Bercinta Sama Istri Keponakan // Part 1

RAKSASAPOKER Keponakanku yang baru menikah tinggal bersamaku karena mereka belum memiliki rumah sendiri. 

RAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Tidak menjadi masalah bagiku karena saya tinggal sendiri setelah lama bercerai dan saya tidak memiliki anak berasal dari perkawinan yang gagal itu. Sebagai pengantin baru,

sudah pasti keponakanku dan istrinya, Ines, lebih sering menggunakan waktunya di kamar. Cerita Bokep Ngentot Sama Istri Keponakan


Pernah satu malam, saya mendengar erangan Ines berasal dari kamar mereka. Aku mendekat ke pintu, terdengar Ines mengerang2, “Terus mas, enak mas, tetap ……, yah udah nampak ya mas, Ines belum apa2″. Sepertinya Ines tidak terpuaskan dalam ‘pertempuran” itu karena suaminya keok duluan. Beberapa kali saya mendengar lenguhan dan diakhiri bersama dengan keluhan senada. Kasihan terhitung Ines.

Suatu sore, sepulang berasal dari kantor, saya lupa mempunyai kunci rumah. Aku mengetok pintu lumayan lama hingga Ines yang membukakan pintu. Aku udah lama kagum bersama dengan kecantikan dan wujud tubuhnya. Tinggi tubuhnya kurang lebih 167 cm. Rambutnya tergerai sebahu. Wajahnya cantik bersama dengan wujud mata, alis, hidung, dan bibir yang indah. Ines cuma mengenakan baju kimono yang terbuat berasal dari bahan handuk sepanjang cuma 15cm di atas lutut.

Paha dan betis yang tidak ditutupi daster itu kelihatan amat mulus. Kulitnya kelihatan licin, dihiasi oleh rambut-rambut halus yang pendek. Pinggulnya yang besar melebar. Pinggangnya kelihatan ramping. Sementara kimono yang menutupi dada atasnya belum sempat diikat secara sempurna, mengakibatkan belahan toket yang montok itu menyembul di belahan baju, pentilnya membayang di kimononya. Rupanya Ines belum sempat mengenakan bra. Lehernya jenjang bersama dengan sebagian helai rambut terjuntai. Sementara bau harum sabun mandi terpancar berasal dari tubuhnya.

Agaknya Ines tengah mandi, atau baru saja selesai mandi. Tanpa sengaja, sebagai laki-laki normal, kon tolku berdiri menyaksikan tubuhnya. Dari samping kulihat toketnya begitu menonjol berasal dari balik kimononya. Melihat Ines sewaktu membelakangiku, saya terbayang betapa nikmatnya misalnya tubuh selanjutnya digeluti berasal dari arah belakang. Aku berlangsung mengikutinya menuju area makan. Kuperhatikan gerak tubuhnya berasal dari belakang. Pinggul yang besar itu meliuk ke kiri-kanan mengimbangi langkah-langkah kakinya. Ingin rasanya kudekap tubuh itu berasal dari belakang erat-erat. Ingin kutempelkan kon tolku di gundukan pantatnya. Dan mengidamkan rasanya kuremas-remas toket montoknya habis-habisan.

“Sori Nes, om lupa bawa kunci. Kamu terganggu mandinya ya”, kataku. “Udah selesai kok om”, jawabnya. Aku duduk di meja makan. Ines mengambilkan teh buatku dan kemudian masuk ke kamarnya. Tak lama kemudian Ines nampak cuma mengenakan daster tipis berbahan licin, mempertontonkan tonjolan toket yang membusung. Ines tidak mengenakan bra, sehingga ke-2 pentilnya kelihatan memahami sekali tercetak di dasternya. Ines beranjak berasal dari duduknya dan menyita toples memuat kue berasal dari lemari makan. Pada posisi membelakangiku, saya menatap tubuhnya berasal dari belakang yang amat merangsang.

Kita ngobrol ngalor ngidul soal macem2. peluang bagiku untuk menatapnya berasal dari dekat tanpa rasa risih. Ines tidak memahami bahwa belahan daster di dadanya mempertontonkan toket yang montok selagi agak merunduk. kon tolku pun menegang. Akhirnya percakapan menyerempet soal sex. “Nes, anda gak puas ya sama suami kamu”, kataku to the point. Ines tertunduk malu, mukanya semu kemerahan. “Kok om tau sih”, jawabnya lirih. “Om kan pernah denger anda melenguh awalnya, cuma akhirnya mengeluh. DAFTAR ID PRO PKV


Suami anda cepet ngecretnya ya”, kataku lagi. “Iya om, si mas cepet banget keluarnya. Ines baru jadi ngerasa enak, dia udah keluar. Kesel deh jadinya, kaya Ines cuma menjadi pemuas napsunya aja”, Ines jadi curhat. Aku cuma mendengarkan curhatannya saja. “Om, mandi pernah deh, udah waktunya makan. Ines nyiapin makan pernah ya”, katanya mengakhiri percakapan seru. “Kirain Ines nawarin berkenan mandiin”, godaku. “Ih si om, genit”, jawabnya tersipu. “Kalo Ines mau, om gak keberatan lo”, jawabku lagi. Ines tidak menjawab cuma berlalu ke dapur, buat persiapan makan. Sementara itu saya masuk kamarku dan mandi. kon tolku tegang gak karuan karena percakapan seru tadi.

Selesai mandi, saya cuma kenakan celana pendek dan kaos, sengaja saya tidak kenakan CD. Pengen rasanya malem ini saya ngen totin Ines. Apalagi suaminya tengah tugas nampak kota untuk sebagian hari. kon tolku tetap ngaceng berat sehingga kelihatan memahami tercetak di celana pendekku. Ines diam saja menyaksikan ngacengnya kon tolku berasal dari luar celana pendekku. Ketika makan malem, kami ngobrol soal yang lain, Ines mengupayakan tidak mengarahkan percakapan kearah yang tadi. Kalo Ines tertawa, mengidamkan rasanya kulumat habis-habisan bibirnya. Ingin rasanya kusedot-sedot toket nya dan mengidamkan rasanya kuremas-remas pantat kenyal Ines itu hingga dia menggial-gial keenakan.

Selesai makan, Ines membereskan piring dan gelas. Sekembalinya berasal dari dapur, Ines terpeleset sehingga terjatuh. Rupanya ada air yang tumpah dikala Ines mempunyai peralatan makan ke dapur. Betis kanan Ines membentur rak kayu. “Aduh”, Ines mengerang kesakitan. Aku langsung menolongnya. Punggung dan pinggulnya kuraih. Kubopong Ines kekamarnya. Kuletakkan Ines di ranjang. Tercium bau harum sabun mandi memancar berasal dari tubuhnya. Belahan daster terbuka lebih lebar sehingga saya dapat bersama dengan leluasa menyaksikan kemontokan toketnya.

Nafsuku pun naik. kon tolku makin lama tegang. dikala saya menarik tangan berasal dari pinggulnya, tanganku tanpa sengaja mengusap pahanya yang tersingkap. Ines mengupayakan menggapai betisnya yang terbentur rak tadi. Kulihat bekas benturan tadi mengakibatkan sedikit memar di betis nya. Aku pun mengupayakan membantunya. Kuraih betis selanjutnya seraya kuraba dan kuurut anggota betis yang memar tersebut. “Pelan om, sakit”, erangnya lagi. Lama-lama suaranya hilang. Sambil tetap memijit betis Ines, kupandang wajahnya. Matanya sekarang terpejam. Nafasnya menjadi teratur. Ines udah tertidur. Mungkin karena capek seharian membereskan rumah. Aku makin lama melemahkan pijitanku, dan akhirnya kuhentikan sama sekali.

Kupandangi Ines yang tengah tertidur. Alangkah cantiknya wajahnya. Lehernya jenjang. Toketnya yang montok bergerak naik-turun bersama dengan tertata mengiringi nafas tidurnya. pentilnya menyembul berasal dari balik dasternya. Pinggangnya ramping, dan pinggulnya yang besar melebar. Daster selanjutnya tidak dapat menyembunyikan garis segitiga CD yang kecil. Terbayang bersama dengan apa yang ada di balik CDya, kon tolku menjadi makin lama tegang. Apalagi paha yang putih terbuka karena daster yang tersingkap. Kuelus betisnya. Kusingkapkan anggota bawah dasternya hingga sebatas perut.

Kini paha mulus itu terhampar di hadapanku. Di atas paha, sebagian helai bulu jembut nampak berasal dari CD yang minim. Sungguh kontras warnanya. Jembutnya berwarna hitam, tengah tubuhnya berwarna putih. Kueluskan tanganku menuju pangkal pahanya sambil kuamati muka Ines. Kueluskan perlahan ibu jariku di belahan bibir no noknya. kuciumi paha mulus selanjutnya berganti-ganti, kiri dan kanan, sambil tanganku mengusap dan meremasnya perlahan-lahan. Kedua paha selanjutnya secara otomatis bergerak mengakses agak lebar. Kemudian saya membebaskan celana pendekku. Kembali kuciumi dan kujilati paha dan betis nya.

Kutempelkan kepala kon tolku yang udah ngaceng berat di pahanya. Rasa hangat mengalir berasal dari paha Ines ke kepala kon tolku. kugesek-gesekkan kepala kon tol di sepanjang pahanya. kon tolku tetap kugesek-gesekkan di paha sambil agak kutekan. Semakin jadi nikmat. Nafsuku makin lama tinggi. Aku makin lama nekad. Kulepaskan daster Ines, Ines terbangun karena ulahku. “Om, Ines berkenan diapain”, katanya lirih. Aku terperanjat dan langsung menghentikan aksiku. Aku memandangi tubuh mulus Ines tanpa daster menghalanginya. Tubuh moleknya sungguh memunculkan birahi. toket yang besar membusung, pinggang yang ramping, dan pinggul yang besar melebar. pentilnya berdiri tegak.

“Nes, om berkenan ngasi kenikmatan sama kamu, berkenan enggak”, kataku perlahan sambil mencium toket nya yang montok. Ines diam saja, matanya terpejam. Hidungku mengendus-endus ke-2 toket yang berbau harum sambil sesekali mengecupkan bibir dan menjilatkan lidahku.pentil toket kanannya kulahap ke dalam mulutku. Badannya sedikit tersentak dikala pentil itu kugencet perlahan bersama dengan gunakan lidah dan gigi atasku. “Om…”, rintihnya, rupanya tindakanku memunculkan napsunya juga. Karena amat mengidamkan merasakan kenikmatan dien tot, Ines diam saja membebaskan saya menjelajahi tubuhnya. kusedot-sedot pentil toketnya secara berirama. Mula-mula lemah, lama-lama agak kuperkuat sedotanku. Kuperbesar daerah lahapan bibirku. Kini pentil dan toket sekitarnya yang berwarna kecoklatan itu seluruh masuk ke dalam mulutku.

Kembali kusedot daerah selanjutnya berasal dari lemah-lembut menjadi agak kuat. Mimik muka Ines kelihatan sedikit berubah, seolah menghambat suatu kenikmatan. Kedua toket harum itu kuciumi dan kusedot-sedot secara berirama. kon tolku bertambah tegang. Sambil tetap menggumuli toket bersama dengan bibir, lidah, dan wajahnya, saya tetap menggesek-gesekkan kon tol di kulit pahanya yang halus dan licin. Kubenamkan wajahku di antara ke-2 belah gumpalan dada Ines. perlahan-lahan bergerak ke arah bawah. Kugesek-gesekkan wajahku di lekukan tubuh yang merupakan batas antara gumpalan toket dan kulit perutnya. Kiri dan kanan kuciumi dan kujilati secara bergantian.

Kecupan-kecupan bibirku, jilatan-jilatan lidahku, dan endusan-endusan hidungku pun berubah ke perut dan pinggang Ines. Sementara gesekan-gesekan kepala kon tolku kupindahkan ke betisnya. Bibir dan lidahku menyusuri perut sekeliling pusarnya yang putih mulus. wajahku bergerak lebih ke bawah. Dengan nafsu yang menggelora kupeluk pinggulnya secara perlahan-lahan. Kecupanku pun berubah ke CD tipis yang membungkus pinggulnya tersebut. Kususuri pertemuan antara kulit perut dan CD, ke arah pangkal paha. Kujilat helaian-helaian rambut jembutnya yang nampak berasal dari CDnya. Lalu kuendus dan kujilat CD pink itu di anggota belahan bibir nonoknya. Ines makin lama terengah menghambat napsunya, sesekali terdengar lenguhannya menghambat kenikmatan yang dirasakannya.

Aku bangkit. Dengan posisi berdiri di atas lutut kukangkangi tubuhnya. kon tolku yang tegang kutempelkan di kulit toket Ines. Kepala kon tol kugesek-gesekkan di toket yang montok itu. Sambil kukocok batangnya bersama dengan tangan kananku, kepala kon tol tetap kugesekkan di toketnya, kiri dan kanan. Setelah kurang lebih dua menit saya lakukan hal itu. Kuraih ke-2 belah gumpalan toket Ines yang montok itu. Aku berdiri di atas lutut bersama dengan mengangkangi pinggang ramping Ines bersama dengan posisi badan sedikit membungkuk. Batang kon tolku kujepit bersama dengan ke-2 gumpalan toketnya. Kini rasa hangat toket Ines jadi mengalir ke seluruh batang kon tolku.

Perlahan-lahan kugerakkan maju-mundur kon tolku di cekikan ke-2 toket Ines. Kekenyalan daging toket selanjutnya serasa memijit-mijit batang kon tolku, berikan rasa nikmat yang luar biasa. Di selagi maju, kepala kon tolku nampak menggapai pangkal lehernya yang jenjang. Di selagi mundur, kepala kon tolku tersembunyi di jepitan toketnya. Lama-lama gerak maju-mundur kon tolku bertambah cepat, dan ke-2 toket nya kutekan makin lama keras bersama dengan telapak tanganku sehingga jepitan di batang kon tolku makin lama kuat. Aku pun merem melek menikmati enaknya jepitan toketnya. Ines pun mendesah-desah tertahan, “Ah… hhh… hhh… ah…”

kontolku pun jadi melelehkan sedikit cairan. Cairan selanjutnya membasahi belahan toket Ines. Oleh gerakan maju-mundur kon tolku di dadanya yang diimbangi bersama dengan tekanan-tekanan dan remasan-remasan tanganku di ke-2 toketnya, cairan itu menjadi teroles rata di sepanjang belahan dadanya yang menjepit batang kon tolku. Cairan selanjutnya menjadi pelumas yang memperlancar maju-mundurnya kon tolku di dalam jepitan toketnya. Dengan terdapatnya sedikit cairan berasal dari kontolku selanjutnya saya merasakan keenakan dan kehangatan yang luar biasa terhadap gesekan-gesekan batang dan kepala kontolku bersama dengan toketnya. “Hih… hhh… … Luar biasa enaknya…,” saya tak kuasa menghambat rasa enak yang tak terperi. Nafas Ines menjadi tidak teratur. Desahan-desahan nampak berasal dari bibirnya , yang kadang diseling desahan lewat hidungnya, “Ngh… ngh… hhh… heh… eh… ngh…” Desahan-desahan Ines makin lama mengakibatkan nafsuku makin lama memuncak.

Gesekan-gesekan maju-mundurnya kon tolku di jepitan toketnya makin lama cepat. kon tolku makin lama tegang dan keras. Kurasakan pembuluh darah yang lewat batang kon tolku berdenyut-denyut, tingkatkan rasa hangat dan nikmat yang luar biasa. “Enak sekali, Nes”, erangku tak tertahankan.. Aku menggerakkan maju-mundur kon tolku di jepitan toket Ines bersama dengan makin lama cepatnya. Rasa enak yang luar biasa mengalir berasal dari kon tol ke syaraf-syaraf otakku. Kulihat muka Ines. Alis matanya bergerak naik turun bersamaan bersama dengan desah-desah perlahan bibirnya akibat tekanan-tekanan, remasan-remasan, dan kocokan-kocokan di toketnya. Ada kurang lebih lima menit saya menikmati rasa keenakan luar biasa di jepitan toketnya itu.

Toket sebelah kanannya kulepas berasal dari telapak tanganku. Tangan kananku lalu membimbing kon tol dan menggesek-gesekkan kepala kon tol bersama dengan gerakan memutar di kulit toketnya yang halus mulus. Sambil jari-jari tangan kiriku tetap meremas toket kiri Ines, kon tolku kugerakkan memutar-mutar menuju ke bawah. Ke arah perut. Dan di kurang lebih pusarnya, kepala kon tolku kugesekkan memutar di kulit perutnya yang putih mulus, sambil sesekali kusodokkan perlahan di lobang pusarnya.

BANDAR CAPSA SUSUN

kucopot CD minimnya. Pinggul yang melebar itu tidak berpenutup lagi. Kulit perut yang awal mulanya tertutup CD kelihatan memahami sekali. Licin, putih, dan amat mulus. Di bawah perutnya, jembut yang hitam lebat menutupi daerah kurang lebih lobang no noknya. Kedua paha mulus Ines kurenggangkan lebih lebar. Kini hutan lebat di bawah perut tadi terkuak, mempertontonkan no noknya. Aku pun menyita posisi sehingga kon tolku dapat menggapai no nok Ines bersama dengan mudahnya. Dengan tangan kanan memegang batang kontol, kepalanya kugesek-gesekkan ke jembut Ines.

Rasa geli menggelitik kepala kontolku. kepala kontolku bergerak menyusuri jembut menuju ke nonoknya. Kugesek-gesekkan kepala kontol ke sekeliling bibir nonoknya. Terasa geli dan nikmat. kepala kontol kugesekkan agak ke arah lobang. Dan menusuk sedikit ke dalam. Lama-lama dinding mulut lobang no nok itu menjadi basah. Kugetarkan perlahan-lahan kontolku sambil tetap memasuki lobang nonok. Kini seluruh kepala kon tolku yang berhelm pink tebenam dalam jepitan mulut nonok Ines. Jepitan mulut nonok itu jadi hangat dan enak sekali. Kembali berasal dari mulut Ines nampak desisan kecil isyarat nikmat tak terperi. kontolku makin lama tegang.

Sementara dinding mulut nonok Ines jadi makin lama basah. Perlahan-lahan kontolku kutusukkan lebih ke dalam. Kini tinggal separuh batang yang tersisa di luar. Secara perlahan kumasukkan kontolku ke dalam nonok. Terbenam udah seluruh batang kontolku di dalam no nok Ines. Sekujur batang kontol sekarang dijepit oleh nonok Ines bersama dengan amat enaknya. secara perlahan-lahan kugerakkan keluar-masuk kontolku ke dalam nonoknya. Sewaktu keluar, yang tersisa di dalam nonok cuma kepala kontol saja. Sewaktu masuk seluruh kontol terbenam di dalam no nok hingga batas pangkalnya. Rasa hangat dan enak yang luar biasa kini seolah memijiti seluruh anggota kontolku. Aku tetap memasuk-keluarkan kontolku ke lobang nonoknya.

Alis matanya terangkat naik setiap kali kontolku menusuk masuk nonoknya secara perlahan. Bibir segarnya yang sensual sedikit terbuka, tengah giginya terkatup rapat. Dari mulut sexy itu nampak desis kenikmatan, “Sssh…sssh… hhh… hhh… ssh… sssh…” Aku tetap mengocok perlahan-lahan nonoknya. Enam menit udah hal itu berlangsung. Kembali kukocok secara perlahan nonoknya. Kurasakan enaknya jepitan otot-otot n nok terhadap kontolku. Kubiarkan kocokan perlahan selanjutnya hingga sepanjang dua menit. Kembali kutarik kontolku berasal dari no nok Ines. Namun kini tidak seluruhnya, kepala kon tol tetap kubiarkan tertanam dalam mulut nonoknya. Sementara batang kontol kukocok bersama dengan jari-jari tangan kananku bersama dengan cepatnya

Rasa enak itu agaknya dirasakan pula oleh Ines. Ines mendesah-desah akibat sentuhan-sentuhan getar kepala kon tolku terhadap dinding mulut no noknya, “Sssh… sssh… zzz…ah… ah… hhh…”

Tiga menit kemudian kumasukkan ulang seluruh kontolku ke dalam no nok Ines. Dan kukocok perlahan. Kunikmati kocokan perlahan terhadap no noknya kali ini lebih lama. Sampai kurang lebih empat menit. Lama-lama saya tidak puas. Kupercepat gerakan keluar-masuk kontolku terhadap no noknya. Kurasakan rasa enak sekali menjalar di sekujur kon tolku. Aku hingga tak kuasa menghambat ekspresi

keenakanku. Sambil tertahan-tahan, saya mendesis-desis, “Nes… nonokmu luar biasa… nikmatnya…”

Gerakan keluar-masuk secara cepat itu berlangsung hingga kurang lebih empat menit. rasa gatal-gatal enak jadi menjalar di sekujur kontolku. Berarti sebagian selagi ulang saya bakal ngecret. Kucopot kontolku berasal dari nonok Ines. Segera saya berdiri bersama dengan lutut mengangkangi tubuhnya sehingga kontolku mudah menggapai toketnya. Kembali kuraih ke-2 belah toket montok itu untuk menjepit kontolku yang berdiri bersama dengan amat gagahnya. Agar kontolku dapat terjepit bersama dengan enaknya, saya agak merundukkan badanku.

Kontol kukocokkan maju-mundur di dalam jepitan toketnya. Cairan nonok Ines yang membasahi kon tolku kini merupakan pelumas terhadap gesekan-gesekan kon tolku dan kulit toketnya. “Oh… hangatnya… Sssh… nikmatnya…Tubuhmu luarrr biasa…”, saya merintih-rintih keenakan. Ines terhitung mendesis-desis keenakan, “Sssh.. sssh… sssh…” Giginya tertutup rapat. Alis matanya bergerak ke atas ke bawah. Aku mempercepat maju-mundurnya kontolku. Aku memperkuat tekananku terhadap toketnya sehingga kontolku terjepit lebih kuat. Rasa enak menjalar lewat kontolku. Rasa hangat menyusup di seluruh kontolku.

Karena basah oleh cairan nonok, kepala kontolku kelihatan amat mengkilat di selagi melongok berasal dari jepitan toket Ines. Leher kon tol yang berwarna coklat tua dan helm kontol yang berwarna pink itu menari-nari di jepitan toketnya. Lama-lama rasa gatal yang menyusup ke segenap penjuru kon tolku makin lama menjadi-jadi. Semakin kupercepat kocokan kon tolku terhadap toket Ines.

Rasa gatal makin lama hebat. Rasa hangat makin lama luar biasa. Dan rasa enak makin lama menuju puncaknya. Tiga menit udah kocokan hebat kontolku di toket montok itu berlangsung. Dan dikala rasa gatal dan enak di kontolku hampir menggapai puncaknya, saya menghambat sekuat tenaga benteng pertahananku sambil mengocokkan kontol di kempitan toket indah Ines bersama dengan amat cepatnya. Rasa gatal, hangat, dan enak yang luar

biasa akhirnya menggapai puncaknya. Aku tak kuasa ulang membendung jebolnya tanggul pertahananku. “Ines…!” pekikku bersama dengan tidak tertahankan. Mataku membeliak-beliak. Jebollah pertahananku. Rasa hangat dan nikmat yang luar biasa menyusup ke seluruh sel-sel kon tolku selagi menyemburkan peju. Crot! Crot! Crot! Crot!

Pejuku menyemprot bersama dengan derasnya. Sampai empat kali. Kuat sekali semprotannya, hingga menghantam rahang Ines. Peju selanjutnya berwarna putih dan kelihatan amat kental. Dari rahang peju mengalir turun ke arah leher Ines. Peju yang tersisa di dalam kon tolku pun menyusul nampak dalam tiga semprotan. Cret! Cret! Cret! Kali ini semprotannya lemah. Semprotan awal cuma hingga pangkal lehernya, tengah yang paling akhir cuma jatuh di atas belahan toketnya. Aku menikmati akhir-akhir kenikmatan. “Luar biasa… nes, nikmat sekali tubuhmu…,” saya bergumam. “Kok gak dikeluarin di dalem aja om”, kata Ines lirih. “Gak apa kalo om ngecret didalem Nes”, jawabku.

“Gak apa om, Ines pengen ngerasain kesemprot peju anget. Tapi Ines ngerasa nikmat sekali om, belum pernah Ines ngerasain kenikmatan layaknya ini”, katanya lagi. “Ini baru ronde pertama Nes, berkenan ulang kan ronde kedua”, kataku. “Mau om, namun ngecretnya didalem ya”, jawabnya. “Kok tadi anda diem aja Nes”, kataku lagi. “Bingung om, namun nikmat”, jawabnya sambil tersenyum. “Engh…” Ines menggeliatkan badannya. Aku langsung mengelap kontol bersama dengan tissue yang ada di atas meja, dan kenakan celana pendek.

Beberapa lembar tissue kuambil untuk mengelap pejuku yang berleleran di rahang, leher, dan toket Ines. Ada yang tidak dapat dilap, yakni cairan pejuku yang udah terlajur jatuh di rambut kepalanya. “Mo kemana om”, tanyanya. “Mo ambil minum dulu”, jawabku. “Kok celananya dipake, katanya berkenan ronde kedua”, katanya. Rupanya Ines udah pengen saya menggelutinya sekali lagi.

Aku ulang mempunyai gelas memuat air putih, kuberikan kepada Ines yang langsung menenggaknya sampe habis. Aku nampak ulang untuk mengisi gelas bersama dengan air dan ulang ulang ke kekamar. Masih tidak puas saya memandangi toket indah yang terhampar di depan mataku tersebut. mataku menyaksikan ke arah pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang melebar indah. Terus tatapanku jatuh ke nonoknya yang dikelilingi oleh bulu jembut hitam jang lebat.