Puas Bermain Dengan Asih Dan Ina // Part 3


RAKSASA POKER Tangan Anton kembali meremas bukit kembar Inah, sementara jilatan Anton sudah mendekati sasaran di sarang kenikmatan Inah. Luar biasa… 

RAKSASAQIU SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   

bulu kemaluan Inah demikianlah lebatnya, menaikkan sensasi tersendiri membuat Anton. “Eh… masss… berkenan ngapaiiinn…? selidik Inah di atas sana.

Anton tidak menjawab, tangan kanannya berusaha menyingkap bulu lebat Inah untuk mendapatkan kenikmatan gadis itu.


“Jangan masss… kotooorrr… achhh…” erang Inah menghambat gejolak yang untuk pertama kali dirasakan sensasi itu.

Anton cuma melirik ke atas, dilihatnya mata wanita itu terpejam kenikmatan.

“Masss… ediaaannn… uenakeee… ssshhh… aaahhh… emmmhhh masss…” jerit tertahan Inah sembari menjambak rambut Anton.

Lidah Anton mendapatkan klitoris Indah, dijilat, dipluntir dan sesekali dihisap lembut, agar tak lama sebabkan Inah kelojotan.

“Masss… gak kuaaat… mauuu pipp pisss…” teriak Inah sambil berusaha menyingkirkan kepala Anton dari kemaluannya.

Anton menolak dan semakin kuat membenamkan wajahnya kedalam kemaluan Inah.

Tak lama sesudah itu Anton menjadi jikalau kepalanya sedikit sakit akibat jepitan paha Inah, tapi di tahannya, karena Anton menyadari bahwa wanita ini mengalami orgasme yang teramat hebat dan dahsyatnya.

“Achhh… emmmhhh… masss…sss…sss acchhh…” jerit tertahan Indah mengiringi orgasme yang baru sekali ini dialaminya, seolah copot seluruh persendian di tubuhnya. Sensasi apa ini, yang tak sanggup dicapai oleh pikirannya, karena tidak pernah di sanggup dari mantan suaminya dulu. Inah terkapar kelelahan,

Anton memeluknya, dielusnya rambut dan pipi Inah, sementara Inah kehabisan nafas, seakan habis puluhan kilometer dia lari…

“Gimana rasanya mbak?” tanya Anton lebih dari satu sementara sesudah itu sehabis Inah terlihat sudah sanggup sesuaikan nafasnya. “Masss… tadi itu rasanya seperti apa ya…? tanya Inah kebingungan disela nafas yang masih tersengal.

“Sssst… sudah tak usah diungkapkan… pokoknya dirasain aja ya…” jawab Anton menenangkan Inah.

Beberapa sementara sesudah itu Inah sudah normal kembali pernafasannya dan bangkit duduk di samping Anton. “Kok mas gak jijik sih nyiumin pepekku” tanya Inah yang membahasakan kemaluannya bersama pepek. Anton tidak menjawab, malah dia menanyakan terhadap Inah

“Inah bener… belum pernah merasakan seperti tadi ya?”

“Bener mas, soalnya suami Inah itu Peltu” jawab Inah.

“Peltu??? emangnya suami Inah itu aparat?” goda Anton.

“Bukan… nempel metu…” jawab Inah tersipu.

“Ha… ha… ha…” tawa renyah Anton.

Inah sudah tidak malu-malu lagi, perlahan tangan kanannya mencapai senjata Anton yang masih tegak berdiri,

“Mas… punyanya kok panjang begini ya” tanya Inah sembari mengelus senjata Anton. Anton tersenyum, diberinya ruang untuk Inah sanggup seutuhnya menikmati senjata Anton.

Kemudian perlahan dan agak ragu, Inah mendekati senjata Anton ke wajahnya, matanya melirik Anton seakan menghendaki persetujuan Anton, Anton tersenyum dan mengangguk. Dengan tidak buru-buru, dimasukkannya kepala senjata Anton ke dalam mulut Inah, Anton terpejam merasakan sensasi bibir Inah sembari mengelus rambut wanita itu, luar biasa… katanya tidak mempunyai pengalaman, tapi dalam urusan sedot-menyedot… rupanya Inah terhitung jagonya, bathin Anton, bisa saja ini yang dinamakan bakat alam, tanpa dipelajari sudah terjadi secara naluri.

Anton masih bermain bersama pikirannya, sementara Inah mengulum senjatanya. Sosok Inah di mata Anton seolah tidak bedanya bersama cewek-cewek kencannya, tapi Inah mempunyai nilai plus. Di samping Inah cuma seorang tukang jamu, tapi dalam memelihara tubuh tidaklah kalah bersama cewek kuliahan, Kulit Inah putih bersih bersama bulu-bulu halus di sekujut tubuhnya, ketiak yang tidak dicukur tapi rapi berikan kesan tidak jorok, sementara bulu kemaluan yang lebat hingga ke belakang.

Anton terhenyak memandang Inah terbangun dari kulumannya di senjata Anton. “Kenapa mbak?” tanya Aton, “Pegel mas mulutku, habis gede banget sih senjatanya” senyum Inah malu-malu. “Oke, sekarang mbak tiduran, aku masukin ya senjataku ke pepek embak” kata Anton. Tanpa harus menjawab, Inah merebahkan tubuhnya menempatkan posisi, sesudah itu Anton menjadi menusukkan senjatanya kedalam kenikmatan Inah.

“Auuu… pelan-pelan ya masss… masukinnya… maklum dah lama gak di pake?” meringis Inah merasakan moncong senjata Anton memasuki lubang pepeknya. Setelah di rasa memadai masuk dan sesuaikan di dalam lobang kenikmatan Inah, mulailah Anton memaju-mundurkan senjatanya.

“Ssshhh… enaaak masss… terusss… yang dalammm masss…”erang Inah keenakan. Anton menjadi berkeringat, meskipun hawa di kamar sesungguhnya memadai dingin, bisa saja karena jamu yang diminum tadi sudah bereaksi.

“Gila nih lobangnya mbak… adikku kamu jepit pake apa sih mbak” kata Anton disela aktifitasnya memaju mundurkan senjatanya,

“Ah… mas Anton ini lho.. sempet-sempetnya bercanda… enggak kok mas… barangku enggak ada alatnya… semata-mata sanggup njepit aja” bangga Inah.

“Ini yang dinamakan orang ‘Empot Ayam’ ramuan Madura… khan ada jamunya terhitung mbak” kata Anton.

“Iya mas… aku rajin minum juga… semata-mata gak tau namanya apa… soalnya itu jamu warisan nenekku yang sesungguhnya masih ada keturunan Madura…” jawab Inah sembari merasakan sensasi kembali.

“Accchhh… masss… aku moo pippiisss lagiii… aahhh…” untuk ke-2 kalinya Inah melenguh panjang, tandanya sudah hingga orgasme nya yang kedua.

Dijepitnya pinggang Anton… dipeluknya dada Anton, seolah berkenan melumat tubuh kurus Anton, Anton sedikit meringis merasakan jepitan kaki Inah dan pelukan tangan Inah di tubuhnya, tapi Anton menyadari bakal kenikmatan Inah, maka dibiarkannya wanita itu menjepit tubuhnya. Setelah lebih dari satu sementara Anton berikan sementara untuk Inah mengembalikan nafas liarnya, ia berinisiatif untuk merubah gaya, disuruhnya Inah untuk nungging membelakanginya, Anton melakukan dogy style. Inipun sensasi lain yang dirasakan Inah, baru bersama Anton ini ia merasakan indahnya persetubuhan.

Anton pun merasakan sensasi lain dari jepitan lubang Inah, bersama posisi ini, lubang kemaluan Inah semakin dirasakan sempit, sedikit mengalami susah bagi Anton untuk memaju-mundurkan senjatanya, meskipun lubang Inah sudah sedemikian basahnya akibat orgasme Inah tadi.

Tangan Anton memegang pinggul Inah, tetapi Inah memeluk bantal sembari mengerang kenikmatan,

“tusuk yang dalammm… masss… ssshhh….

Akhirnya Anton memacu semakin cepat bersama tujuan untuk mencapai puncak kenikmatan bersamaan, kali ini. “Masss… pippiiisss… kembali nihhh akuuu…” desak Inah,

“sabar sayang… mas terhitung berkenan terlihat nihhh… ayuuukkk… aaahhh… Naaahhh” lenguh Anton. demikianlah terhitung Inah yang semakin liar memeluk dan juga menggigit sarung Aton,

“aaacchh… emmmhhh… enghhh… masss…”

Keduanya terkapar di kasur bersama deru nafas yang saling berlomba, Inah memeluk Anton, Anton membelai rambut lurus Inah. Mereka saling mendekap, berpagutan, disela deru nafas mereka berdua, hujan deras di luar. Tetapi di dalam kamar sudah terjadi kehangatan yang dahsyat. “Mbak, gimana rasannya bersama tipe kayak barusan tadi?” tanya Anton mengawali pembicaraan.

“Sungguh mas, baru kali ini aku merasakannya dan ternyata luar biasa, seperti ingin mengulang terus dan terus” jawab lugu Inah.

“ha… ha… ha… kayak iklan aja nih…” gelak Anton.

“Kalo mas Anton sudah berapa cewek yang mas Anton puasin?” selidik Inah sembari memainkan puting susu Anton,

“Hemm… berapa ya…” jawab Anton seolah berpikir,

“tau ah… saking banyaknya”. “dasar laki-laki buaya” geram Inah sembari mencubit dada Anton.

“Trus… umumnya cewek-cewek itu terhitung puas mas…?” tanya Inah sedikit cemburu,

“seperti jawabanmu seumpama kamu di tanya sama orang, pasti jawabannya… Luar Biasaaa…” jawab Anton geli sembari mencubit mesra hidung Inah.

“Mas Anton gak miliki cewek yang diseriusin ya?” kejar Inah lagi, “mana ada yang sanggup sungguh-sungguh bersama aku… umumnya cewek yang deket sama aku terhitung paling-paling minta dipuasin nafsunya” elak Anton.

“Nakal ya mas Anton ini…” gemes Inah sembari mencubit senjata Anton.

“Ha… ha… ha… sesungguhnya itu yang mereka inginkan.. umumnya mereka nggak kangen sama aku,,, tapi kangen sama burungku… ha.. ha… ha… canda Anton sambil terkekeh renyah.

“tapi suatu sementara nanti… pasti lah aku cari pendamping yang setia… bisa saja seperti kamu mbak… tak sekedar manis, putih, pandai memijit dan piawai dibidang jepit-menjepit…” aku Anton sembari memeluk dan mengelitik payudara Inah.

“Gombal…” jawab Inah sembari berusaha membebaskan diri dari dekapan kelitikan Anton yang sengaja menyenggol payudaranya.

“Mas… aku ke kamar mandi pernah ya, lengket rasa sekujur tubuh nih… pinjam handuknya boleh mas? tanya Inah sembari bangkit menuju kamar mandi, “Tuh di depan kamar mandi… handukku warna merah” jawab Anton. DAFTAR ID PRO > KLIK < 


Memang dianggap Anton bahwa jamu ramuan mbak Inah sesungguhnya terbukti khasiatnya, Anton menjadi cairan yang dikeluarkannya begitu banyak dan kental, dan juga pegal-pegal di badannya seketika hilang tak dirasa. Entah membayangkan sensasi apa yang ada dalam tubuh Inah, Anton menjadi senjatanya bangkit berdiri kembali, gila nih jamu… dah minta pembagian kembali adik gua.

Anton bangkit dari tidurannya dihampirinya Inah yang sedang berada di kamar mandi,

“lho… kok gak ditutup pintunya mbak?” tanya Aton geli dan memandang Inah sedang jongkok mengguyur air di sekujur tubuh mulusnya.

“Katanya gak ada orang… makanya gak aku tutup pintunya, lho… kok sudah mengacung kembali mas senjatanya?” goda Inah sembari memandang kemaluan Anton yang tegak berdiri.

“Iya nih… tanggung jawab lho mbak… karena jamunya nih… adikku minta pembagian lagi” protes Anton.

“Aduh kacian… sini-sini mbak angetin…” bujuk Inah sembari mencapai kemaluan Anton dan segera dikulumnya.

“Ahhh… sssttt… sedap mbak” lenguh Anton sembari mengelus rambut Inah, slruuup… slruup… ck..ck..ck.. bunyi mulut Inah terganjal kemaluan Anton.

Setelah lebih dari satu sementara dirasa memadai oleh Anton, dipegangnya pundak Inah, dibimbingnya Inah untuk berdiri, sesudah itu diputarnya tubuh Inah membelakanginya, bersama tubuh basah Inah, Anton memeluk Inah dari belakang. Dicumbunya leher wanita itu dan dijilatnya rambut kalong Inah, sementara ke-2 tangannya menyusup dari bawah ketiak Inah dan menuju ke-2 bukit kembar Inah.

Inah menjadi tersanjung, diangkatnya ke-2 tangannya dan dipegangnya kepala Anton sembari melenguh kegelian “Masss… ennaaakk… ssshhh… geliii masss…” Puting susu Inah mengencang, mengeras disela jemari Anton. Dia sesungguhnya Laki-laki hebat yang sanggup memanjakan wanita kagum hati Inah serasa melambung ke langit ke tujuh belas… “Mbak… cobalah membungkuk sedikit… pegangan di bibir bak mandi… kakinya direnggangkan sedikit ya sayang” pinta Anton yang dituruti Inah bersama sedikit bingung. Kemudian Anton jongkok di belakang Inah, ke-2 tangan Anton meraba pantat Inah dan membelahnya seperti membelah durian tapi perlahan bersama perasaan.

Kemudian Inah menjerit kecil, sehabis dirasa ada benda basah tapi hangat menyentuh lubang duburnya, ditengoknya kebelakang, ternyata Anton sedang bermain lidah di lubang duburnya. Inah kaget, tapi menikmati sensasi lain yang tak kalah luar biasanya, Inah menjadi geli yang tidak tertahan tapi nikmat, bersama tidak sengaja Inah menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan karena kegelian.

Ceplak… cepluk… bunyi lidah Anton menjilati lubang dubur Inah yang diselingi turun ke arah lubang kenikmatan Inah yang sudah terlanjur banjir. Tanpa di menyadari Anton, tangan kanan Inah bergeser ke selangkangannya sendiri, dipijitnya klitoris Inah sendiri.

“Masss… enaakk… masss… emmmhhh… ” erang Inah sembari menggigit bibir. Kemudian Anton bangkit berdiri, diciumnya bibir Inah dari samping sembari berkata

“Enak mbak… emmmhhh…”, “Enaakkk masss… jawab Inah malas. Kemudian Anton kembali ke belakang Inah,

perlahan tapi pasti dimasukkannya kemaluan Anton ke lobang kenikmatan Inah.

“Ssshhh… masss… yang dalaaamm yahhh…” rintih Inah masih bersama posisi 1/2 terbungkuk.

Plok… plok… plok… bunyi nada maju mundur Anton memompa yang berkenaan pantat Inah sebabkan keadaan menjadi semakin panas., sekarang bersama bercampurnya lend*r kenikmatan Inah dan air dari bak mandi, dirasa Anton tidak begitu susah seperti tadi di kamar tidur.

Hujan di luar kosan masih deras… agar erangan Inah tidak begitu terdengar, kalah bersama derasnya hujan yang turun di atas kamar mandi yg tertutup seng. Irama jatuhnya hujan di atas seng, teriakan nikmat Inah semakin menaikkan irama Anton dalam memacu tusukan senjatanya terhadap lubang kenikmatan Inah, Inah semakin liar bergoyang, ke kiri ke kanan, ke atas bawah, kadang sebabkan gerakan memutar seolah memeras kejantanan Anton.

“Masss… Inahhh nyampeee lagiii masss… ssshhh… aaahhh” lenguh Inah mencapai klimaksnya. Anton menarik erat pinggul Inah, didorongkannya kemaluan Anton ke dasar lubang Inah semakin dalam sembari ditahan di dalamnya sembari dirasakan lebih dari satu kedutan liang kenikmatan Inah yang berkontrasi meluapkan gairah orgasmenya, sangat empot ayam nih cewek… sorak hati Anton, Inah KO keempat kalinya.

Dicabutnya batang kemaluan Anton, dan sekarang posisi bergantian. Anton duduk di tepi bak mandi, sementara Inah jongkok di hadapan Anton. Kemudian Inah memasukkan kemaluan Anton ke dalam mulutnya,

mengulumnya dan memaju-mundurkan batang kemaluan Anton. Inah marasa keadaan Anton tak lama kembali mendekati klimaks, Inah berkenan berikan layanan bersama selamanya mengulum kemaluan Anton dan juga membebaskan Anton mengeluarkan orgasmenya dalam mulutnya, dan “achhh… ssstttt… mmmbaaakhh… aagghhh… aku keluaaarrr…” dengus Anton mencapai puncak, sembari memegang kepala Inah dan juga mengacak-acak rambutnya, senjata Anton selamanya di dalam mulut Inah, hingga tetes mani terakhir dan segera ditelannya.

Sensasi luar biasa dirasakan Anton sembari memandang bagaimana Inah mengulum penisnya seperti seorang anak kecil mendapat sepotong es krim kesukaannya. Setelah lebih dari satu saat, di sela nafas yang muali teratur, Anton menanyakan kepada Inah “Enak mbak…?”, “he-eh… asin tapi gurih mas…” senyum Inah puas sembari membersihkan sisa sisa lend*r bersama lidahnya di kira-kira batang kemaluan Anton dan menelannya.

“Baru ini pula aku merasakan sperma laki-laki, ternyata gurih ya mas ya…” pernyataan Inah sembari terus mengelus dan memijit batang kemaluan Anton. Setelah selesai keduanya membasahkan tubuh masing, saling menggosok, meraba dan membersihkan cairan sabunnya.

Keluar dari kamar mandi, Inah menuju meja rias di dalam kamar Anton, sementara Anton terjadi ke dapur fungsi memasak air untuk sebabkan teh manis hangat. Sesekali diliriknya Inah dari dapur ke dalam kamar, Inah duduk membelakangi Anton sembari mengeringkan rambut bersama handuk tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh sintalnya. Melihat pemandangan itu, Anton terpana dari tempatnya sebabkan teh, gila perfect banget tuh body batin hatinya, orang gak bakal nyangka bahwa tukang jamu miliki body yang aduhai, bahkan barangnya… sanggup memijit pula… bisa saja karena tiap-tiap hari terjadi dan mempunyai beban di punggung, yang tanpa disadari sudah merupakan olah raga sex… masih dalam pikiran Anton memandang pemandangan Inah dari belakang.

“Mbak… nih teh hangatnya… aku semata-mata membuat satu membuat kita berdua ya… biar malah mesra… bukannya pelit lho” canda Anton sembari mempunyai teh hangat yang ditempatkan di atas meja rias. Anton mencapai kursi dan duduk di sebelah meja rias yang sedang dipakai Inah untuk mengeringkan rambut, dipandanginya Inah dari sisinya duduk. “Ah… mas… kok ngeliatin Inah terus sih… Inah kan malu…” celoteh Inah manja sembari mencubit pipi Anton. Anton cuma tersenyum dan mendekati bibir wanita itu dan juga mengecupnya bersama mesra. Ketika Inah menyisir rambutnya, otomatis siku tangannya terangkat ke atas dan memperlihatkan ketiak Inah yang ditumbuhi bulu tapi tidak lebat agar tidak berikan kesan jorok. Anton mencapai ketiak Inah, dielusnya bulu-bulunya, “gak pernah dicukur ya mbak”. “Mana sempet mas… gak ada sementara ngurusin diri” bela Inah.

Anton kembali menyimak Inah menyisir rambutnya, begitu pandangan Anton ke bawah, dilihatnya payudara Indah bergoyang ke kiri kanan, menaikkan pemandangan menjadi panas kembali. “Mbak… adikku bangkit kembali nih…” bisik Anton sembari berikan kode liwat tatapannya ke arah kemaluannya. “Ihhhh… tuh kan… baru yakin sama ramuan jamuku…” gemas Inah sembari mencubit dan mengelus kemaluan Anton. “Gimana kalo berkenan minta pembagian lagi” harap Anton, “Aduh… khan sudah mandi mas, lagian aku lelah banget nih sampe berasa copot seluruh tulangku mas” elak Inah. Tetapi Inah bangkit dan berjongkok di depan Anton, “Ya deh… ini tanggung jawabku… aku kulum kembali aja ya mas… kasian klo gak sanggup tersalur” jawab Inah berikan solusi.

Anton cuma tersenyum sembari memandang kembali Inah mengulum kemaluannya, dielusnya rambut Inah. Inah sesungguhnya cepat bisa, sedotannya sebabkan Anton tidak sanggup bertahan lama, dan sesungguhnya ini yang dimaui Anton, karena ia berpikir seumpama cuma dia yang bermain tidaklah sangat nyaman. “Mbak… achhh…” jerit Anton mengiringi orgasmenya kali ini yang seperti tadi segera ditelan habis Inah.

“Kok cepet keluarnya sekarang mas?” tanya Inah tersenyum. “Sengaja, habis klo main sendiri gak sedap lah rasanya, makanya aku kosentrasi agar cepet keluar” bela Anton. “He… he… he… khan masih ada besok kembali mas…” kata Inah sembari membersihkan kemaluan Anton bersama tisu yang berada di atas meja tersebut, sembari mencium mesra pipi Anton.

“Udah… tidur sini aja mbak, aku kelonin deh” rayu Anton memandang Inah menjadi memakai bra kain dan kebayanya sehabis dia membersihkan diri di kamar mandi sekali lagi. “Endak ah mas… gak sedap sama kawan kos saya” jawab Inah mengelak ajakan Anton. “Tapi besok… kalo aku kangen sama mas.. boleh ya aku main ke sini…” pinta Inah memelas, “Oke aja… kalo tepat aku ada di kosan, umumnya sih puas keluyuran” jawab Anton seenaknya. “Sekarang aku tinggalin kembali jamunya ya mas, siapa tau ada yang perlu kehangatan mas Anton kembali he… he… he…” canda Inah sehabis dia selesai memakai seluruh pakaiannya sembari mengangkat bakul berisi jamunya.

“Berapa seutuhnya mbak…?” tanya Anton sembari terhubung dompet untuk membayarnya. “Sudah mas… aku kasih gratis… soalnya aku sudah sanggup kepuasan yang selama ini gak aku dapetin” tolak Inah halus, “Yang bener nih mbak… mosok dah disuruh ngerokin sama ngelonin… kok gak berkenan di kasih duit sih?” protes Anton. “Alaaahh… aku tau kantong Mahasiswa… paling terhitung recehan doang isinya… ha… becanda lho mas… sungguh-sungguh kok mas… aku yang menerima kasih… mas Anton sanggup menyadari perasaan wanita, salam aja ya mas membuat temen kencan mas yang lain” goda Inah sembari pamitan terlihat kamar.

“Eh… sebentar mbak!” seru Anton sehabis memakai kain sarungnya kembali, Inah berhenti, sesudah itu Anton mendekati Inah memeluk wanita itu dan berikan kecupan lembut di bibir Inah sembari menyelipkan sejumlah duit ke dalam bra Inah dan berbicara “Sekali ini jangan menolak ya mbak… aku bersalah jikalau tidak berikan ini mohon jangan anggap sebagai imbalan jasa… tapi rasa sayang aku dan sebagai rasa menerima kasih membuat embak”.

Inah terpaku dan menatap Anton, tak dinyananya bahwa Laki-laki ini tak sekedar ganteng, pemberi kepuasan dan baik hati terhadap wanita, ah… seandainya…. Inah tidak sanggup melanjutkan impiannya yang dianggap tidak mungkin bagi dirinya, tak menjadi menetes air mata harunya. Anton mengusap air mata Inah dan mengecup kening Inah, “Sudah ya sayang… gak usah nangis… semoga besok kita sanggup lebih panas lagi” goda Anton menghibur Inah. “Ma kasih ya mas” pamit Inah meninggalkan kos-kosan Anton.

Anton terpaku membebaskan kepergian Inah, hujan baru saja berhenti, sementara memperlihatkan pukul sepuluh malam, gila dari jam lima sore tadi kita berdua main bathin Anton. Tetapi Anton menjadi klo tubuhnya dalam keadaan puncak, dahsyat sekali ramuan mbak jamu tadi ya pikir Anton, besok jikalau bertemu, aku bakal minta kembali ah, pikir Anton sembari menutup pintu kos-kosan dan kembali ke kamarnya untuk tidur.