Pembantu Yang Bercumbu Dengan Anak Majikan // Part 1


RAKSASA POKER Lima bulan udah saya bekerja sebagai seorang pembantu rumahtangga di keluarga Pak Alex, Aku sesungguhnya bukan seorang yang makan pengetahuan bertumpuk, hanya lulusan SD saja di kampungku.

RAKSASAQIU SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   

Tetapi dikarenakan niatku untuk bekerja sesungguhnya udah tidak bisa ditahan lagi, selanjutnya saya pergi ke kota jakarta, dan untung bisa beroleh majikan yang baik dan bisa menyimak

BANDAR DOMINO99 | AGEN BANDARQ | AGEN POKER | DOMINO ONLINE | AGEN DOMINO

kesejahteraanku.Ibu Alex pernah berkata kepadaku bahwa beliau menerimaku jadi pembantu rumahtangga dirumahnya lantaran usiaku yang relatif tetap muda.


Beliau tak tega melihatku luntang-lantung di kota besar ini. “Jangan-jangan anda nanti malah dijadikan wanita panggilan oleh para calo WTS yang tidak bertanggung jawab.” Itulah yang diucapkan beliau kepadaku.Usiaku sesungguhnya tetap 18 th. dan kadang waktu saya memahami bahwa saya sesungguhnya lumayan cantik, tidak sama dengan para gadis desa di kampungku. Pantas saja terkecuali Ibu Alex berkata begitu terhadapku.Namun akhir-akhir ini ada sesuatu yang mengganggu pikiranku, yakni mengenai perlakuan anak majikanku Mas Rizky terhadapku. Mas Rizky adalah anak bungsu keluarga Bapak Alex. Dia tetap kuliah di semester 4, namun ke dua kakaknya udah berkeluarga. Mas Rizky baik dan sopan terhadapku, hingga saya jadi aga segan sekiranya berada di dekatnya. Sepertinya ada sesuatu yang bergetar di hatiku. Jika saya ke pasar, Mas Rizky tak segan untuk mengantarkanku.Bahkan dikala naik mobil saya tidak diperbolehkan duduk di jok belakang, perlu di sampingnya. Ahh.. Aku selalu jadi jadi tak Enak. Pernah suatu malam kurang lebih pukul 20.00, Mas Rizky hendak membikin mie instan di dapur, saya bergegas menyita alih dengan alasan bahwa yang dilakukannya terhadap dasarnya adalah tugas dan kewajibanku untuk bisa melayani majikanku. Tetapi yang berlangsung Mas Rizky justru berkata kepadaku, “Nggak usah, Wenny. Biar saya saja, ngga apa-apa kok..”“Nggak.. nggak apa-apa kok, Mas”, jawabku tersipu sembari menyalakan kompor gas.Tiba-tiba Mas Rizky menyentuh pundakku. Dengan lirih dia berucap, “Kamu udah capek seharian bekerja, Wenny. Tidurlah, besok anda perlu bangun khan..”Aku hanya tertunduk tanpa bisa berbuat apa-apa. Mas Rizky sesudah itu melanjutkan memasak. Namun saya selalu termangu di sudut dapur. Hingga lagi Mas Rizky menegurku.“Wenny, kenapa belum masuk ke kamarmu. Nanti terkecuali anda kecapekan dan terus sakit, yang sibuk kan kita juga. Sudahlah, saya bisa matang sendiri terkecuali hanya sebatas bikin mie layaknya ini.”Belum termasuk habis ingatanku kala kita berdua sedang nonton televisi di area tengah, namun Bapak dan Ibu Alex sedang tidak berada di rumah. Entah kenapa tiba-tiba Mas Rizky memandangiku dengan lembut. Pandangannya membuatku jadi tidak benar tingkah.“Kamu cantik, Wenny.” DAFTAR ID PRO > KLIK <


Aku hanya tersipu dan berucap,

“Teman-teman Mas Rizky di universitas kan lebih cantik-cantik, lebih-lebih mereka kan orang-orang kaya dan pandai.”

“Tapi anda lain, Wenny. Pernah tidak anda berkhayal terkecuali suatu kala ada anak majikan mencintai pembantu rumahtangga-nya sendiri?”

“Ah.. Mas Rizky ini ada-ada saja. Mana ada cerita layaknya itu”, jawabku.

“Kalau sesungguhnya ada, bagaimana?”

“Iya.. nggak memahami deh, Mas.”Kata-katanya itu yang hingga kala ini membuatku selalu gelisah. Apa benar yang dikatakan oleh Mas Rizky bahwa ia mencintaiku? Bukankah dia anak majikanku yang pastinya orang kaya dan terhormat, namun saya hanya seorang pembantu rumahtangga? Ah, pertanyaan itu selalu terngiang di benakku.Tibalah saya memasuki bulan ke tujuh jaman kerjaku. Sore ini cuaca sesungguhnya sedang hujan meski tak seberapa lebat. Mobil Mas Rizky memasuki garasi. Kulihat pemuda ini berlari menuju beranda rumah. Aku bergegas menghampirinya dengan membawa handuk untuk menyeka tubuhnya.“Bapak belum pulang?” tanyanya padaku.

“Belum, Mas.”

“Ibu.. pergi..?”

“Ke tempat tinggal Bude Mami, begitu ibu bilang.”

Mas Rizky yang sedang duduk di sofa area sedang kulihat tetap tak berhenti menyeka kepalanya sembari membuka bajunya yang rada basah. Aku yang udah menyiapkan segelas kopi susu panas menghampirinya. Saat saya nyaris meninggalkan area tengah, kudengar Mas Rizky memanggilku. Kembali saya menghampirinya.