Nafsu Birahi Bossku // Part 1

RAKSASAPOKER Aku baru kerja 4 bulan di perusahaan asing di Jakarta bos saya namanya M Richard yang berasal dari USA umurnya 45 th. 

RAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
bersama selagi yang cepat kita seluruh karyawan sudah kenal dekat bersama Mr. Rich kebanyakan dipanggil seperti itu.

Hobi kita mirip yaitu bermain golf perusahaan kita bergerak di bidang advertising katanya kawan sekantor istri dari sibos cantik tubuhnya seksi kayak bintang Hollywood,


karena saya belum dulu menyaksikan istri si Bos, hanya meilhat fotonya yang terpampang di ruangannya.

 Meja kantor saya sebenarnya saya desain bersama nyaman dan saya selipakn foto saya dan istriku Nindy yang berasal dari Bandung dan berumur 26 tahun, di meja kerja saya. Pada selagi Richard menyaksikan foto itu, secara spontan dia memuji kecantikan Nindy dan sejak selagi itu pula saya mengamati jikalau Richard sering melirik ke foto itu, jika kebetulan dia datang ke area kerja saya.

Suatu hari Richard menimbulkan saya untuk makan malam di rumahnya, katanya untuk membicarakan suatu proyek, sekaligus untuk lebih mengenal istri masing-masing.
“Dik, nanti malam datang ke tempat tinggal ya, ajak istrimu Nindy juga, sekalian makan malam”.

“Lho, tersedia acara apa boss?”, kataku sok akrab.

“Ada proyek yg wajib diomongin, sekalian biar istri saling kenal gitu”.

 "Okelah!”, kataku.

 Sesampainya di rumah, undangan itu saya sampaikan ke Nindy. Pada mulanya Nindy agak segan termasuk untuk pergi, karena menurutnya nanti agak ada problem untuk berkomunikasi di dalam bhs Inggris bersama mereka. Akan namun sehabis kuyakinkan bahwa Richard dan Istrinya terlalu lancar berbahasa Indonesia, akhirnya Nindy berkenan termasuk pergi.

“Ada apa sih Mas, kok mereka ngadain dinner segala?”.

“Tau, katanya sih, tersedia proyek apa.., yang berkenan didiskusikan”.

“Ooo.., gitu ya”, sambil tersenyum. Melihat dia tersenyum saya segera mencubit pipinya bersama gemas. Kalau menyaksikan Nindy, tetap gairahku timbul, soalnya dia itu seksi sekali. Rambutnya terurai panjang, dia tetap senam so.., punyai tubuh ideal, dan ukurannya itu 34B yang padat kencang.

 Pukul 19.30 kita sudah berada di apartemen Richard yang terletak di tempat Jl. Gatot Subroto. Aku
mengenakan kemeja batik, selagi Nindy Mengenakan stelan rok dan kemeja sutera. Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa hiasan apapun.

Sesampai di Apertemen no.1009, saya segera menekan bel yang berada di depan pintu. Begitu pintu terbuka, terlihat seorang wanita bule berumur kira-kiar 32 tahun, yang terlalu cantik, bersama tinggi sedang dan berbadan langsing, yang bersama suara medok memberi salam kami.

 “Oh Diko dan Nindy yah?, silakan.., masuk.., silahkan duduk ya!, saya Lillian istrinya Richard”. Ternyata Lillian badannya terlalu bagus, tinggi langsing, rambut panjang, dan lebih manis dibandingkan bersama fotonya di area kerja Richard. Dengan agak tergagap, saya menyapanya.

“Hallo Mam.., kenalin, ini Nindy istriku”.DAFTAR ID PRO PKV


Setelah Nindy berkenalan bersama Lillian, ia diajak untuk masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam, selagi Richard mengajakku ke beranda balkon apartemennya.

 “Gini lho Dik.., bulan depan bakal tersedia proyek untuk mengerjakan iklan.., ini.., ini.., dsb. Berani nggak kamu ngerjakan iklan itu”.

 “Kenapa nggak, rasanya perlengkapan kita memadai lengkap, tim kerja di kantor seluruh tenaga terlatih, ngeliat waktunya termasuk cukup. Berani!”.

 Aku excited sekali, baru kali itu diserahi tugas untuk mengkordinir pembuatan iklan skala besar. Senyum Richard segera mengembang, sesudah itu ia berdiri merapat ke sebelahku.

 Eh Dik.., gimana Lillian menurut penilaian kamu?”, sambil bisik-bisik.

 “Ya.., terlalu cantik, seperti bintang film”, kataku bersama polos.

 “Seksi nggak?”.

 “Lha.., ya.., mengetahui dong”.

 “Umpama.., ini contoh saja loo.., kalo nanti saya pinjem istrimu dan saya pinjemin Lillian untuk kamu gimana?”. Mendenger keinginan seperti itu terus terang saya terlalu kaget dan bingung, perasanku terlalu shock dan tergoncang. Rasanya kok aneh sekali gitu.

Sambil tetap tersenyum-senyum, Richard melanjutkan, “Nggak tersedia paksaan kok, saya jamin Nindy dan Lillian tentu suka, soalnya nanti.., sudah deh pokoknya jikalau kau setuju.., selanjutnya serahkan terhadap saya.., aman kok!”.

Membayangkan tampang dan badan Lillian saya jadi terangsang juga. Pikirku kapan kembali saya bisa
menunggangi kuda putih? Paling-paling selama ini hanya mampu memikirkan saja terhadap selagi saksikan blue film.

 Tapi dilain pihak jikalau memikirkan Nindy dikerjain si bule ini, yang tentu punyai senjata yang besar, rasanya kok tidak tega juga. Tapi sebelum saya mampu menentukan sikap, Richard sudah melanjutkan bersama pertanyaan lagi, “Ngomong-ngomong Nindy sukanya kalo making love style-nya gimana sih?”.

Tanpa saya sempat berpikir lagi, mulutku sudah ngomong duluan, “Dia tidak suka jenis yang aneh-aneh, maklum saja gadis pingitan dan pemalu, namun jikalau vaginanya dijilatin, maka dia bakal sangat
terangsang!”.

“Wow.., saya justru pengin sekali mencium dan menjilati anggota vagina, tersedia bau khas wanita terpancar dari situ.., itu menyebabkan saya terlalu terangsang!”, kata Richard.

“Kalau Lillian terlalu suka main di atas, doggy jenis dan yang mengetahui suka blow-job” lanjutnya. Mendengar itu saya jadi bernafsu juga, belum-belum sudah menjadi ngilu di anggota bawahku memikirkan senjataku diisap mulut mungil Lillian itu.

BANDAR DOMINO QQ

Kemudian lanjut Richard meyakinkanku, “Oke deh.., enjoy aja nanti, biar saya yang atur. Ngomong-ngomong my wife sudah tau konsep ini kok, dia itu orangnya tetap terbuka di dalam soal seks.., jadi sepakat aja”.

“Nanti minuman Nindy saya kasih bubuk penghangat sedikit, biar dia agak lebih berani.., Oke.., yaa!”,
saya agak terkejut juga, apakah Richard bakal memberikan obat perangsang dan memperkosa Rina? Wah jikalau begitu tidak berkenan aku.

Aku sepakat asal Rina mendapat kepuasan juga. Melihat mimik mukaku yang ragu-ragu itu, Richard cepat- cepat menambahkan,

“Bukan obat bius atau ineks kok. Cuma pembangkit gairah aja”, sesudah itu dia mengatakan selanjutnya, “Oke, nanti kamu duduk di sebelah Lillian ya, Nindy di sampingku”. Selanjutnya acara makan malam berjalan lancar. Juga konsep Richard. Setelah makan malam selesai kelihatannya bubuk itu menjadi bereaksi. Rina terlihat agak gelisah, terhadap dahinya timbul keringat halus, duduknya terlihat tidak tenang, soalnya jikalau nafsunya kembali besar, dia agak gelisah dan keringatnya lebih banyak keluar.

Melihat gejala itu, Richard mengedipkan matanya terhadap saya dan berbicara terhadap Nindy, “Nin.., mari duduk di depan TV saja, lebih dingin di sana!”, dan tampa menunggu jawaban Nindy, Richard segera berdiri, menarik kursi Nindy dan menggandengnya ke depan TV 29 inchi yang terletak di area tengah. Aku inginkan mengikuti mereka namun Lillian segera memegang tanganku.

“Dik, diliat aja dulu dari sini, ntar kita termasuk bakal join bersama mereka kok”. Memang dari ruang
makan kita mampu bersama mengetahui menyaksikan tangan Richard menjadi bergerilya di pundak dan punggung Nindy, memijit-mijit dan mengusap-usap halus.

Sementara Nindy terlihat makin lama gelisah saja, badannya terlihat sedikit menggeliat dan dari mulutnya terdengar desahan tiap-tiap kali tangan Richard yang berdiri di belakangnya menyentuh dan memijit pundaknya.

Lillian sesudah itu menarikku ke kursi panjang yang terletak di area makan. Dari kursi panjang tersebut, mampu terlihat segera seluruh kegiatan yang berjalan di area tengah, kita sesudah itu duduk di kursi panjang tersebut.

Terlihat tindakan Richard makin lama berani, dari belakang tangannya bersama terampil menjadi melepaskan
kancing kemeja batik Nindy sampai kancing terakhir. BH Nindy segera menyembul, menyembunyikan dua bukit mungil kebanggaanku dibalik balutannya.

Kelihatan mata Nindy terpejam, badannya terlihat lunglai lemas, saya menduga-duga, “Apakah Nindy sudah diberi obat tidur, atau obat perangsang oleh Richard?, atau apakah Nindy pingsan atau sedang terbuai nikmati permainan tangan Richard?”.

Nindy tampaknya pasrah seakan-akan tidak mengetahui suasana sekitarnya. Timbul termasuk perasaan cemburu bersama bersama gairah menerpaku, menyaksikan Nindy seakan-akan menyongsong tiap-tiap belaian dan usapan Richard dikulitnya dan ciuman nafsu Richardpun disambutnya bersama gairah.

Melihat apa yang sedang diperbuat oleh si bule terhadap istriku, maka karena menjadi kepalang tanggung, saya termasuk tidak berkenan rugi, segera kualihkan perhatianku terhadap istri Richard yang sedang duduk di sampingku.

Niat untuk merasakan kuda putih segera bakal terwujud dan tanganku pun segera menyelusup ke di dalam rok Lillian, menjadi bukit kemaluannya sudah basah, kemungkinan termasuk sudah terlihat gairahnya menyaksikan suaminya sedang mengerjai wanita mungil.

Dengan perlahan jemariku menjadi terhubung pintu masuk ke lorong kewanitaannya, bersama lembut jari
tengahku menekan clitorisnya. Desahan lembut terlihat dari mulut Lillian yang mungil itu, “aahh..,
aaghh.., aagghh”, tubuhnya mengejang, selagi tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.

Sementara itu di area sebelah, Richard sudah menambah aksinya terhadap Nindy, terlihat Nindy
telah dibikin polos oleh Richard dan terbaring lunglai di sofa. Badan Nindy yang ramping mulus bersama buah dadanya tidak terlalu besar, namun padat berisi, perutnya yang rata dan kedua bongkahan pantatnya yang terlihat mulus menggairahkan dan juga gundukan kecil yang membukit yang ditutupi oleh rambut-rambut halus yang terletak diantara kedua paha atasnya terbuka bersama mengetahui seakan-akan siap terima serangan-serangan selanjutnya dari Richard.

Kemudian Richard menarik Nindy berdiri, bersama Richard tetap di belakangnya, kedua tangan Richard menjelajahi seluruh lekuk dan ngarai istriku itu. Aku sempat menyaksikan ekspresi muka Nindy, yang bersama matanya yang 1/2 terpejam dan dahinya agak berkerut seakan-akan sedang menghambat suatu kenyerian yang melanda seluruh tubuhnya bersama mulutnya yang mungil 1/2 terbuka.

Menunjukan Nindy nikmati benar permainan dari Richard terhadap badannya itu, bahkan saat jemari Richard berada di semak-semak kewanitaannya, selagi tangan lain Richard meremas-remas puting susunya, terlihat seluruh badan Nindy yang bersandar lemas terhadap badan Richard, bergetar bersama hebat. Saat itu termasuk tangan Lillian sudah terhubung zipper celana panjangku, dan bagaikan orang kelaparan terus berusaha membiarkan celanaku tersebut. Untuk memudahkan aksinya saya berdiri di hadapannya, bersama membiarkan bajuku sendiri.

Setelah Lillian selesai bersama celanaku, gilirannya dia kutelanjangi. Wow.., kulit badannya mulus seputih susu, payudaranya padat dan kencang, bersama putingnya yang berwarna coklat muda telah
mengeras, yang terlihat sudah mencuat ke depan bersama kencang.

Aku menyadari, jikalau diadu besarnya senjataku bersama Richard, tentu saya kalah jauh dan jikalau aku
langsung main tusuk saja, tentu Lillian tidak bakal menjadi puas, jadi cara permainanku wajib memakai
teknik yang lain dari lain.

Maka sebagai permulaan kutelusuri dadanya, turun ke perutnya yang rata sampai tiba di lembah diantara kedua pahanya mulus dan menjadi menjilat-jilat bibir kemaluannya bersama lidahku. Kududukkan Lillian kembali di sofa, bersama kedua kakinya berada di pundakku. Sasaranku adalah vaginanya yang sudah basah. Lidahku segera menari-nari di permukaan dan di di dalam lubang vaginanya. Menjilati clitorisnya dan mempermainkannya sesekali. Kontan saja Lillian berteriak-teriak keenakan bersama suara keras, ” Ooohh.., oohh.., sshh.., sshh”. Sementara tangannya menekan mukaku ke vaginanya dan tubuhnya menggeliat-geliat. Tanganku terus melaksanakan gerakan meremas-remas di lebih kurang payudaranya. Pada selagi sejalan suara Nindy terdengar di telingaku selagi ia mendesah-desah,

“Oooh.., aagghh!”, diikuti bersama suara seperti orang berdecak-decak. Tak mengetahui apa yang diperbuat
Richard terhadap istriku, agar dia mampu berdesah seperti itu. Nindy sekarang sudah telentang di atas sofa, bersama kedua kakinya terjulur ke lantai dan Richard sedang berjongkok diantara kedua paha Nindy yang sudah terpentang bersama lebar.

Kepalanya terbenam diantara kedua paha Nindy yang mulus. Bisa kubayangkan mulut dan lidah Richard sedang mengaduk-aduk kemaluan Nindy yang mungil itu. Terlihat badan Nindy menggeliat-geliat dan kedua tangannya mencengkeram rambut Richard bersama kuat. ‘’

Aku sendiri makin lama sibuk menjilati vagina Lillian yang badannya terus menggerinjal-gerinjal keenakan dan dari mulutnya terdengar erangan, “Ahh.., yaa.., yaa.., jilatin.., Ummhh”. Desahan-desahan nafsu yang makin lama menegangkan otot-otot penisku.

 “Aahh.., Dik.., akuu.., aakkuu.., oohh.., hh!”, bersama sekali hentakan keras pinggul Lillian menekan
ke mukaku, kedua pahanya menjepit kepalaku bersama kuat dan tubuhnya menegang terguncang-guncang bersama hebat dan diikuti bersama cairan hangat yang merembes di dinding vaginanya pun makin lama deras, selagi ia capai organsme.

Tubuhnya yang sudah basah oleh keringat tergolek lemas penuh kepuasan di sofa. Tangannya mengusap-usap lembut dadaku yang termasuk penuh keringat, bersama tatapan yang sayu mengundangku untuk bertindak lebih jauh.

Ketika saya menengok ke arah Richard dan istriku, rupanya mereka sudah berubah posisi. Nindy kini telentang di sofa bersama kedua kakinya terlihat menjulur di lantai dan pantatnya terletak terhadap pinggir sofa, punggung Nindy bersandar terhadap sandaran sofa.

Sehingga dia mampu menyaksikan bersama mengetahui anggota bawah tubuhnya yang sedang jadi sasaran tembak
Richard. Richard mengambil posisi berjongkok di lantai diantara kedua paha Nindy yang sudah terpentang lebar.

 Aku menjadi terlalu terkejut termasuk menyaksikan senjata Richard yang terletak diantara kedua pahanya yang berbulu pirang itu, penisnya terlihat terlalu besar tidak cukup lebih panjangnya 20 cm bersama lingkaran yang tidak cukup lebih 6 cm dan terhadap anggota kepala penisnya membulat besar bagaikan topi baja tentara saja. Terlihat Richard memegang penis raksasanya itu, dan juga di usap-usapkannya di belahan bibir kemaluan Nindy yang sudah sedikit terbuka, terlihat Nindy bersama mata yang terbelalak menyaksikan ke arah senjata Richard yang dahsyat itu, sedang melekat terhadap bibir vaginanya.

Kedua tangan Nindy terlihat coba menghambat badan Richard dan badan Nindy terlihat agak melengkung, pantatnya dicoba ditarik ke atas untuk mengurangi tekanan penis raksasa Richard terhadap bibir vaginanya.

BANDAR CEME

Akan namun bersama tangan kanannya tetap menghambat pantat Nindy dan tangan kirinya tetap menuntun penisnya agar tetap berada terhadap bibir kemaluan Nindy, sambil mencium telinga kiri Nindy, terdengar Richard berbicara perlahan, “Niinn.., maaf yaa.., saya berkenan masukkan sekarang.., boleh?”, terlihat kepala Nini hanya menggeleng-geleng kekiri kekanan saja, entah apa yang berkenan dikatakannya, bersama pandangannya yang sayu menatap ke arah kemaluannya yang sedang didesak oleh penis raksasa Richard itu dan mulutnya terkatup rapat seakan-akan menghambat kengiluan.

Richard, tanpa menunggu lebih lama lagi, segera menekan penisnya ke di dalam lubang vagina Nindy yang sudah basah itu, kendati kedua tangan Nindy tetap coba menghambat tekanan badan Richard.

Mungkin, entah karena tusukan penis Richard yang terlalu cepat atau karena ukuran penisnya yang over size, segera saja Nindy berteriak kecil, “Aduuh.., pelan-pelan.., sakit nih”, terdengar keluhan dari mulutnya bersama muka yang agak meringis, kemungkinan menghambat rasa kesakitan. Kedua kaki Nindy yang mengangkang itu terlihat menggelinjang.

Kepala penis Richard yang besar itu sudah terbenam beberapa di di dalam kemaluan Nindy, kedua bibir kemaluannya menjepit bersama erat kepala penis Richard, agar belahan kemaluan Nindy terlihat
terkuak membungkus bersama ketat kepala penis Richard itu.

Kedua bibir kemaluan Nindy tertekan masuk begitu termasuk clitoris Nindy turut tertarik ke di dalam akibat
besarnya kemaluan Richard. Richard menghentikan tekanan penisnya, sambil mulutnya mengguman, “Maaf.., Nin.., saya sudah menyakitimu.., maaf yaa.., Niin!”.

“aagghh.., jangan teerrlalu diipaksakan.., yaahh.., saayaa meerasa.., aakan.., terbelah.., niih..,sakiitt.., jangan.., diiterusiinn”.

Nindy coba menjawab bersama badannya terus menggeliat-geliat, sambil merangkulkan kedua tangannya di pungung Richard.

“Niinn.., saya berkenan masukkan lagi.., yaa.., dan tolong katakan yaa.., jikalau Nindy tetap menjadi sakit”,
sahut Richard dan tanpa menunggu jawaban Nindy, segera saja Richard melanjutkan penyelaman penisnya kedalam lubang vagina Nindy yang tertunda itu, namun sekarang dilakukannya bersama lebih pelan pelan.

Ketika kepala penisnya sudah terbenam seutuhnya di di dalam lubang kemaluan Nindy, terlihat muka Nindy meringis, namun sekarang tidak terdengar keluhan dari mulutnya kembali hanya kedua bibirnya terkatup erat bersama bibir bawahnya terlihat menggetar.

Terdengar Richard menanyakan lagi, “Niinn.., sakit.., yaa?”, Nindy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil kedua tangannya meremas bahu Richard dan Richard segera kembali menekan penisnya lebih dalam, masuk ke di dalam lubang kemaluan Nindy.

Secara pelahan-lahan namun pasti, penis raksasa itu menguak dan menerobos masuk ke di dalam sarangnya. Ketika penis Richard sudah terbenam hampir 1/2 di di dalam lubang vagina Nindy, terlihat Nindy sudah pasrah saja dan sekarang kedua tangannya tidak kembali menolak badan Richard.

Akan namun sekarang kedua tangannya mencengkeram bersama kuat terhadap pinggir sofa. Richard menekan lebih di dalam lagi, kembali terlihat muka Nindy meringis menghambat sakit dan nikmat, kedua pahanya terlihat menggeletar,

Tetapi karena Nindy tidak mengeluh maka Richard meneruskan saja tusukan penisnya dan tiba-tiba saja, “Blees”, Richard menekan seluruh berat badannya dan pantatnya menghentak bersama kuat ke depan memepetin pinggul Nindy rapat-rapat terhadap sofa.

Pada selagi yang sejalan terdengar keluhan panjang dari mulut Nindy, “Aduuh”, sambil kedua tangannya mencengkeram pinggir sofa bersama kuat dan badannya melengkung ke depan dan juga kedua kakinya terangkat ke atas menghambat tekanan penis Richard di di dalam kemaluannya.

Richard mendiamkan penisnya terbenam di di dalam lubang vagina Nindy sejenak, agar tidak menambah sakit Nindy sambil menanyakan lagi,

“Niinn.., sakit.., yaa? Tahan dikit yaa, sebentar kembali bakal menjadi nikmat!”, Nindy bersama mata terpejam hanya menggelengkan kepalanya sedikit seraya mendesah panjang, “aagghh.., kit!”, selanjutnya Richard mencium muka Nindy dan melumat bibirnya bersama ganas. Terlihat pantat Richard bergerak bersama cepat naik turun, sambil badannya mendekap tubuh mungil Nindy di dalam pelukannya.