Ritual Untuk Bersetubuh Dengan Ibu Tiriku Sendiri // Part 2

RAKSASA POKER Aku heran juga lihat Mang Yayan yang kelihatan gelisah sambil mengelus-elus kontolnya sendiri, rupanya di terangsang lihat adeganku tadi. 

RAKSASAQIU SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   

Dia pun mendekatkan posisinya ke sebelahku, nampaknya dia penasaran mengidamkan lihat dari dekat adeganku dan mulusnya pantat ibu tiriku yang lagi ku remas-remas dan kugenjot dengan kontolku itu.

Tiba-tiba saja Mang Yayan pun turunkan celana kolornya, lalu dia keluarkan kontolnya yang telah tegang mengacung ke atas, sorot matanya konsisten tertuju ke pantat ibu tiriku yang lagi ku genjot itu.


”Saya nggak tahan juga Mas….!”katanya kepadaku, sambil mengocok kontolnya yang telah ngaceng. 

Kulihat ibu tiriku yang lagi nungging menoleh kebelakang sambil tersenyum geli lihat tingkah Mang Yayan yang ikut-ikutan terangsang oleh tubuh montoknya. Kukembalikan segera konsentrasiku pada tubuh ibu tiriku yang sedang kutunggangi dengan penuh nafsu itu. 

Genjotanku jadi kupercepat, aku tidak tahan seakan batang kontolku lagi diremas-remas oleh dinding memek ibu tiriku, layaknya dipijit-pijit, rasa geli bercampur nikmat, bahkan kala ibu tiriku memainkan lobang memeknya menjepit batang kontolku kala kubenamkan semuanya ke dalam. “Aaaah….oouuw…iii..buuu…saa..y a…nggak tahaan…buuu…!”aku mengerang dengan penuh nikmat.“Iyaaa….ayo terusin..sayang…sampai keluar ya…!” ungkap ibu tiri ku terbata-bata sebab hentakanku pada pantatnya. Aku jadi merasakan semangat yang kuat yang hendak meletus, air maniku seakan telah di ujung kontolku, yang bakal segera memuntahkannya ke dalam lobang memek ibu tiriku. Tiba-tiba tubuhku jadi gemetar, darahku berdesir dengan cepat diseluruh tubuhku, seakan menghambat puncak birahi yang luar biasa nikmatnya, seiring semangat air maniku yang bakal ku*kan keluar dari batang kontolku. “Aaaahh….ooouuhh…ibuuu…crott…c rottt..crottt… oouuuww..!!” kelanjutannya air maniku muncrat, menyemprot keseluruh dinding lobang memek ibu tiriku, sungguh betapa nikmatnya menyetubuhi ibu tiriku. 

Tidak pernah terbayang olehku sebelumnya, terkecuali tubuh ibu tiriku yang sehari-hari didepan mataku, ternyata sanggup beri tambahan kenikmatan yang luar biasa terhadapku. Aku terkulai lemas diatas tikar, kala ibu tiri ku yang tetap dalam posisi nungging, keluar membersihkan sisa air maniku yang berceceran di atas memeknya dengan manfaatkan kain batiknya, dia pun tersenyum suka atas kebolehanku tadi, sambil mengusap-usapkan kain batik tadi ke batang kontolku yang jadi lagi ke ukuran semula. Tinggallah Mang Yayan kala itu yang konsisten mengocok kontolnya sendiri. Melihat perihal itu ibu tiriku segera bangun dan duduk di atas tikar, lalu diraihnya batang Kontol Mang Yayan yang sedang tegang-tegangnya itu. DAFTAR ID PRO > KLIK <


Aku menjadi jadi bingung, kok ibu tiriku rela megangin Kontol Mang Yayan, bisa saja sekalian kotor barangkali, atau sebagai bonus saja membuat dia yang telah memandu kami, pikirku dalam hati. “Aduh bu….enak tenan…bu..!” Mang Yayan berguman sendiri. Karena telah tidak tahan sejak tadi lihat kemolekan dan kemulusan tubuh ibu tiriku, Mang Yayan bagaikan ketiban durian runtuh, seumur-umur baginya tidak pernah lihat tubuh semulus itu. Dia pun mengerang sekuatnya mengupayakan menghambat air maninya supaya tidak segera keluar, dia mengidamkan lebih lama kontolnya dikocok oleh ibu tiri ku, maklumlah bagi dia kesempatan layaknya ini belum pasti dia dapatkan sepuluh th. sekali. 

Namun apa daya air mani Mang Yayan tak sanggup dibendung lagi, ibu tiriku sebenarnya sangat sadar sekali bagaimana langkah memuncratkannya dengan cepat, lewat sedikit sentuhan-sentuhan rahasia di anggota khusus pada batang Kontol Mang Yayan, kelanjutannya air mani Mang Yayan tumpah ruah di kain batik putih yang dipakai ibu tiriku, bahkan saking bernafsunya air mani Mang Yayan sebagian menyemprot di payudara ibu tiriku, air mani Mang Yayan keluar kental sekali, bisa saja sebab telah sepuluh th. dia menduda. Tidak lama kami pun bergegas lagi ke gubuk untuk istirahat, kala Mang Yayan malam itu dengan setia menunggui kami sampai tertidur di emper gubuk. Sementara aku berada satu kamar dengan ibu tiriku dalam gubuk itu, pasti atas permintaan dari ibu tiri ku sendiri supaya aku menemaninya. Malam ibu tiriku menanyakan padaku bagaimana perasaanku, sambil menghiburku supaya tidak kaget atas perihal di kuburan keramat itu. “Saya takut bu….sa..ya…bi…ngung…” sambil terbata-bata. “Iya ibu tahu…ibu ngerti…tapi anda hebat…” ibu tiriku memotong pembicaraanku. “Maksud ibu hebat gimana…?” ungkapku dengan penuh rasa heran. “Itu lho…. ibu baru lihat…ternyata punyamu besar sekali..” ungkap ibu tiriku sambil berbisik kepadaku. Aku diam saja mendengar pernyataan itu.

“Ibu menjadi tertarik aja melihatnya tadi….sampe sekarang terbayang terus…!”kenangnya. “Iya bu, aku juga baru tadi aja lihat tubuh ibu dengan jelas…!” ungkapku dengan malu-malu. “Kamu suka nggak…seperti tadi dengan ibu…?” ungkap ibu tiriku sambil berbaring menghadap ke arahku. “Hhmm…iya..iya..bu..saya suka.., sedap bu..saya baru merasakan begitu.!” “Kalau anda mau, ibu tidak keberatan anda setubuhi ibu layaknya tadi kapan aja anda mau, asal jangan tersedia orang lain yang tahu..ya…!” tegasnya, sambil lagi menggapai kontolku yang telah mengecil, lalu di usap-usapnya dengan lembut. “Kamu suka nggak ibu ginikan…?” ungkapnya dengan nada yang genit, sambil sesekali batang kontolku dikocoknya. “I..ya..bu…ssshhh.. ge..li..buu..!” ungkapku terbata-bata. Ibu tiri ku pun jadi menjadi memainkan kontolku, dikulumnya dalam-dalam, lalu dijilat-jilat ujungnya dengan gemas. “Aaahh…oouww…ibuuu…” aku jadi merintih menghambat geli bercampur nikmat. 

Dalam saat itu juga kontolku telah mengacung tegang keatas, lihat perihal itu ibu tiriku jadi bergairah melumat habis batang kontolku jadi dari bijinya sampai ke ujung, konsisten berulang-ulang. “Kamu juga boleh pegang-pegang memek ibu…!” ungkapnya sambil menarik tanganku dan menempelkannya di atas lobang memeknya persis.Rupanya ibu tiriku telah sejak tadi terangsang sewaktu lihat kontolku jadi ngaceng, keluar dari memeknya telah jadi basah. Tanganku yang satu lagi meraba payudara ibu tiriku yang begitu menggemaskan. Kain batik putih yang dipakainya pun telah keluar acak-acakan sebab rabaan dan remasanku yang jadi berani ke seluruh anggota tubuhnya yang sangat menggairahkan itu. “Ayo masukin…..ibu telah nggak tahan nih…!” ungkapnya dengan nakal. Tanpa pikir panjang lagi segera kubenamkan seluruh batang kontolku ke lobang memek ibu tiriku itu. “Aaaah….oohhh…oooh…!!” aku jadi merancu tidak karuan saking luar biasa nikmatnya. Aku segera menggenjot batang kontolku keluar masuk di dalam lobang memek ibu tiri ku itu. Ibu tiriku keluar begitu seksi sekali dalam keadaan 1/2 bugil layaknya itu. Kain batiknya melorot ketarik oleh genjotanku. 

Tak lama kubalikan tubuh ibu tiriku supaya posisinya membelakangiku. Woow pantatnya yang montok dan gempal keluar menungging identik di depan kontolku yang telah sangat tegang, segera saja kusodokkan ke lubang syurga ibu tiriku. “Aaw…aaw….ouww…nikmat sekaliii…!!” ibu tiriku merintih sambil menghambat hentakan batang kontolku yang jadi dalam. Tiba-tiba pantat ibu tiriku jadi keluar gemetar seakan telah mendekati orgasme. “Aaaaw….ibu rela keluaaar….creekk crerkk creek” air mani ibu tiriku muncrat sewaktu kontolku menusuk-nusuk memeknya yang empuk dan padat itu. Aku konsisten menggenjotnya, gerakanku jadi cepat, batang kontolku pun keluar jadi gencar menghunjam lobang memek ibu tiriku. Ibu tiri ku sebenarnya pandai, dia putar-putar pantatnya bergoyang berlawanan dengan genjotanku, sampai kelanjutannya aku jadi layaknya di pilin-pilin nggak karuan. ….crottt..crottt…c rottt.. uuhh..!!” air maniku tiba-tiba saja muncrat tak tertahankan dalam lobang memek ibu tiriku. Gila aku sangat nggak kuat lagi menahannya, sebenarnya luar biasa permainan ibu tiriku, tidak kuduga sampai layaknya ini kenikmatan yang tersimpan dalam tubuh montoknya, ungkapku dalam hati. Puas sekali rasanya, akupun lagi terkulai lemas disebelah tubuh ibu tiriku, begitu gencarnya permainan tadi, tanpa kusadari kain batik panjang ibu tiriku telah melilit ketat dari kaki sampai kepinggangku, mengikatku menjadi satu dengan tubuh ibu tiriku, kami pun terbalut rapat supaya sulit bergerak. Karena dinginnya hawa malam di sedang hutan kala itu, kelanjutannya aku dan ibu tiri ku melepaskan tubuh kami dalam keadaan berpelukan layaknya itu sampai pagi harinya.