Selingkuhanku Adalah Mertuaku // Part 2

RAKSASAPOKER Dan yang lebih mengejutkanku adalah dia tidak menggeser bokongnya jauhi tubuhku, tidak menghilangkan penisku dari jepitan pahanya dan bahkan membetulkan dasternya. 

RAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Dia lagi memunggungiku meneruskan tidurnya, aku makin percaya bahwa pada mulanya mertuaku nikmati remasanku di payudaranya,

hal ini sebabkan aku berani untuk mengulangi perbuatanku untuk memeluk dan meremas buah dadanya.


Tidak ada penolakan dikala tanganku menyelusup dan memutar mutar secara lembut segera keputing teteknya lewat kancing depan dasternya yang udah kulepas. Walaupun mertuaku berpura pura tidur dan bersikap pasif, namun aku dengar nafasnya udah memburu.

Cukup lama kumainkan susunya sambil kusodokkan kemaluanku di antara jepitan pahanya pelan pelan, namun sebab pahanya kering, aku tidak mendapat kenikmatan yang memadai, Kuangkat pelan pelan pahanya dengan tanganku, supaya aku penisku terjepit didalam pahanya dengan lebih sempurna, namun dia justru membalikkan badannya menjadi terlentang, supaya tangannya yang berada disebelah tangannya hampir menyetuh penisku, seiring dengan itu tangan kirinya mencari selimutnya menutupi tubuhnya. Kutengok istri yang berada dibelakangku, dia keluar masih nyenyak tidurnya dan tidak menyadari bahwa suatu hal sedang terjadi diranjangnya.

Kusingkap dasternya yang berada dibawah selimut, dan tanganku merayap kebawah CDnya. Dan kurasakan vaginanya yang hangat dan berbulu halus itu udah basah. Jari tanganku jadi mengelus, mengocok dan meremas kemaluan mertuaku. Nafasnya makin memburu sementara dia keluar mengupayakan untuk mencegah gerakan pinggulnya, yang kadang kadang terangkat, kadang mengeser kekiri kanan sedikit. Kunikmati wajahnya yang tegang sambil sekali kali menggigit bibirnya. Hampir saja aku tak dapat mencegah nafsu untuk mencium bibirnya, namun aku segera menyadari bahwa itu bakal menyebabkan gerakan yang dapat membangunkan istriku. 

Setelah sebagian sementara tangan kanannya masih pasif, maka kubimbing tangannya untuk mengelus elus penisku, meskipun agak alot akhirnya dia rela mengelus penisku, meremas bahkan mengocoknya. Agak lama kita saling meremas, mengelus, mengocok dan makin lama cepat, hingga kurasakan dia udah mendekati puncaknya, mertuakan mengakses matanya, dipandanginya wajahku erat erat, kerut dahinya menegang dan sebagian detik kemudian dia menghentakkan kepalanya menengadah kebelakang. Tangan kirinya mencengkeram dan menghimpit tanganku yang sedang mengocok lobang kemaluannya. Kurasakan semprotan cairan di pangkal telapak tanganku. Mertuaku capai puncak kenikmatan, dia udah orgasme. Dan terhadap sementara hampir yang seiring air maniku menyemprot kepahanya dan membasahi telapak tangannya. Kenikmatan yang luar biasa kudapatkan malam ini, kejadianya begitu saja terjadi tanpa rancangan bahkan pada mulanya membayangkanpun aku tidak berani.

Sejak perihal itu, udah sebulan lebih mertuaku tidak pernah menginap dirumahku, meskipun komunikasi dengan istriku masih lancar lewat telpon. Istriku tidak curiga apa apa namun aku sendiri jadi rindu, aku terobsesi untuk melakukannya lebih jauh lagi. Kucoba sebagian kali kutelepon, namun selamanya tidak rela menerima. Akhirnya sesudah kupertimbangkan maka kuputuskan aku harus menemuinya. DAFTAR ID PRO PKV


Hari itu aku sengaja masuk kantor separo hari, dan aku bermaksud menemuinya dirumahnya, sesampai dirumahnya kulihat tokonya sepi pengunjung, cuma dua orang penjaga tokonya terlihar asik sedang ngobrol. Tokonya terdapat sebagian mtr. dari rumah induk yang lumayan besar dan luas. Aku segera masuk kerumah mertuaku sesudah basa basi dengan penjaga tokonya yang kukenal dengan baik. Aku disambut dengan ramah oleh mertuaku, seolah olah tidak pernah terjadi suatu hal apa apa, antara kita berdua, padahal sikapku terlampau kikuk dan keliru tingkah.

“Tumben tumbenan mampir kesini terhadap jam kantor?”
“Ya Bu, soalnya Ibu nggak pernah kesana lagi sih”
Mertuaku cuma tertawa mendengarkan jawabanku
“Ton. Ibu kuatir ah.. wong kamu kalau tidur tangannya kemana mana.., Untung istrimu nggak lihat, kalau dia lihat.. wah.. dapat berabe semua nantinya..”
“Kalau nggak ada Sri gimana Bu..?” tanyaku lebih berani.
“Ah kamu ada ada saja, Memangnya Sri masih kurang ngasinya, koq masih minta nambah serupa ibunya.”
“Soalnya ibunya serupa cantiknya dengan anaknya” gombalku.
“Sudahlah, kamu makan saja pernah nanti kalau rela istirahat, kamar depan dapat dipakai, kebetulan tadi matang pepes” selesai bicara ibuku masuk ke kamarnya.

Aku bimbang, makan pernah atau menyusul mertua kekamar. Ternyata nafsuku mengalahkan rasa lapar, aku segera menyusul masuk kekamar, namun bukan dikamar depan seperti perintahnya melainkan kekamar tidur mertuaku. Pelan pelan kubuka pintu kamarnya yang tidak terkunci, kulihat dia baru saja merebahkan badannya dikasur, dan matanya menatapku, tidak mengundangku namun termasuk tidak ada penolakan dari tatapannya. Aku segera naik keranjang dan perlahan lahan kupeluk tubuhnya yang gemulai, dan kutempelkan bibirku penuh kelembutan. Mertuaku menatapku sejenak sebelum akan akhirnya memejamkan matanya nikmati ciuman lembutku. Kami berciuman lumayan lama, dan saling meraba dan didalam sekejap kita udah tidak berpakaian, dan nafas kita saling memburu. Sejauh ini mertuaku cuma mengelus punggung dan kepalaku saja, sementara tanganku udah mengelus paha anggota dalam. Ketika jariku jadi menyentuh vaginanya yang tidak tebal dan berbulu halus, dia sengaja mengakses pahanya lebar lebar, cuma sebentar jariku meraba kemaluanya yang udah terlampau basah itu, segera kulepas ciumanku dan kuarahkan mulutku ke vagina merona basah itu.

Pada awalannya dia menolak dan menutup pahanya erat erat.
“Emoh.. Ah nganggo tangan wae, saru ah.. risih..” namun aku tak mengindahkan kata katanya dan aku 1/2 memaksa, akhirnya dia mengalah dan membiarkan aku nikmati sajian yang terlampau menakjubkan itu, kadang kadang kujilati klitorisnya, kadang kusedot sedot, bahkan kujepit itil mertuaku dengan bibirku lalu kutarik tarik keluar.
“Terus nak Ton.., Enak banget.. oh.. Ibu wis suwe ora ngrasakke penak koyo ngene sstt”
Mertuaku udah merintih rintih dengan suara halus, sementara sambil mengakses lebar pahanya, pinggulnya sering diangkat dan diputar putar halus. Tangan kiriku yang meremas remas buah dadanya, kini jariku udah masuk kedalam mulutnya untuk disedot sedot.

Ketika kulihat mertuaku udah mendekati klimax, maka kuhentikan jilatanku dimemeknya, kusodorkan kontolku kemulutnya, namun dia mengikis wajah kekiri dan kekanan, mati matian tidak rela mengisap penisku. Dan akupun tidak rela memaksakan kehendak, lagi kucium bibirnya, kutindih tubuhnya dan kudekap erat erat, kubuka leber lebar pahanya dan kuarahkan ujung penisku yang mengkilat dibibr vaginanya.

Mertuaku udah tanpa daya didalam pelukanku, kumainkan penisku dibibir kemaluannya yang udah basah, kumasukkan kepala penis, kukocok kocok sedikt, kemudian kutarik lagi sebagian kali kulakukan.
“Enak Bu?”
“He eh, dikocok koyo ngono tempikku keri, wis lumayan Ton, manukmu blesekno sin jero..”
“Sekedap malih Bu, taksih eco ngaten, keri sekedik sekedik”
“Wis wis, aku wis ora tahan meneh, blesekno sih jero meneh Ton oohh.. ssttss.. Ibu wis ora tahan meneh, aduh sedap banget tempikku” sambil bicara begitu diangkatnya tinggi tinggi bokongnya, seiring dengan itu kumasukkan kontolku makin kedalam memeknya hingga kepangkalnya, kutekan kontolku didalam dalam, sementara Ibu mertuaku mengupayakan memutar mutar pinggulnya, kukocokkan penisku dengan irama yang tetap, sementara tubuhnya rapat kudekap, bibirku menempel dipipinya, kadang kujilat lehernya, ekspresi wajahnya berpindah ganti. Rupanya Ibu anak serupa saja, kalau sedang nikmati sex mulutnya tidak dapat diam, dari kata jorok hingga rintihan bahkan mendekati tangisan.

Ketika rintihannya jadi mengeras dan wajahnya udah diangkat keatas aku segera menyadari bahwa mertua bakal segera orgasme, kukocok kontolku makin cepat.
“Ton..aduh aduh.. Tempikku senut senut, ssttss.. Heeh kontolmu gede, sedap banget.. Ton aku meh metu.. oohh.. Aku wis metu..oohh.”

Mertuaku menjerit lumayan keras dan seiring dengan itu aku merasakan semprotan cairan didalam vaginanya. Tubuhnya lemas didalam dekapanku, kubiarkan sebagian menit untuk nikmati sisa sisa orgasmenya sementara aku sendiri didalam posisi nanggung.
Kucabut penisku yang basah kuyup oleh lendirnya memekknya, dan kusodorkan ke mulutnya, namun dia selamanya menolak namun dia menggegam penisku untuk dikocok didepan wajahnya. Ketika kocokkannya makin cepat, aku tidak tahan lagi dan muncratlah lahar maniku kewajahnya.

Siang itu aku terlampau bahagia demikianlah termasuk mertuaku, bahkan sebelum akan pulang aku sempat melakukannya lagi, ronde ke dua ini mertuaku dapat mengimbangi permainanku, dan kita bermain lumayan lama dan kita dapat hingga capai orgasme terhadap sementara yang sama.