Puas Bermain Dengan Asih Dan Ina // Part 2


RAKSASA POKER Anton merebahkan badannya telungkup di atas kasur tanpa dipan, sementara Inah mengambil minyak gosok dan juga duit benggol untuk kerokan. “Mbak, jangan pake minyak ah…

RAKSASAQIU SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   

aku gak tahan bau dan panasnya” cegah Anton. “Trus pake apa dong mas? tanya Inah bingung.

BANDAR DOMINO99 | AGEN BANDARQ | AGEN POKER | DOMINO ONLINE | AGEN DOMINO

Anton berdiri menuju meja rias, diambilnya sebotol Hand Body dan di berikannya kepada Inah. “Pake ini aja mbak.. wangi lagi” senyum Anton.


Kemudian Inah mengambil posisi duduk di sebelah Anton, disingkapkannya kain batik yg dikenakannya supaya tampaklah betis mulus Inah. Wah mulus juga, mana banyak bulu halusnya nih tukang jamu sorak hati Anton.

Tangan yang melekat di punggung Anton terhitung dirasa lembut dan halus oleh Anton. “Umurnya berapa mbak” tanya Anton memecah keheningan mereka berdua. “Dua enam bulan besok mas” jawab Inah. “Beda dua tahun di atas dong bersama dengan saya” kata Anton sembari meringis kesakitan. “udah tempat tinggal tangga mbak?” kejar Anton. “Pisahan mas, suami aku kabur gak tanggung jawab” kata Ginah. “Lho kenapa?” sambung Anton penasaran.

“Kecantol janda sebelah kampung” ungkap Inah cuek.

“Waduh… laki-laki bodoh tuh… sela Anton sembarangan.

“Emangnya kenapa mas?” penasaran Inah.

“Gimana gak bodoh, punya istri manis, putih dan sintal kayak gini kok di sia-siakan” rayu Anton.

“Ah… mas Anton dapat aja” jawab Inah masuk dalam perangkap Anton, sembari mencubit pinggang lelaki itu.

“Eh… geli ah mbak…” jerit Anton sedikit mengelinjang.

“Laki-laki kok gelian… ceweknya cantik tuh…” goda Inah.

“Nggak hanya cantik… tetapi banyak terhitung mbak” sombong Anton.

“Huh… dasar… laki-laki…” cemberut Inah.

“Mbak… tadi jamunya apa aja?” tanya Anton sesudah itu sehabis adegan kerokan di punggungnya selesai.

“Kalo membuat keadaan mas Anton sekarang… minum Sehat Lelaki” jawab Inah, “Kasiatnya apa aja mbak?” kejar Anton. “Selain ngilangin masuk angin, supaya badan gak lemes dan gampang loyo” jawab Inah.

“Mudah loyo…? maksudnya apa…? tanya Anton kemudian.

“Ih masnya ini lho… kayak gak tau aja…” jawab Inah malu-malu. Anton memutar badannya, saat ini dia telentang menghadap Inah yang masih duduk terpaku,

“Sungguh… aku gak tau mbak” aku Anton.

Inah memalingkan wajahnya, terlihat semu merah di pipi Inah yang menambah manis rona wajahnya.

“Itu lho… membuat pasangan suami istri kalo sudi jalankan hubungan…” jawab Inah tersipu.

“Hubungan…? pertalian apa…?” tanya Anton bersama dengan wajah bloonnya.

“Ahhh… mas Anton ini lho… ya pertalian suami istri” jawab Inah sembari mencubit lengan Anton.

“Bagi yang punya pasangan… kalo kayak aku gimana…? siapa pasanganku ya…?” kerling Anton menantang Inah. Inah sendiri menyingkirkan mukanya, tetapi Anton menangkap semu merah di wajah Inah.

Inah bangkit mengambil bakul yang tertinggal di area tamu, sekembalinya dia bertanya kembali kepada Anton,

“Jadi nggak… jamu Sehat Lelakinya mas?” tanyanya kepada Anton.

“Sini dulu dong…” jawab Anton sembari tangannya mempersilahkan Inah untuk duduk di sampingnya lagi.

“Kalo aku jadi minum… konsisten bereaksi… membuat membuktikannya gimana kalo jamu buatan mbak itu terlalu berkhasiat” goda Anton.

“Ya serupa pacarnya dong… maunya serupa sapa?” pancing Inah gantian.

“Gimana kalo serupa mbak aja… soalnya pacar yang mana terhitung bingung aku” tembak Anton sekenanya. DAFTAR ID PRO > KLIK <


“Jangan ah… entar kedengeran serupa tetangga lho” jawab Inah tanpa suara penolakan.

Kemudian Inah mengambil botol dari bakul dan meracik ramuan Sehat Lelaki. Anton bangkit dari tidurnya sesudah itu mendekati area Inah duduk, dibelainya kepala gadis itu bersama dengan lembut.

“Jangan mas… genit ah… entar aku teriak lho” ancam Inah jinak-jinak merpati.

“Teriak aja… paling gak ada yang keluar… orang ujan-ujan begini… pada males orang keluar” tantang Aton. Kemudian belaian Anton turun ke pipi Inah konsisten ke leher jenjangnya.

“Masss… geli ahh.. entar tumpah nih gelasnya” ancam Inah.

“Kamu cantik lho mbak… kok bodoh sekali ya bekas suamimu itu” rayu Anton,

“Soalnya janda itu kaya mas… sementara aku kan cuma orang desa yang gak punya apa-apa” jawab Inah sembari memberikan gelas memuat ramuan jamu kepada Anton.

“Nih… minum dulu ramuannya… ditanggung ces pleng…” jawab Inah tanpa di sadari.

“Hee… berarti sudi dong ngebuktiin khasiatnya” tembak Anton sehabis meminum habis ramuan jamu tersebut.

“Eh… ya nggak gitu… nyobanya gak serupa aku” elak Inah menjadi di tembak Anton.

“Sekarang pijitin bagian depannya dong mbak, khan gak imbang kalo cuma belakangnya aja yang di garap” pinta Anton. “Depannya minta di kerok sekalian mas?” tanya Inah. “Nggak usah di kerok… pijitin aja” kata Anton.

Pijitan Inah di dada Anton, kembali menyebabkan pemberontakan adiknya di dalam sarung. Tangan kanan Anton kembali meraba pipi halus Inah, wanita itu terdiam. Kemudian Anton menelusuri rabaan menjadi turun ke leher Inah, perlahan tetapi pasti dibukanya kancing kebaya Inah, Inah menoleh ke samping, dadanya bergemuruh, dirasakan semua bulu kuduknya berdiri, sensasi ini sudah lama ia rindukan, semenjak bercerai bersama dengan suaminya setahun lalu, tidak ada tangan laki-laki lain yang menyentuh tubuh sintalnya.

Anton merasakan deru nafas Inah yang menjadi tidak teratur, dalam hati Anton bersorak… kena lo sekarang…! Dirabanya bukit kembar satu persatu. Anton tidak sudi terburu-buru, diraba bersama dengan bra yang masih terpasang. Rona wajah Inah makin lama nyata, “Masss… jaaangaannnn… mass… nanti dicermati orang” erang Inah sembari mencegah gejolak dalam dirinya tanpa menepis tangan Anton. Anton tidak menjawab, perlahan di bukanya kebaya Inah menjadi dari pundak.

Inah mencoba untuk mencegah tangan Anton, sesudah itu Anton bangkit dari tidurannya, Inah memiringkan wajahnya seolah cemas berhadapan bersama dengan wajah Anton yang tinggal sebagian senti kembali darinya. Anton meraih dagu wanita itu, perlahan dipalingkan wajah Inah tepat dihadapannya, sesudah itu Anton mendekatkan bibirnya mengecup bibir Inah, Wanita itu menolak, tetapi cuma sesaat, ke dua tangan Anton memegang pundak wanita itu dan dilanjutkannya mengecup bibirnya, bergetar bibir wanita itu dirasa menambah nafsu Anton, perlahan dibukanya bibir itu dan dikulumnya lidah wanita itu, terlihat Inah menjadi menikmatinya sambil memejamkan mata.

Kedua tangan Anton turunkan kebaya yang dipakai Inah, tanpa perlawanan lagi. Sembari mereka saling berpagutan, dicarinya pengait bra di punggung wanita itu dan sukses dibukanya, perlahan diturunkannya tali di atas pundaknya ke samping dan turun ke bawah. Anton terhenyak tanpa melepas pagutannya, bukit kembar wanita itu masih kencang, bulat dan mengacung putingnya menantang, sesudah itu dirabanya ke dua bukit itu disertai erangan kecil Inah.

“Masss… aku takuuutt…” erang Inah.

“Sssstttt… enggak pa pa kok… nikmatin aja ya sayang” ujar Anton menenangkan wanita itu.

Kemudian Anton mengambil tangan kiri Inah yang sesudah itu diletakkannya di atas sarung tepat di senjata Anton.

“Mass… gak pake celana dalam ya…?” tanya Ginah sembari mengelusnya dari luar sarung.

Anton cuma tersenyum, sesudah itu diapun mengupayakan untuk melepas kain yang masih dikenakan Inah. Setelah kain terlepas… Anton tidak dapat mencegah gelinya, “Kamu terhitung gak pake daleman ya…? tanya Anton bersama dengan geli.

“Memang umumnya tukang jamu itu tidak Mengenakan celana dalam mas” jawab Ginah ketus, giliran Anton yang kaget dan melongo… Gila!!! Perlahan ditatapnya wajah Inah, perlahan tetapi pasti tangan Anton merenguh bahu wanita itu dan perlahan-lahan merebahkannya ke lantai.

Anton menjadi meraba ke dua bukit kembar Inah, sementara wanita itu memalingkan wajahnya mencegah tatapan Anton, di pegangnya tangan Anton tetapi tidak punya niat untuk melarang. Anton sesungguhnya pandai memanjakan wanita, biarpun dirasa tubuh wanita itu sedikit berbau ramuan jamu, tidak kurangi nafsu Anton untuk sesudah itu menjilatinya. Dimulai dari leher jenjang wanita itu, sesudah itu perlahan turun pada dua bukit kembar, kembali lidah Anton menyelusuri gundukan bukit itu satu persatu yang diakhiri bersama dengan sedotan diujung putingnya.

Terdengar erangan wanita layaknya kepedesan, ke dua tangannya sudah berubah ke rambut gondrong Aton bersama dengan sedikit jambakan. Lidah Anton meneruskan gerilyanya, turun ke arah pusar Inah, terlihat Inah demikian menikmatinya, kesibukan yang tidak dulu dilaksanakan suaminya dahulu, karena suaminya cuma memaksa misalnya mendambakan dipenuhi keperluan sahwatnya tanpa Inah merasakan nikmatnya terjalin insan tidak serupa jenis.