Memuaskan Seorang Dokter di Dalam Hotel // Part 2

RAKSASAPOKER Dia memegang batang penisku bersama dengan tangan kirinya dan mengelus-elusnya perlahan. 

RAKSASAQ SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Aliran darah menuju penisku makin lama jadi tambah tegangnya, agar nampak urat-urat di lebih kurang batangnya.

Lalu tanganku ditariknya untuk memegang penisku waktu dia memasangi kondom itu bersama dengan kedua tangannya.


Maklum penisku diameternya hampir mirip bersama dengan botol minuman kemasan. Akhirnya bisnis untuk memasukkan kondom itu sukses selanjutnya dia bergerak maju dan agak berdiri 1/2 jongkok. Kemudian aku mengarahkan kepala penisku yang terselaputi itu ke arah lubang vaginanya.

Dia tidak mengakses celana dalamnya, dia cuma menyampingkan sedikit anggota bawah celananya, tetapi dia menarik “panty shield” nya dan membuangnya ke lantai. Dia turun sedikit agar kepala penisku terbenam pada anggota kemaluannya. Agaknya dia berteriak tertahan dan berdesis, “Sshh… ahkk”, sepertinya sebenarnya agak rapat otot-otot kewanitaannya.

Dia bangun selanjutnya menyuruhku untuk melaksanakan petting kembali. Tangannya menarik tanganku untuk meremas-remas payudaranya yang sebenarnya agak kecil dan sekiranya ia tiduran tambah tidak nampak tetapi selamanya saja membuatku jadi tambah nafsu lihat ekspresi wajahnya. Sementara kudekatkan wajahku untuk mencium bibir dan lehernya.

Tangan kiriku bergerak turun ke balik celana dalamnya yang berwarna putih. Kuikuti kronologis garis bibir kemaluannya turun lantas ke atas agak menyelip masuk sedikit ke dalam, lantas naik ke atas agak di atas liang kenikmatannya.

Kucari benjolan kecil yang lantas bisa kusentuh-sentuh dan kugerak-gerakkan, sejalan itu dia bergerak-gerak tanpa sengaja dia menggigit bibirku, aku menarik wajahku bersama dengan reflek. Tanganku yang tadinya kugunakan untuk meraba payudaranya, kugunakan untuk menarik bibirku agar nampak bersama dengan mataku, “Sorry nggak sengaja”, katanya.

Langsung saja kutarik celana dalamnya turun hingga ke betis, selanjutnya kulihat bagaimana kemaluannya tetap ditumbuhi bulu yang tidak amat lebat, halus tetapi merata. Lalu warna merah jambu bibir kemaluannya bersama dengan anggota pantat yang tidak gemuk ia nampak layaknya anak-anak. Langsung saja kutindih tubuhnya tetapi kujaga agar ia tidak langsung kaget menerima beban tubuhku. DAFTAR ID PRO PKV


Kepala penisku kuarahkan ke arah anggota kemaluannya, tetapi aku ulang menciumi bibirnya bersama dengan bibirku yang agak berdarah. Agak asin kurasakan kini, waktu itu penisku tidak masuk melainkan kegesek di luar saja lantas kuangkat pantatku dan kulebarkan pahanya.

Sementara tangan kananku meraih bantal dan kuletakkan dibawah pinggang Desy, (oh ya namanya Desy) agar agak terangkat. Kemudian kuarahkan masuk kepala penisku sedikit demi sedikit kurasakan hangatnya “di kedalaman”. “Aakh… shh…” aku atau dia yang berdesis, aku sudah tidak ingat. Tak hingga penuh masuk, kutarik ulang penisku dan kulebarkan ulang pahanya dan kumasukkan ulang penisku bersama dengan agak memaksa.

“Oouch”, ujarnya. Kutarik ke atas pantatku lantas kubenamkan ulang penisku sehabis lebih dari satu kali terulang kutarik agak nampak dan lantas kudesak amat di dalam hingga pangkal atau buah zakarku tertekan pada lubang duburnya.

Selama perihal itu berlangsung tangan dia memelukku bersama dengan erat tetapi seakan melemah dikala pinggangku kuangkat naik. Saling tarik nafas berlangsung bagai sebuah kancah berebut oksigen agar lebih dari satu menit lantas desakan dari di dalam tak bisa kutahan dan kulepaskan saja semuanya.

Nafasku terengah-engah, putus-putus, tak lama lantas aku merasakan rasa tolakan dan juga desakan yang kuat dari di dalam vagina Desy. Keringat dingin terasa di tubuhku dan kejang-kejang dan juga ekspresi lain yang tak kuingat dan kulihat karena aku merem menyertai pada diri desy.

“Ooohh… shh”, lantas dia memelukku erat walaupun terasa desakan dari di dalam kuat selamanya saja tak bisa mengeluarkan penisku, tambah jadinya kutekan sekuatku ke dalam. Lalu tak terasa aku tertidur lemas hingga selanjutnya ia menggeserku agar rubah dari atas tubuhnya.

Penisku terangkat dan bersandar di pahanya. Kuberikan sinyal untuk mencopot kondomnya, ia lantas melakukannya. Kupegang penisku dan kugerak-gerakkan, “Berani nggak?” kutanya. Begitu penis itu dipegangnya ia baru terkena di bibirnya dan terjilat sekali, dia lantas muntah di lantai. “Pusing ah…” iya sebenarnya karena seharian kerja aku terhitung sempat kunang-kunang, sehabis meraih klimax.

Singkatnya pertalian itu kita lanjutkan hingga sekarang, dan kita sama-sama meraih klimax satu mirip lain.