknya. kontolku tetap besar dan keras. Aku ulang mendekap tubuh Ines. kontolku terasa bergerak keluar-masuk ulang di nonok Ines, namun tetap bersama gerakan perlahan. Dinding no nok Ines secara berangsur-angsur terasa terasa meremas-remas kontolku.

Terasa hangat dan enak. Namun sekarang gerakan kon tolku lebih lancar dibandingkan bersama tadi. Pasti gara-gara terdapatnya cairan yang disemprotkan oleh no nok Ines sebagian pas yang lalu.

“Ahhh… om… langsung terasa lagi… Sekarang giliran om.. semprotkan peju om di no nok Ines.. Sssh…,” Ines terasa mendesis-desis lagi. Bibirku terasa memagut bibir Ines dan melumat-lumatnya bersama gemasnya. Sementara tangan kiriku ikut menyangga berat badanku, tangan kananku meremas-remas toket Ines dan juga memijit-mijit pentilnya, sesuai bersama irama gerak maju-mundur kon tolku di no noknya.

“Sssh… sssh… sssh… enak om, enak… Terus… teruss… terusss…,” desis Ines. Sambil ulang melumat bibir Ines bersama kuatnya, aku mempercepat genjotan kon tolku di no noknya. Pengaruh terdapatnya cairan di didalam no nok Ines, keluar-masuknya kon tol pun diiringi oleh suara, “srrt-srret srrrt-srrret srrt-srret…” Ines tidak henti-hentinya merintih kenikmatan, “Om… ah… ”

Kontolku semakin tegang. Kulepaskan tangan kananku berasal dari toketnya. Kedua tanganku kini berasal dari ketiak Ines menyusup ke bawah dan memeluk punggungnya. Tangan Ines pun memeluk punggungku dan mengusap-usapnya. Aku pun mengawali serangan dahsyatku. Keluar-masuknya kon tolku ke didalam no nok Ines sekarang terjadi bersama cepat dan bertenaga. Setiap kali masuk, kon tol kuhunjamkan keras-keras supaya menusuk no nok Ines sedalam-dalamnya.

Kontolku bagai diremas dan dihentakkan kuat-kuat oleh dinding nonok Ines. Sampai di langkah terdalam, mata Ines membeliak sambil bibirnya mengeluarkan seruan tertahan, “Ak!” Sementara daging pangkal pahaku bagaikan menampar daging pangkal pahanya hingga berbunyi: plak! Di pas bergerak terlihat nonok, ko tol kujaga supaya kepalanya selamanya tertanam di lobang nonok.

Remasan dinding no nok pada batang kontolku pada gerak terlihat ini sedikit lebih lemah dibanding bersama gerak masuknya. Bibir nonok yang mengulum batang kontolku pun sedikit ikut tertarik keluar. Pada gerak terlihat ini Ines mendesah, “Hhh…” Aku tetap menggenjot no nok Ines bersama gerakan cepat dan menghentak-hentak. Tangan Ines meremas punggungku kuat-kuat di pas kontolku kuhunjam masuk sejauh-jauhnya ke lobang nonoknya. Beradunya daging pangkal paha menyebabkan suara: Plak! Plak! Plak! Plak! Pergeseran antara kon tolku dan no nok Ines menyebabkan bunyi srottt-srrrt… srottt-srrrt… srottt-srrrt… Kedua nada tersebut diperdahsyat oleh pekikan-pekikan kecil Ines:

“Ak! Hhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…” kon tolku terasa empot-empotan luar biasa. “Nes… Enak sekali Nes… no nokmu enak sekali… no nokmu hangat sekali… jepitan no nokmu enak sekali…”

“Om… tetap om…,” rintih Ines, “enak om… enaaak… Ak! Hhh…” Tiba-tiba rasa gatal menyelimuti segenap penjuru kon tolku. Gatal yang enak sekali. Aku pun mengocokkan kontolku ke no noknya bersama semakin cepat dan kerasnya. Setiap masuk ke dalam, kontolku mengusahakan menusuk lebih didalam ulang dan lebih cepat ulang dibandingkan langkah masuk sebelumnya. Rasa gatal dan rasa enak yang luar biasa di kontol pun semakin menghebat. “Ines… aku… aku…” Karena menghambat rasa nikmat dan gatal yang luar biasa aku tidak dapat menyelesaikan ucapanku yang sesungguhnya sudah terbata-bata itu. “Om, Ines… mau nyamper lagi… Ak-ak-ak… aku nyam…”

Tiba-tiba kon tolku mengejang dan berdenyut bersama terlalu dahsyatnya. Aku tidak dapat ulang menghambat rasa gatal yang sudah mencapai puncaknya. Namun pada pas itu termasuk tiba-tiba dinding no nok Ines mencekik kuat sekali. Dengan cekikan yang kuat dan enak sekali itu, aku tidak dapat ulang menghambat jebolnya bendungan didalam alat kelaminku.

Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala kon tolku terasa disemprot cairan no nok Ines, bersamaan bersama pekikan Ines, “…nyampee…!” Tubuh Ines mengejang bersama mata membeliak-beliak. “Ines…!” aku melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuh Ines sekuat-kuatnya. Wajahku kubenamkan kuat-kuat di lehernya yang jenjang. Pejuku pun tak terbendung lagi. Crottt! Crottt! Crottt! Pejuku bersemburan bersama derasnya, menyemprot dinding no nok Ines yang terdalam. kon tolku yang terbenam semua di didalam no nok Ines terasa berdenyut-denyut.

Beberapa pas lamanya aku dan Ines terdiam didalam keadaan berpelukan erat sekali. Aku menggunakan sisa-sisa peju didalam kon tolku. Cret! Cret! Cret! kon tolku menyemprotkan ulang peju yang tetap tersisa ke didalam no nok Ines. Kali ini semprotannya lebih lemah. Perlahan-lahan baik tubuh Ines maupun tubuhku tidak mengejang lagi.

Aku menciumi leher mulus Ines bersama lembutnya, pas tangan Ines mengusap-usap punggungku dan mengelus-elus rambut kepalaku. Aku terasa puas sekali berhasil ngen totin Ines.