Mbak Santi Dan Lina Temanya // Part 2


RAKSASA POKER Ketika kupacu dia bersama dengan irama yang lambat dia mengerang, menjerit, merintih terus. Kuubah posisi. Kini kedua tanganku berada di belakang punggungnya. 

RAKSASAQIU SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   

Membuat kaitan di antara ketiaknya. Dia meremas rambutku bersamaan bersama dengan naik turunnya tubuhku. Kukunya mencengkram punggungku saat kukayuh pantatku penuh irama.

Naik dan turun. Tarik dan dorong. Rintihan dan jeritannya seakan tak kupedulikan. Aku berhenti di sedang jalan. Dia meronta. Membuka matanya. Dengan wajah kuyu.


Dari keringat kami yang menyatu. Tanpa diduga, dia merasa ikuti irama permainanku. Dengan menghindar rasa sakit dia menggerakkan pinggulnya. Memutar dan memutar. Sesekali menyentak tubuhku yang di atasnya.

Tak lama lantas Mbak Santi mempengaruhi posisi tempati pahaku, memegang penisku dan dimasukkannya pelan ke vaginanya.

“Uppss.. ooh..” rasanya nikmat sekali penisku dalam vaginanya. Mbak Santi konsisten bergoyang naik turun.

“Ahh.. enak..”erangku.

Mbak Santi konsisten bergoyang sambil menjerit kecil. Dadanya yang naik turun langsung kuremas. Lalu kubalikkan posisinya kebawah.Dan saya gantian memompanya dari atas. Aku konsisten memompa sampai akhirnya dia mengerang panjang. Otot vaginanya berkontraksi meremas penisku

“Oghh.. saya sudah keluar sayang..” erang Mbak Santi.

Tiba-tiba, pintu kamar ada yang mengetuk.

“San.. San!” suara perempuan.

Aku kaget dan sempat terhenti mencumbu Mbak Santi.

“Teruskan, sayang..! Itu temanku, biarkan saja,” kata Mbak Santi.

“San..!” pintu diketuk kembali diikuti suara panggilan.

“Masuk aja, Lin, enggak dikunci, kok” ujar Mbak Santi.

“Huuss..!! Kita kembali nanggung dan bugil begini jaman temenmu disuruh masuk..?” sergahku.

“Engga apa-apa, cuek aja..” kata Mbak Santi enteng sambil tersenyum manis.

“Wah, rupanya kembali terhadap asyik nih,” kata Lina begitu membukakan pintu dan masuk ke dalam kamar.

Aku tetap dalam posisi jongkok dan penisku tetap di dalam vagina Mbak Santi, dan cuma menyeringai memandang kedatangan Lina.

“Mana cowokmu tadi?” bertanya Mbak Santi.

“Tahu kamu pulang ke hotel bawa cowok, yah saya dibawa ke hotel lain” sahut Lina.

Aku tetap bengong mendengar pembicaraan dua cewek cantik itu. Tiba-tiba tangan Mbak Santi menarik tanganku yang tersampir di pahanya.

“Ayo sayang goyangin penismu, jangan kalah sama Lina” desak Mbak Santi.

Aku berdiri dan mengangkat tubuh Mbak Santi ke sedang daerah tidur. Penisku yang sudah tegang dari tadi, langsung saya tembakkan kembali ke dalam lubang vagina Mbak Santi yang sudah tidak perawan tapi tetap merasa lengket. Kami sama-sama merasakan kehangatan yang nikmat.

“Yang dalam.. cepat.. ah.., enak..” pinta Mbak Santi. Aku pompakan penisku bersama dengan penuh gairah.

Sementara Lina pergi ke kamar mandi dan mengurung diri disana. Mungkin berendam di bathtub. Pengaruh inex membuat kekuatan tahan persenggamaanku bersama dengan Mbak Santi lumayan lama. Berbagai model kami lakukan. Mbak Santi sebagian kali mengerang dan menggigit pundakku selagi mencapai orgasme. Sementara penisku tetap anteng dan melesak-lesak ke dalam vagina Mbak Santi.

“Aduh.. capek, sayang..!” rintih Mbak Santi.

“Istirahat dulu.. yah..?”

“Sabar, dong, say. Aku terlalu menikmati hangatnya vaginamu,” rayuku.

Mbak Santi lantas menggelepar pasrah, tidak kuasa kembali menggerak-gerakkan tubuhnya yang kembali kugarap. Matanya terpejam. Aku semakin terangsang melihatnya tak berdaya. Kami sudah bermandikan keringat. Tapi penisku tetap tegang, belum sudi memuntahkan sperma. Akhirnya saya kasihan terhitung sama Mbak Santi yang sudah keletihan dan keluar tertidur meski saya tetap menggagahinya.

Aku mendengar bunyi keciprak-kecipruk di kamar mandi. Spontan saya bangkit dan membebaskan penisku dari vagina Mbak Santi. Dengan langkah pelan supaya tidak membangunkan Mbak Santi dari tidurnya, saya berlangsung dan perlahan terhubung pintu kamar mandi. Benar saja Lina sedang berendam di bathtup bersama dengan tubuh bugil. Ia keluar sedang menikmati kehangatan air yang merendamnya. Kepalanya bertopang terhadap ujung bathtub. Aku menghampirinya bersama dengan penis yang tetap tegang. DAFTAR ID PRO > KLIK < 


Mata lina terbuka dan kaget melihatku berdiri di sisi bathtup, menghadap ke arahnya.

“Mana Santi?” tanyanya 1/2 berbisik sambil matanya turun naik memandang ke arah wajah dan penisku yang ngaceng.

“Dia tidur.. jangan berisik,” kataku sambil naik ke dalam bathtup dan langsung menindih tubuh Lina yang sintal dan pasrah. Kami bergumul dalam cumbuan yang hot.

“Lin kamu diatas yah.. ” Sekarang posisiku ada di bawah, dia langsung naik keatas perutku dan bersama dengan langsung di pegangnya penisku sambil diarahkan kevaginanya, kulihat vaginanya indah sekali, bersama dengan bulu-bulu pendek yang menbuat rasa gatal dan sedap selagi bergesekan bersama dengan vaginanya. “Aaawww.. sedap banget vagina kamu Lin..”

“Enak kan mana sama memiliki Santi..?”

Katanya sambil memutar pantatnya yang bahenol. Rasanya penisku sudi patah saat diputar dalam vaginanya bersama dengan berputar semakin lama semakin cepat.

“Ah.. Lin.. sedap banget ah..” Aku pun bangun sambil mulutku mencari pentil susunya, langsung kukemut dan kuhisap.

“Ton.. saya sudi keluar..”

“Rasanya mentok.. ah..”

Memang bersama dengan posisi ini merasa sekali ujung batangku menyentuh peranakannya.

“Ah.. ah.. eh..” suaranya setiap kali saya menyodok vaginanya.

Kugenjot vaginanya bersama dengan cepat. Dia layaknya kesurupan setiap dia naik turun diatas batangku yang dijepit erat vaginanya,

“Lin sudi keluar..”

Kupeluk erat dia sambil melumat putingnya. Kupompa vaginanya sampai kami tak memahami mengeluarkan desahaan dan rintihan birahi yang sampai membangunkan Mbak Santi. Mbak Santi tiba-tiba berdiri di pintu kamar mandi bersama dengan tubuh bugil dan matanya menatap saya dan Lina yang kembali bersetubuh.

“Gitu yah, enggak suka bersama dengan saya kamu bersama dengan Lina,” hardik Mbak Santi bersama dengan suara manja, pura-pura marah.

Eh, jadi Mbak Santi kini turut naik ke dalam bathtup.

“San, ayo gantian, saya sudah dua kali dibuat keluar, sampai lemes rasanya. Cowokmu ini terlalu perkasa,” kata Lina.

“Ayo sayang, sekarang saya bakal membuat penismu muntah,” kata Mbak Santi.

Segera Mbak Santi hampiri saya di dalam bath yang penuh bersama dengan air, ditonton Lina yang duduk di ujung bathtup sambil membersihkan vaginanya, dan pahanya menjadi sandaran kepala Mbak Santi. Kusuruh dia nungging, maka terlihatlah lubang vaginanya yang basah dan berwarna merah, kuarahkan kepala penisku ke lubang tempiknya secara perlahan-lahan. Kutekan penisku lebih dalam lagi, dia menggoyangkan pantatnya sambil menghindar sakit. Terdengar suara kecroot, kecroot seumpama kutarik dan kumasukan penisku di lubang vaginanya, gara-gara suara air kali ya.

Mbak Santi semakin histeris, sambil memegang pinggiran Bath Tub dia goyangkan pinggulnya semakin cepat dan suara kecrat, kecroot semakin keras. Tak lama kemudian.

“Aduh say saya nggak tahan kembali idamkan keluar..”.

“Aduh sayang.. terus..”

Mbak Santi terkulai lemas dan vaginanya kurasakan semakin licin, supaya pahaku basah oleh cairan vaginanya yang keluar terlalu banyak. Sebenarnya saya terhitung sudah nggak tahan idamkan keluar, apalagi mendengar desahan-desahan yang erotis terhadap selagi Mbak Santi bakal orgasme.

“Aduh, sayang, saya kalah kembali nih, sudah sudi orgasme!”

Cairan hangat merasa tetap mengalir dari dalam vagina Mbak Santi. Aku tetap konsisten menggenjot vaginanya. Wajah Mbak Santi keluar pucat gara-gara sudah keseringan orgasme. Melihat wajah cantik yang melemah itu, genjotanku dipercepat.

“Sayang, saya sudi keluar nich..”

“Keluarkan di dalam aja sayang, kami keluarin bersamaan, Santi terhitung sudi keluar.”

Dan Akhirnya spermaku mendesir ke batang jakar dan saya mencapai orgasme yang diikuti pula bersama dengan orgasme Mbak Santi. Air maniku keluar bersama dengan derasnya ke dalam vagina Mbak Santi dan Mbak Santi pun menikmatinya.

“Akhirnya saya sukses membuatmu mencapai puncak kenikmatan sayang,” kata Mbak Santi sambil memeluk dan menciumi bibirku. Terasa nikmat, licin, geli bercampur menjadi satu menjadi sensasi yang membuatku ketagihan. Kami bertahan terhadap posisi itu sampai kami sama-sama membebaskan air mani kami.

“Lin.. emut penisku sayang” kataku lantas mencabut penisku dari vaginanya Mbak Santi. Lalu Lina melumat 1/2 penisku sampai pejuhku habis keluar.

“Mhh.. ah.. sedap sekali pejuhmu” katanya sambil mengocok ngocok penisku mencari sisa air pejuhku.

“Tapi sebentar kembali nagaku bakal bangun kembali lho. Lihat, sudah merasa menggeliat!” kataku, menggoda.

“Hhhaah..?” Mbak Santi dan Lina terkesiap bersamaan kompak.

Kemudian saya langsung keluar dari bathtup mendekati Lina dan menyuruhnya membelakangiku. Dari belakang saya mengarahkan penisku ke vaginanya yang sudah basah kembali gara-gara nafsu memandang saya dan Mbak Santi.

Sleepp.. bless..

Aku langsung memasukkan penisku terburu buru, gara-gara sempit selagi membuat kesakitan Lina.

“Aduuh pelan pelan dong Say.., Lina sakit nih” katanya agak merintih.

“Sorry Sayang saya terlalu nafsu nih” kataku lantas tanganku menyambar susunya yang menggelantung indah. Lalu saya merasa memaju-mundurkan pantatku sambil tanganku berpegangan terhadap susunya dan meremasnya.

“Shh.. ahh.. shh..” kata Lina 1/2 merintih kenikmatan.

“Lin.. vaginamu sempit.. nikmat Lin..” teriakku mengiringi kenikmatanku terhadap kemaluan kami. Sleep.. bles.. cplok.. cplok.. irama persetubuhan kami sungguh indah sampai saya ketagihan.

Kami melakukan posisi nungging itu lama sekali sampai kami sama-sama sampai hampir bersamaan.

“Shh.. ahh.. say, Lina sampai nih” katanya sambil kepalanya mendongak kebelakang.

“Iya Lina sayang, saya terhitung sampai nih, dalam yah say..” kataku lantas menghunjamkan penisku dalam dalam divagina Lina.

Seerr.. croot..croot kami keluar hampir bersamaan lantas saya mencabut penisku dari vagina Lina.

penisku keluar basah dari air mani kami dan air kenikmatan Lina.

“Ugh.. say sedap banget..” katanya.

Lalu kami duduk beristirahat ditepian sisi kamar mandi sambil menanti sisa kenikmatan yang tadi kami lalui.