Nikmatnya Sensasi ML yang Diberikan Oleh Mantan Muridku // Part 2

RAKSASAPOKER “Yah, yah, yah, aku juga, aku juga! Enak banget bercinta sama Ibu!” Sandy menyodok-nyodok tambah kencang.

RAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
“Sodok terus, Saann!!!… Yah, ooohhh, yahh, ugghh!!!”

“Teruuss…, arrgghh…, sshh…, ohh…, sodok tetap penismuuu…!”


“Oh, ah, uuugghhh… ”

“Enaaak…, penis kamu enak, penis kamu sedap, yahhh, teruuusss…”

Pada detik-detik terakhir, tangan kananku capai pantat Sandy, kuremas bongkahan pantatnya, selagi paha kananku mengangkat lurus tinggi-tinggi. Terasa vaginaku berdenyut-denyut kencang sekali. Aku orgasme!

Sesaat aku layaknya melayang, tidak ingat apa-apa jika nikmat yang tidak terkatakan. Mungkin udah sebagian bulan aku tak merasakan kenikmatan layaknya ini. Sandy mengecup-ngecup pipi dan juga daun telingaku. Sejenak dia membebaskan aku menyesuaikan nafas, sebelum saat sesudah itu dia memintaku menungging. Aku baru menyadari bahwa ternyata dia belum capai orgasme.

Kuturuti permintaan Sandy. Dengan agak lunglai akibat orgasme yang luar biasa, kuatur posisi tubuhku hingga menungging. Sandy ikuti gerakanku, batang kemaluannya yang besar dan panjang itu selalu menancap didalam vaginaku.

Lalu perlahan mulai dia mulai mengayun pinggulnya. Ternyata dia luar biasa sabar. Dia memaju mundurkan gerak pinggulnya satu-dua secara teratur, seakan-akan kita baru saja memulai permainan, padahal tentu perjalanan birahinya udah cukup tinggi tadi.

Aku menikmati gerakan maju-mundur penis Sandy bersama dengan diam. Kepalaku tertunduk, kuatur ulang nafasku. Tidak berapa lama, vaginaku mulai mulai sedap kembali. Kuangkat kepalaku, menoleh ke belakang. Sandy langsung menunduk dan dikecupnya pipiku.

“San.. Kamu hebat banget.. Ibu kira tadi kamu udah nyaris keluar,” kataku tetap terang.

“Emangnya Ibu suka jika aku cepet keluar?” jawabnya lembut di telingaku.

Aku tersenyum, kupalingkan mukaku lebih ke belakang. Sandy mengerti, diciumnya bibirku. Lalu dia menggenjot lebih cepat. Dia layaknya menyadari bahwa aku mulai keenakan lagi. Maka kugoyang-goyang pinggulku perlahan, ke kiri dan ke kanan.

Sandy melenguh. Diremasnya ke-2 bongkah pantatku, selanjutnya gerakannya menjadi lebih kuat dan cepat. Batang kemaluannya yang luar biasa keras menghujam-hujam vaginaku. Aku mulai mengerang-erang lagi.

“Oorrgghh…, aahh…, ennaak…, penismu sedap bangeett… Ssann!!”

Sandy tidak bersuara, melainkan mengenjot-genjot tambah kuat. Tubuhku hingga terguncang-guncang. Aku menjerit-jerit. Cepat sekali, birahiku merambat naik tambah tinggi. Kurasakan Sandy pun kali ini langsung bakal ca
Maka kuimbangi gerakannya bersama dengan menggoyangkan pinggulku cepat-cepat. Kuputar-putar pantatku, sesekali kumaju mundurkan berlawanan bersama dengan gerakan Sandy. Pemuda itu mulai mengerang-erang tandanya dia pun langsung bakal orgasme.

Tiba-tiba Sandy menyuruhku berbalik. Dicabutnya penisnya berasal dari kemaluanku. Aku berbalik cepat. Lalu ku kangkangkan ke-2 kakiku bersama dengan 1/2 mengangkat. Sandy langsung menyodokkan ke-2 dengkulnya hingga merapat pada pahaku. Kedua kakiku menekuk mengangkang. Sandy memegang ke-2 kakiku di bawah lutut, selanjutnya batang penisnya yang keras menghujam mulut vaginaku yang menganga.

“Aarrgghhh…!!!” aku menjerit.

“Aku nyaris keluar!” Sandy bergumam. Gerakannya langsung cepat dan kuat. Aku tidak sanggup bergoyang didalam posisi layaknya itu, maka aku pasrah saja, menikmati genjotan-genjotan keras batang kemaluan Sandy. Kedua tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat.

“Terus, Sayang…, teruuusss…!”desahku.

“Ooohhh, sedap sekali…, aku keenakan…, sedap bercinta sama Ibu!” Erang Sandy

“Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu keenakaan…!” Balasku.

“Aku udah nyaris keluar, Buu…, vagina Ibu sedap bangeet… ”

“Ibu terhitung rela nampak lagi, tahan dulu! Teruss…, yaah, aku terhitung rela keluarr!”

“Ah, oh, uughhh, aku enggak tahan, aku enggak tahan, aku rela keluaaar…!”

“Yaahh teruuss, sodok teruss!!! Ibu sedap enak, Ibu enak, Saann…, aku rela keluar, aku rela keluar, vaginaku keenakan,

aku keenakan ‘bercinta’ sama kamu…, yaahh…, teruss…, aarrgghh…, ssshhh…, uughhh…, aarrrghh!!!”

Tubuhku mengejang sementara selagi otot vaginaku mulai berdenyut-denyut kencang. Aku menjerit panjang, tak kuasa mencegah nikmatnya orgasme. Pada selagi bersamaan, Sandy menghimpit kuat-kuat, menghujamkan batang kemaluannya dalam-dalam di liang vaginaku.

“Oohhh…!!!” dia pun menjerit, selagi mulai kemaluannya menyembur-nyemburkan cairan mani di didalam vaginaku. Nikmatnya tak terkatakan, indah sekali capai orgasme didalam selagi persis sejalan layaknya itu.

Lalu tubuh kita sama-sama melunglai, tetapi kemaluan kita tetap tetap bertautan. Sandy memelukku mesra sekali. Sejenak kita sama-sama sibuk menyesuaikan nafas.

“Enak banget,” bisik Sandy sebagian selagi kemudian.

“Hmmm…” Aku menggeliat manja. Terasa batang kemaluan Sandy bergerak-gerak di didalam vaginaku.

“Vagina Ibu sedap banget, sanggup nyedot-nyedot gitu…”

“Apalagi penis kamu…, gede, keras, dalemmm…”

Sandy bergerak menciumi aku lagi. Kali ini diangkatnya tangan kananku, selanjutnya kepalanya menyusup mencium ketiakku. Aku mengikik kegelian. Sandy menjilati keringat yang membasahi ketiakku. Geli, tetapi enak. Apalagi sesudah itu lidahnya tetap menjulur-julur menjilati buah dadaku.

Sandy selanjutnya menetek layaknya bayi. Aku mengikik lagi. Putingku dihisap, dijilat, digigit-gigit kecil. Kujambaki rambut Sandy gara-gara kelakuannya itu mengakibatkan birahiku mulai menyentak-nyentak lagi. Sandy mengangkat wajahnya sedikit, tersenyum tipis, selanjutnya berkata,

“Aku sanggup enggak puas-puas bercinta sama Ibu… Ibu terhitung suka kan?”

Aku tersenyum saja, dan itu udah cukup bagi Sandy sebagai jawaban.

Alhasil, seharian itu kita bersetubuh lagi. Setelah break sejenak di sore hari malamnya Sandy ulang berharap jatah dariku. Sedikitnya malam itu tersedia 3 ronde tambahan yang kita mainkan bersama dengan entah berapa kali aku capai orgasme. Yang jelas, keesokan paginya tubuhku benar-benar lunglai, lemas tak bertenaga.

Hampir tidak tidur sama sekali, tetapi aku selalu pergi ke sekolah. Di sekolah rasanya aku kuyu sekali. Teman-teman banyak yang mengira aku sakit, padahal aku justru tengah happy, setelah bersetubuh sehari semalam bersama dengan bekas muridku yang perkasa.

Sudah seminggu Sandy menjadi suami ku. Dan jujur saja aku benar-benar menikmati kehidupan malamku sepanjang seminggu ini. Sandy benar-benar pemuda yang benar-benar perkasa, sepanjang seminggu ini liang vaginaku selalu disiramnya bersama dengan sperma segar. Dan entah berapa kali aku mencegah jeritan gara-gara kenikmatan luar biasa yang ia berikan.

Walaupun malam udah suka menjilat, menghisap, dan mencium sepasang payudaraku. Sandy selalu meremasnya ulang jika ingin berangkat kuliah selagi pagi hari, katanya sich buat tingkatkan semangat. Aku tak rela melarang gara-gara aku terhitung menikmati seluruh perbuatannya itu, biarpun akibatnya aku mesti merapikan bajuku lagi.

Malam itu kira-kira jam 1/2 10-an. Setelah menidurkan anakku yang paling bungsu, aku pergi kekamar mandi untuk berganti baju. Sandy berharap aku mengenakan baju yang biasa aku pergunakan ke sekolah.

Setelah selesai berganti baju aku sesudah itu nampak dan duduk di depan meja rias. Lalu berdandan layaknya yang biasa aku jalankan jika ingin berangkat mengajar kesekolah. Tak lama kudengar nada ketukan, hatiku langsung bersorak gembira tak sabar menanti permainan apa ulang yang bakal dijalankan Sandy padaku.

“Masuk.. Nggak dikunci,” panggilku bersama dengan nada halus.

Lalu Sandy masuk bersama dengan menggunakan T-shirt ketat dan celana putih sependek paha.

“Malam ibu… Sudah siap..?” Godanya sambil medekatiku.

“Sudah sayang…” Jawabku sambil berdiri.

Tapi Sandy mencegah pundakku selanjutnya memintaku untuk duduk ulang sambil menghadap kecermin meja rias. Lalu ia berbisik ketelingaku bersama dengan nada yang halus.

“Bu.. Ibu rela menyadari nggak berasal dari mana biasanya aku mengintip ibu?”

“Memangnya melalui mana..?” Tanyaku sambil membalikkan 1/2 badan.

Dengan lembut ia menyentuh daguku dan mengarahkan wajahku kemeja rias. Lalu sambil mengecup leherku Sandy berucap.

“Dari sini bu..” Bisiknya.

Dari cermin aku menyaksikan disela-sela kerah baju yang kukenakan agak terbuka agar samar-samar nampak tali BH-ku yang berwarna hitam. Pantas jika tengah mengajar di depan kelas atau mengobrol bersama dengan guru-guru pria disekolah, kadang kala aku mulai pandangan mereka tengah menelanjangi aku. Rupanya panorama ini yang mereka saksikan selagi itu.

Tapi toh mereka hanya sanggup melihat, memikirkan dan ingin menyentuhnya pikirku. Lalu tangan kanan Sandy masuk kecelah itu dan mengelus pundakku. Sementara tangan kirinya pelan-pelan mengakses kancing bajuku satu persatu. Setelah terbuka seluruh Sandy selanjutnya mengakses bajuku tanpa melepasnya. Lalu ia capai ke-2 payudaraku yang tetap tertutup BH.

“Inilah yang mengakibatkan aku selalu mengingat ibu hingga sekarang,” Bisiknya ditelingaku sambil meremas ke-2 susuku yang tetap kencang ini. Lalu tangan Sandy capai daguku dan langsung menempelkan bibir hangatnya padaku bersama dengan penuh kasih dan emosinya.

Aku tidak tinggal diam dan langsung menyongsong sapuan lidah Sandy dan menyedot bersama dengan keras air liur Sandy, kulilitkan lidahku menyongsong lidah Sandy bersama dengan penuh getaran birahi. Kemudian tangannya yang keras mengangkat tubuhku dan membaringkannya ditengah ranjang.

Ia selanjutnya menyaksikan tubuh depanku yang terbuka, berasal dari cermin aku sanggup menyaksikan BH hitam yang transparan bersama dengan “push up bra style”. Sehingga memberi tambahan kesan payudaraku nyaris tumpah meluap nampak lebih sepertiganya.

Untuk lebih mengakibatkan Sandy lebih panas, aku selanjutnya mengelus-elus payudaraku yang sebelah kiri yang tetap dibalut bra, selagi tangan kiriku membelai vagina yang menyembul mendesak CD-ku, gara-gara selagi itu aku mengenakan celana “mini high cut style”.

Sandy kelihatan takjub menyaksikan tingkahku, selanjutnya ia menghampiriku dan menyambar bibirku yang lembut dan hangat dan langsung melumatnya. Sementara tangan kanan Sandy mendarat disembulan payudara sebelah kananku yang segar, dielusnya lembut, diselusupkan tangannya didalam bra yang hanya 2/3 menutupi payudaraku dan dikeluarkannya buah dadaku.

Ditekan dan dicarinya puting susuku, selanjutnya Sandy memilinnya secara halus dan menariknya perlahan. Perlakuannya itu membuatku membebaskan ciuman Sandy dan mendesah, mendesis, menghempaskan kepalaku kekiri dan kekanan. DAFTAR ID PRO PKV


Selepas tautan bersama dengan bibir hangatku, Sandy selanjutnya menyapu dagu dan leherku, agar aku meracau menerima dera kenikmatan itu. 

“Saan… Saann… Kenapa kamu yang memberi tambahan kenikmatan ini..”

Sandy selanjutnya menghentikan kesibukan mulutnya. Tangannya langsung mengakses kaitan bra yang tersedia di depan, bersama dengan sekali pijitan jari telunjuk dan ibu jari sebelah kanan Sandy, Segera dua buah gunung kembarku yang tetap kencang dan terawat menyembul nampak menikmati kebebasan alam yang indah.

Lalu Sandy menempelkan bibir hangatnya pada buah dadaku sebelah kanan, disapu dan dijilatnya sembulan daging fresh itu. Secepat itu pula merambatlah lidahnya pada puting coklat muda keras yang fresh menantang ke atas. Sandy mengulum putingku bersama dengan buas, sesekali digigit halus dan ditariknya bersama dengan gigi.

Aku hanya sanggup mengerang dan mengeluh, sambil mengangkat badanku seraya membebaskan baju dan rok kerjaku beserta bra warna hitam yang udah diakses Sandy dan kulemparkan kekursi rias. Dengan penuh nafsu Sandy menyedot buah dadaku yang sebelah kiri, tangan kanannya meraba dan menjalar kebawah hingga dia menyentuh CD-ku dan berhenti digundukan nikmat yang penuh menantang fresh ke atas.

Lalu Sandy merabanya ke arah vertikal, berasal dari atas kebawah. Melihat CD-ku yang udah basah lembab, ia langsung menurunkannya, mendorong bersama dengan kaki kiri dan langsung membuangnya hingga jatuh ke karpet.

Tangan kanan itu langsung mengelus dan memberi tambahan sentuhan rangsangan pada vaginaku, dimana bagian atasnya ditumbuhi bulu halus terawat, dibagian belahan vagina bagian bawahnya bersih dan mulus tak ada berambut. Rangsangan Sandy tambah tajam dan hebat agar aku meracau.

“Saaan.. Sentuh ibu sayang, .. Saann buat.. Ibu terbaang.. Pleaase.”

Sandy langsung mengakses gundukan tebal vagina milikku selanjutnya mulutnya langsung menjulur kebawah dan lidahnya menjulur masuk untuk menyentuh lebih didalam ulang mencari kloritasku yang tambah membesar dan mengeras. Dia menghimpit bersama dengan penuh nafsu dan lidahnya bergerak liar ke atas dan kebawah.

Aku menggelinjang dan teriak tak tahan mencegah orgasme yang bakal tambah mendesak mencuat bagaikan gunung merapi yang ingin memuntahkan lahar nya. Dengan terengah-engah kudorong pantatku naik, seraya tanganku memegang kepala Sandy dan menekannya kebawah sambil mengerang.

“Ssaann.. Aarghh..”

Aku tak kuasa menahannya ulang hingga menjerit selagi menerima ledakan orgasme yang pertama, lahar pun meluap menyemprot ke atas hidung Sandy yang mancung.

“Saan.. Ibu keluaa.. aar.. Sann..” vaginaku berdenyut kencang dan mengejanglah tubuhku sambil selalu meracau.

“Saan.. Kamu jago sekali memainkan lidahmu didalam vaginaku sayang.. Cium ibu sayang.”

Sandy langsung bangkit mendekap erat diatas dadaku yang didalam kondisi oleng menyongsong getaran orgasme. Ia selanjutnya mencium mulutku bersama dengan kuatnya dan aku menyambutnya bersama dengan tautan garang, kuserap lidah Sandy didalam rongga mulutku yang indah.

Tubuhku tergolek tak berdaya sesaat, Sandy pun mencumbuku bersama dengan mesra sambil tangannya mengelus-elus seluruh tubuhku yang halus, seraya memberi tambahan kecupan hangat didahi, pipi dan mataku yang terpejam bersama dengan penuh cinta. Dibiarkannya aku menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang hebat.

Setelah mulai aku cukup beristirahat Sandy mulai menyentuh dan membelaiku lagi. Aku langsung bangkit dan mendorong badan Sandy yang berada diatasku. Kudekatkan kepalaku kewajahnya selanjutnya kucium dan kujilati pipinya, sesudah itu menjalar kekupingnya.

Kumasukkan lidahku ke didalam lubang telinga Sandy, agar ia meronta mencegah gairahnya. Jilatanku tambah turun kebawah hingga keputing susu kiri Sandy yang berambut, Kubelai dada Sandy yang bidang berotot tengah tangan kananku memainkan puting yang satunya lagi. Mengelinjang Sandy mendapat sentuhan yang menyengat dititik rawannya yang merambat gairahnya itu, Sandy pun mengerang dan mendesah.

Kegiatanku tambah memanas bersama dengan turunkan sapuan lidah sambil tanganku merambat keperut. Lalu kumainkan lubang pusar Sandy ditekan kebawah dan kesamping tetap kulepaskan dan kubelai perut bawah Sandy hingga akhirnya kekemaluan Sandy membesar dan mengeras. Kuelus lembut bersama dengan jemari lentikku batang kemaluan Sandy yang menantang ke atas, berwarna kemerahan kontras bersama dengan kulit Sandy yang putih.

Melihat kondisi yang udah menggairahkan tersebut aku menjadi tak sabar dan langsung kutempelkan bibir hangatku kekepala rudalnya Sandy bersama dengan penuh gelora nafsu, kusapu kepala rudalnya bersama dengan cermat, kuhisap lubang air seninya agar mengakibatkan Sandy memutar kepalanya kekiri dan kekanan, mendongkak-dongkakkan kepalanya mencegah kenikmatan yang benar-benar tak ada tara, adapun tangannya menjambak kepalaku.

“Buuu.. Dera nikmat darimu tak tertahankan.. Kuingin memilikimu seutuhnya,” Sandy mengerang.

Aku tidak menjawabnya, hanya lirikan mataku sambil mengedipkannya satu mata ke arah Sandy yang tengah kelenjotan. Sukmanya tengah terbang melayang kealam raya oleh hembusan cinta birahi yang tinggi. Adapun tanganku memijit dan mengocoknya bersama dengan ritme yang pelan dan tambah cepat, selagi lidahku menjilati seluruh permukaan kepala rudalnya tersebut. Termasuk dibagian urat yang sensitif bagian atas sambil kupijat-pijat bersama dengan penuh nafsu birahi.

Sadar bakal kondisi Sandy yang tambah mendaki puncak kenikmatan dan akupun sendiri udah terangsang. Denyutan vaginaku udah mempengaruhi deburan darah tubuhku, kulepaskan kumulan rudalnya Sandy dan langsung kuposisikan tubuhku diatas tubuh Sandy menghadap kekakinya.

Kumasukkan rudalnya Sandy yang keras dan menegang ke didalam relung nikmatku. Segera kuputar dan kupompa naik turun sambil menghimpit dan memijat bersama dengan otot vagina sekuat tenaga. Ritme gerakan pun kutambah hingga kecepatan maksimal.

Sandy berteriak, selagi aku pun terfokus menikmati dera kenikmatan gesekan kontol sandy yang menggesek G-spotku berulang kali agar mengakibatkan dera kenikmatan yang tidak sanggup terlukis bersama dengan kata-kata. Tangan Sandy pun tak tinggal diam, diremasnya pantatku yang bulat montok indah, dan dielus-elusnya anusku, sambil menikmati dera goyanganku pada rudalnya. Dan akhirnya kita berdua berteriak.

“Buu Liinnaa.. Aku tak kuat lagi.. Berikan kenikmatan lebih ulang bu.. Denyutan diujung rudalku udah tak tertahankan”

“Ibu pandai… Ibu liaarr… Ibu membuatku melayang.. Aku rela keluarr” .

Lalu Sandy memintaku untuk memutar badan menghadap pada dirinya dan dibalikkannya tubuhku. Sekarang aku berada di bawah tubuhnya bersandarkan bantal tinggi, selanjutnya Sandy tingkatkan ke-2 kakiku kebahunya sesudah itu ia bersimpuh di depan memekku.

Sambil mengayun dan memompa rudalnya bersama dengan cepat dan kuat. Aku sanggup menyaksikan bagaimana muka Sandy yang tak tahan ulang bakal denyutan diujung rudal yang tambah mendesak seakan rela meledak.

“Buu… Pleaass.. See.. Aku akaan meleedaaakkh!”

“Tungguu Saan.. Orgasmeku terhitung mauu.. Datang ssayaang.. Kita sama-sama yaa..”

Akhirnya… Cret.. Cret.. Cret… tak tertahankan ulang bendungan Sandy jebol memuntahkan spermanya di vaginaku. Secara sejalan akupun mendengus dan meneriakkan erangan kenikmatan.

Segera kusambar bibir Sandy, kukulum bersama dengan hangat dan kusodorkan lidahku ke didalam rongga mulut Sandy. Kudekap badan Sandy yang mengejang, basah badan Sandy bersama dengan peluh menyatu bersama dengan peluhku.