Kusetubuhi Memek Mama Kawanku Penuh Gairah // Part 1

RAKSASAPOKER Saya mempunyai seorang teman, mampu dikatakan dia merupakan teman aku yang terbaik, karena nyaris tiap tiap hari kita selalu bersama. 

RAKSASAQIU SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Saya memang sering main ke rumahnya dan tentu saja, aku sering bertemu dengan mamanya. Dapat dikatakan mamanya pas ini kira-kira berusia 36 tahun,

tetapi tubuhnya muncul bagaikan seorang gadis yang berusia 20 tahunan. Yah montok dan padat sekali dan aku memanggil mamanya Tante Nita.


Tentu saja aku sering laksanakan onani dengan menghayalkan mama kawanku ini.

Suatu hari, kita dengan teman-teman sekolah lainnya akan laksanakan pesta barbeque dan area kita berkumpul merupakan tempat tinggal dari kawanku ini. Karena masih menunggu teman kita yang belum hadir, maka aku bermain di tempat tinggal kawanku ini dengan permainan dadu dengan yang lainnya. Mungkin karena kebetulan aku melempar dadunya amat kuat, maka dadu itu jatuh ke arah kamar mama temanku. Lalu dengan malas dan ogah-ogahan, aku bangkit untuk mengambil alih dadunya. Tetapi pas akan mengambil alih dadunya, aku melihat suatu pemandangan yang membuat aku amat terangsang. Saya melihat Tante Nita hanya memakai celana dalamnya saja, segera saja kemaluan aku terbangun dan aku segera berjalan muncul sambil mengupayakan menenangkan diri. Sambil bermain dadu kembali, aku menghayalkan bentuk tubuh Tante Nita yang membuatku amat terangsang. Tetapi sementara kemudian, Tante Nita muncul dari kamarnya. Dengan serempak, kita memanggilnya dengan panggilan Tante, tetapi aku tidak berani untuk menatapnya, yah barangkali karena aku malu dan agak sedikit cemas mengingat perihal tadi.

Karena temanku telah memanggil, maka kita menyudahi permainan dadu kita dan kita jadi bergerak ke luar rumah. Sesaat sampai di luar rumah, aku melihat Tante Nita sedang berdiri sambil melihat ke arahku, lantas dia menyuruhku untuk menemaninya ke rumahnya yang lain untuk hanyalah mengambil alih barang bekas. Dengan gugup aku menjawab dengan jawaban “Ya”, lantas Tante Nita mengambil alih kunci rumahnya dan kita pun berangkat. Sambil mengikutinya dari belakang, aku mencermati goyangan pinggulnya dan tentu saja pas ini aku telah amat idamkan laksanakan masturbasi, tetapi karena balum mempunyai kesempatan, maka aku diam saja sambil menghayalkan sedang bersetubuh dengan Tante Nita.

Sesampainya di tempat tinggal tersebut, aku melihat tempat tinggal tersebut telah lama tidak dihuni, barangkali saja karena Tante Nita baru saja tukar ke tempat tinggal baru. Kemudian kita pun masuk ke dalam. Dengan hati-hati aku mencermati sekeliling tempat tinggal tersebut. Memang agak berdebu tetapi masih muncul jikalau tempat tinggal tersebut rapi.
Sesampainya di ruang sedang tempat tinggal tersebut, Tante Nita menanyakan kepadaku, “Apa yang kamu melihat pas kamu mengambil alih dadu yang terjatuh itu tadi..?”
Dengan terperanjat aku menjawab, “Saya tidak melihat apa-apa, Tante…”
Lalu Tante Nita berkata, “Kamu jangan bohong, nanti aku laporkan bahwa kamu berbuat yang tidak senonoh pada Tante..”

Dengan terbata-bata, aku menjawab bahwa aku melihat Tante sedang tukar baju, tetapi aku tidak melihatnya dengan jelas.
Lalu Tante Nita menanyakan lagi, “Apakah kamu idamkan melihatnya sekali lagi..?”
Seperti mendapat durian runtuh, maka aku menjawab, “Kalo Tante Nita mengijinkan, aku sudi Tante.”
Sesaat Tante Nita diam, lantas dia menyuruh aku untuk mendekat. Dengan hati-hati, maka aku mendekat padanya, lantas Tante Nita menarik tangan aku dan mencium bibir saya. Tentu saja aku balas dengan ciuman kembali, sedangkan kedua tangan aku diam saja karena memang aku dalam kondisi yang amat tegang.

Berbeda dengan tangan Tante Nita, tangannya jadi memegang kejantanan aku dan satunya kembali jadi meremas pantat saya. Kemudian Tante Nita jadi terhubung resluiting celana aku dan jadi mengocok kemaluan saya. Saya merasakan kenikmatan karena tangan Tante Nita amat lembut dan amat berpengalaman. Karena terbawa perasaan nikmatnya, mata aku jadi tertutup dan jadi nikmati permainan Tante Nita. Belum berjalan lama permainan kami, Tante Nita menghentikan permainannya, tentu saja hal ini membuat aku keheranan.

Lalu aku jadi berani menatapnya dan aku menanyakan kepadanya, “Tante, bolehkah aku memegang payudara Tante..?”
Sambil sedikit tersenyum, Tante Nita berkata, “Terserah kamu sayang…”
Lalu tangan aku jadi meraba payudara Tante, tetapi aku merabanya dari luar saja karena masih tertutup oleh pakaian dah BH-nya.
Karena jadi kurang puas, maka aku menanyakan lagi, “Tante, bolekah aku terhubung pakaian tante..?”
Dengan sedikit kesal, Tante Nita menjawab, “Kamu boleh laksanakan semua yang idamkan kamu lakukan, tubuh aku saat ini ini adalah milikmu sepenuhnya.”
Dengan terbata-bata aku menjawab, “Terima kasih Tante…”
Lalu Tante Nita berkata lagi, “Panggil aku Nita saja, tidak usah kembali sebutkan Tantenya.”
Lalu aku menjawab, “Ya, Tante.., eh, maksud aku Nita.”

Permainan tetap berlanjut, aku jadi terhubung kancing pakaian Tante Nita. Terlihatlah dua bukit kembar yang indah sekali, barangkali ukurannya kira-kira 36A. Lalu aku jadi meremas dan mencium payudara Tante Nita dan Tante Nita jadi merasakan kenikmatan dan mengeluarkan suara desahan.
“Uuhhh… ahhh..,”
Saya jadi terhubung ikatan BH-nya dan menyemburlah payudaranya. Dengan liar bibir aku jadi menghisap payudara yang di sebelah kanan, sedangkan tangan aku meremas dengan keras payudaranya yang di sebelah kiri. Saya tetap menghisap puting payudara Tante Nita kurang lebih 5 menit lamanya. Kemudian aku melepaskannya dan aku melihat putingnya telah berwarna kemerah-merahan agak hitam.

Kemudian Tante Nita jadi turun dan berjongkok di hadapan kemaluan saya. Dengan cepat dia menurunkan celana jeans aku sekaligus dengan celana dalam saya, lantas dia pun terhubung mulutnya dan memasukkan kemaluan aku ke mulutnya. Hal ini membuat aku terkejut, kemudian Tante Nita jadi menghisap kemaluan aku dan memainkannya di dalam mulutnya yang membuat aku lupa diri. Tangan aku jadi menjambak rambut Tante Nita dan kaki aku jadi menjinjit karena aku merasakan kenikmatan yang hebat. Kurang lebih 10 menit kemudian, aku merasakan tersedia yang mendesak muncul layaknya pas aku sedang laksanakan masturbasi dan aku jadi mengerang, “Aduh, Nita… aku sampai nih, uh… uhhh… uuuhhh…” Dan Tante Nita jadi mempercepat permainannya dan selanjutnya aku mengeluarkan cairan sperma aku di dalam mulutnya Tante Nita. Saya merasakan Tante Nita menghisap habis semua sperma aku dan menelannya. Dalam sisa-sisa kenikmatan, aku melihat Tante Nita bangkit dan mencium bibir saya, yang tentu saja aku balas dengan ciuman yang hangat dan liar. DAFTAR ID PRO PKV


Hanya dalam hitungan sebagian detik, Tante Nita menghimpit kepala aku dan aku pun mengetahui apa yang di inginkan Tante Nita. Saya jadi berjongkok dan Tante Nita berpindah posisi dengan tubuhnya bersandar pada dinding rumah. Dengan perlahan aku menurunkan celanan Tante, lantas aku melihat CD warna biru langitnya Tante Nita dengan segunduk daging yang menonjol di pada kakinya, tak sekedar itu aku termasuk melihat CD-nya jadi basah oleh cairan kemaluannya. Tante Nita berkata kepada saya, “Endy, cepat donk.., Tante telah nggak tahan nih…” Dengan tenang aku menjawab, “Iya Nita..,” dan aku jadi memeloroti CD-nya. Saya melihat rambut kemaluan Tante Nita yang sungguh subur tetapi terawat dengan rapih.

Sejujurnya, aku sungguh tidak menyangka keindahan alat kelamin wanita ini berlainan dengan yang dulu aku melihat di film-film blue lebih-lebih amat berbeda. Dengan perlahan-lahan, aku jadi menyapu kemaluan Tante Nita dengan lidah saya. Sesudah rambut kemaluannya basah oleh air liur saya, aku jadi memasukkan lidah aku di pada kemaluannya dan aku menemukan sebuah bijian kecil. Dengan lidah saya, aku jadi menjilati biji tersebut, hal ini membuat Tante Nita mengerang keenakan.
“Endy.., terus.., Tante jadi nikmat sekali, ah… ah… uhhh…” desahnya.
Karena merasakan Tante Nita yang jadi terangsang, maka aku mempercepat jilatan aku pada bijian tersebut kurang lebih 6 menit Tante Nita menjerit sambil memegang dan menjambak rambut saya.
“Uhhh… Tante sampai nihhh… ayo tetap Ndyyy… ah… ehmmm… nikmat sekali.”

Lalu aku melewatkan permainan lidah aku dan aku melanjutkan dengan tangan aku yang jadi mengosok dan mengocok kemaluan Tante Nita karena aku jadi jijik untuk menghisap air kemaluan wanita tetapi dengan cepat Tante menarik kepalaku dan mengarahkannya kembali ke kemaluannya. Karena idamkan memuaskan Tante Nita, maka aku jadi memainkan lidah aku di kemaluan Tante Nita.
Akhirnya Tante mengejang dan berteriak, “Ahh… ahhh… auuu… ehmmm… aku sampai, tetap Ndyyy… uhh… ahhh… aahhh…”
Saya merasakan tersedia cairan yang muncul dari kemaluan Tante, maka aku menghisap semua cairan tersebut sampai kering dan kemudian aku menelannya.

Karena melihat Tante Nita sedang merasakan sisa-sisa kenikmatannya maka aku bangkit dan mencium bibirnya, sedangkan tangan aku meremas payudaranya.
Lalu Tante Nita terhubung matanya dan tersenyum nakal sambil berkata, “Endy, kamu kurang ajar sekali, lebih-lebih dengan mama teman baikmu pun kamu berani berbuat begitu.”
Dengan terperanjat aku berkata, “Tapi Tante, aku tidak punya niat begitu, khan tante yang…” Belum selesai aku berkata Tante Nita memotongnya dan berkata, “Saya mengetahui kamu tidak punya niat begitu tetapi kamu telah melakukannya jadi ya.., nggak apa-apa deh… tante suka dengan permainan kamu. Lain kali kamu harus melakukannya dengan Tante lagi, kalo tidak.. Tante akan laporkan kamu sama yang lainnya!”
Lalu aku tersenyum dan berkata, “Tante nakal sekali, aku sampai terkejut, tetapi Tante jangan khawatir, lain kali aku akan melayani Tante lagi, aku janji Nita.”
“Kamu harus ingat janji kamu yach… saat ini kita harus kenakan pakaian kembali, lantas kamu kembali ke teman kamu… khan kamu sudi barbeque khan..?” kata Tante Nita kemudian yang sempat membuatku terperanjat layaknya mengetahui kembali jikalau kita telah meninggalkan acara pesta.

Dengan cepat aku jadi membetulkan pakaian aku dan merapikan rambut aku sambil menanyakan kepada Tante Nita, “Tante.., kita telah pergi berapa lama sih..? Kalo ketahuan gimana, Tante..?”
Dengan tenang Tante menjawab, “Kamu jangan khawatir, Tante akan mengaturnya sehingga aman.”
Lalu kita pun kembali ke tempat tinggal Tante Nita yang baru meskipun dalan hatiku masih tersedia sedikit keraguan. Sesampainya disana, Tante berkata bahwa kita membongkar semua tempat tinggal untuk mencari kunci lemarinya sehingga memerlukan pas setengah jam. Sambil bernafas lega, aku menoleh ke arah Tante Nita dan melihatnya tertawa, sungguh mengoda sekali.

Beginilah awal kisahku dengan Tante Nita yang merupakan mama dari teman baikku. Di pesta barbeque dengan temanku, aku jadi amat tidak tenang lebih-lebih jadi tersedia yang idamkan dikeluarkan. Akhirnya aku pun laksanakan masturbasi di kamar mandi, tentu saja sambil menghayalkan Tante Nita. Dalam hati aku tentu saja amat idamkan untuk melakukannya dengan Tante nita, tetapi yah…

Hari ini telah lewat 2 minggu sejak perihal di malam pesta barbeque itu. Saya sendiri telah tidak sabar dan frekuensi onani aku jadi jadi meningkat, lebih-lebih mampu tiga kali dalam satu hari. Tetapi siang harinya, dikala baru pulang dari sekolah, sesampai di tempat tinggal dan duduk di kursi sambil melewatkan sepatu, aku menggerutu, “Aduh, hari ini kok panas sekali…”Tetapi tiba-tiba aku mendengar pembantu aku berteriak, “Mas Endy tersedia telepon tuh..!”
Lalu sambil malas-malasan aku bangkit dan mengambil alih telepon sambil menjawab, “Halo..?”
“Ini Endy yach..?” bertanya orang lawan berkata saya.
Saya jawab, “Iya, disana siapa yach..?”
“Kamu telah lupa yach ama saya..?” dengan logat memancing.
Karena jadi dipermainkan, aku jadi emosi dan menjawab, “Disana siapa sich kalo nggak mo bilang kembali aku tutup teleponnya nih..!”
“Kok marah sich..? Nanti tante laporkan kamu lho dan nggak tante kasih kamu kenikmatan lagi.” kata lawan berkata aku lagi.

Mendengar kata-katanya yang paling akhir tadi, aku jadi teringat dengan perihal sebagian hari yang lantas dan aku segera menjawab lagi, “Oh, ini Tante Nita yach..? Sori Tante gua kembali nggak mood nih… Tante sich main-main aja…”
Lalu Tante Nita berkata “Nggak mood yach..? Jadi sama Tante termasuk nggak mood donk..? Tadinya
Tante mo ajak kamu ke tempat tinggal Tante nih, abisnya kembali sepi nih.., tetapi nggak jadi deh..”
Dengan cepat aku memotong, “Bentar dulu Tante, kalo Tante sich gua jadi mood kembali nih, emang teman aku (maksudnya anak Tante Nita yang jadi teman baik saya) nggak tersedia di tempat tinggal yach..?”
“Kamu tenang aja deh… pokoknya dari saat ini (saat itu jam 12:30) sampe nanti sore jam 5 kita aman deh.., jadi singgah nggak..?” bertanya Tante Nita.
Tentu saja aku menjawab, “Jadi donk Tante.., bentar kembali aku ke sana Tante, Tante menunggu yach..!”

Setelah itu, aku segera menutup teleponnya layaknya tidak idamkan menyia-nyiakan waktu. Kemudian aku segera berlari ke kamar dan tukar baju, tetap segera muncul tempat tinggal menuju tempat tinggal Tante Nita, karena dari rumahku ke tempat tinggal Tante Nita memerlukan pas kira-kira 15 menit jalan kaki. Karena idamkan cepat tiba disana, maka aku naik angkot (angkutan lazim perkotaan) saja.

Sesampainya di tempat tinggal Tante Nita, aku segera memutar ke belakang karena lewat pintu samping tempat tinggal Tante Nita lebih aman dan sepi. Kemudian dengan perlahan aku mengetuk pintu dan terdengar Tante Nita menjawab.
“Iya, bentar…” lantas Tante Nita terhubung pintu dan mempersilakan aku masuk.
Di depan saya, Tante Nita kenakan pakaian kaos oblong dan celana pendek putih. Berpenampilan layaknya itu tentu saja sama dengan menampakkan BH dan CD-nya yang berwarna hitam secara sengaja kepada saya. Dalam pikiran aku barangkali Tante Nita sengaja membuat aku terangsang, tetapi aku mengupayakan selalu tenang, yah.. stay cool deh pokoknya.

Setelah itu, Tante Nita menyuruh aku mengikutinya dan aku pun berjalan. Tetapi begitu melihat pinggulnya yang bergoyang, aku tidak tahan lagi, segera aku menarik Tante Nita dan menciumnya. Tante Nita pun segera membalas ciumanku dan tangan aku segera bergerak untuk terhubung bajunya.
Bersamaan dengan itu, Tante Nita berkata, “Jangan di sini donk sayang..!”
“Dimana Tante..?” bertanya saya.
“Di kamar Tante aja…” kata Tante Nita.
Lalu aku pun segera menarik tangan Tante Nita dan berkata, “Jadi, menunggu apa kembali Tante..?