Memuaskan Nafsu Ibu Kepala Sekolah // Part 1


RAKSASAPOKER Sebelumnya perkenalkan diriku khususnya dahulu namaku Wilbert.

RAKSASAQIU SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Ketika kisah ini terjadi aku berumur kira-kira 18 tahun, aku termasuk seorang yang aktif dalam berbagai kegiatan baik di kampus maupun diluar kampus termasuk di didalamnya kegiatan Pramuka yang sebetulnya sejak kecil aku suka.

BANDAR DOMINO99 | AGEN BANDARQ | AGEN POKER | DOMINO ONLINE | AGEN DOMINO

Nah karena kegiatan Pramuka inilah terjadilah kisah yang hingga waktu ini tetap aku kenang. Untuk wajah sebetulnya aku nggak jelek-jelek sangat jadi terbilang agak cakep itu kata temen-temenku.


Dan terbukti ada beberapa cewek yang naksir kepadaku. Hingga suatu waktu aku mendapat surat yang memuat permohonan batuan untuk turut menjadi tidak benar satu pembina di SD Negeri di dekat rumahku. Murid-murid SD itu bakal lakukan perkemahan sabtu minggu atau persami. Merasa mendapat keyakinan dan hitung-hitung untuk tambahan uang saku maka bersama hati suka aku terima tawaran tersebut. Lagipula aku adalah tidak benar satu alumnus dari SD tersebut.

Kami berangkat ke lokasi hari sabtu pagi, dan hingga ke lokasi kira-kira jam 10. Setelah hingga lokasi kami mendirikan tenda dan buat persiapan segala suatu hal untuk kepentingan kegiatan persami. Kegiatan demi kegiatan kami lakukan, dan ternyata anak anak keluar suka padaku karena kemungkinan dimata mereka aku lucu dan menarik. Itu semua kemungkinan karena aku aktif di berbagai orgNiaasi supaya aku pandai mengatur suasana. Permasalahan yang ada adalah air. Lokasi kami berkemah agak jauh dari tempat tinggal penduduk. Air yang kami dapatkan berasal dari sungai yang mengalir di dekat lokasi.

Dan untuk mandi kami wajib kerumah masyarakat yang ada disekitarnya walau agak jauh. Hari makin sore aku tengah bersantai di tenda pembina sambil mengawasi anak-anak keluar dari kejauhan sebuah mobil kijang berhenti dan turun seorang wanita paruh baya. Setelah aku memperhatikan betul ternyata yang berkunjung adalah Bu Nia, beliau adalah kepala sekolah SD tersebut. Beliau dahulu adalah Ibu guruku, beliau orangnya supel tapi kewibawaannya tetap terlihat. Yang aku herankan adalah beliau tetap keluar cantik diusia yang aku taksir sudah kepala lima. Tubuhnya tetap terawat tidak seperti wanita pada kebanyakan pada usianya. Para guru dan para pembina mendekat untuk menyalami termasuk diriku bergegas terjadi mendekatinya untuk menyalaminya. Aku menyalaminya sambil basa-basi bertanya”Koq cuma sendirian Bu Nia?” “Eh.. iya Bet bapaknya anak-anak tengah ada acara di Semarang” Jawab Bu Nia. “Kamu tadi tidak menjemput Bu Nia” Sergah Pak Felix yang terjadi beriringan bersama kami. “Kan sudah Bu Nia sudah bawa mobil Pak” Aku menjawab sekenanya.

Kami terjadi beringan menuju tenda para pembina. Setelah hingga di tenda Bu Nia nampak berkata serius sambil duduk diatas tikar bersama Pak Felix. Tampaknya hal perlu yang wajib dibicarakan berkenaan acara persami itu.Aku menjadi agak tidak sedap untuk berlama-lama di dekat mereka. Setelah minta ijin aku terjadi mencegah dari dari mereka. Dalam benakku terlintas pengakuan bahwa Bu Nia sebetulnya tetap menarik walau nampak sedikit keriput di leher tapi itu jadi mengakibatkan Bu Nia nampak lebih anggun. Rambutnya lurus sebahu hitam walau ada beberapa helai yang nampak sudah putih, kulitnya yang putih bersih nampak terawat. Anganku tetap mengalir bentuk tubuhnya yang ramping tapi padat berisi, bongkahan bokongnya nampak paham tercetak dibalik rok spannya begitu termasuk buah dadanya indah. Perutnya sebetulnya agak besar tapi kencang. Gila.. aku memikirkan orang yang dahulu pernah menjadi guruku. Ini tidak benar. Tapi aku aku tidak dapat memungkiri bahwa Bu Nia sebetulnya tetap sintal. Pada malam harinya diadakan acara api unggun yang kemudian dilanjutkan bersama acara jurit malam. Aku kebetulan mendapat untuk melindungi semua tenda. Kebetulan sekali karena aku jadi capek karena sehari pada mulanya ada kegiatan di kampus. Yang lebih kebetulan adalah ternyata Bu Nia dan 2 guru wanita yang lain nggak turut acara jurit malam. Setelah mngecek semua tenda aku terjadi mendekat kearah Bu Nia yang tengah duduk sendiri di depan tenda pembina. Tampaknya ke dua rekannya sudah terkantuk dan tidur dalam tenda. “Belum ngantuk Bu?” aku memulai pembicaraan sambil duduk berhadapan dengannya. “Belum Bet.. era Ibu enak-enakan tidur padahal tadi kan Ibu berkunjung terlambat” Bu Nia menjawab. “Ya nggak apa-apa, Ibu kan repot juga” Aku menyahut. “Gimana kuliahmu” Tanya Bu Nia. “Lancar, Bu Nia belum bakal pensiun” Aku memancing pertanyaan untuk paham usia sebenarnya. “Tinggal tiga tahun lagi Bet” Bu Nia menjawab.

Pasti wanita ini umurnya lebih dari 50 tahun, tapi koq tetap menggairahkan. Mata sekali-kali mencuri pandang nikmati keindahan tubuhnya. Kami mengobrol agak lama hingga Bu Nia minta diantar ke sungai karena kebelet membuang air kecil. Aku bergegas mengantarnya hingga tepi sungai yang agak curam. Sambil memberikan senter aku berkata, “Saya tunggu di sini ya Bu Nia, ini senternya hati-hati jalannya agak licin” “Iya.. eh jangan ngintip lho” Katanya sambil bercanda. Ketika bakal melangkah Bu Nia terpeleset otomatis tanganku mencapai tangannya tanganku yang satu mencapai badannya menghindar supaya beliau tidak jatuh. Namun tidak disangka tanganku mendarat pas di tidak benar satu gunung indahnya. Dia kaget aku termasuk kaget. “Ma.. af Bu Nia, nggak sengaja” Aku berkata. “Eh.. nggak apa-apa” Sahutnya termasuk agak tidak benar tingkah. Sambil terjadi merintis jalur setapak selanjutnya dia mencari tempat yang agak tersembunyi. DAFTAR ID PRO PKV



Namun karena sinar rembulan nampak samar-samar gerakan tubuhnya dalam lakukan kegiatannya. Tampak dia memelorotkan celana panjangnya kemudian CDnya lantas berjongkok. Aku bertanya dalam hati mimpi apa aku semalam supaya aku mendapatkan keuntungan dobel pertama memegang buah dada indah yang ke dua dapat memandang bokong dan paha walau samar. Tak jadi celanaku makin sempit karena senjata kesayanganku menggeliat. Tanganku merabanya dan mengakibatkan remasan-remasan kecil. Tak suka bersama itu aku mengeluarkan batang penisku supaya dapat berdiri bebas mengacung. Aku percaya Bu Nia bakalan tidak bakal memandang polahku. Sepertinya Bu Nia sudah selesai membuang air kecil kala bakal naik ke atas aku ulurkan tanganku dan menariknya. Aku minta Bu Nia terjadi didepan bersama alasan aku mengawal jika ada apa-apa. Namun bukan karena itu aku dapat mengakibatkan bebas kelaminku terjulur keluar dan mengacung. Sensasi ini aku nikmati hingga ke tenda pembina.

Kami lanjutkan ngobrol hingga selanjutnya acara jurit malam selesai. Malam sudah larut lebih-lebih menjelang di hari kami pembina dan guru putra tidur terpisah bersama pembina dan guru wanita. Tetapi bayang-bayang kemolekan wanita paruh baya itu tetap mengganggu pikiranku. Mata ini rasanya sulit terpejam. Kemaluanku rasanya termasuk nggak berkenan ditidurkan, tapi selanjutnya aku paham bahwa wanita yang menggelorakan hasrat jiwaku adalah mantan guruku yang tak kemungkinan aku bakal melampiaskan kepada beliau. Akhirnya anganku kubawa tidur. Sampai pada pagi harinya aku terbangun oleh nada riuh anak-anak yang tengah lakukan senam pagi. Aku cepat-cepat bangun dan cuci wajah kemudian menunjang pembina lainnya. Setelah acara pagi selesai aku beres-beres pekerjaan yang lain yang tetap wajib aku kerjakan. Sementara anak-anakpun termasuk repot mandi di sungai. Pembina dan guru antri mandi di tempat tinggal masyarakat yang agak berjauhan. Tampak Bu Nia termasuk belum mandi karena beliau termasuk repot mengawasi anak-anak. Sekitar jam 09.00 pagi semua tugas sudah selesai maka aku bergegas menyita peralatan mandiku. Namun terdengar dari kejauhan nada yang memanggilku. “Bet anda berkenan mandi ya” Setelah aku toleh ternyata nada itu bersal dari Bu Nia. Langsung saja ku jawab singkat, “Iya.. Bu Nia” “Kalau begitu sama-sama dong.. Ibu termasuk belum mandi” Dia berkata.

Bagai disambar petir di siang bolong mendengar tawaran itu tanpa ragu-ragu aku mengiyakan. “Iya Bu Nia” Karena kamar mandi-kamar mandi yang ada di kira-kira tempat tinggal masyarakat nampak sudah penuh maka aku menawarkan pada Bu Nia sebuah sumur yang ada di tengah kebun penduduk. “Sebaiknya kami mandi disana saja Bu Nia, tempatnya termasuk tertutup koq” Aku berharap dia berkenan karena ada kesempatan untuk berdua. “Yang benar lho Bet.. tapi ya nggak apa-apa sebetulnya tempat yang lain sudah penuh”. Kami berjalam beriringan menuju ketempat pemandian di tengah kebun itu. Sementara yang lainnya persipan untuk kegiatan pagi itu yaitu jalan-jalan berkeliling. Sampailah aku pada tempat yang kami tuju. Setelah aku tempatkan perlatan mandiku aku memulai menimba air untuk kepentingan kami berdua. Setelah bak terisi penuh maka aku persilahkan beliau untuk mandi dahulu. Tempat mandinya terbuat dari anyaman bambu ada beberapa lobang yang tampak. “Silahkan Bu Nia anda mandi lebih dahulu” Aku mempersilahkan. “Kamu tunggu pernah ya.. awas lho jangan.. ngintip” Katanya sambil tersenyum. “Nggak Bu Nia.. tapi jika kepepet kan nggak apa-apa” Kataku termasuk bercanda. “Nakal kamu” Dia berkata sambil berkata masuk ke kamar mandi.

Aku mengamati dari kejauhan dan memandang satu persatu pakaiannya dilepas dan digantungkan diatas anyaman bambu itu. Terakhir aku memandang kutang dan CDnya yang berwarna biru muda dan coklat muda tersampir. Hatiku makin nggak karuan aku memikirkan tentu tubuh molek wanita yang pantas menjadi ibuku itu telanjang bebas, aku dengar nada air yang mengguyur tubuhnya. Aku mencari akal supaya aku dapat nikmati ‘keindahan tubuhnya. Akhirnya aku mendekat dan berkata, “Bu Nia airnya kurang nggak” Dari dalam bilik aku dengar suaranya,”Eh.. anda koq ada disitu.. kurang sedikit Bet” katanya agak kaget. Ya.. kesempatan berkunjung selanjutnya aku menimba untuknya lagi dan aku tuangkan ke saluran mengalirkan ke dalam bak yang ada di dalamnnya. Bu Nia tetap melanjutkan mandinya maka aku putuskan untuk mandi diluar saja sambil berharap Bu Nia nanti selesai mandi dapat melihatku. Entah anggapan gila sudah memasuki pikiranku. “Eh.. Bet anda mandi diluar ya..” Terdengar dari dalam bilik. “Iya Bu Nia kan dapat menyingkat waktu” Aku beralasan.

Sambil memandang sekeliling aku rasa aman maka aku lepaskan semua pakaianku kini tinggal celana dalamku. Sambil mengguyur badanku dari timba segera aku sedikit mencari celah-celah supaya aku dapat memandang keindahan tubuhnya. Benar dugaanku aku belum selesai mandi dari dalam bilik sudah terdengar suaranya. “Bet sudah selesai belum?” Dia bertanya. “Sudah Bu Nia” Aku menjawab walau aku belum selesai mandi. Memang aku sengaja. Dan memandang pintu bilik jadi bergerak terbuka. Darahku jadi mengalir makin kencang menduga apa yang bakal terjadi waktu Bu Nia memandang aku cuma memakai celana dalam.“Ih.. ka.. ta.. nya sudah selesai” Dia melihatku agak terperanjat. Raut mukanya nampak nampak merah.