Memuaskan Nafsu Ibu Kepala Sekolah // Part 2


RAKSASAPOKER Dia agak tersipu sehabis melihatku cuma memakai celana dalam. 

RAKSASAQIU SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Aku mampu melihat dari ujung matanya dia melirik terhadap selangkanganku yang disitu terlihat tercetak mengetahui penisku yang udah tegang dari tadi seakan meronta keluar.

“Sana mandi di dalam tetap ada airnya kok” Dia menyambung. “Iya Bu Nia” jawabku sambil masuk ke bilik.


Perasaanku puas mampu tunjukkan kejantananku terhadap wanita paruh baya ini. Tapi hasratku untuk bertindak lebih jauh tambah berkecamuk. 

Kebetulan sekali jam tangan Bu Nia tertinggal di dalam bilik bambu ini. “Bu Nia jam tangan Ibu tertinggal nih.” Aku bicara kepadanya dari dalam bilik. Aku menanti Bu Nia masuk ke dalam bilik dan penis celana dalamku tambah tidak mampu berisi penisku yang tambah membesar. “Tolong ambikan Bet masak saya wajib masuk kan anda udah telanjang to” Bu Nia bicara dari luar bilik. “Ah Bu Nia nggak berkenan saya nggak masuk ndak saya ambilkan” Aku tambah berani menggodanya. “Ih anda kok tetap nakal to dari dulu” Dia berkata. “Pakai handuk dulu saya akan masuk” Dia menyambung. 

Semakin terbuka kesempatan mencari kepuasan hasratku yang tambah menggebu-gebu ini. Aku terlepas celan dalam ku hingga saya jadi telanjang bulat tanpa sehelai benang menanti Bu Nia masuk kedalam bilik. Bu Nia masuk kedalam bilik dan langsung setengah menjerit dia berkata, “Bet.. kamu.. nga.. nga.. pain” Pandangannya terbelalak melihat saya telanjang lebih-lebih melihat penisku mengacung bebas. “Itu Bu Nia jamnya ambil sendiri ya” Aku coba santai. Aku melihat mukanya yang merah padam tetapi matanya tadi melirik ke arah batang zakarku yang udah tegang. Dia melangkah menuju kearah jam tangannya yang tertinggal. Pikiran mesumku tambah menjadi-jadi maka bersama cepat saya tutup pintu bilik. Melihat tabiat itu Bu Nia kaget sambil menatapku dia berkata, “Bet apa-apaan ini”. “Maaf Bu Nia.. ta.. pi.. Ibu benar-benar menarik bagi saya” saya tambah berani tanpa memikirkan akibatnya. “Kamu.. udah gila ya..” 

Dia berkata. Belum sempat saya menjawab pertanyaannya dia lagi menyahut. “Aku udah menduga anda dari perihal tadi malam, tetapi anda wajib mengetahui bahwa Ibu udah bersuami dan lagi Ibu kan udah tua” Dia coba menyadarkan aku. “Tapi wajah dan tubuh Ibu tidak mencerminkan umur Ibu” Aku beralasan. “Apa udah kau peduli benar-benar” Dia menyahut. “Su.. dah Ibu” saya bicara tanpa pikir panjang. “Da.. sar.. kamu” Dia bicara lagi.Aku mendekat dan coba mencium bibirnya. Diluar dugaanku di tidak menghambat atau meronta tetapi sebaliknya dia menyongsong ciuman hangatku dan membalasnya. Ciuman kita tambah dalam lidah kita saling bertautan tanganku bergerilya menjamah buah dadanya yang sekal dan meremas-remas bokongnya. Tiba-tiba dia mengusahakan melepaskan melepaskan pelukan sambil berkata, “Sabar bet.. jangan benar-benar bernapsu” Dia mendorongku saya terduduk di pinggiran bak semen. 

Dia tetap berdiri sambil tangannya melepaskan satu persatu kancing bajunya. Perlahan dan tentu saya melihat dua bukit kembar yang tetap tampah sekal. Kini tinggal beliau cuma mengenakan kutang dan rok saya bangkit tetapi dia berkata, “Duduk dulu”. Aku lagi duduk sambil melihat dia melepaskan roknya. Setelah roknya terlepas dia melepaskan kutang dan mencopot celana dalamnya. Dan kini terpampang didepanku tubuh sintal yang saya angan-angankan. Aku bangkit lagi tetapi dia lagi berkata, “Bet.. saya puas bersama caramu menjeratku tetapi ini wajib jadi rahasia kita saja”. Dia bicara sambil menempatkan keliru satu kakinya diatas bibir bak semen itu. Dadaku tambah berdegub kencang melihat pemandangan indah ini. Selangkangannya ditumbuhi rambut keriting yang hitam indah sekali. “Tentu Bu Nia..” Aku menyahut. DAFTAR ID PRO PKV


Aku elus kakinya yang putih saya dekatkan wajahku dan menjadi menciumi betisnya sambil menjilatinya merambat naik ke atas. Lidahku menari diatas pahanya dan diselingi bersama sedotan-sedotan kecil. Sampailah saya terhadap hutan yang rimbun itu dan lidahku coba menyibak mencari lobang yang paling dicari para lelaki. Bilik bambu di sedang kebun jadi saksi pergumulan nafsu dua anak manusia yang dipisahkan oleh status dan usia. Aku jilati bibir vaginanya bersama penuh nafsu. Bu Nia mengerang menghambat kenikmatan yang melanda dirinya. Aku tak peduli bersama keadaannya saya tambah gila mempermainkan lidahku dalam lobang vaginanya. Tangan Bu Nia memegang erat-erat kepalaku dan menekan ke selangkangannya solah-olah mempersilahkan diriku untuk menelan barang bernilai miliknya. “Bet.. ka.. mu.. ma.. sih.. nakal.. seper.. ti.. dulu.. ah” Dia bicara sambil merintih menghambat nikmat. Tampaknya lututnya tidak mampu lagi bertahan. Beliau menarik kepalaku supaya saya menghentikan aktivitasku. 

Aku bangkit dan mendekatkan mukaku ke buah dadanya yang disitu tertempel buah anggur yang berwarna coklat muda tegang menantang. Aku sedoti semua permukaan payudaranya, saya hisap putingnya yang indah. Bu Nia terlihat merem-melek menikmati permainanku ini. Tanganku meremas-remas bokong indahnya dan jariku mencari lobang duburnya, sehabis ketemu saya mempermainkan jariku mengakibatkan tusukan-tusukan kecil dan mengobok-obok alat membuang air besarnya. Bu Nia mengerang-erang dan saya merasakan lobang anusnya meyempit keras seolah mendambakan menjepit jariku yang tertanam di dalamnya. Tampaknya Bu Nia mendambakan menyita inisiatif, dia melepaskan pelukanku. “Bet.. ber.. baring.. lah.. pa.. kai.. handuk.. mu.. untuk alas” Dia bicara kepadaku bersama nafas tersengal. Bagai kerbau ditusuk hidungnya saya jalankan apa kehendaknya. Aku berbaring bersama beralaskan handukku. Bu Nia berdiri mengangkang diatasku dan perlahan jongkok pas diatas kemaluanku yang mengacung keatas. 

Tangannya membimbing penisku untuk memasuki lobang kenikmatannya. Dan sehabis pas dia menekan kebawah sehingga.. bles.. keinginanku terlaksana untuk menikmati kehangatan benda yang terdapat di selangkangan wanita paruh baya ini. Aku merasakan dinding kemaluannya muncul cairan yang mempermudah penisku tertanam. Kepala Bu Nia terdongak keatas dan kulihat bibir bawahnya. Tangannya yang satu berpegangan terhadap pinggiran bak semen. Aku cuma mampu merem melek menghambat kenikmatan dari cengkeraman vaginanya. Nafas Bu Nia tambah memburu seiring bersama gerakan erotis yang dilakukannya naik turun diselingi bersama perputaran pantatnya. Aku melihat buah dadanya terguncang-guncang. Pemandangan yang indah sekali. 

Wanita paruh baya ini ternyata pandai bermain sex. Aku merasakan sensansi yang luar biasa. Rambutnya yang tetap basah itu jadi acak-acakan. Aku coba untuk bertahan supaya saya tidak kecolongan muncul khususnya dahulu. Gerakan erotis Bu Nia tambah cepat. “Bet.. uh.. Ibu.. ma.. u.. sam.. pai..” Dia bicara tersengal. Aku tidak menjawabnya, gerakannya tambah tidak tertata dan selanjutnya saya merasakan cengkeraman erat vaginanya, saya rasakan cairan yang mengalir mencukupi lobang vaginanya. Nafasnya tersengal dan beliau terkulai diatasku. Aku rasakan vaginanya yang tetap berdenyut. Aku usap punggung mantan guruku dan saya belai rambutnya yang terurai basah. Tubuhnya yang hangat melekat erat. “Bagai.. mana.. Bu Nia..” Aku berkata. “Ka.. mu.. hebat..” Bu Nia menjawab. Mendengar jawabannya saya menjadi sebagai seorang lelaki yang perkasa yang mampu membahagiakan seorang wanita. Perlahan beliau turun dari atas tubuhku, beliau mengetahui bahwa saya belum raih puncak. Dia berbaring disampingku, dia tersenyum kearahku.

Aku mendekatkan wajahku dan mencium mesra bibirnya. Setelah itu saya bangkit, saya melihat dia udah mengangkangkan kaki tampaklah kemaluannya yang basah merekah menanti benda tumpul yang saya punyai untuk masuk kedalamnya. Perlahan tetapi tentu saya arahkan benda kebanggaan para lelaki yang saya miliki. Dan.. bles.. masuklah penisku kedalam vaginanya, saya tekan dalam dalam hingga pangkal kemaluanku. Bibir Bu Nia terlihat terbuka merasakan kenikmatan yang kedua kalinya, saya tarik perlahan sesudah itu sesudah itu saya gerakan naik turun pantatku. Gerakanku tambah saya percepat supaya mengakibatkan suara-sura erotis. Aku kerahkan tenagaku untuk menyodok barang istimewa mantan guruku ini. Oh.. nikmat sekali seakan melayang. Aku rasakan darahku mengumpul di penisku seiring bersama gerakanku yang tambah saya percepat. Buah dadanya yang sekal indah putih terguncang-guncang karena sodokanku. 

Akhirnya saya tidak mampu lagi menghambat dan.. creet.. saya tancapkan dalam-dalam, saya semprotkan spermaku di dalam vaginanya. Melihat saya raih puncak Bu Nia melipat kakinya dan menekan pantatku erat-erat. Oh.. seakan saya terbang. Nikmat sekali.. saya rasakan sensasi yang indah sekali. Serasa tulangku terlolosi lemas sekali saya terkulai diatas tubuhnya. Dia tersenyum manja kearahku.Aku cium mesra bibirnya. Kami berbaring berdampingan. “Bu Nia.. Ibu tetap hebat.. kapan.. kita.. jalankan lagi” Aku bicara kepadanya. “Ih..”, Dia mencubit hidungku. “Nakal.. kamu..” Kami sesudah itu memakai pakaian lagi karena kita takut nanti kelakuan kita diketahui oleh yang lain. Kami berlangsung menuju lagi ke perkemahan kami. ***** Begitulah cerita yang tetap saya ingat kala pertama kali saya bercinta bersama Bu Nia. Kami tetap kerap melakukannya tiap tiap ada kesempatan. Kami kencan di penginapan-penginapan yang ada di kotaku lebih-lebih dulu kita jalankan di kamar kost temanku. Namun kini Bu Nia udah pergi ikuti suaminya dinas kelain kota. Aku tenggelam bersama kerinduanku terhadap Bu Nia.